Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 196 {Season 2: Cerita Tambahan}


__ADS_3

“Nggak jadi?” Okka yang baru saja meletakkan gelas berisikan kopi dibuat bingung oleh tindakan Megawave yang tampak plin-plan itu. Tadi, Aura itu bilang kalau dia akan menyusul Midnight. Selang beberapa menit kemudian, dia kembali dan terlihat seperti orang kehilangan arah.


“Iya. Kurasa, pikiran burukku tadi itu Cuma sebatas angin lewat aja.” Ujar Megawave sambil terkekeh kecil. Okka yang melihat kelakuan Megawave hanya bisa diam sambil ikutan tertawa saja.


“Oke…? Hm, kalau gitu, aku pulang dulu ya. Kami mau ngelive dulu. Nggak papa kan, sendirian?” tanya Okka sedikit khawatir. Gadis itu beranjak dari sofa sambil menggaruk tengkuknya merasa tak enak jika dirinya pulang lebih cepat.


Megawave yang tadinya kelihatan bingung, membalas omongan Okka. Kelihatannya Aura itu tidak keberatan jika ditinggal seorang diri di rumah Midnight. Ditambah lagi, komplek tempat Midnight tinggal itu sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang berlalu-lalang. Itupun hanya sebatas lewat. Tidak ada tegur sapa juga.


“Oh, nggak papa. Aku justru khawatir denganmu.”


“Khawatir? Kenapa?” Okka mendengus.


“Tempat ini sepi. Aku takut aja kalau ada orang jahat yang menguntitmu dari belakang,” tutur Megawave.


“Oalah. Gitu doang. Santai, Meg. Aku kesini bukan jalan kaki, tapi naik motor,” Okka membalas perkataan Megawave seraya berjalan, menghampiri gorden Midnight. Gadis itu menggeser gorden tersebut untuk membuktikan pada Megawave bahwa dia sebelumnya mengendarai motor ke rumah Midnight.


“Nah… Nampak, kan?”


Megawave manggut-manggut. “Jadi, motor seperti itu rupanya. Paham aku.”


“Heh? Kau nggak pernah liat motor sebelumnya?” Okka membelalak tak percaya selang beberapa detik setelah Megawave melontarkan kalimat yang cukup mengejutkan Okka.


Tidak disangka, Aura yang mahir menguasai kekuatan ilmu sihir itu tidak mengetahui bagaimana rupa kendaraan beroda dua.


“Nggak. Di tempatku, kami lebih dominan pakai kemampuan teleportasi atau portal. Kadang, kami juga berlari kalau kami mau,” jelas Megawave dengan pandangannya yang seluruhnya tertuju pada motor Okka yang terparkir di depan pagar rumah Midnight.


“Ooh… Enak ya. Di tempatmu, sihir itu nyata. Di tempat kami menurutku sih ada… Tapi lebih sering dikaitkan ke ilmu hitam atau sihir yang digunakan untuk membuat orang lain sial,” ungkap Okka.

__ADS_1


“Itu sih, tergantung si penggunanya. Kalau sihir digunakan untuk membantu orang sih, nggak masalah bagiku. Tapi, kurasa… sihir itu nggak boleh ada di duniamu. Dilihat dari spesies… Ehem, aku nggak maksud merendahkan kalian tapi, ini menurut pandanganku saja,” Megawave menjeda omongan beberapa saat bersamaan dengan Okka yang terkekeh menanggapi omongan Megawave. Sungguh, Okka sama sekali tidak mempermasalahkan apapun pendapat yang Megawave lontarkan mengenai manusia. Dia malah senang jika dirinya bisa berinteraksi dengan makhluk fantasi itu secara langsung.


Dan entah kenapa, keinginannya untuk pulang ke rumah perlahan-lahan memudar dan diambil alih oleh keinginannya ingin berlama-lama bersama Megawave.


“Chill, Meg. Kalau sama aku, kau nggak usah kaku amat. Bawa santai ajalah.”


“Ah, iya. Yah, sejak aku berpisah dengan teman manusiaku, aku jadi lupa bagaimana rasanya berinteraksi dengan manusia. Oh, ya! Yang tadi itu aku lanjutkan ya!” izin Megawave yang langsung mendapatkan anggukan kecil dari Okka.


“Menurut pandanganku, manusia seperti kalian lebih baik mengandalkan kemampuan yang kalian miliki ketimbang menggunakan sesuatu yang tak masuk akal dengan kegiatan kalian sehari-hari,” jelas Megawave.


“Hm… Jadi, menurutmu, masuk akal dong aku naik motor ke rumah Midnight?” tanya Okka berusaha memancing Megawave untuk terus berpendapat. Karena sejatinya, Okka ingin menjadi lebih dekat dengan Megawave. Mengingat Chloe, Aoi, dan Jacqueline yang memiliki ikatan erat dengan para Aura.


