Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 110 {Season 2: Masalah Baru}


__ADS_3

Entah mau sampai kapan semua ini akan berakhir? Black Aura hanya bisa diam di balik jendela perpustakaan yang tertutupi oleh gorden hitam bermotif bunga veronica. Dengan headphone yang jarang ia lepas lantaran hobinya yang senang mendengar lagu, Black Aura mencari lagu yang setidaknya bisa menenangkan pikirannya.


Kopi yang semulanya penuh kini tersisa setengah. Setengahnya berakhir menjadi penghangat untuk Aura yang meminum kopi tersebut.


Dua bulan yang lalu, dirinya telah berjuang habis-habisan berhadapan dengan dunia Chloe yang berisik sampai dirinya tidak menyadari kalau dunia itu adalah bahaya terbesar bagi Aura sepertinya. Tampaknya, rumor yang mengatakan bahwa Black Aura itu kejam tidak berlaku di dunia Chloe.


“Hahh… Kalau semuanya berakhir, apa yang akan kulakukan dengan Chloe?” gumamnya.


Black Aura menoleh ke pintu perpustakaan. Pintu itu tadinya terbuka. Sejak ditinggal sebentar oleh Chloe dan kedua sahabatnya, pintu itu tertutup rapat dengan sisinya yang melekat di pinggiran dinding yang dingin. Lagi-lagi, kesepian menghampirinya. Seperti sudah menjadi sahabatnya setiap hari. Sahabat yang tidak terlihat wujudnya namun tulus menerima apapun keadaan Black Aura.


Kata ritual tiba-tiba terlintas di benaknya. Membuat Aura itu beranjak dari posisi duduknya di atas meja menuju salah satu rak yang Midnight tempatkan di sudut ruangan bagian kanan. Bukunya banyak tapi hanya satu yang diambil Black Aura.


Buku yang berisikan mantra-mantra tak jelas serta beragam ritual yang saat ini sedang Black Aura cari mana yang paling ampuh untuk mengembalikan warna dunianya meskipun dia sendiri tahu ada bayarannya.


Black Aura membuka halaman ke dua puluh buku itu dan menemukan ritual yang ia cari dan juga tata caranya. Sekarang, solusinya sudah ditemukan. Sisanya waktu dan kapan akan mereka praktekkan ritual tersebut.


“Sudah kuduga, harus manusia yang melakukannya,” Black Aura menghela nafas berat, kemudian pergi keluar untuk menemui Chloe dan kedua sahabatnya.


Dulu, jauh sebelum Legend Aura membuat kekacauan di Caranter, ada tiga gadis SMA yang pernah berkunjung ke dunianya dalam bentuk yang berbeda. Jika Chloe dan kedua sahabatnya masuk melalui cermin penghubung dunia nyata dengan Carnater, ketiga gadis itu terhubung karena kembaran mereka. Ceritanya panjang sekali. Karena itulah, Black Aura hanya mengingat masa lalu itu secara singkat.


Dia ingat dengan serangkaian bencana alam yang menghantam dunianya secara beruntun. Bencana-bencana seperti tsunami, meledaknya hutan berduri, dan juga festival yang bertebaran dimana-mana. Ketiga bencana itu  berkaitan erat dengan perasaan ketiga gadis yang secara tidak sadar terhubung. Melalui perantara kembaran mereka di dunia Carnater seperti Lady Asoka, Aquaroid Yui, dan Afraid.


Kembaran mereka tercipta karena ikatan yang mereka jalin dengan Yumi yang saat itu diberi misi oleh Midnight untuk mengawasi adiknya, Afra. Masalah Midnight dengan Afra hingga saat ini masih belum terselesaikan. KEndati Afra sang adik berusaha untuk memperbaiki ikatannya dengan Midnight sebagai seorang saudara, Midnight tetap tidak mau berhubungan lagi dengan AFra. Demi keselamatan adiknya dan juga dunia yang menjadi tempat pulang keduanya.


Kalau diceritakan sekarang masa lalu Carnater dan bencana alam yang disebabkan tiga gadis itu akan terasa panjang. Sampai-sampai, ritual yang ingin Black Aura diskusikan dengan Chloe tidak akan tersampaikan.


