Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 23


__ADS_3

"Aku benar-benar minta maaf sebelumnya karena telah mengganggu kalian. Sebenarnya, aku nggak bermaksud menyakiti kalian atau bahkan membunuh Aura. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa soal Aura."


Morgan yang asli meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Chloe dan Black Aura.


Sangat berbeda dari sebelumnya. Morgan yang asli ini tampil sebagai pria dengan gaya rambut tersisir rapi dengan kacamata kotak yang menggantung di atas batang hidungnya. Tampaknya dia type orang yang pemalu dan jarang berkomunikasi dengan orang lain.


"Wah, aku nggak nyangka kau bakal sejauh ini dari yang tadi." Chloe menimpali seraya melahap seember ayam krispi yang baru saja Morgan beli sebagai permintaan maafnya. Untunglah saat itu mereka menemukan toko ayam krispi yang masih buka sampai pukul sebelas.


"Iya kan? Aku yang asli memang jarang berkomunikasi dengan orang. Untuk teman, aku hanya memiliki 2 orang saja. Aku juga lebih sering menyendiri."


"Pantas saja, aku jarang bertemu denganmu di kampus."


Morgan hanya mendengus geli mendengarnya.


Sejak kejadian tadi juga, Black Aura memilih untuk tidak bersuara dulu. Karena sebelumnya, tenaganya sudah terkuras habis melawan dua Legend Aura sekaligus menghadapi tingkah Chloe yang memaksa itu. Memiliki emosi itu melelahkan baginya.


"Black Aura..." Panggil Morgan ragu.


Sepanjang perjalanan bahkan setelah sampai ke kamar hotel pun, remaja Aura itu hanya memasang wajah datar tanpa membuka suaranya sedikitpun.


Meskipun membawa beban yang cukup banyak seperti menggendong Chloe ala-ala tuan putri, mengenakan ransel Chloe yang berisikan laptopnya, dan menarik troli belanjaan berisikan Morgan yang tak sadarkan diri kala itu.


Morgan sempat tersadar dan menemukan dirinya di dalam troli belanjaan. Ingin mengutarkan pertanyaannya namun ragu. Ia tahu akan kesalahan sebelumnya. Oleh karena itu, Morgan memilih untuk bungkam sejenak.


Kembali ke detik sekarang.


Sadar seseorang memanggil namanya, Black Aura langsung menoleh ke arah Morgan dengan raut yang sedatar-datarnya. Tidak berubah sama sekali.


Remaja itu tengah berbaring di atas ranjang tidur hotel yang empuk. Sehingga membuatnya enggan untuk meninggalkan ranjang tersebut.


"Aku minta maaf soal tadi." Lanjut Morgan sopan.


"..." Black Aura tidak merespon dan kembali memejamkan kedua matanya.


Chloe yang melihat tingkah Black Aura itu tidak bisa berbuat apa-apa selain meminta maaf juga pada Morgan diiringi dengan gelak tawa kecilnya.


"Maaf ya, Morgan. Kumohon jangan tersinggung. Black Aura memang dingin sifatnya. Ya, salahku juga sih, udah bikin dia marah." Ucap Chloe kemudian melirik sebentar ke arah Black Aura dan kembali memusatkan perhatiannya pada Morgan.


Setidaknya, kau berterima kasih karena sudah bisa marah, Black Aura.


Chloe membatin geram dalam benaknya. Padahal saat itu, Black Aura setuju ingin diajarkan bagaimana cara bereskpresi dan berbaur di dunia manusia. Tapi sekarang, kenapa dia malah...?


Ah, sudahlah!


"Eh? Memangnya apa yang kau lakukan padanya sampai-sampai membuatnya marah?" tanya Morgan antusias. Raut wajah penasaran itu menarik perhatian Chloe sehingga membuatnya semakin percaya diri menjelaskan bagaimana Aura itu.


"Jadi, ada tuh, yang namanya Aura. Aura itu adalah spesies yang tercipta dari perasaan manusia. Sebenarnya aku masih ragu juga sih dengan asal usul mereka. Di buku nggak dijelaskan secara detail soalnya." Jelas Chloe basa-basinya.


Morgan membenarkan letak kacamatanya seraya melanjutkan pertanyaannya.


"Jadi... Buku itu ya? Wah, aku nggak menyangka bahwa spesies yang mustahil seperti mereka ini benar-benar ada ya!" balasnya ramah.


