Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 24


__ADS_3

"Kenapa harus begitu? Kalau aku tidak ikut, aku tidak akan bisa memperbaiki kesalahanku kemarin." Morgan memohon pada Chloe dan Black Aura usai menerima hasil diskusi dari kedua remaja tersebut.


Raut wajahnya seketika terkejut dengan hasil keputusan yang diutarakan Chloe padanya. Yep, mereka berdua tidak memperbolehkan Morgan ikut campur dan menyuruh pria itu untuk pulang.


"Sudahlah! Iya kan, saja apa yang kuucapkan. Kau tahu kan? Kalau masalah ini tidak ada kaitannya denganmu sama sekali." Jelas Chloe sembari menepuk pundak pria itu.


Morgan seratus persen tidak bisa menyembunyikan raut pucatnya dan itu membuat Chloe sulit menyusun kalimatnya agar pria itu menuruti apa yang ia katakan. Ditambah dengan sifat pria itu yang tidak enakan.


"A-aku tahu. Tapi, setidaknya beri aku kesempatan untuk membantu kalian!" pinta Morgan semakin memelas.


"Sudahlah Morgan. Kau lihat sendiri kan? Kau itu hanya kerasukan dan kerasukan itu bukan kemauanmu. Dan lagi, berdebat dengan yang bukan manusia itu tidak mudah." Ucap Chloe diiringi dengan gelak tawa kecilnya. Ia sekilas melirik ke arah Black Aura yang sedang bersandar di sebuah pilar dengan kedua mata yang terpejam.


Bukannya gampang berdiskusi dengan Black Aura. Selang beberapa menit yang lalu, Black Aura dan Chloe sempat berdebat panjang demi mengambil satu keputusan. Tak jarang, Chloe melempar omelannya pada Black Aura karena pendapatnya yang terkesan tidak menyukai Morgan.


Chloe terus mengulangi kalimat, "Morgan itu pria yang baik. Dia tidak akan berbuat jahat ataupun mengkhianati kita dari belakang."


Namun, apa yang terjadi, remaja itu justru menunjukkan sifat dinginnya. Beruntunglah, konflik kecil itu terselesaikan tanpa adanya pertumpahan darah.


"Kau nggak perlu meminta maaf Morgan. Sejak awal, Legend Aura-lah yang memulai konflik ini." Tutur Chloe setelah mendapatkan ide di kepalanya.


"Kau seharusnya bersyukur, jiwamu masih menyatu dengan tubuhmu. Kalau sudah lewat 5 hari, kau sudah berganti spesies." Black Aura menambahi.


Tidak perlu diulangi lagi, nada bicara remaja ini selalu datar dan dingin. Ia tidak akan menunjukkan warna apapun melalui suaranya kecuali, jika keajaiban menghampirinya. Kemungkinan, dia akan berubah dan mempelajari warna tersebut.


"Eh? Ma-maksudmu, aku jadi Aura?" Morgan bertanya tidak percaya seraya menunjuk dirinya.


Black Aura mengangguk.


"Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik ya! Kuharap, kau dan aku bisa berjumpa lain waktu di kampus. Dah!" Chloe pamitan kemudian menggandeng tangan Black Aura dan membawa lari remaja itu.


Gadis yang baru saja berpamitan itu melangkah begitu cepat diiringi dengan semangat yang membakar jiwanya. Morgan tersenyum simpul memandang pasangan itu.


"Kau pantas dipertemukan dengannya." Ujar Morgan sebelum pada akhirnya, kembali ke dalam hotel. Hari ini, ia berniat membereskan barang-barangnya dan pulang ke rumah.


Akan tetapi, sesuatu menjanggal di benaknya. Sesuatu itu seakan berbisik padanya untuk melanggar apa yang dikatakan Chloe semenit yang lalu.


"Tidak! Pokoknya, mereka harus kubantu! Aku tahu, diluar sana ada beberapa manusia yang mengincar kekuatan Aura. Pasti!"


~


Chloe berhenti sejenak tepat di depan toko bunga usai berjalan kaki selama 3 menit. Sesuatu mengganggu pikirannya. Sayangnya, ia tidak bisa menjelaskan hal itu dan pada akhirnya memutuskan untuk melupakannya.


Sementara itu, Black Aura yang berada di sampingnya ikut berhenti. Tidak begitu penasaran, hanya sedikit ragu dengan dirinya yang memberanikan diri berjalan diantara ramainya manusia.