Paham tidak paham, masa lalu itu akan memiliki bukunya sendiri.


~


“Kau tunggu di luar! Jangan masuk!” perintah Midnight disertai tatapan tajam yang mengarah langsung ke Ethan.


Ethan yang tidak tahu salahnya apa sampai-sampai mendapatkan tatapan dingin dari Midnight itu memilih untuk mengiyakan yang dikatakan Wanita berkacamata itu katakan.Daripada mengambil resiko mendapatkan amukannya dan menambah masalahnya, akan lebih baik pria itu menunggu sambil bermain game online-nya.


Kedua kakinya yang sedari tadi berjalan, mengajukan protes, memaksa sang pemilik untuk duduk asal tempat asalkan bersih.


Ethan mengedarkan pandangannya seluas mungkin. Mengamati keindahan ruangan di dalam mansion mewah milik Midnight. Awalnya ia tidak percaya kalau mansions besar itu milik Midnight. DIa bertanya-tanya, dari mana wanita itu bisa mendapatkan uang sebanyak itu hingga membeli mansion yang menurutnya hanya orang-orang memiliki kekayaan di atas rata-rata saja yang bisa menempatinya.


“Yoru ke Midnight itu lumayan dekat sih. Tapi… Kenapa dia merahasiakan namanya? Kenapa dia nggak pernah memberitahukan semua masalahnya?” pikir Ethan sampai sekarang ini masih terngiang-ngiang di benaknya. Ethan merasa dirinya tak berguna sebagai seorang sahabat untuk Midnight.


Selain memikirkan Midnight, dia juga mencemaskan Elena yang saat ini masih bersama Emma. Adiknya itu belum mengirim pesan apapun. Padahal sudah dua bulan berselang tapi tidak ada satupun kabar yang ia terima dari sang adik Lantas, kemanakah gadis itu? Ethan juga mengkhawatirkan Rara yang mencemaskan Elena.


“Yuuki…” Ethan diam sejenak. “Ah! Untuk apa aku memikirkan pria itu? Jelas-jelas dia membenci Midnight di masa lalu. Tapi… Astaga! Hanya karena penampilan luar dia jadi…”

__ADS_1


“Jadi cinta sama aku? Yah, kau benar. Dia laki-laki paling menyebalkan dalam hidupku. DIa tidak ada apa-apanya di mataku kecuali sampah.”


Midnight muncul tiba-tiba dengan pakaiannya yang sudah berganti menjadi hoodie berwarna hitam berlambang bulan di dada kirinya. Wanita itu juga mengganti kacamata bulatnya yang pecah menjadi baru.


Sekilas tapi tak semua, kamar Midnight benar-benar rapi namun gelap. Ethan merasakan hawa dingin mencekam di dalam sana. Tapi, ada satu hal yang Ethan ingin tanyakan mengenai mansion mewah Midnight. Bunga ungu yang ia temukan di setiap sudut ruangan. Apakah bunga itu merupakan bunga kesukaan Midnight?


“Midnight…” panggilnya pelan.


“Apa?”


“Bunga di sudut ruangan itu kesukaanmu?”


“Ya. Kenapa memangnya?” Kali ini Midnight yang balik bertanya. Nada bicaranya terdngar enggan membahas topic yang tidak penting itu.


Ethan pun menghela nafas berat. “Lupakan saja… Nggak penting juga.” Pria itu menyerah dengan pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Dia tidak menyangka kalau sahabatnya benar-benar drastis perubahannya.


“Kalau sudah nggak berurusan dengan masalahku, mending pulang. Kau disini hanya akan menggangguku!” sarkas Midnight tiba-tiba.


Ethan mematung tak percaya dengan apa yang Midnight lontarkan barusan. Tubuhnya seakan disambar petir yang dahsyat dari musim yang hujan dengan awan cumulus hitam yang tebal. Barusan wanita itu mengatakan sesuatu dengan nada sarkas dan dingin. Hati lembut Ethan seketika perih dan sesak. Namun, pria itu tetap bersikeras dengan pendiriannya ingin menemani Midnight sampai akhir masalahnya.


