
“Pilih mana?”
Okka terdiam mendengar dua pilihan yang Midnight tawarkan padanya. Dosen itu selain memikirkan dirinya, dia juga memikirkan kehidupan dua youtuber yang memiliki masalah keluarga di rumah mereka. Karena memiliki pengalaman yang sama, Midnight akhirnya mengambil jalan tengah yaitu membawa kedua youtuber itu ke rumahnya dan tinggal sementara di sana sampai mereka sanggup bertemu dengan keluarga mereka lagi.
“Akan kami pikirkan nanti.”
“Jangan lama-lama,” ujar Midnight memberi mereka sedikit penekanan agar tidak terlalu menyepelekan dirinya yang sudah berbaik hati mencari solusi untuk dua youtuber itu. Sebenarnya, Midnight tidak menganggap dirinya baik. Dia tahu, tidak seharusnya dia mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi, dunia Carnater adalah tempat mendiang suaminya tinggal. Midnight hanya tidak ingin dunia tersebut ternodai oleh tangan kotor manusia yang terkadang suka memiliki ide yang aneh-aneh untuk menciptakan sesuatu yang baru. Namun, sesuatu yang baru itu tidak selamanya diperuntukkan pada kebaikan. Bisa saja mereka memanfaatkan bagian-bagian unik dari Aura atau merekam pergerakan mereka lalu mengekspos-nya ke dunia maya. Menjadi terkenal dan memiliki banyak uang.
Midnight menghela nafas. Baginya, mencari uang untuk ditabung atau keperluan lain tidak ada salahnya. Akan tetapi, tidak dengan menyakiti dan memanfaatkan makhluk hidup lain. Megaville, Aura sekaligus penduduk asli Carnater masing-masing anggotanya memiliki darah dari penghuni asli Carnater yaitu Meg. Meg yang menjadi suami Midnight selama ini sekaligus penyelamat hidupnya telah menyumbang beberapa liter darahnya kepada anggota Megaville yang sangat ia sayangi itu.
Itu saja. Meskipun sadar bahwa dirinya adalah manusia yang memiliki batasan dalam melakukan suatu tindakan, Midnight merasa Carnater adalah kampung halamannya.
Midnight menggigit bibirnya kesal. Bagaimanapun juga, Carnater adalah tempatnya untuk pulang. Tidak peduli dengan kekhawatiran orang lain yang menguntitnya dari belakang, Midnight tetap berpegang teguh pada kata-katanya bahwa dia tidak akan pernah lagi kembali ke rumahnya. Rumah yang selalu membuatnya merasa terasingkan, kesepian, tidak punya tempat untuk curhat, dan juga tempat dimana dirinya tidak tahu harus menjadi apa dirinya disana. Rasa kesal itu masih ada di hati kecilnya. Kendati dirinya benci dengan balas dendam. Mengabaikan mereka saja sudah cukup baginya.
~
Black Aura turun sambil melompati beberapa atap toko yang melayang di pusaran tornado milik Jean. Di tengah tornado itu, Jean berdiri sambil memutar terus kedua katananya agar tornado tersebut semakin ganas dibuatnya.
__ADS_1
Black Aura berdecak sebal sekaligus panik melihat ketiga remaja itu ikut melayang di atas sana. Heran dia lama-lama. Bagaimana bisa misinya ini dengan cepat menjadi kacau hanya karena kehadiran satu Aura yang menaruh dendam padanya. Black Aura seratus persen yakin, alasan Jean melakukan semua kekacauan ini lantaran dendamnya terhadap kematian Chloe, pacar Megawave yang tewas karena tertusuk pedangnya.
Cih, kalau saja mereka terlalu terpaku pada perasaan makanya jadi begini. Dasar!
Mau tak mau ditambah tidak ada waktu banyak untuk menghadapi tornado di depannya, Black Aura menggunakan kemampuan terlarangnya yaitu menjadi Reverse. Black Aura melompat setinggi mungkin. Memang cara terbaiknya adalah menjadi reverse alias berubah menjadi sisinya yang sadis. Apapun serangan dihadapannya akan hangus oleh kemampuan terlarang tersebut.
