
Ruang tamu itu begitu asing saat dirinya membuka mata. Yah, sudah pasti dirinya
tidak sedang di dalam rumahnya. Selimut yang melindunginya juga terlihat berbeda.
“Kau sudah bangun?” suara perempuan yang lembut itu menyadarkannya dari lamunan.
Chloe melirik cepat ke arah wanita berambut biru malam dengan kacamata bulat yang
menggantung di batang hidungnya. Dia tersenyum hangat meskipun terdapat hansaplast di pipi kanannya.
“Eh?” ucapan Chloe tertahan otomatis di ujung lidah. Senyuman yang disunggingkan
wanita itu benar-benar membuatnya terdiam. Chloe merasa diperintahkan untuk
diam dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk dan memberinya sedikit perhatian.
“Jangan khawatir, teman-temanmu baik-baik saja.” Katanya sambil meletakkan nampan berisikan chicken francese. “Kalian semua pasti sudah melewati hari-hari yang melelahkan, bukan?”
Chloe tanpa sadar menganggukkan kepalanya.
“Namaku Midnight. Aku adalah ibu dari teman Auramu, Black Aura. Salam kenal, ya!”
Midnight tersenyum simpul.
Seketika, Chloe terdiam mendengar wanita itu yang baru saja memperkenalkan dirinya. Jadi,
begini rupanya Midnight itu. Dia terlihat seperti wanita biasa. Dan lagi, wajahnya terlihat begitu muda untuk disebut sebagai ibu. Chloe berpikir begitu karena dia melihat Black Aura, Devil Mask, dan Yumi yang terlihat seperti remaja.
Jadi, dia mengira, usia Midnight itu sekitaran empat puluh tahun lebih.
“I-iya! Namaku Chloe. Salam kenal.” Chloe menjawab agak kaku.
“Kau pasti kaget, kan?”
“Yah… Begitulah.” Chloe menjawab seadanya. Dia tidak begitu mengerti dengan maksud
perkataan Midnight barusan. Kaget soal apa?
“Nanti, pergi ke atas, ya! Teman-temanmu bakal berkumpul di atas. Pasti, ada banyak hal yang ingin kalian tanyakan padaku, bukan?”
Chloe mengangguk sambil berkata, “Ya.”
Midnight kembali tersenyum. Sepertinya, tidak ada lagi yang mau dia bahas dengan Chloe.
Oleh karena itu, Midnight segera meninggalkan Chloe dan bergegas ke ruang atas. Mungkin yang dia maksud adalah ruang makan. Atau bisa saja, ruang tengah.
Chloe memperhatikan tangan kanannya yang diperban. Dia tidak ingat apa yang sudah
terjadi padanya. Belakangan ini, daya ingatnya semakin melemah seiring serangkaian kejadian aneh menimpanya. Tahu-tahu saat membuka mata, dia sudah berada di tempat lain.
Chloe menghela nafas singkat sambil pelan-pelan mengatur posisi duduknya. Setelah
merasa nyaman dengan posisi duduknya, gadis itu menyantap masakan yang Midnight
buat untuknya. Aroma yang menguar dari masakan itu benar-benar nikmat dan
hangat. Rasanya, Chloe jadi rindu dengan masakan ibunya.
Sejak kepergian abangnya, Chloe jadi tidak pernah menghubungi orangtuanya. Anehnya lagi, saat acara pemakaman abangnya berlangsung, Chloe tidak melihat orangtuanya
menunjukkan batang hidung mereka. Chloe masih bertanya-tanya sampai sekarang,
kemanakah orangtuanya saat itu? Kenapa mereka tidak menghadiri acara pemakaman
anaknya? Apa mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka sampai-sampai lupa
dengan anak sulung mereka yang hari itu sudah tidak ada lagi di dunia.
“Untuk apa coba? Lebih baik, memikirkan apa yang harus kupikirkan sekarang.” Gumam
Chloe kemudian, menyantap habis masakan Midnight.
Suara jam dinding yang terpajang di depannya membuat perhatiannya tertuju sempurna
pada angka Sembilan. Angka itu. Chloe merasa ada yang janggal pada angka Sembilan
itu. Apa jangan-jangan…
“Ah! Aku ingat sekarang! Sembilan jam yang lalu…!”
~
Sembilan jam yang lalu…
“Devil Mask!” panggil Jacqueline menepuk pelan pundak Devil Mask dan langsung menyadarkan Aura itu akan keberadaannya yang terduga.
