
“Aneh, kenapa Chloe dan yang lainnya lama sekali?” pikir Midnight menyadari ada yang janggal di sekitarnya.
Okka dan Kenzo menghampiri Midnight setelah puas berjalan-jalan sambil mengumpulkan senjata-senjata Aura yang berserakan di sekitar taman.
“Kayaknya kita yang harus ke tempat mereka deh. Soalnya, mereka ini masih amatiran soal bertarung kan?” tutur Kenzo.
“Dan lagi, musuh-musuh kemungkinan besar mengincar mereka yang lemah atau bisa saja mereka sedang dalam bahaya. Black Aura juga sendirian kan? Captain juga nggak ada sama kita sejak kemarin,” Okka menimpali.
Tampak jelas kedua youtuber itu mengkhawatirkan Chloe dan kedua sahabatnya termasuk Black Aura. Sejenak, Midnight berpikir. Mungkin bahan ritualnya sudah cukup. Sisanya tinggal menolong ketiga remaja yang saat ini tidak diketahui dimana mereka berada. Ethan juga. Mencari Ethan itu tak semudah membuat mie instant. Karena kemampuan Aurora, mereka jadi terpisah-pisah tak jelas begini.
“Oke, kalau gitu, kita langsung ke tempat mereka aja,” ujar Midnight datar seraya bangkit setelah puas duduk di kursi taman selama tiga menit.
Bagi penduduk bumi, hari sudah terasa siang dan sudah saatnya mereka menikmati makan siang. Namun, bagi warga Carnater, siang yang dibaluti oleh cumulus tebal berwarna kelabu itu, siang dan malam tak jauh bedanya. Hanya saja, malam lebih gelap dan hitam.
“Silentwave, portal…” perintah Midnight tanpa pikir panjang.
Silentwave keluar dari lengan kemeja Midnight. Kemudian, Aura itu menciptakan portal menuju tempat Black Aura dan Chloe bersembunyi. Dari portal tersebut, Midnight menangkap sedikit suara gaduh di dalam gedung yang sudah terbengkalai tersebut. Selain suara, bau-bau lembab menyebar dan seketika menyerbu indra penciuman Midnight. Okka dan Kenzo lumayan terkejut mendapati perubahan drastis tempat yang baru saja mereka pijaki.
“Apa ini? Kok basah semua?” celetuk Kenzo spontan.
Midnight tertegun memandang sekitarnya yang basah kuyup oleh air. Padahal tidak ada hujan, ataupun Aura yang sedang menyiram bunga saat itu. Tapi, kenapa rumput, tanah, dan tembok gedung itu basah?
“Yui?” gumam Midnight gemetar.
“Ada apa Midnight?” tanya Okka khawatir sambil memegang pundak kanan Midnight. Gadis itu memandang sekelilingnya yang lembab itu. Suhu di tempat itu tidak jelas. Karena keberadaan air serta genangan besar di sekitar sepatu mereka, suhu di sana terasa lembab dan menyesakkan dada.
__ADS_1
“Kalian bersiap-siaplah! Lawan kita itu adalah tsunami,” ucap Midnight.
~
Suara derasnya hujan disertai suara ombak yang menghantam dinding gedung yang menjadi tempat bersembunyi Chloe dan Black Aura perlahan-lahan masuk ke dalam lorong setiap lantai gedung tersebut.
Chloe sontak terkejut, menghindari air yang membasahi rak buku di depannya. Black Aura sendiri sudah menyiapkan keberanian untuk menghadapi kekuatan Yui yang besarnya setara dengan tsunami di Jepang yang pernah Midnight ceritakan padanya.
“Gadis itu, ombaknya nggak akan berhenti kalau rasa cemburunya nggak hilang,” tutur Black Aura sambil menyiapkan canonnya. Untuk pertama kalinya Black Aura menggunakan canon ketika berhadapan dengan musuhnya. Dia akui, dia bukan sniper handal yang biasa dijumpai di film-film bergenre action. Akan tetapi, dengan memanfaatkan rasa sakit musuhnya, Black Aura yakin, dia pasti bisa melumpuhkan mereka semua.
Tanpa Chloe sadari, keluarlah tangan seorang gadis dari genangan air di sampingnya. Dengan cepat, tangan tersebut menggenggam kaki Chloe, kemudian menariknya agar masuk ke dalam genangan air itu.
