Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 133 {Season 2: Mencari Bahan Ritual dan Ethan}


__ADS_3

“Kau benar. Baju disini walau agak berdebu tapi desainnya bagus. Aku nggak nyangka Aura kayak mereka juga bisa berjualan dan membuat gaun yang indah seperti ini. Oh, benar juga! Karena ada manusia yang pernah datang ke dunia ini, bisa saja mereka meminta bantuan manusia itu untuk berkembang. Seperti mencari informasi tentang dunia manusia itu,” beber Chloe dengan penuh antusias. Tangannya masih menggenggam gaun yang lusuh itu. Jika dilihat lebih dekat lagi, rasa kagum Chloe tak jauh beda dari dengan gelembung. Ditiup sampai ukuran terbesar dan meletup mengeluarkan air ataupun zat-zat kecil sebagai gambaran rasa kagumnya itu.


Tiba-tiba saja, Chloe jadi terbayang oleh rasa selai keju di atas permukaan roti tawar. Sudah lama sekali dia tidak menyantap makanan sederhana itu. Makanan yang sempat menjadi mood boosternya sebelum akhirnya ia dipertemukan dengan cinta sejatinya yaitu kentang goreng yang super renyah, garing, dan hangat.


Membayangkan makanan seperti itu, perut Chloe jadi berbunyi. Padahal, sarapan tadi, dia sudah banyak menghabiskan kentang goreng sampai-sampai membuat hern kedua youtuber itu. Bagi Okka dan Kenzo, terlalu banyak makan kentang goreng itu juga tidak baik. Entahlah, mereka tidak menjelaskan detail dari tidak baik tersebut. Namun Chloe dengan cepat menyangkalnya. Gadis itu berkata, “Justru dengan kentang goreng, kau bisa mendapatkan motivasi untuk hidup lagi,” agar nyeleneh tapi yah, itu jawaban dia. Setiap orang punya pendapat masing-masing. Hanya resikonya saja mereka tanggung sendiri-sendiri.


“Bisa jadi. Tapi kemungkinannya kecil. Karena manusia yang datang ke sini bisa saja tidak memiliki bakat apapun dan malah kehadirannya itu hanya untuk mencari informasi mengenai dunia ini. Kalau Midnight, aku masih belum tahu. Katanya sih, dia bakal certain masa lalunya setelah problem ini selesai. Aku nggak tahu kapan tapi dia bakal certain tuh, kisahnya sama suami fantasinya,” balas Jacqueline panjang lebar. Sementara itu, tangannya tidak bisa lepas mengacak-acak gaun yang berceceran di lantai.


“Kau yang sama Black Aura itu, harus akur selalu ya! Kau beruntung bisa punya pacar seunik dia,” tambah Jacqueline, melirik sekilas ke Chloe yang tertegun mendengar ucapannya. Dia tahu kalau Chloe sedang memikirkan Black Aura saat ini.


“Kau ajaib ya, Jacqueline. Kau selalu tahu apa yang kupikirkan,” ucap Chloe akhirnya memperlihatkan wajahnya pada Jacqueline. Karena sedari tadi, Chloe hanya memperlihatkan Jacqueline punggungnya.


Jacqueline tersenyum hangat, kemudian menghampiri Chloe. Kedua gadis itu saling bertatapan hangat sebelum akhirnya saling berbagi pelukan. Suasana toko yang sunyi itu dan cahaya yang menembus gorden itu memberi mereka kenyamanan.


Chloe memejamkan matanya dan berusaha merasakan kenyamanan yang Jacqueline berikan untuknya. “Iya, aku dan Black Aura… Kami akan akur terus. Kau juga ya, sama Aoi.”


“Ehem… Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku ya! Jujur aja, sampai saat ini, aku masih mengkhawatirkanmu Chloe. Meskipun ada Black Aura yang melindungimu, aku… Tetap saja mengkhawatirkanmu. Kau baik-baik ya dengan Black Aura. Aku yakin, kalian berdua itu pasangan yang tepat dan cocok,” Jacqueline meneteskan air matanya. Entah kenapa, ia merasa kehilangan saat ini. Mungkin karena tangisan kecil Chloe tadi pagi yang membuat gadis itu khawatir. Apalagi mengingat Chloe yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi.


Sebenarnya, saat acara pemakaman abangnya, Jacqueline melihat Chloe memasang raut sebal karena ayah dan ibunya tidak menghadiri acara pemakaman tersebut. Chloe terus mengulangi kalimat “Ayah, ibu jahat.”

__ADS_1


Jacqueline tahu alasan kenapa orangtua Chloe tidak menghadiri acara tersebut. Alasan yang hingga saat ini hanya Jacqueline simpan seorang diri. Ia pendam sendirian. Rahasia itu terjaga dengan baik dalam hatinya yang telah menghadapi jutaan warna di dunia selama ia hidup.


Jacqueline yakin, saat dia mengungkapkan rahasia ini, Chloe pasti akan terluka. Rasa sakit itulah yang akan membuat Chloe berubah menjadi yang bukan dirinya.


