Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 88 {Season 2} Gantian


__ADS_3

“AAAAAAA!”


Chloe, Aoi, dan


Jacqueline berteriak histeris diiringi dengan langkah kakinya yang


terbirit-birit, menghindari hujan duri besar yang hendak menusuk mereka dari


belakang.


Benar-benar diluar


dugaan! Mereka kira, dunia Carnater itu memang sepenuhnya sepi, kosong, dan tak


berwarna. Justru karena senyapnya dunia itulah, para predator bisa bersembunyi


tanpa diketahui langsung keberadaan mereka oleh mangsanya.


Baru saja menginjakkan


kaki mereka ke tanah Carnater, keberadaan mereka langsung diketahui oleh Aura


yang saat itu tengah melintasi area tersebut. Entahlah, mereka bertiga juga


sama sekali tidak tahu apapun aturan juga wilayah siapa yang mereka pijaki ini.


Yang jelas, sejak awal Aoi dan Jacqueline berniat mempertemukan Chloe dengan


Black Aura. Mereka bahkan lupa dengan larangan serta ancaman Midnight apabila


mereka masuk ke dalam dunia Carnater tanpa seizin darinya.


“INI SEMUA SALAHMU,


AOI!” tunjuk Chloe jengkel tapi sebenarnya panik. Gadis itu tidak menyangka,


jantungnya yang selama dua bulan ini berdetak stabil kini harus bekerja keras


lantaran ide sahabatnya yang yah… Chloe sendiri tidak bisa menolak ide


tersebut. Namun, tidak untuk duri-duri raksasa yang mengejar mereka saat ini!


Jacqueline menoleh ke


belakang. Nafas gadis itu sama halnya dengan jantungnya. Semua anggota tubuh


mereka dipaksa bekerja keras. Perasaan tenang mereka seketika tersapu oleh rasa


panik yang kali ini berpesta ria di dalam benak ketiga remaja itu.


“MAKANYA, LAIN KALI


KALAU MAU KE RUMAH ORANG, KETUK DULU PINTUNYA!” Jacqueline ikut-ikutan.


“HAAAA? INI KAN IDEMU,


JACQUELINE! KENAPA MALAH AKU YANG DISALAHKAN?!” tanya Aoi tak terima.


“BODO AH! KALIAN BERDUA


SAMA AJA!” kesal Chloe yang kemudian berubah menjadi pucat, mendapati sosok


Aura yang melayang di atas kepala mereka dan hendak menuduk mereka dengan duri


besar di lengannya.


“YA AMPUN ORANG


TERBANG!” jerit Chloe mendongakkan kepalanya ke atas. Tanpa pikir panjang, dia


langsung menggandeng tangan kedua sahabatnya, menjauhi mereka dari serangan


Aura berkekuatan duri tersebut.


BRAKK!!!


Tanah tempat mereka


pijak tadi hancur karena tusukan maut dari Aura tersebut. Gila benar itu


makhluk.


Sekilas, Chloe


mengamati penampilan Aura yang menyerang mereka itu. Aura itu seperti landak.


Berpakaian serba hitam termasuk rambutnya yang seperti duri itu berwarna hitam.


Wajahnya putih. Penampilannya seratus persen jauh dari kata manusia. Dia


seperti makhluk fantasi asli. Tingginya diperkirakan 205cm. Sumpah, meski


panik, Chloe masih bisa dibuat kagum oleh kerennya penampilan mahluk itu.


Sayangnya, Di Carnater, semua orang tidak memiliki emosi dan perasaan. Mereka


mengandalkan insting dan naluri mereka. Jika mereka diganggu, maka mereka akan


menyerang.


“Kekuatannya… Aku


keknya pernah lihat kekuatan duri itu. Tapi dimana?” ujar Chloe. Gadis itu


berusaha memanggil kembali ingatan dimana dirinya pernah melihat Aura yang


bertarung menggunakan duri hitam raksasa.


“Ah! Itu loh!


Kekuatannya Huke! Masih ingat nggaAAAKKKK!!” Jacqueline terkejut menemukan Aura


itu hendak menendang kepala mereka dengan kakinya. Dengan lincah, Jacqueline


langsung menundukkan kepalanya diikuti dengan Chloe dan Aoi. Mereka bertiga


panik. Sedangkan Aura itu hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun. Bahkan


huruf “a” saja tidak ada disebutkannya.


“Kalau nggak salah…

__ADS_1


Namanya Grimoire.” Ujar Aoi, kehilangan sedikit keseimbangannya saat berdiri.