Ethan sudah berjanji untuk tidak lagi meninggalkan sahabatnya. Dia tidak ingin keberadaannya yang dulu sangat Midnight syukuri pudar perlahan-lahan di mata sebiru malam itu.


Maka dari itulah, Ethan menyambar kedua lengan Midnight sambil mengungkapkan segala isi hatinya yang selama ini ia tahan agar tidak terucap di waktu dan tempat yang salah.


“Aku…! Aku akan terus menemanimu sampai semua konflik ini selesai! Nggak peduli mau sebenci apa kau terhadapku, sebagai sahabat, aku akan menemanimu Midnight! Nggak papa mau kau anggap aku sampah sekalipun, aku akan tetap di sisimu!” tegasnya.


“Ethan… Cih! Aku ngomong gitu karena nggak mau kau terlibat!” tegas Midnight. Suaranya menggema di sepanjang lorong yang gelap.


“Justru karena laranganmu itu nggak akan pernah membuatku mundur! Aku sudah tahu kalau itu yang kau inginkan! Tapi, membiarkan perempuan sepertimu menyelesaikan konflik yang seharusnya diselesaikan bersama membuatku tidak tahan! Aku yang pria saja nggak mungkin bisa menyelesaikannya kalau sendirian! Apa kau tahu? Alasan kenapa Chloe dan kawan-kawannya berteman dengan anak-anakmu?”


Dalam jeda omongan ethan yang terbilang singkat itu, Midnight menggeleng pelan meskipun aslinya dia tahu.


“Karena ikatan mereka! Kecocokan dan kenyamanan yang mereka bangun bersama membuat mereka sulit bertahan merasakan betapa tersiksanya perpisahan itu. Nggak peduli sebanyak apa musuh yang bakal mereka hadapi, serangan apa yang bakal menyerang mereka, dan juga rintangan apa yang akan menjungkir balik langkah mereka, mereka akan bersikeras terlibat karena ikatan yang berharga itu !”


Nafas ethan tidak stabil lantaran terlalu banyak bicara dengan jeda yang terbilang pendek. Genggaman pria itu semakin erat dan membuat Midnight merasa sedikit kesakitan. Wanita berkacamata itu meringis. Kesakitan tapi wajahnya tidak bisa dialihkan ke arah yang lain. Entah mengapa, karena Midnight merasa nyaman dengan posisinya saat ini.


Dadanya terasa panas. Begitu Pula matanya.


“Kau tak sendirian lagi, Midnight! Aku ada sekarang! Aku di depanmu sekarang dan aku nggak akan berbalik lagi!”


“Lalu, kalau kau sampai kehilangan nyawamu bagaimana? Apa kau ingin membuatku tersiksa karena rasa bersalah telah melibatkanmu dengan masalah ini?” Midnight akhirnya merespon dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. “Asal kau tahu saja, aku sendirian karena aku nggak mau tersiksa dengan perasaan bersalah itu! Aku benci penyesalan! Aku ingin hidup tenang tapi sulit sekali mendapatkannya!” dan saat itulah tangisannya pecah. Midnight menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Kepalanya tertunduk, tak ingin memperlihatkan betapa cengengnya dirinya.


Ethan terdiam. “Untuk apa kau menyesal? Aku justru bangga karena aku bisa berkorban demi melindungimu.”

__ADS_1


“Adikmu bodoh!” gertak Midnight langsung menyadarkan Ethan akan posisi adiknya.


“Ya, kau bangga karena bisa melindungiku. Aku tahu kau suka padaku! Tapi nggak begini caranya! Kau bilang Elena depresi karena kehilangan aku, bukan? Kalau begitu, bagaimana kalau dia kehilanganmu?!” dengan suara parau dan nafas yang tersedak karena isak tangisnya, Midnight mati-matian menahannya agar suaranya terdengar stabil di telinga Ethan.


Tak perlu dijelaskan pun, Ethan sudah melihat betapa tertekannya Midnight dengan kehidupannya. Ethan menemukan sekilas keinginan ingin mengakhiri hidupnya dari wajah sahabatnya yang kacau itu. Sungguh, Ethan tidak menyangka kalau level stress Midnight sudah berada di puncaknya. AKan tetapi, yang membuat Ethan bingung sekaligus malu adalah, dari Midnight tahu kalau dirinya menaruh rasa suka pada wanita berkacamata bulat itu?