Black Aura menggores telapak tangannya dengan pedangnya sendiri. Membiarkan darahnya melayang di udara sebelum akhirnya meledak menjadi pilar besar sampai menembus langit. Dirinya sendiri bahkan berubah menjadi sosok monster berwarna merah. Memang penampilan dan tingginya masih sama. Hanya saja, sepasang tanduk dan tangan yang membentuk cakaran besar itu adalah sedikit perubahannya. Senyum seringai terukir di wajah Black Aura.
Di bawah sana, Jean terbelalak kaget. “Tunggu dulu, itu kan…!”
Tak hanya satu pilar, muncul enam pilar di sekeliling tornado itu. Semua pilar itu mengeluarkan laser dan membelah tornado Jean. Seketika, pusaran angin kuat itu menghilang bersamaan dengan jatuhnya pecahan bangunan beserta tiga remaja yang tertidur pulas itu.
Black Aura melirik ketiga remaja itu. Mereka melayang dan tidak ada satupun yang bisa menyelamatkan nyawa mereka kecuali dirinya. Akan tetapi… Untuk apa?
Jean menoleh sebentar ke arah Black Aura. Pandangannya terasa silau oleh laser merah yang mengejarnya hingga membakar permukaan tanah di bawahnya. Black Aura juga tidak tanggung-tanggung menghujani daerah tersebut dengan seribu pedangnya. Beginilah jika Black Aura sudah kehilangan ide ataupun kesabarannya. Selain itu, kemampuan reverse juga memiliki efek samping yang mana Black Aura akan kehilangan kewarasannya dan berubah menjadi sosok yang mengerikan. Aura itu tak akan segan-segan membunuh orang-orang di sekitarnya. Bahkan yang ia kenal sekalipun. Maka tak heran, saat kasus tsunami yang Yui sebabkan, semua anggota Megaville mundur dan membiarkan Black Aura mengaktikan kemampuan tersebut.
Sekarang, Jean hanya perlu mencari cara agar bisa meredakan amarah Black Aura Reverse itu. Sejauh ini, Jean belum pernah berhadapan langsung. Hanya Megawave, Grimoire, Aoi, dan Chariot. Untuk mengalahkan Black Aura yang normal saja dulunya butuh tiga orang. Sedangkan mengalahkan yang Reverse, butuh empat orang bahkan bisa saja lebih dua orang lantaran tingkat keras dan brutalnya Black Aura yang berlebihan.
__ADS_1
Astaga, apa yang sudah kuperbuat? Kenapa selalu saja begini? Gerutu Jean kesal. Aura itu menghentikan langkahnya kemudian membuat seratus bayangan pedangnya. Tanpa aba-aba satu dua tiga, Jean langsung melancarkan serangannya.
Jean menyerang Black Aura sambil menghindari hujan pedang tanpa jeda tersebut. Sesekali tanpa ia sadari, kaki dan punggungnya tergores oleh pedang Black Aura. Tak hanya itu, Jean mendadak mengkhawatirkan tiga remaja yang masih melayang di udara itu.
“Merepotkan!”
Terpaksa, Jean berlari, menapakkan kedua kakinya ke udara dan melompat tinggi. Tidak peduli dengan dirinya yang tergores bahkan sampai tertusuk oleh pedang sekalipun, Jean menyadari kesalahannya di tengah situasi darurat tersebut. Tidak seharusnya dia memancing amarah Black Aura hingga menimbul masalah serta kekacauan untuk kedua kalinya di Carnater.
Tubuh Aoi yang melayang akhirnya berhasil Jean raih kemudian ia lempar ke ranjang yang kebetulan ada di bawah sana. Sesudah Aoi, lalu Jacqueline. Terakhir Chloe.
Saat tangannya hendak mendekati Chloe, sebuah pedang meluncur dengan cepat dan untunglah, ada portal terbuka di depan wajahnya sehingga pedang tersebut tidak jadi melukai tangan Jean.
“Megawave? Sejak kapan kau disini?” Jean terbelalak mendapati Megawave yang tiba-tiba berada di depannya, membukakan sebuah portal untuknya.
“Itu nanti saja. Yang terpenting, bawa tiga remaja itu ke markas kita. Disini bahaya. Dan kau…” Megawave menjeda omongannya seraya memperlihat tatapan sinis pada gadis itu. “Dihukum!”
“Huft… Baik…”
__ADS_1
~