“Yep! Masuk akal. Dan… Bagi kami—Aura, rasanya nggak masuk akal kalau kami naik motor.”


“Lah? Kenapa?” tawa Okka seketika menyembur.


“Karena kami nggak tau gimana cara motor itu nyala. Kalau dikendalikan pakai sihir, menurutku tambah nggak masuk akal. Kesannya aneh banget nggak sih?” komen Megawave.


Tidak disangkanya, Aura itu mengangguk dan melontarkan beberapa kalimat yang otomatis membuatnya terenyuh. “Nggak kok. Aku malah senang karena bisa berkomunikasi lagi dengan manusia. Ini seperti mimpi tapi perasaan tenang yang kurasakan ini nyata. Makasih ya, udah menemaniku. Aku tunggu kau kalau kau punya waktu senggang. Oh! Atau aku aja yang datang ke tempatmu?”


“Eh? Ke tempatku? Boleh kok… Aku bakal buka pintu bagi siapapun termasuk kau, Meg. Bye!” akhirnya, Okka pun pamit dan keluar dari rumah Midnight.


Megawave mengekor Okka dari belakangan bermaksud ingin memastikan agar gadis itu pulang dengan selamat. Tidak ada gangguan dan juga stalker yang bisa kapanpun mengikuti gadis itu dari belakang.


“Ini apa?” tunjuk Megawave ke arah helm yang hendak Okka gunakan namun tak jadi karena pertanyaan yang Megawave lontarkan itu.


“Helm. Ini penting juga buat pengendara motor sepertiku.”

__ADS_1


“Apa pentingnya helm itu?”


“Buat melindungi kepala dari benturan keras seandainya terjadi kecelakaan. Semoga aja sih, nggak ada kecelakaan ya,” balas Okka tertawa kecil.


Megawave juga ikutan tertawa. “Iya. Hati-hati, ya, di jalan!”


Okka mengangguk. Gadis itu pun menyalakan mesin motornya dan akhirnya pergi meninggalkan area komplek Midnight yang sepi itu. Kini, hanya ada Megawave dan keheningan yang kembali menemani Aura bertopeng visor itu sampai dirinya masuk ke dalam rumah Midnight kemudian menutup rapat pintu rumahnya.


~


“Aku nggak nyangka bakal semudah ini dia dikalahkan,” ucap Chloe bangga selang beberapa menit setelah menyegel Huke ke dalam buku. Ini kali pertamanya dia menyegel sesuatu.


“Jangan bangga dulu, hey. Kita baru melawan satu musuh,” balas Devil Mask heran.


Setelah Huke dikalahkan, langit malam dan Aurora itu bertukar menjadi mall dimana semua orang berlalu-lalang seperti tidak ada satupun yang menyadari pertarungan besar itu. Edward dan ibunya yang semulanya hantu kembali menjadi manusia.


Jujur saja, menurut Chloe pribadi, kekuatan Huke itu sungguh berlebihan. Sampai mengubah spesies segala dan mengacaukan perhatian mereka. Yah, kemampuannya yaitu mengalihkan perhatian tak begitu jauh dari Aurora yang lebih dominan memanipulasi kesadaran mereka. Tingkat sadisnya masih Aurora-lah yang berada di peringkat pertama. Yah, syukurlah… Setelah menghadapi semua anggota Legend Aura, mereka bisa mengalahkan semuanya tanpa kehilangan nyawa mereka. Hal kecil yang tidak Chloe sadari itu ternyata sangat penting keberadaannya.


Sesudah Huke, Chloe mengalihkan perhatian ke Black Aura yang telah Midnight obati lukanya.


“Kau nggak papa, Aura?” tanya Chloe menunduk menyamakan arah wajahnya dengan Black Aura.


Black Aura tertegun seperti baru saja terbangun dari lamunannya. “Eh? Nggak papa kok. Udah agak mendingan sih. Kau sendiri?”


“Santai… Aku nggak ada luka sama sekali. Ngomong-ngomong, setelah ini kau mau ngapain lagi, Midnight?” tanya Chloe menatap Midnight yang saat itu sangat serius menggulung perbanan.


“Oh, aku mau ke kampus dulu,” jawabnya singkat. Tak lama kemudian, dia pergi tanpa pamit bersama Devil Mask dan Yumi. Sebelum langkahnya benar-benar jauh, Midnight menoleh ke belakang untuk beberapa saat. Sekedar memastikan keadaan Chloe dan Black Aura tetap aman duduk di kursi depan pilar mall lantai dua.

__ADS_1


“Kurasa… Kita tinggal mengurus Yuuki, Elena, dan Emma aja,” gumamnya.


~


__ADS_2