
“Apa?! Setengah Aura? Bagaimana bisa?” seru Midnight terkejut bukan main. “Chloe! Kau di mana sekarang! Aku segera kesana jadi, tunggu aku!”
“Baik! Aku nggak tahu ini aman atau nggak. Tapi, Okka punya kekuatan dan… dan… AAAAAA!”
Panggilan mereka akhirnya terputus. Midnight terdiam dengan tampang tidak percayanya. Sementara Jacqueline dan Aoi hanya bisa melongo cemas sambil menunggu keputusan dari Midnight.
“Kita langsung kesana! Silentwave!”
Silentwave mengangguk dan langsung membuka portal menuju tempat Chloe berada. Midnight masuk terlebih dahulu ke dalam portal kemudian disusul Aoi, Jacqueline, dan Silentwave.
Tepat saat Midnight menapakkan kakinya, di waktu bersamaan, Chloe muncul setelah terlempar oleh serangan Okka dan menabrak Midnight. Kacamata bulatnya terbang dan terjatuh menghantam batu lalu pecah lensanya.
Akibat terbentur tadi, Chloe merasakan kepalanya pusing. Pertarungannya tadi dengan Okka benar-benar sengit. Ditambah lagi dengan emosi Okka yang tidak stabil ketika dipaksa pulang oleh Chloe.
“Kau memaksaku pulang sedangkan kau sendiri ingin disini bersama Auramu! Egois banget sih! Nggak usah sok pahlawan! Manusia disana sama saja! Semua suka mengatur!” Okka melempar rantainya ke arah Chloe. Untunglah, rantai tersebut patah setelah ditangkis Midnight dengan Boomerangnya.
“Kau juga! Sudah berapa tahun kau disini?! Kenapa justru aku nggak boleh ke sini? Kenapa? Jangan bilang, karena kau mau bunuh diri tapi nggak jadi karena kau bertemu dengan dunia ini? Beruntung sekali kau!” amarah Okka bertambah parah.
Midnight yang tidak tahu apa-apa dan dibentak Okka itu ikut terpancing. “Aku berbeda denganmu!” Midnight maju dan menendang Okka hingga terlempar cukup jauh. Saat menendang Okka, Midnight bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari Okka. Midnight seakan merasakan kekuatan Aura di dalam tubuh gadis itu.
“Jangan bilang, kau mencampuri darahmu dengan darah Aura yang kau lawan itu?” tebak Midnight meskipun dia ragu.
Okka tersenyum licik. Senyuman yang mengatakan ya, itu langsung saja mendapatkan serangan langsung dari Jacqueline.
Menggunakan cakaran Devil Mask, Jacqueline mencakar lengan kanan Okka. Tapi sayang, kecepatan Okka yang tak tertandingi itu sukses menggagalkan serangan Jacqueline. Akhirnya, gadis berambut ungu panjang itu berakhir dengan tinjuan yang Okka layangkan di pipi kanannya.
“Jacqueline!” teriak Chloe.
Jacqueline terjatuh. Mungkin karena syok, gadis itu jadi tak sadarkan diri. Keterlaluan!
Chloe yang tidak tahan melihat temannya diserang, maju dan hendak menebas Okka. Begitu tahu spesies Okka bukanlah manusia lagi melainkan setengah Aura, Chloe tak ragu-ragu menghabisinya.
“Kau boleh bosan! Tapi, jangan sampai membawa Aura-aura yang nggak bersalah juga!” teriak Chloe penuh amarah disusul dengan tebasan dari pedang Black Aura. “Kau benar. Aku juga betah di dunia ini. Aku punya alasan kenapa aku ingin berlama-lama di dunia ini. Tapi! Aku nggak punya niat untuk membuat diriku sama dengan mereka! Sejak lahir, aku adalah manusia. Darahku merah dan aku tidak menyesal jadi manusia!” tangan Chloe terus bergerak tanpa henti. Tebasan dari pedang Black Aura semakin luas jangkauannya seiring dengan amarah Chloe yang menjadi-jadi.
__ADS_1
Okka lumayan terkejut dengan kemampuan bertarung Chloe. Memang di matanya, cara bertarung gadis itu tak jauh beda dengan pemula. Namun, karena emosi yang terpancing itulah, serangan Chloe jadi bertambah effect-nya.
Okka menyeringai berani. “Menarik juga…” Gadis itu melangkah maju tanpa memperdulikan tebasan yang meggores kulitnya. Tak peduli seberapa banyak, luka itu tetap terasa tidak sakit baginya. Setelah berbulan-bulan menghadapi para Aura dan diambil darah mereka. Bisa Okka simpulkan kalau darah Aura itu berbeda-beda warnanya tergantung kemampuan mereka. Jika kemampuan mereka berkaitan dengan elemen maka darah mereka berwarna pelangi. Sementara, jika kemampuan mereka itu jenis yang tak biasa dan berujung ke hal-hal yang mistis, maka warnanya gelap.
Setelah berlari melompat-lompati dahan, akhirnya senjata mereka dipertemukan dengan sengit satu sama lain. Wajah Chloe dan Okka berpapasan dengan jaraknya yang semakin menipis. Chloe bisa dengan jelas melihat seringaian di wajah Okka. Manusia satu itu memang agak lain sifatnya
“Ambil ini!” Okka mengeluarkan kertas bom yang kemudian ia tempelkan di jidat Chloe. “Selamat tinggal! Kuharap, kau tidak menyesal!” Okka mendorong Chloe dan membiarkan Chloe melayang ke bawah.