Perasaannya tak karuan. Seluruh tenaganha seakan terkuras begitu cepat hanya dengan memandang ribuan manusia yang berlalu lalang di sekitarnya.


Tak jarang juga, beberapa perhatian mereka teralih padanya. Ada juga yang sempat mengira kalau Black Aura adalah cosplayer yang mungkin sekedar menghibur dirinya saja. Tunggu dulu! Cosplayer?


Sadar terlalu lama tenggelam dalam keramaian, Black Aura kembali bangkit dan mengalihkan seluruh pandangannya pada Chloe. Sedari tadi, gadis itu hanya melamun tanpa alasan.


"Chloe?" Black Aura menepuk pelan pundak gadis itu.


Alhasil, tubuhnya merespon cepat tepukan itu dan terkejut. Otomatis, Chloe menoleh cepat pada Black Aura.


"Eh? ada apa?"


"Kau melamun."


"Huft... Iya. Soalnya, ada sesuatu yang aneh sejak kemarin. Aku... Hanya merasa aneh dengan Aoi. Bukan. Maksudku, aku aneh dengan perkataan Dark Sport kemarin. Aku bingung harus mempercayai ucapannya atau tidak?" ungkap Chloe yang ia akhiri dengan hembusan nafas berat.


"Kalau yang diucapkan Dark Sport benar, artinya Aoi sudah tahu lebih dulu mengenai Aura. Bahkan sebelum aku menunjukkan buku ini." Agar lebih jelas, Chloe mengeluarkan buku sejarah tersebut dan memperlihatkannya pada Black Aura.


"Entah kenapa... Aku... Sebenarnya ada apa denganku? Aku bingung dengan keadaan ini." Lanjut Chloe yang sedikit frustasi.


Black Aura paham dengan apa yang Chloe rasakan. Ya, gadis itu merasakan bingung. Namun, bingung kali ini terkesan tidak ada habisnya sampai ia menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab segala pertanyaan yang tertera di kepalanya.


Black Aura yang sejak awal tidak pernah menaruh kepercayaan pada ucapan Legend Aura itu turut dibuat bimbang mengenai kebenaran yang mereka katakan. Sungguh, kebohongan itu akan berakibat fatal terutama pada kepercayaan seseorang.


Black Aura paham betul dengan rasa sakit akibat dikhianati. Butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan sekaligus memulihkan kepercayaan yang telah tersakiti itu.


"Chloe. Sebaiknya, jangan dibahas disini. Cari tempat yang sepi saja, bagaimana?" usulnya.


Chloe memandang Black Aura dengan raut penuh keraguan. "Baiklah. Langsung ke perpustakaan aja kali?"


"Boleh."

__ADS_1


Tak perlu berlama-lama, mereka berdua bergegas menuju perpustakaan.


Sesampainya disana, mereka langsung mengambil posisi duduk yang nyaman di salah satu anak tangga di teras perpustakaan.


"Mau kentang?" tawar Chloe.


"Terserah."


"Oke. Tunggu di sini! Jangan ke mana-mana sampai aku kembali!"


Sebelum memulai pembicaraan serius, Chloe terlebih dahulu memesan seember kentang goreng berukuran jumbo. Tapi, ia hanya membeli satu ember saja mengingat kondisi uang sakunya yang kian menipis seiring berjalannya waktu.


"Ambillah!" Chloe menyodorkan seember kentang tersebut tanpa basa-basi. "Jangan malu! Aura sepertimu juga butuh mengemil."


"Iya."


Black Aura mengambil sebatang lalu melahapnya. Kejutan kecil muncul dan membuat kedua bola matanya mengecil karena kejutan yang diberikan oleh sebatang kentang.


Dari segi rasa, tingkat kerenyahan dan aromanya sungguh menggugah selera makannya.


"Enak?"


Black Aura mengangguk pelan.


Chloe tersenyum dan kembali pada topik yang sempat terpotong karena pemilihan lokasi yang tidak tepat.


"Sekarang, kita sudah berada di depan perpustakaan. Yah, kita tunggu saja."


"Kau pasti berharap Aoi yang datang, kan?"


"Mmmm... Kurasa, kode ini tidak akan membohongi kita. Sejak ditemukannya kode ini, aku melewati beberapa kejadian yang tak pernah terlintas di pikiranku selama ini.


