
Black Aura dan Captain mendarat bersamaan,
sembari menurunkan sepasang gadis yang sebelumnya dibuat melayang bebas di
udara oleh Grimoire.
“Jadi, mereka temanmu?” tanya Captain curiga.
Black Aura mengangguk. Berhubung situasi
mereka tampak tak memungkinkan untuk berbicara, Black Aura memutuskan
berhadapan langsung dengan Grimoire. Musuh lamanya. Salah satu pengawal Asoka
yang ia klaim sebagai Aura yang jauh lebih irit berbicara dengan obsesi yang kuat terhadap sang putri,
Captain menghampiri Aoi yang tengah menahan
rasa sakit dibagian kakinya yang tertusuk duri Grimoire. Bukan main sakitnya
jika benda itu menyerang makhluk hidup seperti manusia.
“Aneh. Kau manusia tapi masih kuat nahan rasa
sakit.” Ujar Captain setelah itu, menarik cepat durinya sekaligus membiarkan
tangan kanannya terluka, tertusuk duri Grimoire yang sekilas seperti bulu babi.
Spontan, Captain mengaduh kesakitan saat
permukaan tangannya menerima beberapa tusukan kecil dari duri Grimoire yang
mengeluarkan cabangnya lagi.
“Aduh! Sorry… Aku nggak maksud…” ucap Aoi
dengan tatapan minta maafnya. Dia juga merasa ngilu di lain sisi.
Captain tersenyum hangat. Aura berambut ungu
sepundak itu berjalan mendekati Aoi. Mengamati dengan teliti sosok Aoi dari
ujung kaki hingga kepala. Tapi, bagian wajahnya justru yang paling lama
dilihatnya.
“Mukamu… Aku merasa familiar dengan wajahmu.”
Kata Captain asal ceplos.
“Heh? Familiar? Kita ‘kan’ baru pertama kali
ketemu.” Aoi menelengkan kepalanya heran sembari mengambil beberapa langkah
sunyi ke belakang, menjauhi wajahnya dari wajah Captain yang perlahan-lahan
mendekatinya. Aoi bahkan bisa merasakan hembusan nafas Aura itu. Selain itu,
ada hal terpenting yang sangat Aoi takutkan mengenai tanggapan gadis berambut
ungu panjang yang berdiri tak jauh darinya. Memandang dirinya dengan tatapan
cemburu serta menginginkan Aoi untuk bertindak cepat agar posisi Captain ini
tidak berujung pada sesuatu yang akan merusak hubungan mereka ke depannya.
“Sorry… Kita terlalu dekat.” Lirih Aoi tak
nyaman.
Captain membelalak singkat. Tak lama kemudian
tertawa kecil sebagai responnya. “Oh, kau udah punya pacar ya?” tanya Aura itu
sambil mengalihkan pandangannya pada Jacqueline lalu, kembali ke Aoi.
Aoi mengangguk pelan. Pria itu tak berani
mengutarakan omongannya. Terlebih lagi ketika Jacqueline sudah terlanjur berada
di fase cemburunya. Gadis itu memang setia. Dia bahkan bersumpah pada Aoi,
andaikata dirinya menjadi istri Aoi nanti, dia akan menjaga keluarganya tetap
kokoh dan harmonis. Mengingat hal itu saja, dada pria Jepang itu langsung
memanas.
“Tenang. Seleraku jauh lebih tinggi dari
kalian. Meskipun nggak nyata, aku ini suka banget yang namanya…”
Yah, seperti Aura kebanyakan. Mereka
berbicara tanpa mengenal waktu dan tempat mereka saat ini. Di saat genting pun,
sempat-sempatnya membahasa sesuatu yang mereka sukai sampai-sampai tidak
menyadari kehadiran musuh hingga berakhir terluka parah. Seperti halnya Captain
yang dikejutkan Grimoire yang bergerak cepat di depannya disusul dengan pedang
durinya yang ia tusukkan langsung pada Captain.
