Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 90 { Season 2 }


__ADS_3

Black Aura dan Captain mendarat bersamaan,


sembari menurunkan sepasang gadis yang sebelumnya dibuat melayang bebas di


udara oleh Grimoire.


“Jadi, mereka temanmu?” tanya Captain curiga.


Black Aura mengangguk. Berhubung situasi


mereka tampak tak memungkinkan untuk berbicara, Black Aura memutuskan


berhadapan langsung dengan Grimoire. Musuh lamanya. Salah satu pengawal Asoka


yang ia klaim sebagai Aura yang jauh lebih irit berbicara dengan obsesi yang kuat terhadap sang putri,


Captain menghampiri Aoi yang tengah menahan


rasa sakit dibagian kakinya yang tertusuk duri Grimoire. Bukan main sakitnya


jika benda itu menyerang makhluk hidup seperti manusia.


“Aneh. Kau manusia tapi masih kuat nahan rasa


sakit.” Ujar Captain setelah itu, menarik cepat durinya sekaligus membiarkan


tangan kanannya terluka, tertusuk duri Grimoire yang sekilas seperti bulu babi.


Spontan, Captain mengaduh kesakitan saat


permukaan tangannya menerima beberapa tusukan kecil dari duri Grimoire yang


mengeluarkan cabangnya lagi.


“Aduh! Sorry… Aku nggak maksud…” ucap Aoi


dengan tatapan minta maafnya. Dia juga merasa ngilu di lain sisi.


Captain tersenyum hangat. Aura berambut ungu


sepundak itu berjalan mendekati Aoi. Mengamati dengan teliti sosok Aoi dari


ujung kaki hingga kepala. Tapi, bagian wajahnya justru yang paling lama


dilihatnya.


“Mukamu… Aku merasa familiar dengan wajahmu.”


Kata Captain asal ceplos.


“Heh? Familiar? Kita ‘kan’ baru pertama kali


ketemu.” Aoi menelengkan kepalanya heran sembari mengambil beberapa langkah


sunyi ke belakang, menjauhi wajahnya dari wajah Captain yang perlahan-lahan


mendekatinya. Aoi bahkan bisa merasakan hembusan nafas Aura itu. Selain itu,


ada hal terpenting yang sangat Aoi takutkan mengenai tanggapan gadis berambut


ungu panjang yang berdiri tak jauh darinya. Memandang dirinya dengan tatapan


cemburu serta menginginkan Aoi untuk bertindak cepat agar posisi Captain ini


tidak berujung pada sesuatu yang akan merusak hubungan mereka ke depannya.


“Sorry… Kita terlalu dekat.” Lirih Aoi tak


nyaman.


Captain membelalak singkat. Tak lama kemudian


tertawa kecil sebagai responnya. “Oh, kau udah punya pacar ya?” tanya Aura itu


sambil mengalihkan pandangannya pada Jacqueline lalu, kembali ke Aoi.


Aoi mengangguk pelan. Pria itu tak berani


mengutarakan omongannya. Terlebih lagi ketika Jacqueline sudah terlanjur berada


di fase cemburunya. Gadis itu memang setia. Dia bahkan bersumpah pada Aoi,


andaikata dirinya menjadi istri Aoi nanti, dia akan menjaga keluarganya tetap


kokoh dan harmonis. Mengingat hal itu saja, dada pria Jepang itu langsung


memanas.


“Tenang. Seleraku jauh lebih tinggi dari


kalian. Meskipun nggak nyata, aku ini suka banget yang namanya…”


Yah, seperti Aura kebanyakan. Mereka


berbicara tanpa mengenal waktu dan tempat mereka saat ini. Di saat genting pun,


sempat-sempatnya membahasa sesuatu yang mereka sukai sampai-sampai tidak


menyadari kehadiran musuh hingga berakhir terluka parah. Seperti halnya Captain


yang dikejutkan Grimoire yang bergerak cepat di depannya disusul dengan pedang


durinya yang ia tusukkan langsung pada Captain.