“Oi, kalian ada ide nggak? Kita harus ngapain coba buat nge-lawan makhluk itu?


Carnater ini luas. Sementara kita nggak bawa senjata sama sekali.”


“Salahmu! Siapa suruh


dorong aku masuk ke dalam cermin?! Datang-datang kena hajar, balek-balek kena


omel. Aiishh! Nyebelin banget sih, kalian!” omel Chloe sambil mengacak-acak


rambutnya, frustasi.


“Lah! Kami kan


ngelakuin ini biar kau bisa ketemuan sama Aura! Kami tahu kau itu kangen berat


sama dia. Makanya kami rela-relain waktu romantis kami buatmu, Chloe! Ya,


seeenggaknya, makasih kek! Ini ngomong makasih aja kaga ada! Apa lagi


menghargai usaha orang coba! Haiishh! Sumpah ya! Kau yang sekarang ini nguji kesabaran


banget dah! Lihat aja! Pas ketemu Black Aura, awas aja kalau kau sampai


peluk-peluk dia!” balas Jacqueline sarkas disertai ancaman.


“Itu kalau ketemua dia!


Gimana kalau nggak ketemu sama sekali? Kita ini nggak tahu apa-apa soal


Carnater! Kita nggak tahu gimana sifat penduduknya! Kalian berdua lihat kan


Grimoire itu?! Kita baru pijak dikit aja udah kena hantam? Gimana kalau kita


guling-guling? Udah beda dunia duluan kita!” Chloe menunjuk ke arah Grimoire,


mengomel tanpa jeda. Dirinya yang dilanda frustasi ini paling enggan yang


namanya kalah dalam perdebatan.


“Ya udah! Daripada


ribut… Mending kita lari sprint aja. Ada manfaatnya kok. Kita bisa terhindar


dari serangan, kita bisa terhindar dari luka, kita bisa melatih otot kaki kita


biar kuat, jantung kita bisa sehat, dan masih banyak lagi manfaat dari lari


sprint.” Ujar Aoi sambil menengahi kedua gadis yang berdebat itu dengan berbagi


sedikit pengetahuannya di bidang olahraga. “Kalian lihat si Grimoire itu.”


tunjuk Aoi yang diikuti dengan pandangan kedua gadis itu.


Tak jauh dari jarak


mereka berdiri, Grimoire mengeluarkan pedang duri tipisnya. Panjang pedang itu


setara dengan tingginya yaitu 200cm.


Seketika, bulu kuduk


suntik merasa ngeri dan hampir mau pingsan begitu matanya menyorot ke ujung


pedang yang kecil dan tajam. Sulit dibayangkan seandainya pedang itu menusuk


dirinya. Sudah pasti, rasa sakit yang dideritanya melebihi rasa sakit ketika


jari kita tak sengaja tercucuk ujung jarum pentul.


“Sumpah, ini gila!”


celetuk Jacqueline yang tak lama lagi tumbang.


Untunglah, Aoi segera


menahan tubuh kekasihnya lalu menggendongnya ala-ala tuan putri.Sekilas, Chloe


terlihat cemburu dengan tindakan cepat Aoi pada Jacqueline yang tak sadarkan


diri itu. Hatinya iri. Di sisi lain, dia merasa jengkel dan mengira kalau Aoi


sengaja menggedong Jacqueline dengan posisi senyaman mungkin demi menarik


perhatian Chloe.


Tidak sanggup menahan


amarahnya, Chloe menginjak keras ujung sepatu Aoi hingga pria itu terlonjak


kemudian jatuh bersamaan dengan tubuh Jacqueline. Jacqueline tidak jadi


pingsan. Jantung gadis itu dibuat senam oleh Chloe yang tengah dikuasai


amarahnya.


“Maksudmu apa, ha?!”


bentak Chloe.


Aoi mengeryitkan


keningnya bingung. Pria itu merasa dirinya tidak berbuat salah namun karena


amarah Chloe, hatinya merasa baru saja membuat kesalahan terhadap gadis


berambur pirang itu.


“Ha? Apa maksudmu?


Emangnya aku habis ngapain?” tanya Aoi tak terima.


“Kau nggak usah


pura-pura nggak tahu ya! Aku tahu kau Cuma mau narik perhatianku aja!” balas


Chloe dengan nada marah.


Pria jepang itu mulai

__ADS_1


ketakuta. Tertangkap genangan air yang tak lama lagi akan mengalir, membasahi


pipinya. Aoi tidak tahu kesalahan apa yang baru saja ia buat. Aoi juga tidak


tahu kenapa Chloe sekejam ini memarahinya. Dalam hatinya, Aoi merasa sakit.


