Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 195 {Season 2: Perpisahan}


__ADS_3

Tanah yang ia pandang itu selain berjatuhan keringat juga tetesan darah miliknya. Entah kapan akhirnya pertarungan ini, yang jelas dirinya ingin semuanya berakhir lebih cepat.


Ini gila… Dia… Kuat sekali…


Black Aura mengarahkan seluruh pandangannya pada Huke yang masih melayang di atas sana. Ekspresi Aura itu terlihat puas sekali. Ekspresi itu seolah memiliki arti bahwa hari ini akan menjadi hari terakhir Black Aura bernafas.


Yah, percaya atau tidak, Black Aura sama sekali tidak ingin hal itu terjadi padanya. Walaupun sudah berkali-kali melihat Aura-aura yang terbunuh olehnya dan Carmine yang meninggal tepat di depannya, saat itu, Black Aura tidak memiliki perasaan apapun saat menyaksikan kematian di depannya. Tapi kali ini…


“Kau yakin? Mau membunuhku?” tanya Black Aura mungkin sebelum ajalnya tiba.


Huke meneleng tak mengerti. Walaupun begitu, pertanyaan yang Black Aura lontarkan terdengar jelas di telinganya. Karena itulah, Huke memutuskan untuk menjawab pertanyaan Black Aura.


Sementara itu, Chloe berusaha untuk melepaskan dirinya dari benang merah yang melilit tangannya. Sulit sekali karena benang itu melilit ketat di pergelangan tangannya. Sempat Chloe kira, dirinya akan mati karena darahnya hanya tersumbat di sekitar pergelangan tangannya. Tapi kenyataannya, sampai saat ini dia masih hidup. Meskipun di lain pikirannya merasa ketakutan akan jiwanya yang terus menerus Huke hisap.


untuk beberapa saat, Chloe merenung sejenak. Entah kenapa dirinya yang saat ini mengharapkan ilusi yang belakangan ini sering mengusik alam bawah sadarnya. Meskipun mengganggu, ilusi itu juga tidak buruk baginya di saat menghadapi kenyataan yang tidak ingin dia hadapi. Seperti saat ini contohnya.


Chloe yang pasrah mencoba melirik kearah Midnight yang hanya tertunduk diam. Setelah diperhatikan wajah wanita itu, Chloe dibuat terkejut oleh seringai di wajahnya. Namun, perasaan bingung tersebut memudar dengan cepat begitu Chloe dengan cepat mengetahui maksud dari senyuman Midnight.


Tak hanya Midnight dan Chloe, ternyata Black Aura juga ikut tersenyum. Senyuman itu dengan cepat membuat Huke bingung dan lantas bertanya-tanya apa maksud dari ekspresi tersebut.


“Kenapa kau senyum?” tanya Huke penasaran.


Sesuai perkiraannya, Black Aura lantas mengangkat kepalanya disertai senyuman mantap. “Nggak ada.”


“Hm?”


“Ya, nggak ada. Kalau kau mau membunuhku, coba saja sekarang. Mumpung lawanmu sedang melemah kenapa nggak kau gunakan saja kesempatan itu?” tantang Black Aura membuat Huke merasa sebal.


“Apaan sih?”


“Huft… Biarin aja deh… Lagi pula, ini kesempatan juga kan karena lawan kita sekarang lagi lengah,” timpal Chloe. Entah bagaimana caranya, tangannya terbebas dari benang merah yang melilit tangannya.


“Ha? Bagaimana bisa?” Huke terkejut bukan main.

__ADS_1


Setelah Chloe, Devil Mask,Yumi, dan Midnight menyusul. Sisanya, mereka biarkan saja terlilit karena, selain mereka memiliki kesempatan untuk membunuh Huke, Chloe juga memiliki kesempatan untuk membalaskan dendamnya. Semua yang ia pendam sampai saat ini dan juga rasa sakitnya. Bagaimanapun juga, Chloe tidak akan menaruh belas kasih pada siapapun yang telah mengukir luka di hatinya.


“Lho? Kenapa kalian semua bisa lepas?” tanya Huke panik. Aura itu mundur selangkah sebagai bentuk antisipasinya seandainya ada serangan kejutan.


“Kau tahu? Rasa sakit dalam diam. Rasa sakit yang rasanya sakit sekali sampai-sampai membuat mentalmu ingin membunuh tubuh aslimu?” balas Midnight mengeluarkan katana panjang serta menarik Silentwave yang ternyata menyamar menjadi benang merah Huke dan menjadi penyelamat Chloe dan yang lainnya.


“Silentwave?!”


Huke terbelalak. Kali ini, bukan Black Aura lagi yang terpojok posisinya melainkan Huke.


“Lima belas menit! Lihat Aurora yang menari di atas langit!” perintah Yumi bersemangat.


“Sial!”


Kemampuan Yumi itu sudah mutlak dan tidak bisa digugat. Apa yang gadis itu tunjuk ya, benda itulah yang akan Huke perhatikan selama lima belas menit.


Sial sekali. Huke merutuki dirinya yang tidak menyadari keberadaan Silentwave. Meskipun menyesal, Huke lama-lama mengerti bagaimana sakitnya memendam rasa sakit agar dunia luar tidak heboh ketika ada orang lain yang sedang menderita.


Chloe menyeringai licik. Gadis itu senang melihat saudara tirinya akhirnya terbebas dari benang Huke. Dengan begitu, dirinya bisa membalaskan semua dendamnya dan memutuskan ikatannya dengan dua orang yang di masa lalu sudah banyak mengukir bekas luka di hati Chloe.


