Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 106 {Season 2: Kerja Sama}


__ADS_3

Salah satu daun kering yang tidak diketahui dari mana asalnya jatuh di area pertarungan tiga Aura yang sampai detik ini belum terlihat kapan pertarungan itu akan berakhir.


Dibantu dengan sabitnya, Black Aura berdiri. Aksi konyol Chloe tadi membuatnya harus kehilangan kaki kanannya. Beruntunglah tidak sesakit milik Aoi sebelumnya. Tapi tetap saja, bergerak dengan satu kaki itu agak bagaimana begitu. Susah juga mau bergerak cepat kecuali Black Aura bisa mengatasi masalah tersebut dengan cepat.


Ide di kepalanya masih mengalir layaknya sungai amazon. Karena lawannya adalah perempuan mau tak mau Black Aura harus mencari cara agar dirinya bisa mengakhiri pertarungan ini tanpa melukai atau membunuh musuhnya. Black Aura jadi teringat akan kenangan masa lalu yang tentunya belum diketahui Chloe sedikitpun bagaimana kronologinya.


Saat itu, Black Aura masih dikatakan Aura yang kejam. Dia menyerang tanpa memikirkan belas kasih sedikitpun. Musuh pertamanya adalah Ayano yang kebetulan berpapasan dengannya di jalan. Menyadari ada suatu yang tidak beres, Black Aura main melayangkan pedangnya dan voila! Adegan kejar-kejaran, adu senjata, dan penampilan mereka yang dibaluti serangkaian luka itu terjadi. Cerita itu kemungkinan besar tidak akan terselip di salah satu paragraph ataupun episode cerita ini. Kalau menanyakan alasannya, ya simple. Cerita ini adalah milik Chloe dan Black Aura sepenuhnya. Jika Midnight yang memegang peran sebagai tokoh utama, maka cerita masa lalu para Aura itu akan terungkap semuanya termasuk awal mula Aura itu muncul.


Oke…


Mari kembali fokus ke permasalahan antara Black Aura dengan Ayano. Keduanya memegang sedikit kesulitan yang asalnya dari orang terdekat mereka. Jika Black Aura memiliki masalah dengan pacarnya yang tidak sengaja menghancurkan kakinya, Ayano memiliki masalah dengan adiknya yang keras kepalanya hampir menyerupai Uzumaki Naruto. Bedanya, Alter tidak menyukai ramen.


“Nah, Melanggar lagi!” serbu Ayano begitu dirinya sampai di tempat dimana sang adik terbaring telungkup disertai cengiran kudanya. Bukannya takut, justru Alter terkekeh menyambut kehadiran sang kakak yang sudah menyiapkan kepalan tangannya.


“Hahh, bukan urusanmu!” Alter membuang mukanya ke arah lain. Dia cemberut.


“Lihat mukamu! Kotor sekali! Kalau kau nggak punya kepentingan mendesak dengan Aura, nggak usah cari masalah deh! Kau tahu sendiri kan kalau dunia kita lagi dalam masalah? Ada manusia…”


“Bla… Bla… Bla… Asoka juga ngomong begitu, asal kau tahu. Aku Cuma bosan di istana. Nggak ada hiburan sama sekali. Kalau duduk diam nonton si Asoka lagi baca buku atau kadang menangis itu bikin aku… Behh! Bosan pokoknya! Mau meledak isi kepalaku! Mana pacarku pake acara mati lagi,” ungkap Alter sekalian memotong omongan Ayano lantaran males diomelin terus. Telinganya sudah terlalu lelah mendengar rumor Black Aura, kemudian dunianya yang sedang tidak bagus kondisinya, dan terakhir disuruh mengikuti arahan Asoka.


Alter berusaha bangkit walau kedua kakinya yang sempoyongan. Benci mengakui kondisinya saat ini. Akan tetapi, mau tak mau itulah yang harus ia terima. Alter menatap Ayano intens. Mengeratkan kepalan tangannya dan dengan mantap berkata, “Aku akan membalas semua yang telah dia perbuat padamu, kak!”


Ayano tertegun seketika mendengus nafas tak sukanya. “Hmm, itu sih boleh juga. Tapi, tetap aja! Kau jangan seenaknya keluar tanpa izin Asoka! Asoka kalau ngomong itu nggak pernah salah lho! Dia itu mikir ke depan! Nggak kayak kau yang pikirannya pendek banget! Kalau dibandingkan dengan Aoi pun masih pendekkan punyamu!”