“Astaga… Apa yang kau lakukan di sini? Dimana Yumi? Kau nggak menjaganya?” sambar Devil
Mask setengah berbisik.
“Masih di toko bunga. Aku yakin, dia bisa menjaga dirinya sendiri. Lalu, apa yang kau lakukan sekarang? Bermain petak umpet dengab siapa? Perempuan itu?”
“Bukan. Aku cuma merasa dia ada hubungannya dengan Legend Aura.” Jawab Devil Mask yang masih memperhatikan gadis berambut pirang dari balik mobil.
“Apa jangan-jangan, Yuuki memang benar sudah keluar dari tempat persembunyiannya, ya?”
__ADS_1
Devil Mask mengangkat pundaknya singkat “Tidak tahu. Tapi pastinya, dia ada di
sekitar kita.” Sambil mengamati para pejalan kaki dengan wajah yang beraneka ragam. Sialnya, aku malah tidak ingat dengan wajahnya!
“Permisi…”
Jacqueline dan Devil Mask menoleh ke belakang, mendapati seorang gadis yang tampaknya seusia dengan Jacqueline menunduk ketakutan sambil memeluk buku-buku tebal yang entah apa judulnya.
“Ya?” Jacqueline merespon bingung.
“Maaf, menggaggu waktu kalian... Aku mau nanya, apa kakak pernah melihat orang ini?”
gadis itu dengan tangannya yang gemetaran mengeluarkan ponselnya. Kemudian,
memperlihatkan layarnya.
Seperti tersambar petir, Jacqueline dan Devil terbelalak melihat sosok yang tertera jelas di layar ponsel gadis itu. Sosok itu adalah seorang wanita dengan kacamata bulat yang khas. Tidak! Senyumannya paling khas.
Devil Mask tidak bisa berkata-kata melihat wanita itu. Tubuhnya tidak bisa bergerak.
Bahkan, ingin menggerakkan jari telunjuknya saja tidak bisa. Tunggu, apa gadis ini tidak merasa aneh dengan tangannya yang terlihat tidak normal? Ah, sudahlah! Apa pedulinya?
Gadis itu membenarkan letak kacamata kotaknya. Gadis itu mengenakan hodie yang dilapisi dengan mantel luar, topi rajut yang melindungi rambut coklatnya dari salju, kacamata kotak yang sederhana dan pose menunduknya membuat gadis itu terkesan introvert. Dia seakan baru saja dipertemukan dengan dunia luar. Ralat, gadis itu seakan terpaksa ke dunia luar karena diberi tugas oleh seseorang. Orang yang membuat artikel tentang ibu Devil Mask beberapa menit yang lalu. Orang itu sudah pastinya adalah Yuuki.
“Tidak. Kami bahkan tidak tahu siapa dia. Hmmm… Memangnya, dia ini siapamu?” tanya
Jacqueline berusaha menutupi identitas Devil Mask.
“Dia adalah… Ibuku…” Jawab gadis itu lirih.
Devil Mask langsung terperanjat mendengarnya. Seandainya Jacqueline tidak menahan cakaran Aura itu, mungkin keributan besar akan terjadi dan malah mempeparah
keadaan mereka.
Jacqueline menggenggam erat lengan Devil Mask, bermaksud agar Aura itu tidak melakukan kekerasan di tengah jalan.
“Oh, kalau boleh tahu… Siapa namanya? Oh, ya! Ngomong-ngomong, kamu ini siapa dan
apa kau ini mahasiswa?” tanya Jacqueline yang berniat ingin membongkar identitas gadis itu.
“I-iya… Aku mahasiswa… Namaku… Elena.” Gadis bernama Elena itu memperlihatkan mata kanannya di balik lensa kacamatanya. Setelah itu, dia tersenyum simpul. “Dan… Nama
ibuku ini adalah…”
Saat itulah, suara tembakan yang memberontak itu muncul usai, Elena menyebut nama wanita yang ia anggap sebagai ibunya. Kekacauan yang muncul bukan dari Devil Mask. Melainkan, dari langit. Untung saja, Devil Mask peka. Saat tembakan itu hendak mengarah pada kedua gadis itu, tanpa pikir panjang, dia langsung menarik lengan mereka lalu, menjauh.
Sontak, semua orang terkejut dan panik. Para pejalan kaki yang sebelumnya setenang
angin kini berhamburan seperti badai. Langkah ketakutan mereka membuat seisi jalan menjadi kacau. Seperti biasanya, mereka mengeluarkan ponsel merekam dan merekam kejadian tersebut. Namun, dihalang oleh serangan lain yang masih berasal dari langit. Sebuah kenyataan yang tak terduga datang menghampiri.
