Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 163 {Season 2: Immortal}


__ADS_3

Sepuluh menit yang lalu…


“E-ethan?” Midnight membelalak tak percaya melihat Ethan keluar dari semak-semak selang beberapa menit yang lalu dibentak-bentak tak jelas oleh Midnight.


Ethan mengusap rambutnya sambil memasang senyum jahil di wajahnya. Akhirnya, setelah berjam-jam berjalan dan tersesat, dirinya menemukan tempat dimana Midnight dan teman-temannya berada. Semua ini tentunya berkat Captain.


Captain muncul tepat di depan Midnight bahkan tanpa ia sadari telah membuat Midnight terkejut untuk kedua kalinya.


“Eh? Ibu terluka!” seru Captain yang langsung memeriksa luka Midnight dengan cepat.


Midnight terkekeh. Dengan lembut, dia mendorong Captain untuk menjauh darinya seraya berkata, “Aku baik-baik saja. Sebelum itu, kau bawa obat buatan Yumi?”


“Bawa. Memangnya siapa yang terluka parah?” Captain menelengkan kepalanya penasaran. Sementara, tangan kanannya sibuk merogoh saku celana pendeknya.


“Aoi dan Okka. Mereka terluka parah. Tapi, aku yakin kalau mereka baik-baik saja. Serangan para Aura tidak terlalu berpengaruh pada nyawa manusia. Dimanapun tempatnya, manusia sepertiku dan Ethan tetap diuntungkan. Yah, asalkan nggak kena jantung aja,” tutur Midnight.


“Yah, kukira kita memang immortal di dunia ini. Dasar…” gumam Ethan menghela nafas berat. Sedikit lagi dirinya merasa lega dengan pernyataan bahwa manusia diuntungkan di dunia Carnater. Sayangnya, pernyataan terakhir mengenai jantung itu membuat rasa lega Ethan seketika sirna.


“Nah,” Captain memberikan tiga botol obat yang tampaknya isinya berupa cairan.


“Terima kasih!” ucap Midnight tanpa memperdulikan ekspresi kaget Ethan.


“Itu obat apa?” tanya Ethan penasaran. Jari telunjuk sampai bergetar saking penasarannya. Benar-benar di luar dugaan. Midnight yang ia kenal lembut dan tidak mencolok ini justru lebih banyak dikenal di dunia lain. Midnight juga ahli dalam bertarung dan berani menghadapi musuh-musuh yang kekuatannya lebih besar darinya.


“Oh, untuk Aura, obat ini bisa menghilangkan luka mereka. Kalau untuk manusia, obat ini bisa mencegah manusia dari kematian,” jawab Midnight lembut.


Ethan berdecak kagum dengan Midnight yang pengetahuannya tak hanya sekedar di dunia manusia tapi juga di dunia para Aura ini. Tidak diragukan lagi, Midnight pasti telah melewati banyak hal tak terduga dalam hidupnya. Ethan sebenarnya masih penasaran mengapa Midnight segitunya ingin kabur dari rumah. Wanita itu sampai saat ini masih menyimpan banyak misteri sejak Ethan mengenalinya di bangku SMP. Dan juga, Ethan diam-diam memendam perasaan terhadap Midnight. Dia suka. Enam belas tahun dia menyimpan perasaan tersebut sampai dirinya akhirnya dipertemukan kembali dengan wanita yang ia sukai.


Ethan ingin sekali mengatakan bahwa dirinya ingin memesan tempat di hati gadis berkacamata itu dan melarangnya untuk berpacaran dengan pria lain. Mungkin agak egois, tapi memang seperti itulah yang Ethan rasakan. Setiap berada di samping Midnight, Ethan merasa lebih berani menghadapi sesuatu. Dia tidak ragu menjadi pelindung Midnight sampai dirinya diakui di hati wanita itu.


Tangan ethan gemetar. Telapak tangan yang kosong itu seolah ingin menggenggam telapak tangan Midnight yang kebetulan juga kosong. Tidak ada seorangpun yang menggenggam tangan wanita itu. Bahkan Aura-aura sekalipun.

__ADS_1


Yoru… Bukan! Midnight. Dia memang berbeda. Tapi, dia lebih kuat dariku.


Ethan menelan salivanya ragu. Kedua matanya terpaku pada Midnight yang tengah berbincang dengan Captain.


Tidak! Jangan sekarang! Dia pasti syok kalau aku bilang suka padanya! Jangan! Pokoknya jangan!