“Chloe…” panggil Black Aura membangunkan Chloe dari pikirannya.


Chloe reflek menoleh kearah Black Aura lalu tersenyum. Yah, dia bersyukur karena pacarnya ini masih bisa berdiri meskipun luka yang ia terima itu berlebihan rasa sakitnya.


“Mau balas dendam?”  tanya Black Aura tapi entah kenapa, pertanyaannya tersebut terkesan seperti Aura itu ingin membantu dirinya membalaskan dendamnya.


Jujur, Chloe senang mengetahui Aura itu ternyata berpihak padanya dengan alasan luka yang Chloe pendam selama ini. Akan tetapi, karena Black Aura tidak terlibat, Chloe memilih untuk membalaskan dendamnya dengan caranya sendiri.


“Ya. Tapi, Aura nggak usah ikut campur ya. Soalnya, yang terlibat Cuma aku aja. Aku mau balas dendam tapi dengan caraku sendiri,” tutur Chloe dan langsung mendapatkan anggukan kecil dari Black Aura.


Akhirnya, setelah semuanya berkumpul, Chloe dan teman-teman Auranya maju untuk membalas serangan Huke sebelumnya.


Saat mereka melangkah, Huke tidak mendengar suara langkah mereka. Dia panik tapi, kesulitan mengalihkan pandangannya dari Aurora yang menari di atas langit.

__ADS_1


“Cih! Kurang ajar!” Huke mengangkat tangannya dan muncullah ribuan bintang berwarna-warni di atasnya.


Chloe tak lagi terpesona oleh keindahan yang akan membunuh dirinya tersebut. Gadis itu mengeluarkan pedang Black Aura kemudian, dengan bantuan Silentwave, dia berteleportasi tanpa suara ke belakang Huke dan menebas keras punggung Aura itu.


Huke tersentak kaget dan langsung tumbang bersamaan dengan bintang-bintangnya yang ikut berjatuhan dari langit. Tidak seperti pemiliknya yang semakin melemah, ribuan bintang itu bergerak dengan sendirinya dan berjatuhan menghantam tanah yang Chloe dan teman-temannya pijak.


“Biar aku saja!” celetuk Midnight. Wanita itu membuka telapak tangannya lalu menghadapkan telapak tangannya tersebut ke langit malam. Muncullah lima lingkaran sihir berwarna violet. Dari lingkaran tersebut, keluarlah laser panjang yang Midnight gunakan untuk menghancurkan bintang-bintang yang hendak menghantam mereka.


Midnight tak sendirian. Dia dibantu Silentwave yang melempar beberapa tembakan tinta ke arah bintang-bintang tersebut dan membuatnya meleleh. Mengetahui langit malam yang mereka lihat sekarang telah bersih dari ribuan bintang milik Huke, ibu dan anak itu high five ria.


“Kita berhasil!” seru Midnight.


“Serangan terakhir!” teriak Chloe mengejutkan Huke yang telah kehabisan ide.


Black Aura Chloe, dan Devil Mask melompat bersamaan—membentuk segitiga dengan Huke di dalam segitiga tersebut.


“Huke Metafora!” sebut Black Aura disertai tatapan serius. Aura itu mengeluarkan pedangnya yang sudah diwarnai oleh mantra yang akan ia gunakan untuk menyegel Huke.


“Kau yang sudah membunuh manusia dari dunia nyata dan juga menyakiti hati orang lain…” tutur Chloe ngawur bermaksud melanjutkan kalimat Black Aura yang sebenarnya hanya sebatas memanggil Huke.


Mendengar omongan Chloe barusan, Devil Mask dan Black Aura mematung heran untuk beberapa saat sebelum akhirnya Devil Mask fokus melanjutkan perkataan Chloe yang tampaknya sengaja gadis itu jeda.


“Bersiaplah untuk disegel!” seru Devil Mask melempar lima cakarannya ke langit. Dari cakaran tersebut, muncullah lima rantai yang dengan cepat mengikat tubuh Huke.


Tak Cuma Devil Mask yang bertindak, Black Aura juga tapi dengan menusuk Huke dengan pedangnya sampai tembus. Kemudian, menggeser pedangnya sampai merobek pinggang Huke.


Akibat serangan tersebut. Huke muntah darah. Sakitnya sudah Black Aura tentukan. Di atas sepuluh aka tetapi, rasa sakit yang Black Aura tentukan itu tak sanggup menyamai rasa sakit hati yang telah membekas di hati seorang manusia.


Eit! Segel mereka tak berhenti sampai Black Aura saja. Masih ada Chloe yang kali ini mengeluarkan kertas yang sudah ia tuliskan beberapa mantra sehari sebelum perang melawan Huke ini tiba. Gadis itu diajarkan Midnight menulis mantra singkat dalam kertas berukuran persegi panjang yang telah Midnight sediakan dengan gratis untuk Chloe. Meskipun Chloe tidak mengetahui makna dari kalimat yang ia ukir dengan sapuan kuas dan tinta hitam legam, setidaknya, mantra tersebut berhasil menyegel seluruh pergerakan Huke hingga akhirnya, wujud Aura itu berubah menjadi buku tebal yang sudah diberi gembok oleh segel yang Chloe dan kedua Aura itu buat.


“Yes! Pertarungan selesai!” kata Chloe senang.


~

__ADS_1


__ADS_2