
"Ini kesempatanku..."
Black Aura melangkah cepat kedua kakinya, meninggalkan Chloe dan Rara yang teralihkan sempurna pandangan mereka ke toko buku.
Black Aura merasakan pusing saat berjalan di antara para pejalan kaki yang diam-dian menatap ke arahnya. Aneh. Dia kira, dirinya sudah mulai terbiasa dengan kondisi kota yang ramai. Namun nyatanya, dirinya masih sama seperti dulu yang tidak terlalu suka dengan suara berisik.
Di saat sedang mengejar Yuuki, Black Aura mendadak menghentikkan langkahnya. Dia membeku di tempat. Yuuki yang ada di depannya mendadak menghilang. Mungkin karena keramaian dan beberapa orang yang melintas di daerah tersebut.
Lantas, Black Aura segera melirik cepat ke berbagai arah. Dia panik. Dia takut jika Yuuki berniat membunuh dua sahabat itu atau menyerangnya dari belakang.
"Dimana?"
Kanan, orang-orang yang sedang berjalan.
Kiri, sepasang kekasih yang sedang berbagi candaan di kursi taman. Di sampingnya ada seorang wanita berkacamata hitam sedang mengobrol dengan teman laki-lakinya.
Depan, belakang juga ramai.
Sulit sekali mencari satu orang di tengah lautan manusia ini.
Merasa tidak ada harapan lagi, Black Aura memutuskan untuk kembali ke tempat Chloe dan menemani kedua gadis itu.
"Oh, Yohan! Kebetulan sekali!"
Black Aura tertegun mendengar seruan tersebut. Suara Rara. Black Aura mengangkat pandangannya yang tertunduk tadi dan menemukan Chloe dan Rara tampak berbicara hangat dengan seorang pria. Wajahnya seperti orang korea dengan senyuman khasnya.
Pria yang disapa Yohan itu berdiri di samping Rara. Entah kapan dia berdiri sambil berkacak pinggang di samping Rara. Yang jelas, keberadaan Yohan membuat perasaannya menjadi tidak enak. Black Aura bimbang. Antara mau menghampiri gadis itu atau pergi menjauh karena kehadiran Yohan.
Ada-ada saja...
"Oh, ya! Kemarin, kakak kenapa nggak temani Kak Minji pulang? Aku melihat Kak Minji menangis lo." Ujar Rara santai. Tidak seperti Chloe yang memasang tatapan curiga pada Yohan.
"Oh, kemarin... Ada orang yang menembak pundakku."
"Menembak?!" seru Rara dan Chloe serempak.
Yohan mengangguk. "Aku nggak tahu pasti siapa pelakunya. Abisnya, waktu itu ramai sih. Dan ada kejadian aneh yang menimpa gedung perkantoran di sana. Saat itu, aku sedang mencari Minji dan berakhir dengan luka di pundak. Yah, selebihnya aku tidak tahu apa-apa. Karena, saat bangun, aku sudah ada di rumah sakit." Jelas Yohan sambil mengangguk-angguk sendiri. Dia juga tanpa sadar telah memuji dirinya yang berhasil mengingat ingatan tersebut.
"Begitu ya..." Chloe berpikir.
"Oh! Ada Chloe juga?"
"Iya! Tadi, kami jalan bertiga sama teman cowoknya." Balas Rara langsung merangkul sahabatnya itu.
"Oh, gitu. Jadi, dimana teman cowokmu itu, Chloe?" tanya Yohan sambil berjalan mendekati Chloe dengan wajah tersenyum.
Kepalanya menunduk menyamai tinggi Chloe. Nampak sekali gadis itu pendek.
Chloe yang merasa tak nyaman, mundur beberapa langkah. Dia masih memandang curiga pada Yohan.
"Memangnya, apa pedulimu? Kenal saja tidak." Ucapnya dingin.
"Eh? Kenapa begitu? Kau tidak suka denganku?" Yohan murung.
"Ah, bukan begitu... Aku sedang sensitif saat ini." Balas Chloe tiba-tiba mengalihkan pembicaraannya agar pria itu tidak memasang wajah sedih yang menyebalkan itu.
"Sudah cukup! Bagaimana kalau kita mengobrol di cafe?" usul Rara tak ingin perang dingin itu berlanjut.
"Wah, ide bagus!" Yohan menjawab disertai jentikan jari setujunya.