Semua orang terpaku pada langit dengan wajah pucat mereka yang beragam. Masing-masing, tangan mereka melemas bahkan, ada yang sampai menjatuhkan ponsel mereka.
“Bukannya, dia sudah…” Tambah Devil Mask.
Ajaib sekali. Semua pandangan mereka teralihkan dengan kuat oleh sosok yang
melayang di atas sana. Sosok remaja yang Devil Mask dan Yumi kenal sebagai
musuh terbesar mereka. Salah satu Legend Aura yang dulunya mereka kenal sebagai
Komandan Legend Aura.
Dari semua makhluk Carnater, hanya Black Aura dan Silentwave yang mampu membunuhnya. Tapi, bagaimana bisa? Dia yang seharusnya
sudah mati di tangan Black Aura. Tapi, kenapa sekarang malah memperlihatkan dirinya? Ini bukan mimpi, kan?
“Siapa dia?” tanya Jacqueline memasang sikap waspadanya.
Sayang sekali, pertanyaannya terabaikan. Kedua teman Auranya itu masih syok dengan
kenyataan saat ini.
Berbeda dengan manusia yang lain, Elena tersenyum pahit sebelum pada akhirnya mundur dan menghilangkan jejaknya. Dia berlari dalam diam. Berusaha sebisa mungkin
meredamkan suara langkah kakinya agar tidak diketahui oleh Jacqueline.
Maafkan aku…
Elena pergi meninggalkan setetes air mata yang jatuh di atas permukaan jalan yang
kering itu. Dia serius dengan tindakannya ingin menghilangkan jejaknya.
Kembali pada Jacqueline, dia memalingkan wajahnya ke arah gadis yang tadinya sedang diintai Devil Mask. Dan... Sama seperti Elena, gadis berambut pirang itu menghilang.
"Lo? Kemana dia?"
~
Emma tersenyum licik sambil memandang Jacqueline dan Devil Mask yang terpaku pada langit. Posisinya saat ini berada di dalam toko buku.
Kalau tidak pandai-pandai mengatur waktu, mungkin rencana melarikan dirinya langsung ketahuan oleh Jacqueline. Menurut Emma, akan sangat merepotkan jika gadis itu berurusan langsung dengannya. Jadi, dia akan mencari waktu yang pas dimana dirinya bisa bertaruh sesuka hati dengan Jacqueline. Meskipun dia tahu, dia memiliki masalah lain dengan salah satu sahabatnya Jacqueline.
"Yah... Kurasa, aku harus berterima kasih padanya." Ucap Emma sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Memandang sosok yang melayang itu.
“I-itu… Manusia?”
__ADS_1
“Dia melayang?”
“Wah… Hebat! Rekam! Rekam!”
Seperti biasanya, celetukan warga mengisi kekosongan suasana kota yang canggung
mendadak itu.
Sementara, Aura yang melayang di atas itu masih memperhatikan pemandangan di bawah dengan tatapan datar.
“Huke…” Gumam Devil Mask.
“Huke?” Jacqueline mengulangi kalimat tersebut. Mengira bahwa telinganya salah dengar.
“Ya, dia adalah Komandan Legend Aura. Huke Metafora.” Yumi tiba-tiba sudah ada di sampingnya sembari menambahkan kalimat yang tidak lengkap.
Jacqueline mengangkat alis kanannya, bingung. “Kau kelihatan takut.” Ujarnya pada Yumi.
“Yah... Begitulah."
“Tapi, namanya cantik juga. Metafora. Apa dia suka pelajaran sastra?”
“Cih, yang benar saja!” Devil Mask menggerutu saat Jacqueline melontarkan sebuah lawakan yang menurutnya tidak lucu.
Saat itulah, ketika semuanya terdiam dan focus mengamati langit yang tak biasa itu, tiupan angin di musim bulan Desember membuat beberapa helai rambut Aura yang tengah melayang itu menari seperti alunan melodi tanpa suara.
Rambutnya berwarna maroon. Di kepang satu dengan ujungnya yang diberi pita berwarna merah. Dia mengenakan jubah besar berwarna merah kehitaman yang menutupi tibuhnya hingga di atas lutut. Di tengah jubahnya ada garis putih lebar dengan resleting hitam di tengahnya. Sekilas tampak membentuk jalan raya. Wajahnya manis. Jika dibandingkan dengan Chloe dan Jacqueline, Aura ini memegang peringkat pertama.