"Terus terang, aku meragukan ucapan Dark Sport kemarin. Tapi di saat bersamaan, aku juga percaya. Kode inilah buktinya." Jelas Chloe sambil menggoyang ke kiri dan kanan kode tersebut.


"Sebaiknya, kau jangan asal percaya. Kode itu bisa jadi hasil dari tangan kotor Legend Aura. Kau tidak akan tahu nasib buruk apa yang akan menimpamu ke depannya." Black Aura membalas serius tanpa bisa berhenti mengambil kentang selanjutnya.


Chloe merespon ucapan Black Aura dengan tersenyum simpul. Selain mendengarkan ucapan Black Aura, remaja itu juga diam-diam, memperhatikan gerak gerik Black Aura. Ia percaya bahwa temannya ini perlahan mulai tertarik dengan kentang goreng kesukaannya.


"Kau keliatan nikmat memakannya." Ujar Chloe yang memilih untuk mengganti topik.


"Aku jadi penasaran. Apa di Carnater tidak disediakan makanan sejenis ini?"


Black Aura menggeleng. "Kami aslinya tidak mengkonsumsi apapun. Kami tidak merasakan lapar ataupun kenyang. Ibu kami pernah menawarkan kami beberapa kue lembut."


"Kue lembut? Maksudmu, bolu?"


Black Aura menepuk ringan jidatnya. Ia sudah kehabisan ide mengenai makanan yang ia sebut barusan. Hanya bisa berharap Chloe paham dengan maksud pembicaraannya.


"Intinya lembut saat dikunyah. Saat itulah, aku merasakan sensasi yang aku sendiri nggak bisa menjelaskan."


"Enak? Manis?"


"Enak?"


Chloe mendengus geli. Entah kenapa, ia kasihan dengan Aura seperti mereka yang tidak mengenal kata "enak" maupun "manis". Mereka justru lebih mengenal kata "sakit". Miris.


Tiba-tiba, sebuah ide muncul di benaknya. Tanpa pikir panjang, Chloe segera mengutarakan ide tersebut langsung di depan orangnya.


"Menurutmu, rasa kentang itu bagaimana?" tanya Chloe penasaran. Sampai-sampai, ia memajukan posisi duduknya agar lebih dekat dengan Black Aura.


Black Aura cukup terkejut dengan perubahan sikap Chloe yang begitu tiba-tiba. Tidak lupa dengan pertanyaan yang baru saja ia ucapkan tersebut.


"Kau mau mengetesku?"


"Iya. Selama di bumi, aku nggak mau kau hidup cuma membawa luka. Setidaknya, kau punya sesuatu yang bisa kau bawa ke Carnater nanti. Contohnya, ilmu yang kau dapat dariku." Ungkap Chloe kemudian menyengir ramah.


"Aku juga jarang melihat aura seperti tersenyum. Yang dibuku, aku melihat Yumizuka, Live Party, Blaze, Blitz dan yang lain bisa tersenyum. Kalau Silentwave dan Devil Mask aku nggak tahu." Lanjutnya tambah semangat.


Mendengar ucapan Chloe itu, Black Aura hanya membalasnya dengan helaan nafas singkat. Ia juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini, ia lebih sering menghela nafas. Apa ini yang namanya lelah batin?


"Sejak awal, aku nggak tahu bagaimana asal-usulku. Aku diciptakan begitu saja. Saat itu... Aku..."


"Kau kenapa?"


"Lupakan. Kita harus menemukan Aoi secepatnya. Kau nggak sabarkan ingin bertemu Aoi?" ujar Black Aura seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.

__ADS_1


"Ya, Aku ingin. Tapi, entah kenapa... Aku masih ingin bersamamu dulu."


Kedua mata Black Aura membelalak kaget. Apa tidak salah dengar telinganya barusan? Cepat-cepat, ia menoleh kembali pada Chloe dan mendapati wajah gadis itu dihiasi dengan senyuman manisnya.


"Kau nggak salah bilang, kan?" Black Aira bertanya sekali lagi. Yah, sekedar memastikan tidak apa-apa kan?


Gadis itu mengangguk percaya diri. "Yang kubilang itu benar, Black Aura. Kau tahu? Sejak awal, aku memang suka hal-hal berbau fantasi. Aku selalu membayangkan diriku bisa bertemu dengan makhluk fantasi. Pasti sangat menyenangkan.


"Seiring berjalannya waktu, imajinasiku semakin liar. Aku mencoba untuk menuangkan imajinasi tersebut menjadi sebuah cerita novel.