"Eh? Ta-tapi, kan?" Chloe mendadak gagap. Sebenarnya, dia tidak ingin pergi ke cafe karena ingin mencari Aoi dan Black Aura yang mendadak tidak ada di sampingnya.
"Ah, ayolah! Cowokmu 'kan' punya kemampuan melacak. Jadi, jangan khawatir!" celetuk Rara yang langsung disambar oleh amarah Chloe.
"RARA!" sentak Chloe.
"Hm? Kemampuan pelacak? Cowokmu bukan manusia, ya?" Yohan menimpali dengan menelengkan kepalanya. Langkahnya semakin mendekat.
"Bukan! Cowokku ini suka berkhayal."
"Hmm?" Yohan terlihat semakin curiga. Atau lebih tepatnya, sengaja memandang curiga. Dia seakan ingin memancing Chloe dengan ceplosan Rara tadi.
Cih! Rara!
"Bagaimana kalau kita membahas kemampuan cowokmu di cafe saja? Tunggu dulu! Apa dia suka mengkhayal? Kebetulan, aku suka mengkhayal juga! Aku pernah menganggap diriku sebagai Kamen rider!" beber Yohan bersemangat.
"Hmm... Bagaimana ya? Aku ada..."
Chloe menelan ludah. Dia bingung dibuat situasi dan perkataan Yohan. Dia ingin membuat alasan lain tapi, otaknya sudah terlalu lelah merangkai kebohongan. Oleh karena itulah, otaknya terpaksa mengkhianati Chloe saat ini. Ya, hanya untuk saat ini.
Chloe juga tanpa sadar melangkah mundur. Niatnya ingin menjauh dan kabur dari Yohan. Jika dihitung-hitung, tinggal beberapa langkah lagi, dirinya akan terpleset ke jalan raya dan bisa saja dia tertabrak mobil.
Ditambah lagi, senyuman Yohan yang membuat dirinya merinding. Chloe tidak tahu apa mau pria itu. Tapi, Yohan tampaknya tertarik dengan Black Aura.
“Oi, Chloe! Di belakangmu jalan raya, lo!” celetuk Rara yang baru saja tersadar dari lamunannya.
"Eh?" Chloe cepat-cepat menghentikkan langkahnya.
__ADS_1
“Sahabatmu ini lucu, ya!" puji Yohan diiringi dengan gelak tawa ringannya.
"Hahaha... Dia memang lucu." Balas Rara tersipu malu.
Akhirnya, Chloe bisa bernafas lega setelah sadar kalau dia nyaris saja membahayakan dirinya. Gara-gara kehadiran Yohan dan senyuman, Chloe jadi hilang keseimbangan antara dunia nyata dengan kekosongan. Dirinya seakan dibutakan oleh ketakutan dan kecurigaan.
Jujur saja, pria itu memang terlihat manis dan tampaknya, Yohan itu laki-laki yang penuh perhatian. Hanya saja, Yohan bisa saja terlihat menyeramkan di saat tertentu.
"Ada apa ini?" Black Aura tiba-tiba muncul di belakang mereka dengan wajah datar. Ketika pandangannya tak sengaja terarah ke Yohan, Aura itu langsung mengubah tatapan datar itu menjadi dingin.
“Aku nggak apa-apa kok!” Balas Chloe. Setelah itu, dia menyengir lebar.
Selang beberapa menit kemudian, ada yang menjanggal di pikirannya hingga membuat gadis itu tertegun sesaat. “Black Aura… Kau masih ingat dia?"
Black Aura mengangguk. “Maksudmu, Yohan? Iya. Tapi, aku masih tidak tahu apa hubungannya dengan Yuuki.”
“Kak Yohan nggak papa?” Rara dengan tergesa-gesa membantu Yohan berdiri.
Bukannya kau mencurigai Yohan, ya? Kenapa malah membantunya berdiri? Batin Chloe heran. Saat ini, dia memilih untuk berlindung di belakang Black Aura. Yah, setidaknya, Black Aura ada benarnya juga. Aoi sekarang dalam bahaya dan tidak diketahui jelas keberadaannya. Maka dari itu, sebagai sahabat yang baik Chloe harus mengutamakannya ketimbang bersenang-senang di restoran burger. AKhirnya, gadis itu menyalahkan dirinya.
“Aku baik-baik aja, kok. Makasih banyak, ya!” ucap Yohan ramah. Kemudian, dia melirik ke arah Black Aura yang menatap curiga padanya.