Mata Jacqueline terpaku pada penampilan Aura itu. Dia terlihat indah dan sederhana. Tidak seperti Legend Aura yang lain. Terlalu banyak aksesoris sehingga membuat mereka terlihat benar-benar seperti makhluk fantasi.
“Tapi, kenapa dia mau menunjukkan dirinya secara terang-terangan?” tanya Yumi kemudian, mengeluarkan tongkat dengan mahkota bunga bakung di atasnya.
“Aku nggak tahu.”
Devil Mask terkesiap melihat Huke mengarahkan senjata canon yang menempel di lengan kanannya ke arah mereka. Tanpa pikir panjang, Huke langsung menarik pelatuknya dan…
BOOM!
Kepulan asap tebal hasil tembakan Huke tadi langsung menyerbu penglihatan kedua Aura itu dan Jacqueline.
Begitu membuka mata, mereka mendapati tempat di mana mereka berdiri saat ini berbeda. Bukan jalan raya dengan gedung-gedung yang berjejer rapi kiri dan kanan. Melainkan, Jembatan Golden Gate.
Jacqueline melirik ke sana kemari, dia tidak menemukan siapapun di sana. Hanya dirinya dan dua teman Auranya itu. Dia mengeryitkan
keningnya bingung. Tak lama kemudian, serangan lain berupa tembakan yang sama muncul dan mengarah langsung pada Jacqueline.
Untunglah, Devil Mask langsung menyelamatkan gadis itu tanpa membiarkan memar menodai kecantikannya.
“Pergilah!” katanya kemudian, mengeluarkan cakarannya.
“Permintaanmu ditolak!" sangkal Jacqueline tersenyum mantap dan langsung memasang kuda-kuda.
“Jacqueline! Aku tidak sedang bercanda saat ini!”
"Eh? Kukira kau butuh bantuanku?"
Devil Mask menghela nafasnya. "Tidak untuk kali ini."
“Jacqueline, dengarkan aku! Aku ingin kau
melakukan apa yang kukatakan!”
Jacqueline terdiam, “Kenapa begitu? Kenapa perkataanmu malah terdengar seperti kita mau berpisah? Ada apa denganmu? Apa Huke itu kuat?”
Devil Mask tidak merespon. Aura itu menunduk. Sebelum pada akhirnya, kembali mendongakkan kepalanya.
Di balik celah mata topengnya, Aura itu memperlihatkan manik biru yang menyala. Warnanya hampir mirip dengan permata amethyst.
“Menunduklah…” Ucap Devil Mask tanpa basa-basi.
“Eh? Kenapa?” meskipun bingung, Jacqueline tetap menuruti perkataan Devil Mask hingga gadis itu melihat sendiri apa yang terjadi selanjutnya.
Sebuah boomerang yang berputar cepat menyerang topeng Devil Mask hingga meninggalkan goresan pendek di pipi kanan topengnya.
"Devil Mask!"
"Pergilah..."
Menyadari bahwa kalimat 'pergilah' itu terulang lagi, Jacqueline terpaksa berlari meninggalkan Devil Mask.
Devil Mask! Berhati-hatilah! Jacqueline membatin beriringan dengan derap langkah kakinya, menjauhi area berbahaya tersebut.
Tiba-tiba saja, Jacqueline merasa ada yang menjanggal di hatinya. Mengingat dirinya masih memiliki Black Aura dan Chloe, Jacqueline segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sahabatnya.
"Semoga otakmu encer..." Gumam Jacqueline mengetahui bahwa ketikannya berantakan.
Di tengah jalan, rentetan pertanyaan terus-terusan menumpuk di kepalanya. Jacqueline sendiri sebagai pemiliki pikiran tersebut tidak mampu menghentikannya dan malah membiarkan kepalanya pening akan tanda tanya. Pertanyaan yang mengarah pada musuh baru mereka, Huke.
Siapa Huke sebenarnya?
Jangan bilang, dia adalah musuh kami yang sebenarnya?
Atau… Dia adalah Yuuki?
Sayangnya, belum ada jawaban yang tepat untuk mengisi kolom jawaban dari ketiga soal yang disediakan oleh dirinya sendiri. Terpaksa,
__ADS_1
Jacqueline harus mengikuti arus sambil menunggu akhir dari hari minggu ini.
~