"Iya kan? Aku memang dari awal percaya akan keberadaan mereka. Yah, aku hanya menunggu saat yang tepat agar bisa bertemu dengan mereka. Oh, ya! Kembali pada Aura! Kau lihat bukan? Kenapa Black Aura itu terkesan dingin saat pertama kali berjumpa dengan orang baru?


"Memang pada awalnya, mereka itu tercipta tanpa emosi. Mereka melakukan apapun mengikuti naluri mereka. Bahkan dalam bertarung sekalipun. Kalau mau tahu? pertarungan mereka itu tiada ampun lho!"


Chloe menjelaskan dengan penuh semangat. Morgan sebagai lawan bicaranya sampai memajukan posisi duduknya seperti anak kecil yang sedang diberi dongeng oleh kedua orangtuanya.


"Mereka seperti itu bisa jadi karena tempat tinggal mereka. Menurut bayanganku, Carnater itu dunianya sunyi dan monoton. Beda jauh dengan dunia kita yang berisik. Kita yang introvert aja sampai kelelahan walau hanya sebentar saja di luar rumah..Apalagi mereka, kan?"


"Benar-benar. Berarti, Black Aura itu introvert kan?"


Chloe terkejut lalu terdiam sesaat sebelum pada akhirnya tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Morgan. Maklumlah ya, gadis ini tingkat humornya rendah sekali. Jika diukur dengan tinggi badan Levi Ackerman, masih tinggi pria Ackerman itu malah.


"A-apa yang lucu?" Morgan bertanya heran. "Ayamnya cepat dihabiskan, habis itu kita tidur. Aku takut kita mengganggu penghuni hotel yang lainnya."


"Iya... Iya... Aku cuma aneh saja. Black Aura introvert?" Chloe memandang Black Aura yang menyandar di sandaran ranjang hotel sembari memencet-mencet tombol remot TV. Entah paham atau tidak remaja itu menggunakannya. Asal pencet saja dia.


"Hei, Black Aura! Masih belum kelar ngambeknya? Sedikit pelajaran buatmu, seenggaknya kau bisa merasakan yang namanya marah dam ngambek. Ingat itu!" Ledek Chloe dengan nada bicaranya yang ia lantangkan sedikit.


Black Aura tidak menjawab dan hanya fokus pada acara yang ia tonton tersebut.


"Astaga... Aku tidak tahu apa dia paham dengan acara yang ia tonton apa nggak?" Chloe terus-terusan menertawai remaja Aura itu.

__ADS_1


"Sudahlah... Dia sudah berbuat banyak padamu."


"Iya. Hmmm... Besok kau harus gimana? Kau memilih ikut atau menetap di hotel?"


"Benar juga ya... Apa sebaiknya aku ik..."


Mendadak Morgan menghentikkan pembicaraannya ketika sepasang tatapan dingin itu menusuk dirinya seolah tidak memperbolehkannya untuk ikut serta dalam petualangan Chloe.


"Ng-gak jadi deh."


Chloe mengernyitkan keningnya heran memdengar pernyataan Morgan yang menolak untuk melanjutkan pembicaraannya. Tentunya, ia tahu apa yang membuat pria ini menutup rapat mulutnya.


Dengan sigap, Chloe menoleh ke arah Black Aura dengan tatapan sinisnya.


"Black Aura...?"


"Apa?"


Chloe menghela nafas berat. Mulai sekarang, remaja inilah yang menguji kesabarannya. Dia balas dendam rupanya.


"Kumohon, jangan memotong pembicaraan orang. Morgan kan baru mengusulkan permintaannya. Perihal setuju atau tidak itu tergantung kita-nya, Black Aura."


"Lanjutkan." Black Aura mempersilahkan Morgan mengutarakan permintaannya meskipun wajahnya terlihat sangat jelas tidak menyukai keberadaan Morgan.


"Abaikan saja dia." Pinta Chloe yang sudah lelah menanggapi Black Aura. Hanya kali ini saja.


"Jadi, karena aku sudah menyusahkan kalian... Aku nggak mau pulang hanya dengan tangan kosong. Aku setidaknya ingin kedua tanganku ini berguna untuk kalian." Tutur Morgan takut-takutan. Suaranya bergetar dan hal itu membuat Chloe nyaris tertawa.