Aoi, Chloe dan Jacqueline yang awalnya ingin
membentak Captain karena tidak terima dengan pernyataannya mengenai KPOP itu
__ADS_1
tidaklah nyata, membeku ditempat. Membiarkan cipratan darah biru tua Aura itu
membasahi wajah, sepatu, dan tangan mereka.
Captain ambruk bersamaan dengan luka dalam
yang semakin melemahkannya. Untunglah, masih ada Aura lain yang bisa melindungi
ketiga remaja itu sebelum Grimoire menebas mereka bertiga.
Black Aura melangkah cepat, membiarkan pedangnya
menebas punggung Aura itu. Bukannya Grimoire yang terluka, justru pedangnya
yang ketempelan duri Grimoire. Ujung pedang yang barusan menyentuh punggung
Aura berkekuatan duri itu seketika mendapatkan serangan diam-diam dari Grimoire
yang benci sekali yang namanya diserang dari belakang.
Karena kebencian itulah, rencana itu
tiba-tiba muncul secara spontan tapi untungnya berguna pagi Grimoire.
Dua puluh lebih duri panjang dan tipis itu
mewarna pedang Black Aura. Terpaksa, Black Aura membuang jauh pedangnya dan
menggantinya dengan sabit. Yah, harap-harap sih, Black Aura bisa menggunakan
sabitnya dengan hati-hati agar senjatanya itu tidak terkontaminasi duri beracun
Grimoire.
Kalau dipikir-pikir, kemampuan Grimpoire, lawannya Cuma ada satu. Akan tetapi,
karena Cuma satu itulah, Grimoire dengan kreativitasnya menciptakan beberapa
varian agar dirinya tidak kebingungan memilih kemampuannya ketika dihadang
masa-masa genting seperti ini.
Black Aura kembali bergerak bersamaan dengan
Grimoire. Masing-masing beradu senjata mereka dengan sengit tanpa memandang
goresan yang sedikit demi sedikit melukai mereka.
Dengan brutal Grimoire mengeluarkan lima
belas langsung durinya, kemudian ditancapkannya ke pundak kanan Black Aura. Muncullah duri-duri panjang
berpukuran dua kali besarnya kepala manusia. Dari jauh, sekilas seperti bulu
babi raksasa yang menempel di pundak Black Aura.
Chloe yang melihat pertarungan itu hanya bisa terdiam dengan kedua matanya yang
sadar, air matanya mengalir membasahi pipi kanannya. Gadis itu rindu dengan
suasana bertarung yang terkadang membuatnya panik.
Dunia seakan berhenti ketika kedua mata Chloe
berpapasan dengan manic violet Black Aura yang saat itu tak sengaja mengarah
padanya. Black Aura selalu memasang wajah serius ketika bertarung. Aura itu
jarang mengulas senyumannya. Bahkan ketika dirinya berhasil memenangkan
pertarungannya, senyuman itu tak akan pernah terukir di wajahnya. Sudah menjadi
ciri khas Black Aura.
Sekarang ini, dunia yang gadis itu pijaki
bukanlah bumi yang berisik. Melainkan, dunia Carnater yang dipenuhi akan
kekosongan. Dunia yang rentan sekali terhadap kekerasan.
Meski cepat pergerakan kedua Aura itu, Chloe
bisa menangkap jelas teknik mereka mengeluarkan senjata, kemudian
menggunakannya dengan brutal sembari menghindari serangan. Seperti melodi
menurut Chloe. Untuk sesaat, gadis itu membiarkan dirinya tenggelam dalam
pengamatan heningnya. Segala rasa iri, cemburu, dan kekesalan yang selama dua
bulan ini terbendung dalam pikirannya, seketika menghilang bagaikan debu.
Ketiga perasaan negative itu tersapu oleh keindahan kekuatan Black Aura yang
identik dengan warna violet dan teknik Grimoire yang seoalh menyimpan makna
terdalam dibalik duri-duri yang sensitive itu.
