
“AAAAAAA!”
Chloe, Aoi, dan
Jacqueline berteriak histeris diiringi dengan langkah kakinya yang
terbirit-birit, menghindari hujan duri besar yang hendak menusuk mereka dari
belakang.
Benar-benar diluar
dugaan! Mereka kira, dunia Carnater itu memang sepenuhnya sepi, kosong, dan tak
berwarna. Justru karena senyapnya dunia itulah, para predator bisa bersembunyi
tanpa diketahui langsung keberadaan mereka oleh mangsanya.
Baru saja menginjakkan
kaki mereka ke tanah Carnater, keberadaan mereka langsung diketahui oleh Aura
yang saat itu tengah melintasi area tersebut. Entahlah, mereka bertiga juga
sama sekali tidak tahu apapun aturan juga wilayah siapa yang mereka pijaki ini.
Yang jelas, sejak awal Aoi dan Jacqueline berniat mempertemukan Chloe dengan
Black Aura. Mereka bahkan lupa dengan larangan serta ancaman Midnight apabila
mereka masuk ke dalam dunia Carnater tanpa seizin darinya.
“INI SEMUA SALAHMU,
AOI!” tunjuk Chloe jengkel tapi sebenarnya panik. Gadis itu tidak menyangka,
jantungnya yang selama dua bulan ini berdetak stabil kini harus bekerja keras
lantaran ide sahabatnya yang yah… Chloe sendiri tidak bisa menolak ide
tersebut. Namun, tidak untuk duri-duri raksasa yang mengejar mereka saat ini!
Jacqueline menoleh ke
belakang. Nafas gadis itu sama halnya dengan jantungnya. Semua anggota tubuh
mereka dipaksa bekerja keras. Perasaan tenang mereka seketika tersapu oleh rasa
panik yang kali ini berpesta ria di dalam benak ketiga remaja itu.
“MAKANYA, LAIN KALI
KALAU MAU KE RUMAH ORANG, KETUK DULU PINTUNYA!” Jacqueline ikut-ikutan.
“HAAAA? INI KAN IDEMU,
JACQUELINE! KENAPA MALAH AKU YANG DISALAHKAN?!” tanya Aoi tak terima.
“BODO AH! KALIAN BERDUA
SAMA AJA!” kesal Chloe yang kemudian berubah menjadi pucat, mendapati sosok
Aura yang melayang di atas kepala mereka dan hendak menuduk mereka dengan duri
besar di lengannya.
“YA AMPUN ORANG
TERBANG!” jerit Chloe mendongakkan kepalanya ke atas. Tanpa pikir panjang, dia
langsung menggandeng tangan kedua sahabatnya, menjauhi mereka dari serangan
Aura berkekuatan duri tersebut.
BRAKK!!!
Tanah tempat mereka
pijak tadi hancur karena tusukan maut dari Aura tersebut. Gila benar itu
makhluk.
Sekilas, Chloe
mengamati penampilan Aura yang menyerang mereka itu. Aura itu seperti landak.
Berpakaian serba hitam termasuk rambutnya yang seperti duri itu berwarna hitam.
Wajahnya putih. Penampilannya seratus persen jauh dari kata manusia. Dia
seperti makhluk fantasi asli. Tingginya diperkirakan 205cm. Sumpah, meski
panik, Chloe masih bisa dibuat kagum oleh kerennya penampilan mahluk itu.
Sayangnya, Di Carnater, semua orang tidak memiliki emosi dan perasaan. Mereka
mengandalkan insting dan naluri mereka. Jika mereka diganggu, maka mereka akan
menyerang.
“Kekuatannya… Aku
keknya pernah lihat kekuatan duri itu. Tapi dimana?” ujar Chloe. Gadis itu
berusaha memanggil kembali ingatan dimana dirinya pernah melihat Aura yang
bertarung menggunakan duri hitam raksasa.
“Ah! Itu loh!
Kekuatannya Huke! Masih ingat nggaAAAKKKK!!” Jacqueline terkejut menemukan Aura
itu hendak menendang kepala mereka dengan kakinya. Dengan lincah, Jacqueline
langsung menundukkan kepalanya diikuti dengan Chloe dan Aoi. Mereka bertiga
panik. Sedangkan Aura itu hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun. Bahkan
huruf “a” saja tidak ada disebutkannya.
“Kalau nggak salah…
__ADS_1
Namanya Grimoire.” Ujar Aoi, kehilangan sedikit keseimbangannya saat berdiri.