"Apa yang lucu sih?! Heran aku." Pipi Morgan memerah seketika. Ia merasakan tingkah gadis di depannya lama-kelamaan membuatnya tidak nyaman.


"Tidur." Black Aura menimpali tanpa permisi.


Kedua remaja itu bengong lalu menyengir heran.


"Huft... Baiklah Morgan. Kita lanjutkan besok ya!"


Morgan menganggukkan kepalanya ringan dan beranjak dari kursinya.


"Selamat malam dan mimpi indah ya!" pamit Morgan seraya memutar kenop pintu dan keluar dari kamar Chloe. Pria itu tak lupa menutupnya kembali.


"Yep!"


Pintu kamarnya telah tertutup rapat bersamaan dengan Chloe yang sibuk membenarkan posisi tidurnya. Sebelum tidur, ia memantau Black Aura dari jauh. Terlihat jelas meskipun samar, remaja itu sedang membaca buku sejarah tentang mereka.


TV yang semula menyala itu mati tanpa gangguan. Tidak disangka, Aura itu tahu cara mematikan TV.


"Aman..." Gumam Chloe dan langsung memejamkan kedua matanya kemudian tenggelam dalam mimpinya.


Kira-kira, gadis bernama Carmine itu bakal muncul apa tidak ya?


~


Suara langkah kaki seseorang mewarnai kesunyian di dalam lorong yang berisikan sejumlah pilar tegak sebagai rangka sebuah bangunan agar tetap berdiri tegap.


Seorang pria berjas hitam berjalan dengan elegan melintasi karpet merah yang membentang panjang sampai pintu yang hendak ia hampiri tersebut.


Tatapan serius itu ia pertahankan sampai tangan kanannya berhasil meraih permukaan pintu yang luas.


Tanpa mengenal tata krama, pria itu mendorong kuat kedua pintu tersebut dan membentangkan keduanya.


"Aku dengar, Dark Sport kalah lagi ya?" tuturnya tanpa basa-basi sekaligus menghampiri salah satu pemimpin Legend Aura, Dark Fire.


Dark Fire yang kala itu tengah menyantap santapan hangat dari salah satu maid-nya serta membaca buku novel, terpaksa berhenti ketika disabut oleh pernyataan seorang pria mengenai saudarinya.


"Ya, begitulah... Namanya juga baru awal-awal. Kau nggak akan tahu kelanjutannya, manusia." Balas Dark Fire disertai dengan senyuman kecilnya.


"Padahal, aku yang menciptakanmu tapi... Kau tetap saja menganggapku orang lain."


"Terserah. Kalau kau bertanya tentang Midnight, kami sama sekali belum menemukan dimana Midnight berada. Gadis itu menghilang tanpa jejak setelah kepergian adik kecilnya." Ungkap Dark Fire tanpa memalingkan sedikitpun wajahnya pada buku novel yang ia baca.


Pria itu menghela nafas sebentar lalu mengambil posisi duduk di atas meja kerja Dark Fire.


"Kau nggak sopan."

__ADS_1


"Wow! Aku nggak nyangka Aura sepertimu paham yang namanya tata krama." Pria itu mendengus geli sembari mengelus-elus permukaan meja yang ramai.


"Asal kau tahu, nggak mudah aku hidup di duniamu. Duniamu nyaris saja membunuhku."


"Lupakan. Aku hanya penasaran dengan Megavile itu. Padahal Carmine sudah mati. Tapi... Kenapa mereka masih hidup ya? Nggak mungkin kan, Midnight yang menghidupkan mereka?"


Suara pria itu terdengar seperti memenuhi ruangan. Sejak awal memang hanya Dark Fire-lah yang menghuni ruangan tersebut.


Dark Fire. Dia adalah pemimpin Legend Aura yanh saat ini sudah menghabisi beberapa manusia untuk menambah pasukan kelompoknya. Ia menganggap, perangnya dengan Megavile masih belum berakhir selama masih ada beberapa Megavile yang terlihat berkeliaran di berbagai tempat.


Akan tetapi, saat ini mereka dibuat bingung oleh Megavile.


"Sampai sekarang, aku masih mencari tahu penyebabnya. Kok bisa ya?"


"Entahlah... Mereka itu penuh misteri. Kalau kau mau menguasai duniamu ya... Habisi saja mereka! Selama mereka berjalan seorang diri tanpa ada yang menemani. Urusanku hanya dengan Midnight." Ujar pria tersebut dengan santai.


