Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 36


__ADS_3

Suara derap langkah kaki bergema di dalam lorong gelap dan panjang. Disertai dengan goresan cakaran Devil Mask yang beradu dengan ekor kalajengking raksasa. Tak lupa, suara nafas seorang gadis yang tengah berlari sambil menggendong anak kecil.


"Astaga... Kalian lambat sekali!" keluh Devil Mask yang kala itu sedang menahan ekor kalajengking yang nyaris saja melukai punggung Jacqueline.


"Bisinglah, kau!! Suruhlah Black Aura yang nahan!!" teriak Jacqueline.


"Cih!"


Ekor kalajengking itu mundur lalu maju dan menusuk lengan kanan Devil Mask.


TRANG!


Black Aura muncul dan menebas ekor tersebut. "Kau nggak papa?"


"Yah, begitulah..."


"Kau kejar saja Jacqueline. Orang ini biar aku yang urus." Suruh Black Aura yang sudah menyiapkan pedangnya lebih dulu.


"Oke. Jangan mati ya!" balas Devil Mask berlalu pergi meninggalkan Black Aura.


Sementara itu, Jacqueline masih sibuk berlari mencari tempat persembunyian. Meskipun kelelahan karena berlari terlalu lama dan juga menggendong gadis kecil ini, Jacqueline sama sekali tidak menyesal.


"Kakak! Kenapa Mama ditinggal? Mama dalan bahaya!" rengek gadis kecil yang tidak ia ketahui namanya.


Jacqueline melirik gadis kecil itu lalu membalasnya, "Jangan khawatir, mama-mu pasti baik-baik aja kok. Temanku tahu cara menyelamatkan Mamamu." ucapnya yakin disertai nafas yang terengah-engah.


Di tengah jalan, Jacqueline menemukan ruang laboratorium yang kosong. Untunglah, ruangan tersebut tidak dikunci. Ia pun langsung membuka pintu laboratrium tersebut dan bersembunyi di dalamnya.


Sejenak, Jacqueline menahan nafasnya dan menutup mulut gadis kecil itu agar suara mereka tidak diketahui musuh.


"Aman..." Gumamnya selang beberapa menit kemudian. "Jangan menangis ya! Aku yakin banget kalau mama pasti selamat. Mama pasti akan kembali, kok."


Gadis kecil itu menunduk lalu ia duduk menyandar di dinding yang dingin. Kedua lengannya memeluk dirinya karena kedinginan.


"Kau kedinginan? Ini..." Jacqueline menawarkan jaketnya.


"Nggak usah, kak. Gunez nggak butuh. Kakak lebih membutuhkan karena pakaian dalam kakak pendek."


"Hei! Hanya kaos yang pendek!"


"Tapi, kalau dilepas, kakak bakal kedinginan."


"Kau ini... Jadi, namamu Gunez? Sepertinya kau blasteran." Tutur Jacqueline yang menyadari keunikan dari nama gadis kecil itu. Yah, berbasa-basi sedikit juga tidak masalah sambil menunggu keadaan diluar kembali stabil.


Gunez terdiam. Ia sepertinya berpikir sejenak sebelum merespon perkataan Jacquelune.


"Ayahku lahir di Turki. Di Midyat. Mama lahir di sini." Balas Gunez yang masih menunduk. Maklum ia mengkhawatirkan Mamanya yang saat ini sedang dikuasai oleh Aura asing di dalam tubuhnya.


"Gunez bingung. Padahal, Mama selama ini baik-baik saja. Apa karena ayah meninggalkan Gunez dan Mama, mama jadi sangat marah ya?"


Jacqueline melongo, "Kenapa kalian ditinggalkan?"


Gunez menaikkan pundaknya singkat. "Gunez sebenarnya nggak suka memikirkannya lagi. Tapi, pikiran itu selalu saja datang. Ayah punya ibu yang lain dan anak perempuan yang lain. Ayah lebih menyayangi mereka. Ayah selalu berlibur dengan mereka. Ayah juga nggak pernah ninggalin oleh-oleh atau apapun untuk kami.


"Ayah nggak mikir kalau saat itu, Gunez dan Mama belum makan. Padahal, ayah kaya tapi, yang selalu makan enak 'mereka'. Gunez sedih. Mama sedih. Saat ulang tahun Gunez, mama selalu menelpon ayah. Mama sempat berteriak pada ayah lewat telepon. Yah, Gunez rasa... Ayah sudah nggak peduli lagi sama Gunez dan Mama." Ungkap Gunez sedih. Ia meneteskan air matanya dan membuat Jacqueline merasa teriris hatinya.


