Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 139 {Season 2: Bukan Akhir Dari Pertarungan}


__ADS_3

Black Aura mendarat tanpa suara setelah puas menghajar Aoi, Jean, dan Megawave menggunakan kemampuan reverse-nya dan juga kebrutalan yang sudah lama sekali ia pendam sejak ketiga remaja itu berkunjung ke Carnater. Hujan pedang itu kian mereda seiring tenaga yang Black Aura miliki terkuras karena amarah. Lautan darah yang menggenang juga surut.


Black Aura kembali ke bentuk awalnya tapi dengan berwajah pucat. Tubuhnya kelelahan setelah dikuasai penuh oleh kemampuan reverse tersebut. Kekuatan itu bertolak belakang dengan sifatnya yang pendiam dan dingin itu. Black Aura yang biasa cenderung menggunakan kemampuan memindahkan rasa sakit karena dia terkadang suka merasa malas untuk bergerak. Seperti halnya bertarung jarak dekat.


Tiba dirinya berubah menjadi sosok mengerikan itu, Black Aura menjadi lebih energik dan senang bergerak. Dia cenderung mengerahkan semua kemampuan yang ia punya demi menghajar lawannya sampai menyerah ataupun bertengkuk lutut dihadapannya. Parahnya lagi, Black Aura bisa saja membiarkan lawannya tewas. Aura itu bertarung tidak pandang bulu dengan siapa yang ada di hadapannya saat itu. Intinya, apapun yang ada di depannya adalah musuh. Sesuatu yang mengganggu penglihatannya atau parasit.


Saat berjalan, Black Aura nyaris saja kehilangan keseimbangannya lantaran merasa sangat lelah. Kemampuan tadi, selain kejam dengan lawannya juga kejam terhadap dirinya sendiri. Karena itulah, kemampuan itu disebut terlarang oleh Midnight karena bisa saja merenggut nyawa Black Aura. Setelah dipikir lebih dalam lagi, Black Aura terdiam. Dia mendadak bingung, apakah dirinya ini punya nyawa atau tidak? Dia sendiri masih bertanya-tanya apakah dia memiliki jantung atau tidak.


Di tengah kondisi yang tidak memungkinkan untuk bertarung itu, Black Aura menyadari akan sesuatu yang janggal saat dirinya melihat lautan merah itu surut. Tanah yang semulanya kering dipenuhi oleh debu itu menjadi lembab serta beraroma anyir. Lautan darah itu asli. Berasal dari darah para Aura yang pernah Black Aura bunuh kemudian warna darah mereka yang berwarna-warni itu diubah menjadi merah.


“Chloe!” seru Black Aura.


Akhirnya, sesuatu yang menjanggal di dadanya terjawab sudah oleh sosok yang terbaring di kejauhan sana. Berdekatan dengan Aoi dan Jacqueline yang ikut tak sadarkan diri.


Black Aura segera mempercepat langkahnya dan menghampiri ketiga remaja itu. Baik Chloe, Aoi, maupun Jacqueline, ketiganya basah kuyup karena lautan merah itu. Seketika, rasa khawatir menyergap pikirannya. Memang, Black Aura masih bisa mendengar suara nafas mereka yang samar. Namun, kesadaran mereka yang belum Black Aura peroleh sama sekali.


Black Aura menoleh ke arah Chloe. Dia mendekatkan telinganya, berusaha mendengar detak jantung dan suara nafas Chloe. “Huft… Masih bernafas…” Black Aura menghela nafas lega setelah mengetahui kestabilan detak jantung dan deru nafas Chloe.


Mumpung Megawave, dan kedua anggotanya tak sadarkan diri, Black Aura mencuri kesempatan untuk kabur mencari Ethan yang menghilang. Bisa bahaya kalau Megawave sampai bangun dan mengincar Chloe. Black Aura yakin kalau mereka bertiga itu sebenarnya mengikuti dirinya dan ketiga remaja itu secara diam-diam. Dengan target Chloe, mereka menyerang begitu saja.


