Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 75 {Waktunya Tidur}


__ADS_3

 Topik pembicaraan mereka kini beralih menjadi Yuuki.


Meskipun Midnight menaruh benci pada pria itu, dia tetap akan memberitahukan awal mula konflik aneh ini berujung sampai sekarang.


“Sebenarnya, konflik ini mulai terjadi sembilan tahun yang lalu. Tepatnya saat aku masih berusia Sembilan belas tahun. Dan saat itu juga, aku sudah menikahi Megawave dan mengadopsi Carmine. Juga, bertemu dengan Yuuki di café tempat aku bekerja sambilan.” Jelas Midnight. Sebelum melanjutkan ceritanya lebih jauh, wanita itu beralih dari kursi makannya menuju kulkas, mengambil sepiring puding yang sisa makan malam kemarin.


“Pertemuan itu begitu tiba-tiba. Aku tidak menyangka kalau aku bakal dipertemukan dengan pria brengsek dengan obsesi berlebihan di otaknya.” Lanjutnya setelah kembali ke kursinya.


Tak berapa lama, Aoi izin memotong ceritanya dengan satu pertanyaan. “Tunggu dulu! Itu artinya, kau dan Yuuki sudah saling mengenal sejak lama?”


Midnight mengangguk pelan. “Ya, aku sudah mengenalnya sejak kelas satu SD. Enam tahun sekelas. Dulu, aku juga pernah menaruh hati padanya. Akan tetapi, karena penampilanku, dia menolak pernyataan cintaku. Yah, kau tahu? Aku ini anak yang culun, dulunya. Cuma punya satu teman. Itupun baru dapatnya di SMP. Sementara di SD, blas nggak ada teman sama sekali. Semuanya membicarakan kejelekanku. Bahkan guru sekalipun. Ah, kenapa jadi curhat?” Midnight menepuk jidatnya.


“Ah, nggak papa juga, kok. Kami juga senang mendengar cerita darimu. Mana tahu, cerita yang kau ceritakan itu berkaitan erat dengan konflik saat ini dan…”


“Kalau bagus, kami akan menuangkannya menjadi satu buku novel.” Chloe melanjutkan ucapan Rara sebelumnya dengan antusias.


Midnight melongo heran sekaligus senang mendengar respon dari para remaja itu. Kehadiran mereka membuat suasana dapur Midnight menjadi hidup. Biasanya, dapur ini selalu diselimuti kesunyian. Bahkan, Midnight juga jarang masak di rumah. Dia dominan makan di restoran ketimbang memasak di rumah. Rasanya sepi sekali. Tidak ada yang mengajaknya berbicara. Silentwave anaknya itu sangat menyukai kesunyian. Oleh karena itu, Silentwave memanfaatkan kesunyian itu untuk mengumpulkan kekuatannya.


“Begitu ya? Kalau begitu, akan ku lanjutkan.”  Balas Midnight lega.


“Kalian tahu? Hidupku yang dulu tidak sefantasi yang sekarang. Kalau kuceritakan semuanya, kalian nggak bakal tidur. Makanya, aku persingkat aja. Nah, Yuuki itu tidak suka denganku karena penampilanku dan sifatku yang nggak mencolok seperti cewek-cewek lainnya. Di kelasku, ada satu cewek yang sangat disukai Yuuki. Cewek itu mantan sahabatku.  Dia sangat berbeda dari murid cewek lainnya. Dia sempurna. Pintar, berbakat, dan cantik. Kalau nggak salah, dia itu blasteran Jepang-Amerika. Ah, aku lupa namanya.


“Yuuki suka sekali dengan cewek itu. Dan tidak disangkanya, cewek itu diam-diam menaruh hati pada Yuuki. Hal itu semakin mempersempit diriku untuk menarik perhatian Yuuki. Agak memalukan sih, alasan kenapa aku suka dengan Yuuki yang pertama, karena dia tampan, Of course. Yang kedua, karena orang tuaku dan Yuuki saling mengenal. Yang ketiga, marga kami juga 11/12 mirip. Terakhir, nama kami sama-sama berawalan huruf ‘Y’”


“Huruf ‘y’? Tapi, namamu Midnight.” Celetuk Chloe heran.


Aoi terkekeh menanggapi respon Chloe sekaligus wajah gadis itu yang terlihat imut ketika dia bingung. “Midnight itu nama samarannya. Dia tuh sebenarnya punya nama asli.”