“Baiklah… Kau menang soal Elena tapi, tekadku sudah bulat. Aku…” Ethan maju beberapa langkah mendekati Midnight dengan kedua tangannya yang ia rentangkan. Pria itu hendak memberikan kehangatannya pada Midnight dengan pelukan. Harap-harap Midnight tidak menepis niat baiknya itu.


Saat kedua lengannya melingkar dan akan menyentuh Midnight, sebuah pedang melayang cepat di hadapan mereka. Baik Midnight maupun Ethan, keduanya sukses dikejutkan oleh angin tipis yang melesat cepat di wajah mereka. Sontak, Ethan segera menjauhkan dirinya dari Midnight dan menoleh ke tempat di mana pedang itu berasal.


Bola matanya sekilas menjepret bagaimana rupa pedang itu. Warnanya hitam dan terdapat beberapa bercak darah yang mengering di pedangnya. Bulu kuduk Ethan meremang mengetahui siapa pemilik dari pedang itu.


“Aura?” Midnight mengernyitkan keningnya tidak mengerti dengan maksud sosok Aura yang baru saja  melempar pedangnya di depan wajahnya dan Ethan. Beruntung sekali ujung pedang itu tidak menggores batang hidup mereka.


Aura itu berdiri di tengah lorong dengan jarak mereka yang berjauhan. Tangan besinya terkepal keras menandakan betapa tidak sukanya Aura itu akan kehadiran pria yang hendak memeluk ibunya tadi. Dalam diamnya dirinya dan juga gelapnya lorong tersebut, Aura itu memperlihatkan tatapan tajamnya melalui manik violetnya yang menyala.


Barulah Ethan ingat kalau sosok itu adalah Black Aura.


“Black Aura?” suara Ethan bergetar karena takut.


“Kenapa kau di sini?”


“Eh?”


Midnight dan Ethan tertegun mendengar pertanyaan yang Black Aura lontarkan di depan mereka.


“Dia kesini untuk…”


Belum lagi selesai Midnight berbicara, sebuah sabitnya berputar cepat di hadapannya dengan target yang sudah ditentukan sang pemilik yaitu, Ethan.


Ethan terkejut bukan main dengan cepat menghindar ke samping hingga menabrak meja kecil yang menganggur. “Apa-apaan maksudmu? Aku kesini karena ingin membantu ibu…”


Masih tak puas juga,Black Aura melempar pisau-pisau kecil ke arah Ethan. Aura itu terlihat tidak peduli dengan apapun yang Ethan katakan selain menyingkirkan seseorang yang pernah membuatnya terpisah dengan Chloe. Mungkin dia melakukan hal itu demi menghindari pandangan Chloe dari pria bernama Ethan itu? Entahlah…


“Hey, Black Aura!” teriak Midnight kali ini amarahnya yang terpancing. “Hentikan semua senjata itu! Dia manusia!” dan nampaknya, Black Aura tidak menggubris omongan Midnight selain melanjutkan serangannya.


“Midnight benar, Black Aura. Aku kesini bukan cari masalah. Tapi… OH ASTAGA!!!” Ethan bangkit dan kabur dari Black Aura yang tiba-tiba mengejarnya.


“Buntu?!” celetuk Ethan panik mendapati jalan buntu di depannya. Saat lari tadi, dia sempat menemukan perempatan. Hanya saja, rasa panik yang mendominasi pikirannya membuatnya terus berlari lurus sampai menemukan jalan buntu. “Sial! Akh!”


“Pergi!” lirih Black Aura dengan tangan kanannya yang menggenggam erat tengkuk ethan hingga membuat pria itu sesak nafas.


Menanggapi hal itu, tentu saja Midnight tak bisa tinggal diam selain menyusul dua orang itu dan terpaksa menyelamatkan Ethan.

__ADS_1


“Ethan bertahanlah!” seru Midnight bersamaan dengan Silentwave yang sudah ada di sampingnya, berlari mengiringi langkah ibunya.


~


__ADS_2