Black Aura tidak tahu apa yang mereka rencanakan. Yang jelas, hanya ada satu jawaban dalam kepalanya yang sampai detik ini hanyalah satu-satunya jawaban yang menjadi alasan kehadiran anggota Megawave itu. Kehadiran Chloe yang mirip sekali dengan mendiang pacar Megawave. Mereka pasti mengira, Chloe adalah reinkarnasi dari pacar Megawave.


Meskipun sifat kedua gadis itu berbeda, yang sama dari mereka adalah suara dan nama. Hanya itulah petunjuk yang bisa menjadi bukti bahwa Chloe adalah reinkarnasi pacar Megawave. Terus terang, Black Aura benci mengakui hal itu. Dia memilih dianggap menjadi penjahat dan menerima segala perlakuan tak menyenangkan dari kelompok Megawave ketimbang menyerahkan Chloe dengan sukarela pada Megawave.


“Chloe?” panggil Black Aura pelan. Aura itu mengguncang pelan tubuh Chloe yang lemah itu. Dari wajahnya, dia terlihat sedang tidur. Yah, Black Aura hanya bisa berharap yang positif saja.

__ADS_1


Karena tidak ada respon apapun dari Chloe, Black Aura pun beralih ke Aoi dan Jacqueline. Ditepuknya pipi pasangan itu namun, nihil hasilnya. Tidak begitu jauh berbeda dengan Chloe yang tidak ada responnya sama sekali.


“Mereka nggak bangun.”


Black Aura bangkit. Berpikir keras mencari cara agar dirinya bisa membawa ketiga remaja itu menjauh dari area yang tidak diinginkan ini.


“Buka portal aja kali?” pikir Black Aura walau hatinya ragu. Terus terang, Black Aura tidak begitu mahir membuka portal. Alih-alih anggotanya lebih senang menggunakan portal yang terkesan efektif itu, Black Aura sendiri malah lebih senang berjalan kaki. Menggerakkan kakinya sebagai bentuk olahraga secara tidak langsung.


Ketika hendak membuka portal demi memindahkan Chloe ke tempat yang aman, Black Aura mendapatkan kejutan dari belakang. Ternyata Megawave. Aura yang dikira tak sadarkan diri oleh black Aura itu rupanya hanya pura-pura pingsan sembari menunggu waktu yang tepat dimana Black Aura lengah karena  panik.


“Dia milikku! Sejak awal, dia milikku!” tegas Megawave menusuk Black Aura dari belakang kemudian melempar Aura itu ke sembarang tempat. Cepat-cepat, dia mengangkat tubuh Chloe bersamaan dengan tangan kanannya yang membuka portal entah kemana.


Black Aura bangkit dan lagi-lagi harus terkejut mengetahui pacarnya bersama orang lain. Mengingat berlari dan menghampiri Megawave bukan cara yang bagus karena bisa saja melukai Chloe, Black Aura melirik ke sekelilingnya mencari barang tak terpakai untuk ditukarkannya menjadi Chloe yang digendong Megawave disana.


Ketemu. Sebuah boneka beruang berkaki delapan itu diraih cepat oleh Black Aura. Tanpa pikir panjang, dia menjentikkan jarinya dan boneka itu berpindah posisi ke tempat Megawave. Sementara Chloe, dia sekarang bersama Black Aura.


Baru saja lega, tiba-tiba sebuah portal terbuka tepat di bawah kaki Black Aura. Black Aura terbelalak kaget melihatnya tapi tak sempat menghindar. Alhasil, dirinya terjatuh bersama Chloe dan mendarat keras di atas tanah.


“Balas dendam ya?” gumam Black Aura.


Portal yang terbuka itu akhirnya tertutup. Sekarang, masalah Black Aura bertambah satu lagi. Yaitu, Aoi dan Jacqueline yang masih tak sadarkan diri juga keberadaan mereka jauh dari pengawasan Black Aura.


Chloe yang sedari tadi tertidur pulas itu, menunjukkan beberapa respon kecil seperti erangan dan tangan kanannya yang bergerak sampai menyadarkan Black Aura dari lamunannya. Black Aura tersentak, lalu membenarkan posisi Chloe yang masih digendongnya itu.