“APA?!” Alter tersentak seolah baru saja tertimpa batu yang besar hingga nyaris membuatnya kehilangan nyawa. Lebih pendek dari kucing es itu? Sehina itukah pikirannya?


“Tega banget sih jadi kakak! Bukannya belain adiknya malah…”


“Aku nggak belain siapa-siapa. Aku Cuma kesal aja dengan tingkahmu! Badan udah segede sumo gini masih kayak anak-anak aja pikirannya!”


“Sumo? Badan seramping idol korea ini kau bilang SUMO?! Lama-lama kau ngajak kelahi juga ya!”


Di kejauhan sana, Chloe diam-diam memperhatikan kakak adik yang tengah berdebat sengit sambil mengobati Black Aura dengan menggenggam hangat tangan Aura itu. Chloe mengernyitkan keningnya tak mengerti. Sebenarnya ada masalah apa dengan kakak beradik itu? Suara mereka samar tapi cukup jelas artikulasinya.

__ADS_1


“Mereka memang seperti itu ya?” tanya Chloe basa-basi. Selagi mereka berkelahi, Chloe memanfaatkan waktu sebaik mungkin demi memulihkan kaki Black Aura yang pecah itu.


“Biarkan saja mereka…” balas Black Aura tak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah kehangatan yang kekasihnya berikan padanya. Black Aura bisa merasakan ketulusan hati Chloe lewat genggaman tangan itu. Dan jujur saja, Black Aura merasakan panas baik di wajah maupun di dadanya. Sepertinya… Itulah yang disebut cinta oleh ibunya.


Midnight pernah menjelaskan sedikit tentang cinta. Wanita itu mendapatkan cinta dan kasih sayang bukan dari manusia melainkan dari  makhluk Carnater yang mendatanginya. Dia bilang kalau cinta yang ia peroleh dari makhluk Carnater itu atau sebut saja Meg, adalah murni kemauannya.


“Kalian tahu? Aku dan Meg, memiliki banyak sekali kenangan indah. Kenangan pahitnya ada juga sih. Cuma, kenangan indah itu justru mendominasi hidupku. Aku nggak tahu bagaimana bisa makhluk Carnater itu bisa jatuh cinta dengan ibu. Tapi, itulah yang namanya cinta. AKhirnya beragam. Tergantung bagaimana cara kita menjalaninya.


“Cinta itu… Butuh banyak perjuangan. Kalau sudah direstui dengan wali kalian masing-masing, ya tinggal jalankan saja. Berbahagialah dan pertahankan ikatan kalian. Beda ceritanya kalau kalian tidak direstui oleh wali kalian. Saat-saat seperti itulah, perjuangan keras dibutuhkan. Demi masa depan yang telah kalian rangkai berdua, demi anak-anak kalian, dan demi masa depan kalian berdua. Kalau sudah terlanjur cinta, kalian mau tak mau menentang omongan keluarga.


“Nggak mudah lho menjalani hidup setelah menentang omongan keluarga. Kalian akan menemukan banyak sekali rintangan, duka, dan juga resiko. Kalian berdua pasti menemukan waktu dimana kalian tersungkur karena pilihan kalian. Kalau sudah seperti itu… Aku rasa kembali kepada kalian lagi. Mau mempertahankannya? Boleh saja. Apapun resiko dan sedalam apa jurang yang kalian temui, selama bersama, kalian pasti akan baik-baik saja. Karena kalian tak sendirian menjalaninya melainkan, bersama dengan sosok yang kalian cintai.”


Sekian dari ceramah Midnight yang terputar otomatis di benak Black Aura. Aura itu melirik tangannya yang digenggam Chloe. Memang beda rasanya. Disentuh manusia dengan disentuh Aura.


“Aura…”


Black Aura menoleh ke arah Chloe yang sedari awal wajahnya menghadap ke kakak beradik yang sampai tempo ini belum menunjukkan sisi akur mereka. “Kenapa Chloe?” respon Black Aura penasaran.


“Eh?”