“Itu nggak penting. Oke, aku lanjutkan! Begitu tahu, kalau Yuuki dan cewek itu sama-sama suka, saat itulah aku menyerah.”


“Yaah…” seru Chloe, Rara dan Jacqueline bersamaan. Mereka bertiga memasang raut kecewa.


“Ya, aku menyerah. Tapi, perasaanku terhadap Yuuki nggak semudah itu menghilang. Sampai kami menduduki bangku SMP, aku masih suka dengannya. Aku juga senang karena cewek itu tidak satu sekolah dengan Yuuki. Mengetahui hal itu, otomatis, aku melakukan banyak cara agar Yuuki mau melihat ke arahku dan mengabulkan mimpi yang selama ini kurangkai setiap malam, menjelang tidur.” Midnight berhenti berbicara untuk sesaat.


“Wah, manisnya! Aku tidak menyangka, Midnight yang kelihatan misterius ini ternyata punya cerita manis saat masih sekolah.” Ujar Chloe terharu. “Lanjutkan!”


Midnight mengangguk. Wah, kelihatannya, mereka lupa dengan topic Carmine sebelumnya.


“Tapi… Usahaku masih tidak membuahkan hasil. Aku mendengar cerita dari teman sekelasku, katanya Yuuki sudah berpacaran dengan cewek itu. Kalian para gadis pasti tahu bagaimana rasanya, kan? Aku yang bego itu, awalnya tidak percaya dengan gossip yang dibicarakan teman sekelasku. Diam-diam, aku berusaha mengorek kebenaran dari gossip yang mereka katakan. Ternyata, itu bukan gossip melainkan fakta. Sejak saat itulah, aku membenci Yuuki.


“Dia laki-laki yang tidak bisa diharapkan. Yah, aku juga bodoh. Selalu mengutamakan Yuuki ketimbang hal-hal yang lebih penting. Memasuki usia Sembilan belas tahun, aku bertemu lagi dengannya di café dan sesuai dugaanku, dia suka denganku. Cih! Orang ini lebih mengutamakan penampilan ketimbang sifat. Dia sempat menanyakan soal tempat yang cocok untuk menyatakan cinta.


“Aku tahu itu kode keras darinya. Sampai untuk Yuuki menyatakan perasaannya, aku langsung menolaknya sambil tersenyum. Kupikir, cara itulah yang terbaik untuk menyingkirkannya. Tapi nyatanya, berbanding terbalik dengan yang kupikir. Pria itu semakin mengikuti bahkan sampai masuk ke dalam rumah dan membunuh Megawave karena tidak terima melihatku yang sudah memiliki pasangan.


“Oh, ya! Untuk Legend Aura, mereka tercipta dari perasaan Yuuki yang pantang menyerah namun tidak sabaran. Setelah membunuh suamiku, Yuuki mengambil buku mantra yang digenggam suamiku. Di saat bersamaan, Yuuki secara tidak sengaja menatap maa Carmine yang baru saja menuruni anak tangga. Dari situlah, Yuuki memiliki kemampuan aneh itu. Kemampuan yang sangat berkaitan erat dengan imajinasi dan perasaan manusia.


“Benar-benar merepotkan… Keinginan untuk mendapatkan segalanya secara instan ditambah dengan imajinasi yang kuat. Makanya, kekuatan Legend Aura itu terlihat sederhana tapi berlebihan bagiku. Terutama Huke. Memang di depan kalian dia belum menunjukkan serangan apa-apa. Tapi, kalau dia serius menyerang musuhnya, hari itu juga musuhnya menjadi mayat di depannya.


“Aku tahu, salah satu dari kalian ada yang terpesona denganwajah Huke. Wajah Aura itu menggambarkan pesona yang ditebarkan Yuuki di depan para gadis. Jika gadis itu tergoda, maka hari itu juga akan menjadi hari terburuk baginya. Jadi, aku peringatkan, kalian jangan sampai tergoda dengan kecantikan Huke. Kalian juga jangan sampai salah langkah. Ah, ehem! Itu sih, tergantung kalian mau membantuku atau tidak. Aku sih bisa menyelasaikan masalahku tanpa bantuan kalian.”

__ADS_1


“Eh, kenapa begitu? Kami pasti mau membantumu! Sebab, kami ingin memiliki banyak kenangan dengan teman Aura kami!” ujar Chloe sedikit tak terima. “Pengalamanku bersama Black Aura belum banyak.”


“Aku juga. Bareng Devil Mask dan Yumi.” Timpal Jacqueline.