“Chloe, kau punya kami semua sekarang. Anggaplah kami ini keluargamu. Aku tidak keberatan kok menjadikanmu kakakku,” tutur Jacqueline terisak. Sakit rasanya membayangkan sahabatnya ini yang tanpa dia sadari sudah hidup sebatang kara. Selama ini, Jacqueline dan Aoi berusaha menjauhkan Chloe dari pikiran negatif mengenai orang tuanya. Mereka sampai mengajak Chloe berkeliling ke berbagai tempat agar Chloe tidak kembali ke kampung halamannya karena tidak ingin Chloe melihat rumahnya kosong.


Chloe tertegun. Dia heran dengan Jacqueline yang tiba-tiba menangis tanpa ia ketahui alasannya. Karena itulah, Chloe bertanya. “Jacqueline? Kau kenapa kawan? Ada apa denganmu?” tanya Chloe panik. Chloe segera merenggangkan pelukannya dan memandang wajah Jacqueline yang kacau karena air mata. Ada apa dengan gadis itu? Chloe menebak kalau Jacqueline pasti menyembunyikan masalahnya.


“Jacqueline, kurasa… Harusnya kau yang berterus terang padaku. Kau pasti punya masalah yang lebih menyakitkan dariku, bukan?”


Jacqueline menggeleng cepat. Astaga… Kok jadi aku sih yang nangis? Yang haruslah kau hibur itu Chloe!


“Bu-bukan gitu… Aku baik-baik aja kok. Aku Cuma… Nggak mau kehilanganmu aja. Kau sahabatku satu-satunya. Kau udah kayak saudaraku sendiri Chloe. Aku senang kau udah punya pacar sama sepertiku…” Jacqueline berusaha menstabilkan suaranya agar tidak terputus-putus oleh tangisan yang tidak berguna itu. Menurutnya tidak berguna.


Saat Chloe berbicara, pintu toko itu terbuka. Chloe kira yang membukanya adalah Black Aura dan Aoi. Tapi ternyata, kenyataan berbanding terbalik dengan yang dia bayangkan. Bola mata mereka secara tidak sadar bertemu dan sulit dialihkan ke arah lain.


Gadis berambut hijau dengan telinga serigala itu terdiam dipijakannya, mengamati Chloe dan Jacqueline yang sembab kedua matanya.


“Kalian manusia, kan?”

__ADS_1


~


“Jadi, bahan ritual yang terakhir itu ada di pemakaman?” tanya Okka sedikit terkejut setelah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dan mereka tiba di taman pemakaman yang sepi. Hawa kematian disana terasa sangat kental bahkan sampai merambat ke kepala mereka hingga menimbulkan ketakutan akan kematian. Okka mendadak takut dan bersembunyi di balik punggung Kenzo.


Kenzo yang heran melihat tingkah adiknya segera bertanya. “Oi, kau kenapa? Di sini kan nggak ada zombie.”


“Bukan itu… Aku bisa merasakan hawa kematian disini. Kental sekali.”


“Ah, kau ini!”


Midnight melirik ke arah dua youtuber itu dengan tatapan malas. “Kalian berdua ngapain di gerbang terus? Kalau takut bilang. Biar aku antar kalian pulang ke bumi,” katanya dengan nada datar. Sementara Silentwave pergi lebih dulu. Aura itu menghampiri makam ayahnya. Ada bunga veronica tumbuh dengan lebat di makan ayahnya. Bunga itu bukan mereka yang menanamnya melainkan tumbuh dengan sendirinya. Mungkin karena ayahnya suka sekali dengan bunga itu sampai-sampai bunga itu ikut menemani jasadnya yang kesepian.


Silentwave berdiri setengah jongkok dan memandang untuk beberapa saat makam tersebut. Sudah empat belas tahun yang lalu dan sampai detik ini pun Silentwave belum tahu bagaimana suara dari ayahnya. Yang ia tahu, ayahnya itu orang yang cerewet dan suka sekali membuat eksperimen aneh. Midnight yang kala itu bersamanya sampai geleng-geleng kepala melihat hasil eksperimennya yang selalu berhasil. Bahagia sih iya, di lain sisi, Midnight merasa kesulitan karena harus membereskan barang-barang Meg, suami sekaligus ayah Silentwave.


Silentwave mengubah tangannya menjadi cakaran besar, kemudian menggali tanah tersebut dengan lembut. Ada botol kecil di balik tumpukan tanah yang padat. Botol itu berisikan cairan berwarna ungu.


“Papa, terima kasih…” ucap Silentwave lirih. Setelah itu, ia bangkit bersamaan dengan angin yang bertiupan kencang menerpa jaket panjangnya. Ketika menggali dan mengambil botol berisikan cairan ungu itu, perasaan Silentwave campur aduk. Aura itu merasa lega dan sedih di saat bersamaan. Setelah sekian lama akhirnya dia berkunjung kembali ke makam Meg. Beruntunglah, makam itu baik-baik saja Tidak ada pengganggu yang memetik bunga veronica-nya dan hewan yang menggaruk-garuk tanah tersebut dengan cakaran mereka.


Silentwave paham mengapa Midnight tidak ingin menghampiri makam tersebut lantaran, wanita itu tidak ingin lagi terlihat cengeng di depan semua orang. Dia ingin menjadi sosok yang tegar yang setidaknya bisa menjadi contoh bagi remaja-remaja yang berusia di bawahnya.

__ADS_1


“Nanti kami datang lagi, pa…”


~


__ADS_2