Jacqueline pun memeluk Gunez yang menangis itu. "Kau anak yang kuat, Gunez. Mama-mu sangat bangga memiliki anak perempuan sekuat dirimu." Ucapnya sambil membelai puncak kepala Gunez.


"Mama..."


Disela warna biru yang tengah memenuhi suasana mereka, pikiran Jacqueline bermain. Ia jadi teringat beberapa jam yang lalu ketika merayakan hari Ulang tahun Aoi.


Waktu memotong kue, aku kira pesta itu akan berakhir bahagia. Tap**i...


~


"Wah!! Kuenya!" Seru Aoi kegirangan mendapati brownies coklat dengan papan coklat bergambarkan wajah salah satu karakter vocaloid kesukaan Aoi. Kalau tidak salah, Megurin Luka namanya.


"Siapa yang menggambar ini? Bukannya kalian berdua nggak bisa menggambar?"


"Enak sekali mulut anda! Walaupun gambarku setara dengan gunung buatan anak TK, setidaknya, aku bisa gambar perempuan." Omel Jacqueline.


"Hargai napa?!" Chloe menambahkan lalu tertawa.


Tawaan Chloe yang receh itu menular sampai Aoi dan Jacqueline. Sedari tadi, pembicaraan mereka yang berwarna itu mewarnai ruang tengah Jacqueline. Mereka membuat ruangan tersebut sangat berwarna.

__ADS_1


"Wah! Makanan apa ini?"


Tiba-tiba, Yumizuka muncul dari bawah meja tepat di bawah kue tersebut berdiri. Gadis itu sudah lebih dulu menyiapkan sendok dan garpu. Tak lama lagi, akan dibunuh juga kue itu kalau seandainya Jacqueline tidak melarangnya.


"Hey! Jangan dimakan dulu dong! Yang ulang tahun aja belum nyentuh!" halang Jacqueline.


"Pelit banget kalian!" gerutu Yumizuka kemudian menyilangkan lengannya dan memasang raut cemberut.


Chloe terkekeh melihat tingkah laku Yumizuka. Berbeda jauh dengan Black Aura. Chloe jadi bertanya-tanya, bagaimana cara Jacqueline dan Aoi membuat Aura sepertinya menjadi... Selasak ini?


"Aku jadi heran? Gimana cara kalian membuat Yumizuka jadi seberisik ini?" tanya Chloe sambil mengiris buah kiwi.


"Dia dari awal memang berisik." Celetuk Devil Mask yang tiba-tiba muncul.


Chloe dan yang lainnya terkejut menemukan cipratan darah berwarna hijau toska yang mewarna jaket biru Devil Mask.


"Siapa yang menyerangmu?" tanya Aoi.


"Tukang pos."


"Oalah... Tadi sampai mana?" Jacqueline langsung mengubah topik pembicaraan ketika merasa topik sebelumnya sudah selesai untuk dibahas.


"Ah, tiba "Yumizuka emang berisik dari awal'." Balas Chloe.


"Sifatnya itu tergantung kekuatannya juga sih menurutku." Aoi angkat bicara. "Kemampuan gadis ini kayak berkaitan dengan sesuatu yang menyakitkan. Kau nggak sadar bukan? Kenapa tiba-tiba topik kita mengarah pada Yumizuka? Padahal, ada Devil Mask yang terkena cipratan darah hijau tapi kita justru membahas sifat Yumizuka lebih awal."


"Eh? Begitu ya? Memangnya apa kemampuan dia?"


"Dia memanipulasi perhatian. Yah, seperti seorang gadis yang diabaikan lalu ia mencari cara agar semua orang terus memperhatikannya. Itulah kemampuannya." Jelas Aoi.


"Kemampuannya membuatku berpikir kalau diabaikan itu menyakitkan dan kita juga benci diabaikan." Jacqueline menambahkan. "Aku belum tahu mereka berasal dari mana? Bahkan mereka sendiri tidak tahu kenapa mereka bisa ada?"


"Intinya, konflik dan asal-usul keberadaan mereka itu... Cuma Midnight yang tahu." Ujar Chloe yang diakhiri dengan senyuman simpul miliknya.


Gadis bernama Midnight itu sampai saat ini, masih belum diketahui keberadaannya. Bahkan, Aura seperti Devil Mask, Black Aura, dan Yumizuka tidak tahu dimana Midnight saat ini. Bagaimana bisa mereka menjadi terpecah-pecah hanya karena perang?