“Astaga! Tiga… dua? Sa…”
Kertas bom itu meledak dalam hitungan tiga, dua, satu.
Untuk beberapa saat, pertarungan berhenti. Semuanya melongo ke atas. Tidak respon apapun mengenai ledakan itu selain air mata tak percaya yang menetes dari pelupuk mata Jacqueline.
“Chloe…”
“Dia mati?” Aoi tertunduk lesu.
“Tidak. Dia masih hidup.” Ujar Midnight langsung disambut dengan air mata terharu Jacqueline.
“Lah? Chloe dimana sekarang?” heran Aoi.
Di lain tempat, Black Aura yang tengah berhadapan dengan Kenzo yang berubah menjadi abnormal itu melarikan diri dari area bertarungnya setelah mendapatkan Chloe. Chloe terbangun dan gembira mendapati dirinya bersama Black Aura.
“Black Aura!” serunya senang.
Black Aura ikut tersenyum usai disambut hangat dengan senyuman manis Chloe. “Jangan banyak gerak dan pegangan yang kuat. Manusia yang kulawan ini, dia meminum darah Aura yang menjadi lawannya sebelumnya,” jelas Black Aura sambil menghindari enam ekor kalajengking yang mengejarnya saat itu.
Chloe mengangguk cepat karena fakta yang ia dapatkan juga sama. Itu artinya, Okka dan Kenzo adalah manusia yang terjebak di dunia Carnater. Kemudian, mereka yang pada awalnya tidak terbiasa dengan dunia fantasi ini berusaha berbaur dan pada akhirnya betah. Impian aneh mereka-lah yang membuat kedua youtuber itu betah.
“Tapi, siapa yang melempar mereka ke dunia ini?”
“Entahlah. Soal itu, kita urus saja nanti. Musuh kita manusia setengah Aura. Bisa dibilang, mereka lebih unggul dari kita berdua,” ujar Black Aura. Langkahnya berhenti dengan tubuhnya yang berbalik menghadap enam ekor kalajengking itu. Black Aura mengambil sepuluh daun yang ia dapat semasa bertarung melawan Kenzo. Daun-daun itu ia tukar menjadi bom berbentuk bola yang sudah Silentwave buatkan sebelumnya.
__ADS_1
Silentwave meskipun diam, dalam diamnya dia telah memikirkan banyak hal dan segala tebakannya benar. Karena itulah, Black Aura dan Silentwave tahu kalau kejadian serta pertarungan ini pasti akan terjadi beberapa menit ke depan.
“Terima kasih, Silentwave…” gumam Black Aura tersenyum tipis. Sebelum akhirnya, melemparkan semua bom itu ke arah enam ekor kalajengking Kenzo. Semua bom itu menempel layaknya permen karet.
Di kejauhan sana, Silentwave sudah menyetel kapan bola itu akan meledak. Dalam waktu yang relatif singkat itu yaitu sepuluh detik, bom itu akhirnya meledak. Melenyapkan enam ekor kalajengking itu.
Chloe terkejut sekaligus kagum melihat serangan yang Black Aura luncurkan barusan. “Keren!” pujinya.
Black Aura terkekeh, “Biasa aja kali.”
“Bagaimana serangan kita?” tanya Silentwave menggunakan telepatinya pada Black Aura.
“Berjalan dengan baik,” balas Black Aura lega.
“Tunggu! Black Aura! Yang meledak tadi itu ekornya doang! Orangnya nggak!” sambar Chloe mengejutkan Black Aura.
“Memang targetku ekornya. Aku juga nggak berniat membunuhnya meskipun dia manusia setengah Aura. SUdahlah… kita nggak punya waktu berbicara. Kita harus memancingnya ke tempat ibu dan kita selesaikan semuanya di sana. Aku juga ingin tahu alasan apa yang membuat mereka betah di sini. Dengan begitu, masalah ini bisa terselesaikan tanpa adanya kekerasan,” jelas Black Aura.
Chloe ternganga mendengar penjelasan Black Aura yang panjang itu. Tidak biasanya Aura itu jadi banyak berbicara. Kesambet apa dia sampai-sampai lancar berbicaranya.
“Kenapa?”
“Kau… Lancar banget ngomongnya…”
“Oalah… Biar kau ngerti aja, Chloe.”
“Oooh…” kini, Chloe paham maksud dari penjelasan panjang itu.
Tak ingin membuang waktu mereka, Black Aura mengeluarkan rantainya yang kemudian dilempar melingkar di sekitar tubuh Kenzo, lalu mengikatnya. Kenzo tidak bisa bergerak selain meronta-ronta tak jelas.
“Diam. Pertarungan kita selesai sampai disini.”
“Apa? Selesai?” Kenzo terkejut dengan ekspresi tidak terima di wajahnya. Sedangkan Black Aura yang menatapnya hanya memperlihatkan ekspresi datar dan tidak memiliki minat apapun merespon omongan Kenzo.
__ADS_1
Ketiga remaja itu akhirnya pergi meninggalkan area hutan itu dan beralih ke tempat Midnight.
~