Aoi, Chloe dan Jacqueline yang awalnya ingin


membentak Captain karena tidak terima dengan pernyataannya mengenai KPOP itu

__ADS_1


tidaklah nyata, membeku ditempat. Membiarkan cipratan darah biru tua Aura itu


membasahi wajah, sepatu, dan tangan mereka.


Captain ambruk bersamaan dengan luka dalam


yang semakin melemahkannya. Untunglah, masih ada Aura lain yang bisa melindungi


ketiga remaja itu sebelum Grimoire menebas mereka bertiga.


Black Aura melangkah cepat, membiarkan pedangnya


menebas punggung Aura itu. Bukannya Grimoire yang terluka, justru pedangnya


yang ketempelan duri Grimoire. Ujung pedang yang barusan menyentuh punggung


Aura berkekuatan duri itu seketika mendapatkan serangan diam-diam dari Grimoire


yang benci sekali yang namanya diserang dari belakang.


Karena kebencian itulah, rencana itu


tiba-tiba muncul secara spontan tapi untungnya berguna pagi Grimoire.


Dua puluh lebih duri panjang dan tipis itu


mewarna pedang Black Aura. Terpaksa, Black Aura membuang jauh pedangnya dan


menggantinya dengan sabit. Yah, harap-harap sih, Black Aura bisa menggunakan


sabitnya dengan hati-hati agar senjatanya itu tidak terkontaminasi duri beracun


Grimoire.


Kalau dipikir-pikir, kemampuan  Grimpoire, lawannya Cuma ada satu. Akan tetapi,


karena Cuma satu itulah, Grimoire dengan kreativitasnya menciptakan beberapa


varian agar dirinya tidak kebingungan memilih kemampuannya ketika dihadang


masa-masa genting seperti ini.


Black Aura kembali bergerak bersamaan dengan


Grimoire. Masing-masing beradu senjata mereka dengan sengit tanpa memandang


goresan yang sedikit demi sedikit melukai mereka.


Dengan brutal Grimoire mengeluarkan lima


belas langsung durinya, kemudian  ditancapkannya ke pundak kanan Black Aura. Muncullah duri-duri panjang


berpukuran dua kali besarnya kepala manusia. Dari jauh, sekilas seperti bulu


babi raksasa yang menempel di pundak Black Aura.


Chloe yang melihat pertarungan  itu  hanya bisa terdiam dengan kedua matanya yang


sadar, air matanya mengalir membasahi pipi kanannya. Gadis itu rindu dengan


suasana bertarung yang terkadang membuatnya panik.


Dunia seakan berhenti ketika kedua mata Chloe


berpapasan dengan manic violet Black Aura yang saat itu tak sengaja mengarah


padanya. Black Aura selalu memasang wajah serius ketika bertarung. Aura itu


jarang mengulas senyumannya. Bahkan ketika dirinya berhasil memenangkan


pertarungannya, senyuman itu tak akan pernah terukir di wajahnya. Sudah menjadi


ciri khas Black Aura.


Sekarang ini, dunia yang gadis itu pijaki


bukanlah bumi yang berisik. Melainkan, dunia Carnater yang dipenuhi akan


kekosongan. Dunia yang rentan sekali terhadap kekerasan.


Meski cepat pergerakan kedua Aura itu, Chloe


bisa menangkap jelas teknik mereka mengeluarkan senjata, kemudian


menggunakannya dengan brutal sembari menghindari serangan. Seperti melodi


menurut Chloe. Untuk sesaat, gadis itu membiarkan dirinya tenggelam dalam


pengamatan heningnya. Segala rasa iri, cemburu, dan kekesalan yang selama dua


bulan ini terbendung dalam pikirannya, seketika menghilang bagaikan debu.


Ketiga perasaan negative itu tersapu oleh keindahan kekuatan Black Aura yang


identik dengan warna violet dan teknik Grimoire yang seoalh menyimpan makna


terdalam dibalik duri-duri yang sensitive itu.