Chloe yang terserang panik itu reflex memegang lengan Black Aura hingga membuat kedua remaja itu tertarik bersamaan dan masuk ke dalam genangan air tersebut. Saat masuk, Chloe dibuat terbelalak oleh kedalaman genangan tersebut yang lumayan dalam. Chloe kira, genangan air itu tidak memiliki ke dalaman sama sekali. Yah, seperti anak-anak yang berlarian di tengah derasnya hujan. Tanpa mereka sadari, kaki mereka menginjak genangan yang sama sekali tidak dalam.
Saat seluruh perhatian Chloe tenggelam dalam lautan misterius yang dalam itu, Black Aura tanpa pikir panjang memecahkannya dengan menggenggam erat pergelangan kanan Chloe. Alhasil, perhatian Chloe seluruhnya teralih pada Black Aura.
“Jangan bengong…” bisik Black Aura dengan telunjuknya menempel di bibir.
Chloe mengerjab-ngerjab heran sebelum akhirnya menyetujui perkataan Black Aura.
Meskipun berat bagi Chloe menggerakan kakinya di dalam air lantaran tak terbiasa berenang, Chloe tetap menghampiri Black Aura dan membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan Black Aura.
Tak peduli sedalam apapun air tersebut, selama bersama Black Aura, oksigen selalu tersedia untuk Chloe bernafas. Chloe menggenggam erat tangan kanan Black Aura. Dalam diam, dia mengecup singkat punggung tangan Aura itu sebelum akhirnya fokus keluar dari gerbang neraka. Ralat, tepatnya lauan neraka.
“Puah! Akhirnya!” Chloe menarik nafasnya sedalam mungkin setelah itu membuangnya dengan bebas. Akhirnya, Chloe bisa bernafas dengan tenang bersamaan dengan Black Aura yang memasang sikap waspada terhadap Yui yang keberadaannya bisa dimana saja. Air itu adalah dirinya. Seluas apapun air menyebar, semakin banyak pula kesempatan Yui menyelinap ke berbagai tempat yang ada genangan airnya. Aura itu bahkan bisa menciptakan senjata dari genangan air yang ada.
__ADS_1
Seperti halnya saat ini dimana Chloe yang baru saja naik ke atas lantai, untuk kesekian kalinya dibuat terkejut oleh tangan yang keluar dari genangan di bawah kakinya. Tangan itu menggenggam pedang bajak laut dengan ujung pedangnya yang super tajam. Kalau tidak hati-hati, luka yang disebabkan bisa saja sulit untuk disebutkan. Selain sulit, rasa sakitnya yang tak tertahankan besar kemungkinan bisa menjadi alasan kenapa seseorang itu meninggal.
Sadar akan kehadiran pedang yang hendak menyakiti Chloe, Black Aura dengan sigap menarik Chloe agar menjauh dari ujung pedang tersebut. Bersamaan dengan itu, masih ada serangan lain yang ternyata mengikuti mereka dari belakang. Seperti puluhan burung terbuar dari Kristal berwarna pink, berterbangan di dalam lorong dan meledak ketika mereka sampai bersebelahan langsung dengan Black Aura.
“Black Aura!” teriak Chloe panik menanggapi ledakan yang tiba-tiba muncul hingga melukai pipi kiri Black Aura.
Darah hitam pun kembali menetes membasahi lantai yang mereka pijaki tersebut. Chloe yang sudah jelas panik melihat Black Aura terluka itu langsung menghampiri Black Aura. Dengan tulus, Chloe menggenggam tangan Black Aura agar luka tersebut pulih dengan cepat.
“Masih sakit nggak?” tanya Chloe khawatir.
Black Aura tersenyum sembari menggeleng. “Nggak sakit sama sekali, kok. Makasih ya, udah mengobatiku.”
“Sama-sama…” Chloe ikut tersenyum mendengar respon hangat dari Black Aura.
Ingat! Pertarungan mereka masih belum selesai. Masih ada satu musuh lagi yang diam-diam mengamati mereka lewat genangan air di sekitar Chloe dan Black Aura. Untuk Alter, Aura itu menjauh dari gedung karena diserang oleh Aura bertopeng visor dan pasangan yang tak pernah berhenti heboh.
“Black Aura! Bagaimanapun caranya, kita harus bagi tugas!” ucap Chloe dengan raut serius.
“Kau lawan Ayano dan aku lawan Yui?” Black Aura menelengkan kepalanya. Ragu barangkali ucapan Chloe tadi hanya sekedar khayalannya atau memang realita .
Tak perlu membuang waktu lama, Chloe mengangguk cepat omongan Black Aura. “Selain itu, aku mohon kerjasamanya, Aura! Aku ini masih lemah, tapi setidaknya, aku mau jadi kuat sepertimu! Kau mau kan, membantuku?”
“Ya! Dengan senang hati,”
~
__ADS_1