“Kalau aku… Walaupun aku nggak punya teman Aura, setidaknya aku ingin pertanyaanku terjawab setelah aku menjalani petualangan ini.” Ucap Rara lirih.


Lantas, semua perhatian mereka tertuju pada Rara. Sedari tadi, anak itu hanya diam di tempat sambil mendengarkan cerita Midnight. Sesekali ia menunjukkan berbagai ekspresi menanggapi setiap alur masa lalu yang Midnight ceritakan itu.


“Oh, maksudmu… Kakakmu, kan?” tebak Chloe kemudian menyengir lebar.


Rara mengangguk.


“Memangnya, apa yang terjadi pada kakakmu?” tanya Midnight serius.


“DIa menghilang begitu saja. Hanya meninggalkan pesan  tanpa menjelaskan apapun. Pesannya aneh. Seperti kode tapi, Black Aura bisa memecahkannya dengan mudah.” Jawab Rara. Suara gadis itu datar.


Midnight tersenyum. Dia diam-diam memuji Black Aura yang pelan-pelan mulai berkembang. “Siapa nama kakakmu?”


“Minji. Usianya sama sepertiku.”


“Kenapa dia bisa hilang?”


“Hmm, kami menduga, penyebab hilangnya karena Yuuki. Sejak aku tahu Yohan itu adalah Yuuki, itu membuatku berpikir demikian.”


Chloe menelengkan kepalanya sambil meresapi setiap pembicaraan yang dilontarkan Rara dan Midnight. “Tapi, untuk apa Yohan menjadi pacar Minji?”


“Entahlah. Mereka mulai pacaran tahun kemarin. Pertama sih, karena Kak Minji yang jatuh cinta sama Yohan.” Balas Rara.


Tiba-tiba, Midnight menepuk tangannya sekali seraya bangkit dari kursi dan menyuruh para remaja itu untuk tidur. Mendengar perintah tidur dari Midnight, semuanya mengeluh.


“Baiklah… Padahal belum ngantuk.” Keluh Jacqueline.


“Iya, kan?” sahut Chloe setelah itu menguap.


“Selamat malam semuanya! Mimpi indah ya!” seru Midnight bersemangat, sembari berlalu ke tempat lain menuju kamarnya.


“Iya… Selamat malam Midnight.”


~


“Kenapa kau baru menghubungiku sekarang?”


Elena langsung mengangkat panggilan dari seorang pria bernama Ethan tanpa pikir panjang. Dengan malas, dia menjawab seadanya beberapa pertanyaan yang Ethan ajukan padanya. Pria bernama Ethan itu menanyakan kondisinya, apa yang dilakukan Elena saat ini, dan dimana keberadaannya. Dan, Elena menjawab sesuai yang ia alami saat ini. Sedang duduk di atas ranjang tidur sambil berbicara dengan seorang pria lewat ponselnya.


Waktu menunjukkan pukul satu dan dia masih saja kesulitan untuk menenggelamkan dirinya dalam mimpi. Singkatnya, dia mengalami insomnia.


“Kau tidak menyusul anak-anak itu?”


“Aku akan menyusulnya tapi tidak sekarang. Terlalu berbahaya.”

__ADS_1


Elena mengangguk pelan sambil melirik ke gagang pintu kamarnya. Memastikan agar gagang itu masih dalam keadaan diam.


“Iya sih. Dan lagi, Yuuki sudah menghidupkan semua Legend Aura yang sudah mati. Aku masih nggak tau bagaimana cara orang itu melakukannya. Aku juga tidak yakin dengan spesiesnya.” Beber Elena. Kedua bola matanya bergerak-gerak ke sana kemari, berusaha mengingat beberapa informasi yang ia dapatkan.


“Lalu, apa Emma masih di sana?”


“Ya. Saat ini, dia lagi tidur bersama Yuuki. Hmm, sebenarnya, aku masih ragu dengan hubungan Emma dan Yuuki. Yang kuingat, mereka berdua memang saling menyukai dari SD kelas 2 sampai sekarang. Akan tetapi, sejak bertemu Midnight, perasaan Yuuki pelan-pelan jadi tidak teratur.”


“Tidak teratur? Maksudmu, dia suka dengan Midnight juga?”


“Ya. Aku sering melihat Yuuki bergumam sendiri ketika sendirian. Dia selalu menyebut nama Midnight berulang kali.”