"Sebenarnya, aku bingung. Perang itu muncul karena apa? Kalau dipikir juga, Legend Aura dan Megavile itu berbeda. Ah, kalian ini! Buat kami bingung aja!" Jacqueline menyodorkan beberapa piring yang baru saja ia lap pada Aoi.


"Tapi, aku senang aja... Meskipun membingungkan tapi, fantasi itu menyenangkan entah kenapa. Kita juga bertiga bisa bertemu kembali dan bersama mereka." Kata Chloe yang langsung direspon oleh anggukan kecil Aoi dan Jacqueline.


Akan tetapi, tiba-tiba saja hatinya merasa ada yang kurang. Chloe seolah melupakan seratus persen kejadian kemarin dan terbawa oleh keadaan yang menenangkan hari ini.


"Morgan? Siapa Morgan?" Jacqueline malah balik bertanya.


"Lah? Kalian nggak membawanya? Bukannya sudah kubilang?"


"Kau memang mengatakannya dan kami berniat membawa Morgan pulang. Tapi, disana saat itu ada banyak kali orang yang baring. Iya kali, di cek satu-satu kartu identitas mereka?" Jawab Aoi.


"Dia ada di rumah sakit." Tutur Black Aura yang tiba-tiba saja muncul.


"Bukannya kau mencari Aura?" tanya Devil Mask santai.


"Lagi nggak mood."


"Black Aura!!!" Seru Chloe kegirangan. Gadis itu langsung berlari menghampirinya dan memberi pelukan erat untuk menyambut kehadirannya.


"Kau ini lama sekali sih! Jangan lupakan aku dong!" Omel Chloe dengan nada yang terkesan centil. Seperti gadis yang selalu manjakan oleh pacarnya.


Aoi dan Jacqueline malah bergidik ngeri melihat tingkah Chloe yang tak biasa itu. Gadis itu dulunya mereka kenal sangat anti sekali dipeluk atau memeluk. Alasannya, dipeluk hanya akan membuat hatinya memanas seperti di drama atau kartun anime yang selalu ia tonton itu.


Tapi, kenapa sekarang malah... Ketagihan memeluk orang?


Tadi, Chloe terlihat sangat bersemangat dengan kehadiran Black Aura. Semulanya, ia duduk dengan tenang sambil memotong buah kiwi dan mendadak meloncat dari kursi begitu mendengar suara Black Aura. Ia sampai refleks melempar pisau dan membiarkan benda tersebut tertancap di pintu lemari makanan.


"Astaga... Hati-hati, oi!" teriak Aoi pucat.


"Waaaa!! Apa yang kau lakukan, manusia?!" tambah Yumizuka yang ikut ketakutan karena tak biasa dengan pemandangan tersebut.


"Wah! Wah! Sahabatku berubah banyak ya!" berbeda dengan yang lain, Jacqueline justru senang dengan perubahan sifat Chloe. Ia melempar jauh ketakutannya dan memilih untuk menghargai perubahan tersebut.


"Eh? Memangnya salah ya?" tanya Chloe polos. Kedua tangannya masih bertahan memeluk Black Aura.


Aura itu juga! Ia tidak melakukan perlawanan apapun dengan pelukan yang menghantamnya tersebut. Black Aura membiarkan kedua lengannya terkulai lemas.


"Jadi, itu kelemahanmu?" Devil Mask akhirnya buka suara.

__ADS_1


"Kau mau?" tawar Black Aura datar.


"Ogah."


"Eh! Kapan nih kuenya dipotong? Entar basi pula!" Sela Aoi yang sudah tidak tahan melihat kuenya yang sedang tebar pesona.


"Dengkulmu basi! Mana pisau kue tadi?"


"Nah!" Yumizuka memberikan pisau tersebut pada Jacqueline.


"Yuk, nyanyi dulu!" sorak Jacqueline kemudian.


Setelah peperangan kecil itu berhenti, barulah mereka merayakan ulang tahun Aoi yang ke-20 tahun. Mereka mengawalinya dengan nyanyian "Happy Birthday To You" lalu mengakhirinya meniup lilin.


Sebelum meniup lilin, Aoi menyempatkan dirinya untuk berdoa dan meniup lilinnya.


"Kenapa ada jeda saat mau tiup lilin?" tanya Yumizuka heran.


"Doa." Jawab Black Aura.


"Okelah! Yuk, potong kuenya... Potong kuenya... Potong kuenya sekarang juga." Ucap Jacqueline yang kembali bersenandung disusul dengan suara Chloe dan Aoi.