"Padahal itu salahmu. Kenapa kau masih mengejar wanita itu? Kau yang mengecewakannya juga. Kau pikir dia akan memaafkanmu? Walaupun Aura, setidaknya aku paham sedikit tentang masalah kalian."


"Ya... Ya... Aku akui, pengetahuanmu tentang duniaku mulai bertambah dan... Itu bukan urusanmu, kawan. Kau hanya perlu fokus sama musuhmu. Begitu semuanya sudah mati, sisanya akan kuurus."


"Baiklah. Lagi pula, Aura-aura itu belum pernah berhadapan denganku, sejauh ini. Aku jadi penasaran seberapa hebat mereka bertarung. Seberapa besar kekuatan mereka?" Dark Fire membalas santai lalu beranjak dari kursinya dan berlalu pergi meninggalkan pria itu seorang diri di dalam ruangan yang luas.


~


"Black Aura! Kemari sebentar!" pinta Chloe tiba-tiba disertai dengan raut seriusnya itu.


Black Aura yang kala itu sedang nikmatnya mengunyah kentang, terpaksa harus menhhentikkan kegiatannya dan beralih pada Chloe.


"Apa?"


Menanggapi kehadiran Black Aura, Chloe tanpa basa-basi memperlihatkan remaja itu mengenai kode yang ditemukan Chloe di rumah Aoi.


Kode itu masih ia simpan dengan baik di dalam tasnya.


"Ini...?"


Seluruh pandangan Black Aura terpaku lurus pada tulisan acak-acak. Tulisan tersebut bertinta merah dan dia tampak sangat familiar dengan warna merah tersebut.


"Ini bukan darah. Ini tinta merah. Tolong jangan salah kira." Ujar Chloe yang paham akan pemikiran Black Aura.


Seketika, Black Aura langsung memasang raut malasnya setelah itu fokus kembali pada kode itu.


"Kau bisa baca, nggak?"


"Bisa..."


"Bagus. Kode ini kutemukan di rumah Aoi. Kode ini juga yang membuatku bisa bertemu denganmu. Mungkin saja, tempat yang akan kita datangi selanjutnya bisa saja membawa kita pada Devil Mask atau Aoi." Jelas Chloe.


"Jadi, kau menyuruhku untuk mengikuti apa yang tertera di kode itu?" tanya Black Aura sekedar memastikan.


Chloe mengangguk pelan. "Tempat tujuan kita selanjutnya... Kan, aku sudah mendatangi 'pepohonan tumbuh secara acak' berarti hutan. 'Harus kuat seperti baja' itu saat aku bertemu dengan Aura misterius itu."


"Manik violet yang indah?"


"Ya, itu kau! Itu kau Black Aura. Masa nggak sadar sama warna mata sendiri." Gadis itu terkekeh pelan menanggapi pertanyaan Black Aura yang bisa dikatakan sukses membuatnya tertawa.


"Setelah itu, temui aku di depan perpustakaan biasanya. Nah ini! Mungkin saja, aku bakal ketemu Aoi di depan perpustakaan!" seru Chloe kegirangan.


"Ketemu Aoi..." Seakan mimpi indah bisa bertemu dengan Aoi, Chloe pun beranjak sembari membereskan beberapa barangnya.


"Ayo, habiskan kentangnya! Aku nggak sabar mau ketemu Aoi!"


Black Aura menuruti ucapan Chloe. Tanpa sadar, ia meneguk habis segelas susu coklat milik Chloe.


"Lah? Kenapa kau habiskan susuku?" Chloe kecewa.


Black Aura tersentak kaget dan tersedak cukup kencang. Alhasil, ia terbatuk-batuk karena tersedak susu.


"Ohok! Ohok! Kau menyerangku? Serangan apa ini? Kau... Ohok!" Perkataan remaja itu terpotong-potong oleh batuknya hasil dari tersedaknya tadi. Black Aura bahkan sampai tersungkur ke bawah seraya menepuk keras lehernya. Ia tampak berusaha keras melawan serangan kejutan tersebut.


"Hadeh... Kasihan sekali kau." Chloe tanpa pikir panjang mengambil segelas air lalu memberikannya pada Black Aura.


"Minum ini."

__ADS_1


~


__ADS_2