“Hmmm…”


Di seberang sana, Ethan berpikir sejenak sambil meresapi beberapa informasi yang Elena peroleh. Sebenarnya, ada banyak hal yang mengganggu pikiran Ethan selain Yuuki. Ya, pria itu saat ini sedang membayangkan wajah seorang gadis mahasiswi berambut pirang dengan mata biru langitnya. Beberapa hari yang lalu, Ethan sempat berbincang dengan gadis itu dan terlibat pertarungan dengan teman Aura-nya. Yah, waktu itu, dia tengah dikuasai oleh Legend Aura bernama Dark Sport itu. Lalu, bertarung sengit dengan teman Aura gadis itu dan berakhir dengan kaos putihnya yang tersiram cairan berwarna hitam dan oranye. Benar-benar kejadian yang aneh.


Ethan menghela nafas beratnya, kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan Elena. “Elena. Besok kau ada waktu?”


“Entahlah. Aku juga sambil mengikuti rencana Yuuki. Entar, kalau orang itu beri aku misi lagi, akan kuberitahu kau.” Balas Elena.


“Okelah. Aku mengandalkanmu. Berhati-hatilah.”


“Aku tahu… Hey, Ethan.”


Ethan merespon “Iya” begitu Elena memanggil namanya.


“Sebenarnya ada beberapa hal yang menggangguku tentang Midnight. Apa jangan-jangan, dia itu…”


Setelah menghela nafas singkat, Ethan pun membalas ucapan Elena yang terdengar ragu. Pertanyaan tentang Midnight sudah ke 713 kalinya Elena menanyakan pertanyaan yang sama setiap kali mereka kehilang topic untuk dibicarakan. Ya, Ethan sejujurnya masih tidak bisa melupakan kenangan empat belas tahun yang lalu. Bulan Agustus tanggal empat, tepatnya.


Singkat cerita, Elena memiliki seorang sahabat yang sangat ia sayangi. Namanya Aogata Yoru. Yoru adalah sahabat pertama Elena. Orang yang menerima Elena apa adanya. Orang yang mau mendengar seluruh imajinasi liar Elena, dan orang yang selalu menyingkirkan pikiran negatif Elena.


Akan tetapi, Yoru tidak pernah sekalipun menceritakan masalahnya. Elena yakin sekali kalau Yoru memiliki masalah yang ingin diceritakannya. Oleh karena itulah, Elena ingin sekali menjadi sahabat yang baik untuk Yoru.


Namun, keinginannya tersebut dipatahkan oleh kabar duka yang disampaikan wali kelasnya, Senin pagi itu. Wali kelasnya, Ibu Inohara menyatakan berita kematian tentang Yoru.


Kabar itu begitu tiba-tiba, hingga membuat Elena mematung seolah baru saja disambar petir. Sebelum kabar duka itu diberitahukan, Elena mendapati bangku Yoru yang kosong selama tiga hari. Awalnya, dia mengira bahwa sahabatnya sedang sakit. Tapi nyatanya, Ibu Inohara menyatakan alfa di absen Yoru.


Benar-benar berita yang mengejutkan sekaligus menyakitkan. Hatinya serasa diremas. Sakit namun tak berdarah. Sakit yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


Vas yang menampung tiga tangkai bunga bakung diletakkan di atas meja Yoru. Setiap kali mengingat bunga itu, air mata Elena terasa ingin sekali tumpah. Keindahan yang mengundang air mata bukan pujian.


“Elena?” panggil Ethan selang beberapa menit kemudian.


“Ah, maaf. Aku hanya… Hiks… Aku nggak tahu lagi harus apa?”  sahut Elena terisak pelan.


“Sudah… Sudah… Aku tahu itu menyakitkan. Tapi untuk saat ini, simpan dulu kesedihanmu. Jangan khawatir, aku akan membantumu mengungkapkan kebenaran. Aku percaya kalau sahabatmu memang masih hidup. Maka dari itu, jangan menangis lagi, ya!” bujuk Ethan dengan suara lembut.


Sama seperti Elena, Ethan juga merasa sedih. Mengingat Yoru itu gadis yang baik. Waktu tahu bahwa adiknya memiliki seorang teman, Ethan senang sekali. Senyuman bahagia terukir di wajah tampannya. Diiringi dengan gelak tawa Elena yang sangat antusias menceritakan berbagai hal lucu yang dia lewati bersama sahabatnya itu.

__ADS_1


 “Elena, besok temui aku di depan rumah Rara.”


~


__ADS_2