Layaknya apel yang dilempar bebas di udara,


Black Aura dengan gerakan kilat menebas Grimoire hingga membuat Aura


berkekuatan duri namun tidak sampai membuat Aura berkekuatan duri itu terbelah


menjadi dua.


Tak mau kalah, Grimoire membalas serangan

__ADS_1


Black Aura dengan menggenggam bulu babi yang tumbuh di lengan kanan Black Aura,


kemudian menariknya paksa.


Lengan kanan Black Aura tergelatak lemah di


depan sepatu Grimoire.


Tidak tanggapan apapun mengenai putusnya


lengan kanannya. Black Aura hanya diam sambil menatap lengannya. Hal seperti


ini sudah biasa baginya.


“Beritahu aku…” bisik Black Aura sambil


menahan pedang Grimoire yang mengarah padanya. Mendengar lawannya itu berbicara


,Grimoire tersentak dari fokusnya. Bukan hal biasa melihat Black Aura yang dia


kenal sebagai Aura dengan mulut yang selalu terkunci rapat, kini mengutarakan


dua kata padanya.


“Apa?” tanya Grimoire dengan mulutnya yang


tertutup rapat. Aura itu bertelepati lantaran pita suaranya terluka akibat serangan


dari Aura lain.


“Dimana terakhir kali kau melihat manusia


selain mereka?”


“Nggak ada. Mereka bertiga manusia pertama


yang kulihat di sekitar sini.” Jawab Grimoire terus terang.


“Begitu ya?” Black Aura mundur beberapa langkah


menjauhi Grimoire yang terlihat bingung.


“Kau mau pergi?” tanya Grimoire lagi. Pedang


durinya menghilang seiring langkah Black Aura menjauhi dirinya. Ada yang


janggal tapi Grimoire memilih untuk diam. Dia rasa, bukan saat yang tepat


melanjutkan pertempuran di kala lawannya tengah memiliki urusan yang lain.


“Eh, sudah selesaikah bertarungnya?” Chloe


membulat heran. Gadis itu melirik ke arah Black Aura meminta jawaban yang pasti


dari Aura itu.


“Ya.” balas Black Aura disertai senyuman


kecilnya.


“Lah? Jadi kita mau ngapain sekarang?” timpal


Jacqueline bersemangat sambil memapah Aoi yang kaki kanannya terluka akibat


duri Grimoire sebelumnya.


“Jadi begini…” Captain berdehem mengejutkan


ketiga remaja itu. Saking terkejutnya, posisi berdiri Aoi nyaris tak seimbang


dan hampir saja menarik Jacqueline yang sedang memapahnya untuk jatuh.


“Kami menemukan barang-barang yang kami klaim


sebagai barang milik manusia.” Jelas Captain. Luka tusukan Grimoire tadi sudah


pulih disebuhkan Black Aura menggunakan kemampuan memindahkan rasa sakitnya.


“Kami baru menemukan tas, ponsel, dan ini…”


Captain menyodorkan sepucuk surat yang bertuliskan “Sumpah, seru banget


nge-vlog di sini”


Seketika, Chloe, Aoi, dan Jacqueline


membelalak tak percaya bersamaan. Ketiganya auto setuju dengan pernyataan


Captain mengenai dugaannya yang menganggap surat itu milik manusia yang saat


ini masih misterius keberadaannya.


“Nge-vlog? Jangan bilang… Ada maling yang


niatnya mau ngerampok rumahnya eh, malah terjun ke cermin Carnater and tersesat


di sini!” tebak Aoi main ceplos aja. Ceplos-ceplos begitu, tebakannya langsung


mendapatkan persetujuan dari Chloe, Jacqueline, dan Captain. Sedangkan Black


Aura, Aura itu hanya diam di tempat meratapi ketidakseriusan ketiga remaja itu


ditambah dengan pikiran pendek milik Captain.


Lama-lama, Black Aura meragukan misinya.


Apakah misinya tersebut akan berjalan sesuai rencana atau justru tertunda

__ADS_1


beberapa kali karena kehadiran ketiga manusia ini? Hah… Jadi serba salah, mau


bingung atau senang.


__ADS_2