
Di ketinggian yang tidak bisa dihitung dengan angka kecuali sudah direncanakan sejak awal, setangkai bunga veronica melayang di udara. Bunga yang sebelumnya berada di genggaman Black Aura terhempas usai dikejutkan oleh tembakan es yang menghantam tanah kosong di antara dirinya dan Chloe. Alhasil, bunga itu melayang tinggi menciptakan kekhawatiran di pikiran remaja bermanik violet itu.
Bunga yang hendak ia berikan sebagai wujud cintanya terhadap gadis berambut pirang itu kini berada di udara bersamaan dengan dirinya yang berusaha mengambil kembali bunga tersebut.
Black Aura melirik ke tempat Chloe dimana gadis itu sudah tergeletak tak berdaya di atas tanah yang membeku. Chloe pingsan usai menerima tendangan dari Aura berambut biru dengan telinga kucing yang bergoyang imut layaknya kucing di bumi.
Dia adalah musuh lama Black Aura yang dijuluki sebagai “Kucing Es”. Aura itu dengan lihai menciptakan puluhan Kristal es yang kemudian dilemparkannya dengan bebas ke arah musuhnya. Dia juga melemparkan Kristal itu ke arah Chloe.
Black Aura terkejut dalam diamnya. Tanpa pikir panjang, dia berteleportasi dan dengan pedangnya menangkis puluhan Kristal lawannya. Chloe yang tak sadarkan diri itu, Black Aura bawa ke tempat yang jauh dari area pertarungan. Dia tidak menyangka akan jadi seperti ini situasinya. Pergerakan Kucing Es itu terlalu hening dan sulit ditebak kapan dan dimana kucing es itu menapakkan kakinya.
Kucing Es itu turun dari udara. Berdiri dipijakkannya sambil menggenggam setangkai bunga veronica yang bahkan Black Aura tidak tahu kapan dia mengambilnya. Penampilan Aura itu tak jauh beda dengan manusia. Hanya saja, telinga kucing itu yang membuatnya sedikit berbeda. Kucing Es itu masuk dalam spesies kemonomimi. Seperti manusia setengah hewan tapi penampilannya lebih dominan manusia. Hanya beberapa anggota tubuh hewan seperti ekor, cakaran, dan telinga hewan yang membuatnya terlihat seperti manusia setengah hewan. Dan si kucing es ini salah satunya. Dia spesial. Dia berbeda dari kucing yang orang kenal takut dengan air dan tidak tahan dengan udara dingin.
Black Aura berdiri berhadapan dengan kucing es itu. Sama-sama menggenggam senjata andalan mereka disertai tatapan serius milik mereka.
“Ada apa? Kau mengkhawatirkan bunga inu?” tanya Aura itu.
Black Aura tidak merespon seperti biasanya. Kedua matanya tertuju lurus ke bunga veronica yang tampak rapuh. Di lain sisi, dia merutuki dirinya karena lambat memberikan bunga veronica itu pada Chloe.
“Untuk gadis itu?” tanya kucing es itu.
“Menurutmu bagaimana?”
Black Aura balik bertanya dan masih setia dengan ekspresi datarnya. Kali ini, dia merespon omongan kucing es itu meskipun pada dasarnya, dia malas. “Ada masalah dengan bunga itu?”
Kucing Es itu mendengus geli. “Pfft! Jangan bilang, gadis itu…”
CRAAATT!
Black Aura berteleportasi, lalu menebas lengan kanan kucing es hingga terpisah dari pemiliknya. Lagi-lagi, wajah datar Black Aura diwarnai oleh darah lawannya yang kali ini berwarna biru es. Darahnya dingin.
Kucing es itu diam di tempat. Raut wajahnya berubah terkejut namun sanggup memperlihatkan tatapan dinginnya dari kedua bola mata birunya yang menyala. Kedua Aura itu sama-sama memperlihatkan tatapan dingin yang menusuk sampai salah satu dari mereka, si kucing es itu menyerang balik dengan tangan kanannya yang ia ubah menjadi Kristal es raksasa dengan ujung yang runcing.
Kristal itu dilayangkannya ke arah Black Aura dengan penuh emosi. Untunglah, Black Aura bisa menghindari serangannya disusul dengan pedang yang menebas dada kucing es itu.
Saat lengah, bunga veronica itu kembali melayang. Dengan segera Black Aura ambil setelah itu mundur mengantisipasi serangan balasan dari lawannya.
Kucing es itu berhenti. Dia terkekeh memandang darah birunya yang mengalir. Sudah lama sekali dia menantikan pertarungan sengit ini dengan Black Aura.
“Udah punya pacar pun kau masih saja kejam ya! Nggak berubah sama sekali!” cibirnya.