Bersamaan dengan suasana yang canggung itu, hati mereka berdua berdebar-debar. Baik Chloe maupun Black Aura, keduanya tidak ada yang bisa menutupi raut merona di wajah mereka. Akan tetapi, Chloe berusaha memperlihatkan rasa percaya dirinya demi menuntaskan pertanyaan yang mengusik pikirannya.


“Aura nggak bakal pergi lagi kan?” ulangnya dengan sedikit perubahan kata.


“Nggak kok. Kita bakal sama-sama terus sampai semua masalah ini selesai.”


“Setelah masalah ini selesai, kau mau kan temani aku kuliah, ke café?”


“Mau.”


“Kau mau kan satu rumah denganku terus jadi temanku?”


Awalnya Black Aura ragu dengan kalimat “satu rumah denganku” tapi, demi kebahagian Chloe, Black Aura menjawab “Mau.”

__ADS_1


“Benar ya? Terus terang, aku merasa benang merahku denganmu terlalu kuat. Bahkan terbilang erta bagiku. Dua bulan itu lama. Kau masih ingat kan yang waktu kau bantuin Jacqueline melawan Dark Shadow? Kita berpisah beberapa jam saja, aku sudah rindu. Apalagi kalau dua bulan.”


“Black Aura, berjanjilah jangan pernah lupakan aku. Jangan pernah lupakan namaku. Kalau aku… Sudah nggak lagi di dunia…”


Belum selesai Chloe berbicara, Black Aura langsung menggenggam erat tangan gadis itu dengan kedua tangannya. “Jangan ngomong gitu,” potongnya, memperlihatkan ekspresi khawatirnya. “Pokoknya, aku janji nggak akan pernah melupakanmu. Kita akan terus bersama-sama. Itulah janji kita berdua.” Sambungnya. Di lain sisi, Black Aura merasakan takut untuk pertama kalinya. Rasa takut akan ditinggal.


Chloe terenyuh mendengar ungkapan Black Aura barusan. Gadis itu kemudian memajukan posisi duduknya sehingga menjadi lebih dekat dengan sang kekasih. Mereka saling bertatapan dengan jarak yang terbilang sangat dekat.


“Kau benar. Apapun yang terjadi, harus sama-sama terus ya!”


Tanpa mereka sadari, kaki kanan Black Aura telah pulih seperti sedia kala. Kedua remaja itu terkejut bersamaan, tak lama kemudian tertawa.  Yap! Sudah saatnya mereka bergerak. Menuntaskan permasalah kecil mereka dengan kakak beradik yang masih bertengkar. Bukan adu mulut lagi sekarang. Melainkan, adu kekuatan karena salah satu dari mereka ada yang tidak bisa diajak bekerja sama.


Alter mengeluarkan puluhan panah api dengan target yang sudah dikunci mengarah tepat ke Ayano yang sama-sama meluncurkan panah Kristal miliknya. Pertarungan itu sulit dihindari lantaran tidak ada yang mau mengalah.


Manik violet Black Aura berotasi malas. Heran dia. Masa harus dia juga yang melerai kakak beradik dari kelompok Asoka itu?


“Biar aku aja yang urus.”


Chloe menghalangi langkah Black Aura dengan tangan kanan yang ia rentangkan di depan Black Aura. Seketika, langkah Aura itu terhenti.


“Bagaimana cara kau mengurusnya?” tanya Black Aura ragu.


Keraguan Black Aura dengan cepat sirna terhapus oleh pesona yang ditebarkan oleh senyum percaya diri milik Chloe. Gadis itu memperlihatkan sisi mantapnya yang benar-benar ingin melerai kakak beradik itu.


“Kalau mereka tidak bisa dilerai, maka sisanya kuserahkan padamu.”


“Oke! Kalau itu maumu!” Black Aura tersenyum hangat menanggapi usulan yang Chloe berikan padanya.


Dengan segudang keberanian yang Chloe miliki, gadis itu menapakkan sepatunya ke depan. Kemudian, disusul dengan langkah kaki yang lain. Tak lupa dengan pedang Black Aura yang sengaja dikeluarkan sebagai alat untuk berlindung diri dari serangan kakak beradik itu. Karena Chloe tidak mengetahui nama panjang mereka, Chloe hanya menyebut mereka dengan julukan “kakak beradik”.


“Kalian berdua! Hentikan pertarungan kalian!” serunya lantang.


~

__ADS_1


__ADS_2