Layaknya apel yang dilempar bebas di udara,
Black Aura dengan gerakan kilat menebas Grimoire hingga membuat Aura
berkekuatan duri namun tidak sampai membuat Aura berkekuatan duri itu terbelah
menjadi dua.
Tak mau kalah, Grimoire membalas serangan
__ADS_1
Black Aura dengan menggenggam bulu babi yang tumbuh di lengan kanan Black Aura,
kemudian menariknya paksa.
Lengan kanan Black Aura tergelatak lemah di
depan sepatu Grimoire.
Tidak tanggapan apapun mengenai putusnya
lengan kanannya. Black Aura hanya diam sambil menatap lengannya. Hal seperti
ini sudah biasa baginya.
“Beritahu aku…” bisik Black Aura sambil
menahan pedang Grimoire yang mengarah padanya. Mendengar lawannya itu berbicara
,Grimoire tersentak dari fokusnya. Bukan hal biasa melihat Black Aura yang dia
kenal sebagai Aura dengan mulut yang selalu terkunci rapat, kini mengutarakan
dua kata padanya.
“Apa?” tanya Grimoire dengan mulutnya yang
tertutup rapat. Aura itu bertelepati lantaran pita suaranya terluka akibat serangan
dari Aura lain.
“Dimana terakhir kali kau melihat manusia
selain mereka?”
“Nggak ada. Mereka bertiga manusia pertama
yang kulihat di sekitar sini.” Jawab Grimoire terus terang.
“Begitu ya?” Black Aura mundur beberapa langkah
menjauhi Grimoire yang terlihat bingung.
“Kau mau pergi?” tanya Grimoire lagi. Pedang
durinya menghilang seiring langkah Black Aura menjauhi dirinya. Ada yang
janggal tapi Grimoire memilih untuk diam. Dia rasa, bukan saat yang tepat
melanjutkan pertempuran di kala lawannya tengah memiliki urusan yang lain.
“Eh, sudah selesaikah bertarungnya?” Chloe
membulat heran. Gadis itu melirik ke arah Black Aura meminta jawaban yang pasti
dari Aura itu.
“Ya.” balas Black Aura disertai senyuman
kecilnya.
“Lah? Jadi kita mau ngapain sekarang?” timpal
Jacqueline bersemangat sambil memapah Aoi yang kaki kanannya terluka akibat
duri Grimoire sebelumnya.
“Jadi begini…” Captain berdehem mengejutkan
ketiga remaja itu. Saking terkejutnya, posisi berdiri Aoi nyaris tak seimbang
dan hampir saja menarik Jacqueline yang sedang memapahnya untuk jatuh.
“Kami menemukan barang-barang yang kami klaim
sebagai barang milik manusia.” Jelas Captain. Luka tusukan Grimoire tadi sudah
pulih disebuhkan Black Aura menggunakan kemampuan memindahkan rasa sakitnya.
“Kami baru menemukan tas, ponsel, dan ini…”
Captain menyodorkan sepucuk surat yang bertuliskan “Sumpah, seru banget
nge-vlog di sini”
Seketika, Chloe, Aoi, dan Jacqueline
membelalak tak percaya bersamaan. Ketiganya auto setuju dengan pernyataan
Captain mengenai dugaannya yang menganggap surat itu milik manusia yang saat
ini masih misterius keberadaannya.
“Nge-vlog? Jangan bilang… Ada maling yang
niatnya mau ngerampok rumahnya eh, malah terjun ke cermin Carnater and tersesat
di sini!” tebak Aoi main ceplos aja. Ceplos-ceplos begitu, tebakannya langsung
mendapatkan persetujuan dari Chloe, Jacqueline, dan Captain. Sedangkan Black
Aura, Aura itu hanya diam di tempat meratapi ketidakseriusan ketiga remaja itu
ditambah dengan pikiran pendek milik Captain.
Lama-lama, Black Aura meragukan misinya.
Apakah misinya tersebut akan berjalan sesuai rencana atau justru tertunda
__ADS_1
beberapa kali karena kehadiran ketiga manusia ini? Hah… Jadi serba salah, mau
bingung atau senang.