__ADS_1
Tak senang dengan dirinya yang dengan gampangnya ditebas, kucing es itu memutuskan untuk mengambil alih wilayah bertarungnya dengan membuat beku wilayah tersebut. Tanah yang permukaannya kasar berubah menjadi semulus es. Black Aura nyaris saja terpeleset karena kelicinan es itu.
Rasanya agak aneh terus memanggil aura berkekuatan es itu dengan sebutan “kucing es”. Aslinya dia punya nama. Seandainya Chloe dalam keadaan sadar ditemani dengan kedua sahabatnya, kemungkinan besar mereka akan dibuat terkejut begitu mengetahui nama asli kucing es itu. Khususnya untuk kekasih Jepang Jacqueline.
Namanya tak jauh-jauh dari dirinya yang suka warna biru. Warna yang masih melekat di benak Black Aura. Warna yang dikenal sebagai warna yang menenangkan tapi tidak pemiliknya. Dulu-dulu sekali sebelum munculnya perang Legend Aura melawan Megavile, Black Aura pernah berhadapan dengan kucing es ini. Sifatnya bertolak belakang dengan filosofi warnanya. Dia orang yang heboh, cerewet, dan merepotkan. Tapi saat ini, perubahan yang disebabkan perang itu berdampak besar baginya. Dia… berubah. Filosofi biru yang tenang itu akhirnya menjadi bagian dari dirinya.
Terpisah oleh jarak yang jauh, Black Aura hanya bisa memandang musuh lamanya dengan tatapan prihatin. Sebenarnya, Black Aura sangat merindukan karakter musuhnya yang dulu. Heboh. Dan jauh di lubuk hatinya, Black Aura merasa bersalah dan merasa bertanggung jawab ingin mengubah Carnater ini menjadi dunia yang berisik layaknya di masa lalu. Penuh akan festival. Meskipun terbesit sedikit keinginan jahat dari beberapa warganya, namun hal itu masih bisa ditutupi dengan meriahnya festival yang diadakan Aura-aura yang gemar berdagang kala itu.
Aoi mengangkat tangan kanannya. Memamerkan bunga veronica yang membeku karena kemampuannya. “Tangkaplah kalau bisa…” tantangnya.
Black Aura terbelalak kaget dan langsung menoleh ke tangan kanannya yang sebelumnya menggenggam bunga itu. Tidak ada. Bunga itu menghilang berpindah tangan ke Aoi.
Rasanya, tidak ada gunanya berbicara baik-baik dengan Aoi. Karena itulah, Black Aura mengandalkan pedangnya demi merebut balik veronica itu. Black Aura yakin kalau ke depannya, pertarungan mereka akan berlangsung sengit. Pasti akan ada pertumpahan darah di wilayah yang membeku ini.
Black Aura mengubah pedangnya menjadi sabit. Lalu, berteleportasi di belakang Aoi dan hendak menebas Aoi dengan sabitnya. Tapi sayang, serangannya dengan cepat di tangkis Aoi menggunakan meriam es-nya. Pertarungan pun dimulai!
Aoi berdiri di udara sambil menembak beberapa balok es ke langit. Puluhan balok es itu kemudian diarahkannya langsung ke arah Black Aura.
Black Aura menyadari bahwa suhu disekitarnya kian menurun lantaran kekuatan Aoi yang berhubungan dengan es. Entah berapa derajat rendahnya, hal itu bukanlah masalah besar bagi Black Aura.
“Black Aura lihat di atasmu!” seru Aoi membuat Black Aura langsung mendongakkan kepalanya ke atas.
Tongkat bisbolnya dingin. Begitu dilayangkan keras ke pipinya rasanya panas. Black Aura yang nyaris kehilangan keseimbangan, kembali fokus menyerang Aoi. Dia mengeluarkan sepuluh pisau kecil yang kemudian dilempar dengan bebas ke arah Aoi. Tak lupa, Black Aura menjentikkan dan saat itulah waktu berhenti.
Aoi yang hendak menghindari pisau itu ikut berhenti bersamaan pisau Black Aura. Kesempatan! Black Aura mengeluarkan lima belas panahnya, sambil memposisikan kemana panah-panah itu akan tertancap. Targetnya Aoi. Begitu dilepas, maka panah itu akan menusuk hampir seluruh tubuh lawannya. Entah itu kepala, lengan, perut, kaki… Intinya lawannya lumpuh.
Manik violetnya yang tadi mengarah lurus ke Aoi kini berubah menjadi veronica. Sebelum melancarkan serangannya, terlebih dahulu Black Aura mengambil bunga itu selepasnya, barulah dia bisa sesuka hatinya menghajar Aoi.
“Matilah.”