Perasaannya mengatakan dirinya telah gagal menjadi sahabat Chloe. Meskipun


nyatanya, Chloe-lah yang tidak pantas menyandang nama sahabat untuk Aoi.


Aoi itu pria yang baik.


Dia rela meluangkan waktunya, sesibuk apapun dirinya untuk Chloe. Akan tetapi,


perbuatan Chloe terhadapnya membuat Aoi putus asa. Otomatis langsung


menyalahkan dirinya.


“Maksudmu apa?


Tiba-tiba bentak Aoi. Kau ini kenapa, sih? Kalau kau kesal jangan bawa-bawa


kami dong! Kami kan nggak tahu apa-apa!” walau sempoyongan, Jacqueline berusaha


sekuat mungkin berdiri dan membela pacarnya yang dibentak habis-habisan oleh


Chloe.


“Kalau kau kangen Black


Aura, pergi sana! Kita udah di Carnater! Cari dia sampai dapat! Kalau bisa,


hantam aja itu tebing sampai retak biar nyadar pacarmu itu! Kalau bisa, kau


teriak sekencang-kencangnya, sebut nama dia! Jangan pula sasarannya ke kami!


Kami blas nggak tahu gimana awal mula kalian bisa pisah. Yang kami tahu, kalian


tiba-tiba pisah. Kalau kau merasa bersalah, MINTA MAAF! Ini ngomong maaf aja


nggak ada, apalagi ‘terima kasih’. Sumpah, Chloe! Kau yang sekarang nguji


kesabaran banget!” beber Jacqueline emosi. Dia bahkan menekankan kalimat ‘minta


maaf’’ agar terkesan lebih menusuk plus tanpa memperdulikan apakah


sahabatnya tersakiti atau tidak. Sebab, yang Chloe lakukan pada Aoi menurutnya


terlalu berlebihan.


Chloe bungkam dengan


kedua tangannya terkepal. Wah, karena masalah pribadi, mereka jadi melupakan


Grimoire yang tak lama lagi akan menyerang mereka. Ya, sudahlah… Mau hidup atau


tidak, seenggaknya mereka sadar akan situasi mereka saat ini. Tidak ada gunanya


menyebarkan amarah di saat genting seperti ini. Cara terbaiknya adalah lari


selagi kaki masih bisa digunakan.


BRAK!


Salah satu duri besar


berhasil menembus tanah tak bersalah, sejengkal di depan ujung sepatu Aoi. Pria


itu membeku disertai keringat dingin yang bercucuran. Jantungnya seakan berhenti.


Sudah kesekian kalinya Aoi selamat dari beberapa serangan Aura yang kapan saja


bisa mengancam nyawanya. Andai kata duri itu benar-benar menusuk kakinya, saat


itulah teriakan perawan Aoi meledak hingga mengejutkan para Aura yang kala itu


tengah tenang-tenangnya menikmati kesunyian.


Sementara Jacqueline


dan Chloe yang pada awalnya beradu mulut, terdiam meratapi duri besar yang tertancap


tak jauh dari sahabat jepangnya. Kelihatan jelas bukan? Nggak ada gunanya


mengedepankan emosi ketimbang nyawa sahabat sendiri. Chloe dan Jacqueline


merasa bodoh dengan tindakan mereka sebelumnya, serempak menjulurkan tangan


mereka pada Aoi. Kemudian, membantunya berdiri.


“Maaf ya, aku salah.


Nggak seharusnya aku membentakmu, Aoi.” Ucap Chloe tertunduk merasa bersalah.


Aoi tersenyum. Dia meletakkan


tangan kanannya di puncak kepala Chloe, lalu membelainya halus. “Nggak papa… Aku


ngerti kok. Sekarang, kita harus kabur dari Grimoire. Aku nggak mau kita


bertiga mati konyol di sini, oke?”


“Oke!” balas kedua


gadis itu disertai anggukan kecil mereka.


“50:50 juga deh. Aku


juga salah karena ikut ke bawa emosi juga.” Ujar Jacqueline.


Terlalu larut dalam


pembicaraan mereka, tanpa sadar, sudah ada lima belas duri mengarah ke mereka. Dengan


kecepatan tinggi memblokir pergerakan mereka tanpa menggores sedikitpun kulit


mereka.


“Astaga! Lupa sama dia!”


seru mereka bertiga.

__ADS_1


~


__ADS_2