Soal Yuuki yang menghilang tadi untuk sesaat Black Aura lupakan. Karena, yang berada di
depannya juga sama-sama berhubungan dengan Yuuki. Yohan. Dia pasti memiliki
kaitannya dengan Legend Aura. Entah dia sedang dirasuki oleh salah satu dari
Legend Aura atau tidak. Dan lagi, Black Aura juga masih mengingat kata-katanya
kemarin yang mengatakan, “Lama tidak berjumpa.”
“Kenapa kau melihatku dengan tatapan seperti itu? Kau nggak suka ada yang mendekati cewekmu, ya?” goda Yohan terkekeh pelan.
“Eh, kakak kenal dia, ya?” ujar Rara heran.
Yohan mengangguk pelan. Kedua matanya ia pejam dan membuatnya terlihat seperti mata kucing yang sedang tertidur. Rara yang
melihatnya sampai tergoda.
“Ya… Aku bertemu dengannya kemarin. Pacarmu unik sekali ya, Chloe…”
Chloe berdecak sebal tapi tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang merah. Untuk “pacar”, Chloe tidak bisa menolak pernyataan itu.
“Matamu indah sekali… Warna violet. Jarang sekali aku melihat orang dengan warna mata seindah itu. Kau juga tinggi. Ngomong-ngomong, apa pekerjaanmu?” Yohan membuka mata kanannya, membiarkan mata kirinya yang
Black Aura diam tanpa respon.
"Yah... Diam lagi... Tapi, bukankah sekarang ini waktu yang tepat untuk kita berdua saling mengenal satu sama lain. Aku belum tahu banyak tentang dirimu. Aku baru mendengar sebagian ceritamu dari beberapa orang. Mereka bilang, kau itu sangat suka…”
“Kak Yohan...” Rara tiba-tiba menyela di saat Yohan dan Black Aura saling bertatapan sinis satu sama lain.
“Ya? Ada apa, Ra?” tanya Yohan teralihkan cepat perhatiannya.
“Kakak udah tahu belum soal Minji?”
“Soal Minji? Kenapa dia? Cepat katakan padaku, apa yang terjadi padanya!”
“Baiklah…”
Black Aura dan Chloe saling bertatapan heran. Apalagi kali ini?
“Minji hilang…” Ucap Rara lirih.
“Hah? Bagaimana bisa? Kapan dan dimana terakhir kali kau melihatnya?” karena panik, Yohan langsung menyambar Rara dengan beberapa pertanyaannya. Dia syok sekali.
Astaga! Rara! Chloe terperanjat akan tetapi, dia
tidak bisa menghalangi gadis itu karena, Rara sudah lebih dulu menjawab pertanyaan Yohan. Padahal, jelas sekali gadis itu mencurigai Yohan. Tapi kenapa sekarang dia malah berubah pikiran? Terbentur apa semalam kepalanya? Tidak mungkin ‘kan’ kalau Jacqueline memukulnya menggunakan Teflon?
Bodoh… Batin Black Aura menahan kekesalannya.
Rara pun menceritakan semua yang ia alami malam itu sampai dirinya tidak lagi melihat Minji di rumah kakaknya. Gadis itu bercerita dengan kedua matanya yang menampung air mata. Dia merasa kesepian dan kehilangan.
Hilangnya Minji ternyata membuatnya frustasi dan tidak bisa tidur dengan nyenyak.
“Baiklah… Aku akan membantumu mencari Minji. Huft… Harusnya kau bilang padaku semalam.” Ujar Yohan. Setelah itu, dia menoleh ke arah Black Aura dan Chloe. “Kalian juga mencari Minji?”
“Ti… Tidak… Kami...”
“Mereka mencari sahabat mereka yang hilang.” Sambar Rara dengan santainya.
Chloe terbelalak. Astaga… Mau beberapa banyak yang kau beberkan, Ra?
Black Aura menghela nafas singkat. Dia menggunakan kemampuannya telepatinya untuk berbicara dengan Chloe.
“Sepertinya, sahabatmu memang tidak bisa dipercaya, Chloe.”
__ADS_1
“Oh, suaramu rupanya… Haah… entahlah… Semalam, dia bilang padaku kalau dia bisa jaga rahasia…”
“Tapi… Nyatanya…?”
"Ck... Aku nggak tahu apa maksud semua ini."