Lima belas panah itu lepas disusul dengan jentikan jarinya yang berbunyi nyaring. Waktu pun kembali berjalan. Bersamaan dengan itu, senjata tajam Black Aura tertancap hampir di seluruh anggota tubuh Aoi.
Aoi tertegun. Bola matanya bergetar memandang pisau-pisau yang menancap di tubuhnya. Rasa sakit perlahan-lahan merambat hingga ke kepalanya. Perihnya terasa sepuluh kali lipat setiap kali Aoi mengingat kemampuan Black Aura yang memanipulasi rasa sakit.
Aoi nyaris tumbang. Aura itu berusaha sekuat mungkin berdiri tegak sambil memandang lurus dengan wajah pucat.
“Capek?” tanya Black Aura.
“Kau ngejek ya?!” Aoi tak terima dengan pertanyaan itu otomatis mengeluarkan meriamnya. Aura itu menarik pelatuknya sedalam mungkin hingga mengeluarkan bola-bola es yang keras. Tangan kirinya yang semula menganggur itu akhirnya bergerak. Sebuah lingkaran dengan tulisan mantra aneh yang jelas sekali tidak dapat dipahami oleh otak manusia termasuk otak Chloe sekalipun. Lingkaran sihir itu perlahan-lahan membesar hingga sanggup mengeluarkan ribuan bola.
__ADS_1
“Hati-hati, Aura. Kalau es-ku sampai mengenai pacarmu, hari itu juga dia MATI!” serunya dengan penekanan kuat di kalimat ‘mati’.
“Apa?!” Black Aura segera berteleportasi di depan Chloe. Dengan sekali jentikan jarinya, ribuan balok es itu berubah menjadi bunga veronica yang indah. Semua bunga itu melayang kaku kiri-kanan. Membuat Aoi dan Black Aura tersedot akan keindahan yang ditebarkan sang veronica.
“Indah sekali.” Gumam Aoi kagum. Saat kelopak ungu veronica itu menyentuh permukaan es di bawahnya, beberapa gunungan es muncul mengarah ke Black Aura.
Black Aura yang menyadari kemampuan Aoi yang lain, tanpa pikir panjang memecahkan esnya dengan sabitnya.
Ribuan serpihan es Aoi yang lembut itu melayang di udara. Kilauan-kilauan kecil yang tak begitu menyilaukan itu berhasil tertangkap oleh Black Aura. Tak kalah indahnya dengan hujan veronica yang sebentar lagi akan berakhir kecantikannya.
“Jadi itu pacarmu ya, Aura? Aku penasaran, seromantis apa sih kalian?”
Aoi berlari mengejar Black Aura beriringan dengan gunung-gunung esnya.
Black Aura berdecak sebal. Di situasi seperti ini, kedua tangannya disibukkan dengan menggendong tubuh Chloe yang masih pingsan. Sementara itu, ada beberapa serangan Aoi yang mengincarnya. Benar-benar di luar dugaan kalau dirinya akan berhadapan langsung dengan Aoi.
“Aduh, sakit kali sih!"
Black Aura tertegun mendengar suara lemah dari perempuan yang dia gendong itu. Rupanya Chloe. Setelah beberapa menit tak sadarkan diri, akhirnya gadis itu membuka matanya perlahan.
Melihat Chloe yang siuman, senyuman ceria terukir di wajah Black Aura. Aura itu senang mengetahui bahwa Chloe baik-baik saja.
“Chloe! Syukurlah, kau baik-baik saja!” serunya senang.
“Eh? Black Aura!” Chloe juga ikut senang. “Lho? Kenapa kita lari? Apa kita diserang?”
Black Aura tersenyum hangat sambil memberi anggukan kecil pada gadis yang belum sepenuhnya siuman itu. “Jangan khawatir, kau aman bersamaku,” Ucap Black Aura.
“Hehh? Jadi beneran kita lagi dikejar? Mana musuhnya?” mendadak, gadis itu berubah menjadi semangat mengetahui situasinya yang sengit.
“Nanti kau lihat sendiri. Chloe, kau tunggu di sana dulu! Akan kuhabisi dia!” tegas Black Aura. setelah menemukan tempat yang cukup jauh dari area pertarungan, Black Aura menurunkan Chloe sembari menyandarkan punggung gadis itu di dinding bangunan yang sudah tak lagi berfungsi. Entah apa nama bangunannya tapi cukup besar untuk melindungi gadis itu dari serangan es Aoi.
“Oke! Janji jangan tinggalin aku ya!”
Black Aura terkekeh, “Iya… janji,” sebelum akhirnya pergi bertarung membiarkan Chloe duduk seorang diri.
Chloe menghela nafas ringan. Senyumannya masih setia terukir di wajah cantiknya. “Ah, mau lihat mereka bertarunglah…” gumamnya diiringi dengan tawa jahilnya.
~
__ADS_1