“Ethan, ayo, kesana!” ajak Midnight menyadarkan Ethand aria lam bawah sadarnya. “Kau kenapa? Mukamu pucat lho…”


“Heh? Pucat?” Ethan seketika menyentuh pipinya yang dingin. Bukan dingin mayat, melainkan, perasaan gugup Ethan yang menguasai pikirannya.


“Ibu! Langitnya!” tunjuk Captain dengan cepat menarik perhatian Midnight dan Ethan langsung tertuju ke langit.


“Jangan bilang… Reverse?!”


Perasaan Midnight berubah menjadi gelisah ketika kedua matanya diperlihatkan dengan jelas warna langit di atasnya. Kalau tidak segera dihentikan, maka seluruh Carnater ini bisa hancur. Kemampuan terlarang itu harus ada yang menghentikannya.


“Midnight! Ada apa ini?”


“Aoi, Okka, minum ini!” perintah Midnight sambil menyodorkan botol obat itu pada Aoi dan Okka.


Kedua remaja itu langsung mengambil botol tersebut. kemudian, meminumnya sampai habis.


“Midnight… Apa maksud langit merah ini?” tanya Jacqueline ketakutan.


“Oh, maksudnya, Black Aura berubah menjadi sisi yang lebih sadis lagi. karena itulah, kalian yang manusia sebaiknya bersembunyi daripada ikut campur denganku.” Balas Midnight.


“Tapi, kau juga manusia kan?” timpal Ethan. Di saat bersamaan, Jacqueline dan ketiga temannya terkejut menyadari keberadaan Ethan di sekitar mereka.


“Memang benar. Tapi, aku aslinya abadi di dunia ini,” ucap Midnight tersenyum tipis .


~

__ADS_1


“Pfft! Santai aja kali…”


“Hah? Santai? Apa maksudmu ‘santai’?!” ujar Chloe tak mengerti. Sementara Midnight hanya diam dengan memasang ekspresi santai.


“Cih! Jangan bercanda! Mana bisa aku santai melihatmu terluka seperti ini! Kau nggak lihat apa?! Udah jelas-jelas pundak sampai pinggangmu terluka! Darahmu juga terbuang banyak tahu! Kau pikir, aku ini bisa santai kayak apa, ha?!” Chloe yang tak habis pikir dengan perkataan Midnight barusan spontan menggertak Midnight yang asyik menertawakan dirinya. Sudah jelas dari tampangnya yang pucat. Ditambah dengan darahnya yang terus mengalir. Midnight ini manusia. Manusia mustahil menahan luka dalam seperti itu.


“Huft… Nggak sopan. Asal kau tahu, aku ini…” Midnight mengusap pundaknya yang terluka sampai ke bagian pinggangnya dengan tangannya yang diselimuti oleh kekuatan sihir berwarna violet.


Chloe menganga lebar dengan tatapan tak percaya memandang pundak sampai ke pinggang Midnight yang bersih dari darah. Tidak ditemukan sedikitpun luka bekas tusukan.


“Bisa dibilang… Immortal,” ucap Midnight tersenyum manis.


“Heh?! Kau abadi?” Chloe mematung tanpa ekspresi.


Midnight terkekeh seraya bangkit dari posisi baringnya dan memperlihatkan pada Chloe bahwa dirinya ini masih sanggup untuk berdiri. Luka tusukan tadi menghilang tanpa jejak walau hanya meninggalkan bercak merah di kemeja putihnya dari darahnya yang mengalir tadi.


Kenyataan kali ini terlihat sangat mustahil bagi Chloe. Mulut gadis itu sampai ternganga saking tidak percayanya.


“Aku akan menceritakannya setelah semua ini selesai. Sebelum itu, yang harus kita lakukan adalah…” Midnight menoleh ke Black Aura Reverse.


Aura itu saat ini tengah sibuk menghajar Captain, Megawave, dan Black Aura. Baguslah remaja-remaja itu tidak ikut campur dalam pertarungan berbahaya kali ini. Dan juga, Ethan. Akan lebih baik jika pria itu bersembunyi bersama Aoi, Jacqueline, dan dua youtuber itu.


Yah, Midnight akui, dia sangat terkejut dengan pertemuannya dengan Ethan selang beberapa menit yang lalu. Orang yang menyerangnya rupanya adalah Ethan.


“Haah… Dasar… Untung aja bukan pakai pistol menyerangnya,” gumam Midnight.


"Okelah, kalau begitu... Kita hajar Black Aura itu sampai mati! Kau siap, Chloe?" tanya Midnight seraya menyodorkan boomerangnya dihadapan Chloe.


Chloe tersenyum percaya diri, kemudian meraih boomerang tersebut. "Siap dong!"


~

__ADS_1


__ADS_2