Chloe mendesah dan kembali memperhatikan dunia nyata. Di depannya, dia melihat sosok Yohan dengan bersemangat berjalan lebih dulu. Diikuti dengan Rara yang ikut bersenandung ceria sebelum pada akhirnya, langkah mereka menjadi beriringan.
Mereka berdua meninggalkan Chloe dan Black Aura yang masih terpaku dalam pikiran mereka masing-masing.
Chloe masih tidak habis pikir dengan jalan pikir sahabatnya. Kesambet apa gadis itu
sampai-sampai tanpa sadar mengundang orang yang jelas sekali ia curigai sebelumnya. Apa karena dia mengkhawatirkan Minji? Masa iya? Rara begitu cepatnya menyerahkan dirinya pada musuh. Yah, Chloe bisa mengatakan Yohan itu sebagai musuh karena melihat Black Aura yang selalu memandang sinis ke arah pria
itu. Akan tetapi, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan Yohan. Chloe dan
Black Aura harus memutar otak lagi untuk menyusun rencana baru. Mengantisipasi
bahaya yang akan menghampiri mereka nantinya.
Chloe menghela nafas lelah. Setidaknya, dia menyesal karena telah membela Rara.
“Jadi… Apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Ikuti mereka atau…”
“Ikuti mereka.” Sela Black Aura cepat. “Jangan khawatir, aku masih punya rencana lain.”
tambahnya disertai senyuman.
Melihatnya tersenyum, Chloe jadi bisa bernafas lega. Dia tahu kalau Aura itu punya banyak
cara untuk melindungi dirinya. Meskipun, Chloe merasa tidak nyaman karena terus-terusan merepotkan Aura itu. Chloe jadi berpikir, ingin membantu Black Aura. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya berguna dan bukan gadis cengeng yang selalu merengek karena kesepian.
~
Sudah pukul sebelas lebih Jacqueline dan Yumi menunggu kabar dari Devil Mask.
“Kenapa dia lama sekali?” keluh Yumi sambil mengelus salah satu kelopak bunga di toko
bunga itu.
Jacqueline tidak merespon dan hanya memperhatikan Devil Mask dari jauh. Aura itu bersembunyi dibalik mobil orang dan tengah mengamati seorang gadis berambut
pirang. Dari kemarin, keberadaan gadis itu mengundang tanda tanya di dalam
benak Jacqueline. Perasaannya mengatakan bahwa gadis itu mencurigakan. Sama
halnya seperti Chloe dan Black Aura yang sama-sama mencurigakan Yohan. Namun,
Jacqueline merasa gadis itu hanya kebetulan muncul di saat yang tidak tepat.
“Aku masih penasaran dengan gadis itu. Apa jangan-jangan…”
“Hei… Nggak semua manusia yang menarik perhatian kita adalah manusia yang kerasukan
Aura.” Celetuk Yumi malas.
“Benar juga, sih… Tapi, ‘kan’… Nggak mungkin gadis itu artis atau selebriti yang nggak
sengaja lewat. Bisa aja, sih…” Jacqueline mengacak rambut belakangnya. Bisa
dibilang, dia lumayan frustasi.
“Kau tunggu di sini! Aku mau menyusul Devil Mask!” perintah Jacqueline berlalu
meninggalkan Yumi yang tadinya hendak menahan lengan Jacqueline. Sayangnya,
tangan Aura itu tidak kesampaian meraih lengan Jacqueline.
“Tu-tunggu…! Jangan tinggalin aku sendiri…”
Yumi terdiam. Langkah Jacqueline terlalu cepat untuk ditahan.
Walaupun Aura, Yumi juga sama seperti Jacqueline dan Chloe. Yumi bisa sedih dan merasa kesepian. Dia berbeda dengan Devil Mask dan Black Aura yang tidak masalah jika
dibiarkan sendirian di suatu tempat. Karena sejak awal, kedua Aura itu terlahir
tanpa perasaan dan emosi.
Yumi paham betul bagaimana rasanya jika ditinggalkan dan diabaikan. Dia mengerti
rasa sakit itu. Hanya melihat punggung mereka dari belakang, rasa sakit itu
bisa dengan cepat membuat dadanya sesak.
Yumi menghela nafas berat. Dia pun kemudian berkeliling di sekitar toko bunga, memperhatikan bunga-bunga yang tumbuh dengan indahnya.
“Huft… Apa aku kelihatan tidak berguna, ya?”
__ADS_1
~