“Oi, kalian ada ide nggak? Kita harus ngapain coba buat nge-lawan makhluk itu?
Carnater ini luas. Sementara kita nggak bawa senjata sama sekali.”
“Salahmu! Siapa suruh
dorong aku masuk ke dalam cermin?! Datang-datang kena hajar, balek-balek kena
omel. Aiishh! Nyebelin banget sih, kalian!” omel Chloe sambil mengacak-acak
rambutnya, frustasi.
“Lah! Kami kan
ngelakuin ini biar kau bisa ketemuan sama Aura! Kami tahu kau itu kangen berat
sama dia. Makanya kami rela-relain waktu romantis kami buatmu, Chloe! Ya,
seeenggaknya, makasih kek! Ini ngomong makasih aja kaga ada! Apa lagi
menghargai usaha orang coba! Haiishh! Sumpah ya! Kau yang sekarang ini nguji kesabaran
banget dah! Lihat aja! Pas ketemu Black Aura, awas aja kalau kau sampai
peluk-peluk dia!” balas Jacqueline sarkas disertai ancaman.
“Itu kalau ketemua dia!
Gimana kalau nggak ketemu sama sekali? Kita ini nggak tahu apa-apa soal
Carnater! Kita nggak tahu gimana sifat penduduknya! Kalian berdua lihat kan
Grimoire itu?! Kita baru pijak dikit aja udah kena hantam? Gimana kalau kita
guling-guling? Udah beda dunia duluan kita!” Chloe menunjuk ke arah Grimoire,
mengomel tanpa jeda. Dirinya yang dilanda frustasi ini paling enggan yang
namanya kalah dalam perdebatan.
“Ya udah! Daripada
ribut… Mending kita lari sprint aja. Ada manfaatnya kok. Kita bisa terhindar
dari serangan, kita bisa terhindar dari luka, kita bisa melatih otot kaki kita
biar kuat, jantung kita bisa sehat, dan masih banyak lagi manfaat dari lari
sprint.” Ujar Aoi sambil menengahi kedua gadis yang berdebat itu dengan berbagi
sedikit pengetahuannya di bidang olahraga. “Kalian lihat si Grimoire itu.”
tunjuk Aoi yang diikuti dengan pandangan kedua gadis itu.
Tak jauh dari jarak
mereka berdiri, Grimoire mengeluarkan pedang duri tipisnya. Panjang pedang itu
setara dengan tingginya yaitu 200cm.
Seketika, bulu kuduk
suntik merasa ngeri dan hampir mau pingsan begitu matanya menyorot ke ujung
pedang yang kecil dan tajam. Sulit dibayangkan seandainya pedang itu menusuk
dirinya. Sudah pasti, rasa sakit yang dideritanya melebihi rasa sakit ketika
jari kita tak sengaja tercucuk ujung jarum pentul.
“Sumpah, ini gila!”
celetuk Jacqueline yang tak lama lagi tumbang.
Untunglah, Aoi segera
menahan tubuh kekasihnya lalu menggendongnya ala-ala tuan putri.Sekilas, Chloe
terlihat cemburu dengan tindakan cepat Aoi pada Jacqueline yang tak sadarkan
diri itu. Hatinya iri. Di sisi lain, dia merasa jengkel dan mengira kalau Aoi
sengaja menggedong Jacqueline dengan posisi senyaman mungkin demi menarik
perhatian Chloe.
Tidak sanggup menahan
amarahnya, Chloe menginjak keras ujung sepatu Aoi hingga pria itu terlonjak
kemudian jatuh bersamaan dengan tubuh Jacqueline. Jacqueline tidak jadi
pingsan. Jantung gadis itu dibuat senam oleh Chloe yang tengah dikuasai
amarahnya.
“Maksudmu apa, ha?!”
bentak Chloe.
Aoi mengeryitkan
keningnya bingung. Pria itu merasa dirinya tidak berbuat salah namun karena
amarah Chloe, hatinya merasa baru saja membuat kesalahan terhadap gadis
berambur pirang itu.
“Ha? Apa maksudmu?
Emangnya aku habis ngapain?” tanya Aoi tak terima.
“Kau nggak usah
pura-pura nggak tahu ya! Aku tahu kau Cuma mau narik perhatianku aja!” balas
Chloe dengan nada marah.
Pria jepang itu mulai
__ADS_1
ketakuta. Tertangkap genangan air yang tak lama lagi akan mengalir, membasahi
pipinya. Aoi tidak tahu kesalahan apa yang baru saja ia buat. Aoi juga tidak
tahu kenapa Chloe sekejam ini memarahinya. Dalam hatinya, Aoi merasa sakit.