Jacqueline perlahan memotong kue tersebut. Sedangkan Chloe yang bertugas membagi beberapa potongannya pada Aoi dan yang lainnya.


"Makan nih!" seru Chloe hendak menyuapi Aoi.


"Eh! Pelan-pelan ya..."


Aoi pun melahap kuenya. Ia terperanjat pada gigitan pertamanya. Lembut sekali!!!


"Omg! Ini... Siapa yang membuat kue ini? Enak banget!" puji Aoi. Pria ini tergoda berat oleh kelembutan yang ditebarkan oleh brownies tersebut.


"Kami dong!" seru Chloe dan Jacqueline bersamaan.


Di sisi lain, Black Aura dan kedua Aura itu hanya terdiam meratapi kebahagiaan di meja makan mereka. Yumizuka terlihat ngiler dan tak sabar ingin menghantam brownies tersebut. Devil Mask, dia hanya mengaduk-aduk teh tanpa meminumnya. Yang terakhir, Black Aura. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak tahu harus memasang ekspresi apa di momen-momen seperti ini.


Kedua matanya tak bisa lepas dari senyuman yang terukir di wajah Chloe. Gadis itu benar-benar bahagia.


Selama dua hari sebelumnya, ekpresi Chloe campur aduk. Terkadang senang, terkadang sedih, terkadang panik dan terkadang merasa kesepian. Semua itu bercampur aduk sampai adukkan tersebut berakhir manis ketika kedua sahabatnya datang menghampirinya.


"Ikatan... Teman... Sahabat...?" Black Aura bergumam.


"Aura?"


Black Aura tertegun ketika Devil Mask memanggilnya dan memberinya sedikit kejutan lewat tepukan di pundak.


"Ayo dimakan..." Ajak Devil Mask.


Chloe tersenyum lalu memberikan sepiring brownies pada Black Aura. "Ayo... Kue ini punya rasa yang menakjubkan lho... Kalau kau makan, aku yakin kau pasti suka."


"Oke." Black Aura mengambil brownies tersebut lalu melahapnya.


"Oh, ya... Kalian sudah berapa kali bertarung melawan Legend Aura? Kalau kami baru tiga kali. Yang terakhir sih, curang musuhnya." Tutur Chloe. Karena acara bernyanyi mereka selesai, perlahan-lahan, topik serius mulai menguasai ruang dan waktu mereka.


"Aku dan Devil Mask sudah lima kali. Kami belum menemukan Legend Aura. Ah, maksudku... Aku yang belum." Balas Jacqueline.


"Eh? Bukankah Aoi lebih dulu bersama Devil Mask?"


"Salah. Aku lebih dulu. Kau pasti mendengarnya dari Dark Fire bukan? Memang yang dikatakannya asli. Hanya saja, saat itu Devil Mask menghilang tanpa kabar dan tiba-tiba saja, Aoi menghubungiku kalau Devil Mask ada bersamanya. Dia juga kaget. Dikiranya, Devil Mask itu cosplayer nyasar." Jacqueline bercerita ringan sambil memutar-mutar sendok kue.


"Kalau aku dan Yumizuka, kami bertemu di bandara. Saat aku hendak menjemput Bibi Sato seperti yang kubilang itu, aku menemukan Yumizuka bertingkah aneh di antara orang-orang. Aku curiga dan mengiranya hendak mencuri uang. Rupanya..."


"JACQUELINE!!! APA KAU DI DALAM, SAYANG?"


Seketika, Aoi terdiam usai mendengar suara wanita dari luar rumah yang menyebut nama Jacqueline disertai ketukan pintu. Otomatis, Chloe dan Aoi berdiri karena penasaran. Namun anehnya, Jacqueline hanya duduk dan mengabaikan suara yang memanggil namanya.


"Jacqueline, siapa di luar?" tanya Aoi.


"Pelankan suaramu." Ujar Devil Mask.


"Kenapa?" Chloe melirik Devil Mask dan meminta jawaban yang memuaskan.


"Nanti. Setelah orang itu pergi." Balas Devil Mask. Pria bertopeng itu menoleh pada Jacqueline yang menunduk tanpa suara. Gadis ini terlihat tidak berminat membukakan pintu untuk wanita tersebut.


Lantas, hal itu menimbulkan pertanyaan bagi mereka yang menghuni ruangan dapur tersebut.

__ADS_1


"Jangan ada satupun yang buka."


~


__ADS_2