"Sudah ada 3 novel yang kukirim ke penerbit. Sayangnya, tidak ada satupun yang lolos. Mungkin, karena aku terlalu cinta dengan fantasi sampai-sampai lupa meletakkan realita ke dalamnya. Sampai sekarang, aku pun masih bingung ingin menulis novel fantasi lagi tapi, kehabisan ide. Jadi..." Chloe melirik Black Aura.


"Jadi, aku ingin bersamamu dulu. Setidaknya, aku memiliki waktu dua bulan bersamamu. Kau tahu? Kau adalah karakter yang sangat kuidolakan. Aku tahu kau nyata. Oleh karena itu, aku tak ingin menyia-nyiakan waktuku bersamamu." Tukas Chloe.


Black Aura masih terdiam tanpa memberikan Chloe sepatah dua katapun. Tapi, ia mengerti maksud gadis itu.


"Bagaimana? Kalau menurutmu itu merepotkanmu, aku juga nggak maksa."


"Aku terima itu. Kau juga sendirian, kan? Kalau begitu, aku akan menemanimu sampai akhir konflik ini. Setelah itu..."


"Setelah itu, apa yang terjadi?"


"Hmm... Kita lihat saja nanti."


"Iya... Eh, ngomong-ngomong... Kau punya teman atau sahabat ti..."


Belum selesai Chloe berbicara, seseorang menyela pembicaraannya dan sukses mengejutkan dua remaja yang tengah berbincang santai tersebut.


"Lho, Chloe? Apa yang kau lakukan disini? Siapa dia?"


Betapa terkejutnya Chloe mendapati seorang gadis yang kini berdiri setengah menunduk di sampingnya. Kedua bola matanya terpaku lurus pada gadis berambut pendek lurus dengan mata sipit yang menatap heran ke arahnya.


Orang yang telah merebut bangkunya. Orang yang main mengecap Rara sebagai adiknya. Dia...


"Min... Ji?"


"Oh, kau masih ingat aku? Tak kusangka." Ujarnya. Raut penasaran tadi berubah cepat menjadi datar.


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Membaca buku. Kau sendiri? Dan... Siapa dia? Cosplayer?" Minji balas bertanya namun nada bicaranya terkesan sangat datar. Nyaris menyerupai Black Aura namun menjengkelkan.


"Dia... Dia tersesat." Jawab Chloe singkat.


"Jadi, kau menemaninya?"


"Iya. Apa itu mengganggumu?"


"Nggak sama sekali. Aku hanya heran dengan penampilannya. Akhir-akhir ini, aku mendengar berita mengenai makhluk asing yang katanya bisa merasuki tubuh manusia dan mengambil alih tubuhnya. Kemudian, berkeliling mencari mangsanya. Kau sudah tahu berita itu?"


"Aku tahu."


Alih-alih terjebak di dalam suasana yang dingin dan saling bertatapan sinis, Black Aura justru menyibukkan dirinya dengan membaca buku sejarah tentang sejarah Aura. Sesekali, ia melirik ke arah mereka dan kembali membaca buku.


"Minji... Aku tahu kita sudah lama tidak kete..."


Lagi-lagi, Minji menyela perkataan Chloe dengan santai.


"Kita? Apa maksudmu dengan 'kita'? Sejak kapan kau dan aku menjadi 'kita'?"


Chloe tersentak dan emosinya terpancing. Lantas, gadis itu secara otomatis berdiri lalu menumpahkan seluruh amarahnya pada Minji.


"Oh, begitu ya? FINE! Aku dan kau memang nggak memiliki hubungan apapun bahkan TEMAN sekalipun! Kau! Yang tak bisa bergaul dan bahkan...! Tidak ada niatan bergaul malah mencuri sahabatku.


"Kau mengecapnya sebagai adiknya padahal kalian belum melewati masa sulit! Masih belum cukup?! Kau bahkan merebut bangku-ku! Kau bahkan nggak malu mengajaknya pergi di depanku!" bentak Chloe.


Minji terkekeh. "Sepasang gadis bisa dikatakan 'sahabat', jika keduanya memiliki sesuatu yang sama. Kurasa, kau nggak suka melihat Rara memiliki banyak teman."


"Kau...!"


Black Aura akhirnya turun tangan dan menghalangi Chloe.


"Ayo pergi."


~

__ADS_1


__ADS_2