Perasaannya mengatakan dirinya telah gagal menjadi sahabat Chloe. Meskipun
nyatanya, Chloe-lah yang tidak pantas menyandang nama sahabat untuk Aoi.
Aoi itu pria yang baik.
Dia rela meluangkan waktunya, sesibuk apapun dirinya untuk Chloe. Akan tetapi,
perbuatan Chloe terhadapnya membuat Aoi putus asa. Otomatis langsung
menyalahkan dirinya.
“Maksudmu apa?
Tiba-tiba bentak Aoi. Kau ini kenapa, sih? Kalau kau kesal jangan bawa-bawa
kami dong! Kami kan nggak tahu apa-apa!” walau sempoyongan, Jacqueline berusaha
sekuat mungkin berdiri dan membela pacarnya yang dibentak habis-habisan oleh
Chloe.
“Kalau kau kangen Black
Aura, pergi sana! Kita udah di Carnater! Cari dia sampai dapat! Kalau bisa,
hantam aja itu tebing sampai retak biar nyadar pacarmu itu! Kalau bisa, kau
teriak sekencang-kencangnya, sebut nama dia! Jangan pula sasarannya ke kami!
Kami blas nggak tahu gimana awal mula kalian bisa pisah. Yang kami tahu, kalian
tiba-tiba pisah. Kalau kau merasa bersalah, MINTA MAAF! Ini ngomong maaf aja
nggak ada, apalagi ‘terima kasih’. Sumpah, Chloe! Kau yang sekarang nguji
kesabaran banget!” beber Jacqueline emosi. Dia bahkan menekankan kalimat ‘minta
maaf’’ agar terkesan lebih menusuk plus tanpa memperdulikan apakah
sahabatnya tersakiti atau tidak. Sebab, yang Chloe lakukan pada Aoi menurutnya
terlalu berlebihan.
Chloe bungkam dengan
kedua tangannya terkepal. Wah, karena masalah pribadi, mereka jadi melupakan
Grimoire yang tak lama lagi akan menyerang mereka. Ya, sudahlah… Mau hidup atau
tidak, seenggaknya mereka sadar akan situasi mereka saat ini. Tidak ada gunanya
menyebarkan amarah di saat genting seperti ini. Cara terbaiknya adalah lari
selagi kaki masih bisa digunakan.
BRAK!
Salah satu duri besar
berhasil menembus tanah tak bersalah, sejengkal di depan ujung sepatu Aoi. Pria
itu membeku disertai keringat dingin yang bercucuran. Jantungnya seakan berhenti.
Sudah kesekian kalinya Aoi selamat dari beberapa serangan Aura yang kapan saja
bisa mengancam nyawanya. Andai kata duri itu benar-benar menusuk kakinya, saat
itulah teriakan perawan Aoi meledak hingga mengejutkan para Aura yang kala itu
tengah tenang-tenangnya menikmati kesunyian.
Sementara Jacqueline
dan Chloe yang pada awalnya beradu mulut, terdiam meratapi duri besar yang tertancap
tak jauh dari sahabat jepangnya. Kelihatan jelas bukan? Nggak ada gunanya
mengedepankan emosi ketimbang nyawa sahabat sendiri. Chloe dan Jacqueline
merasa bodoh dengan tindakan mereka sebelumnya, serempak menjulurkan tangan
mereka pada Aoi. Kemudian, membantunya berdiri.
“Maaf ya, aku salah.
Nggak seharusnya aku membentakmu, Aoi.” Ucap Chloe tertunduk merasa bersalah.
Aoi tersenyum. Dia meletakkan
tangan kanannya di puncak kepala Chloe, lalu membelainya halus. “Nggak papa… Aku
ngerti kok. Sekarang, kita harus kabur dari Grimoire. Aku nggak mau kita
bertiga mati konyol di sini, oke?”
“Oke!” balas kedua
gadis itu disertai anggukan kecil mereka.
“50:50 juga deh. Aku
juga salah karena ikut ke bawa emosi juga.” Ujar Jacqueline.
Terlalu larut dalam
pembicaraan mereka, tanpa sadar, sudah ada lima belas duri mengarah ke mereka. Dengan
kecepatan tinggi memblokir pergerakan mereka tanpa menggores sedikitpun kulit
mereka.
“Astaga! Lupa sama dia!”
seru mereka bertiga.
__ADS_1
~