“Chloe? Oi, bangun!” bisik Black Aura sambil menepuk-nepuk pelan pipi Chloe.

__ADS_1


“Duh… Mimpi tadi itu…” Chloe mulai meracau tak jelas sebelum akhirnya membuka kedua matanya dan mendapati wajah Black Aura yang terlihat khawatir berada tepat di hadapannya. Rona merah dengan cepat mewarnai wajah Chloe yang masih mengantuk itu.


“Aura?” Chloe membeku dalam posisinya. Wajah mereka terlalu dekat saat ini. Meskipun begitu, yang merasa panas hanyalah Chloe seorang.


“Terlalu dekat…” lirih Chloe memalingkan wajahnya kea rah lain. Bagaimanapun juga, cara itu tetap tidak bisa membuat rona merah itu berhenti menguasai dirinya.


Black Aura terkekeh geli, “Maaf,” lalu memberi jarak sekitar tiga puluh centi dari Chloe. “Lama sekali kau bangun. Mimpi apa aja?”


“Mimpi ketemu Carmine lagi,” balas Chloe tersenyum tipis.


“Carmine? Dia bilang apa?”


“Hmm… Bilang apa ya? Dia anaknya rada nggak jelas sih. Tapi… Bukan itu yang mau kubahas,” ucap chloe memperlihatkan raut seriusnya.


Black Aura membungkukkan badannya. Seperti biasanya, dia selalu menjadi pendengar Chloe yang baik. Dia menggerakkan tangannya sebagai isyarat Chloe untuk segera mengatakan apa yang terlintas dipikiran gadis itu.


Chloe menarik nafasnya pelan. Mimpi beberapa menit yang lalu masih berbekas di benaknya. Dia ingat bagaimana Carmine menangis dalam dekapannya. Chloe bisa merasakan kekhawatiran dan ketakutan Carmine saat itu. Yang gadis itu inginkan hanyalah hidup tenang bersama kakak kesayangannya dan juga Aura yang ia ciptakan dari perasaan negatifnya.


Isak tangis dan juga suara serak Carmine itu sukses membuat Chloe terenyuh. Apalagi saat pandangannya dipertemukan langsung dengan manik violet Black Aura. Baginya, Black Aura tak jauh beda dengan Carmine. Mereka berdua memiliki beberapa kesamaan. Salah satunya yang mencolok bagi Chloe adalah keinginan untuk hidup tenang bersama Midnight. Tinggal di tempat yang sunyi dan tenang, jauh dari jangkauan orang-orang yang mereka benci.


Well, keinginan seperti itu sebenarnya sudah pernah tercapai saat Carmine masih berusia tiga belas tahun. Saat itu, dia tinggal di rumah Midnight dan merasa sangat bahagia tinggal di rumah orang asing itu. Sampai suatu hari kekacauan itu muncul, terpaksa Carmine harus menjalani masa remajanya dengan penuh konflik. Tentunya, dia tidak sendirian menghadapi masa tersebut. Ada Midnight yang selalu menemaninya. Wanita berkacamata yang sudah menganggap Carmine lebih dari seorang sahabat itu, bertekad akan melindungi Carmine sampai akhir hayatnya. Begitu pula sebaliknya. Mereka adalah saudara yang saling menyayangi satu sama lain.


Hanya mendengar kisah itu, Chloe bisa merasakan betapa menyesalnya Carmine akan kepergiannya yang terlalu cepat itu. Carmine tahu kalau dirinya sudah tak lagi bisa bereinkarnasi menjadi siapapun. Dia hanya bisa muncul di mimpi Midnight dan itupun jangka waktunya terbilang singkat. Begitu alarm berbunyi, saat itulah kakak adik itu berpisah.


Sekarang, Chloe yang sudah mengetahui semua fakta itu sekaligus sudah menjalin ikatan yang lama dengan Black Aura bertekad serta membuktikan pada Aura itu kalau dia akan melakukan apapun demi melindungi Black Aura.

__ADS_1


“Dengar aku, Black Aura! Aku…  Aku AKAN melindungimu! Aku akan memberikan semua kemampuanku untukmu, Black Aura!” serunya lantang.


~


__ADS_2