
Bahan-bahan ritual yang mereka cari kini tersisa satu lagi. Benda itu masih misterius dan hanya Midnight seorang yang tahu. Ditambah lagi dengan seorang pria yang hilang.
“Berarti, kita tinggal menyelesaikan dua puzzle. Ya, kan?” Chloe memutar tubuhnya menghadap Black Aura penuh. Pandangan Chloe yang terlihat serius ini membuat Black Aura bingung. Tidak biasanya Chloe terlihat seperti itu.
“Tergantung,” balas Black Aura singkat.
“Oh, begitu ya?”
Black Aura menghela nafas singkat sebelum akhirnya membeberkan omongan yang pernah Midnight katakan padanya. Kemungkinan ada beberapa yang sudah di dengar Jacqueline dan Aoi namun tidak dengan Chloe. Gadis itu terkadang suka tertinggal beberapa hal penting. Karena itulah, Midnight mau tak mau harus memberitahu ulang pada Black Aura yang dekat dengan gadis berambut pirang itu.
“Sebenarnya kami nggak mau melibatkan kalian. Tapi yah, karena udah sejauh ini… Kalian Cuma boleh menyelesaikan dua puzzle itu setelahnya kami,” jelas Black Aura setelah itu tersenyum. Senyumannya terlihat tipis seolah memperlihatkan betapa lelahnya Aura itu.
Chloe yang menyadari hal itu langsung saja berdiri dan menarik tangan Black Aura agar bangkit dari posisi duduknya. “Kau pasti kecapekan bukan? Kalau gitu, kita turun dan makan malam. Habis itu lanjut cerita lagi.”
“O-oke…” Black Aura hanya bisa mematuhi apa yang Chloe katakan karena sesungguhnya, dia benar-benar lelah. Dia berpikir, tidak mungkin dia meminta Chloe untuk menggendongnya. Harga dirinya mau dia letakkan dimana?
“Midnight bawa banyak snack dan makan malam. Kau harus makan sebanyak-banyaknya! Eh, tunggu… Aura sepertimu makannya sama kayak kita ya?” Chloe menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Black Aura dengan ekspresi bingung.
“Bukannya kau udah tahu dari dulu? Maksudku, dari kita bertemu? Jangan bilang, kau merasa aneh jika aku makan makanan manusia?” Black Aura mulai curiga. Di sisi lain, Aura itu penasaran dengan kalimat yang akan Chloe lontarkan selanjutnya. Malam ini akan menjadi malam yang panjang. Black Aura ingin setidaknya mengambil waktu satu atau dua jam untuk mengobrol dengan Chloe. Dirinya sekarang perlahan-lahan bisa menerima kepribadiannya yang lumayan cerewet ini. Mungkin karena dia memiliki seseorang yang dia anggap telah mengisi kekosongannya.
“Bukan aneh. Kayak… Nggak biasa hehe… Tapi kan, kau suka bolu. Kenapa orang sekejam dirimu makannya yang lembut-lembut? Nggak cocok sama orangnya,” Chloe menyemburkan tawanya setelah itu.
Black Aura hanya menatap pacarnya dengan ekspresi tidak senang. “Lucu ya?”
“Hahaha! Lumayan. Kok nggak ketawa? Jangan bilang, kau lupa cara tertawa bagaimana,” Chloe berkacak pinggang setelah melakukan pendaratan dengan aman usai dibantu Black Aura menuruni satu persatu dahan pohon yang tinggi itu.
Black Aura memutar bola matanya malas. “Nggak lupa. Cuma humormu aja yang terlalu rendah,” ejek Black Aura dengan ekspresi licik. Aura itu menyeringai di hadapan Chloe dan langsung mendapatkan serangan berupa pijakan kaki gadis itu yang mengarah langsung di kaki kanan Black Aura. Sayangnya, usahanya tersebut gagal karena Chloe kalah cepat dengan Black Aura. Gadis itu mengacak-acak rambutnya kasar tidak mengakui kekalahannya.
Chloe membuang wajah serta nafasnya ke arah lain. Saat itulah, ada pandangannya terpaku pada area hutan yang gelap. Hanya ada rerumputan tinggi dan pohon dengan rimbunan daunnya yang bergoyang kecil karena tertiup angin. Memang tidak ada yang menarik disana selain kengerian yang diperlihatkan area itu langsung. Namun, selain kengerian, Chloe bisa menangkap ada hal yang tidak biasa yang memancing Chloe untuk mendatangi tempat tersebut. Tak peduli dengan rasa takut yang menghampiri pikirannya serta bulu kuduknya yang sudah mulai meremang. Chloe sadar bahwa dirinya tidak sendirian. Ada Black Aura di sampingnya dan Aura itu Chloe yakin tak akan meninggalkannya.
__ADS_1
Merasa aneh dengan tingkah Chloe yang mendadak diam, manik violet Black Aura melirik ke tempat gelap di dalam hutan yang tak begitu jauh dari mereka.
“Jangan bengong,” Black Aura mendorong punggung Chloe pelan.
“Sorry. Cuma penasaran aja apa yang ada di tempat gelap itu. Kesana yuk!” ajak Chloe. Tanpa ia sadari, dia melupakan rencana makan malam dan bercerita mereka hanya karena penasaran dengan isi hutan yang gelap itu. Apalagi kalau bukan pohon, rumput, hewan, dan suara jangkrik. Kalau sial, mereka bisa saja menemukan makhluk buas yang bersembunyi dibalik kegelapan dan diam-diam mengincar daging mereka.
“Lah? Tadi katanya mau makan?”
“Nggak jadi. Aku mau kesana. Mana tahu kita bisa menemukan bahan ritual yang terakhir,” Chloe memandang Black Aura lurus-lurus. Bola matanya tidak berbinar tapi kesannya seperti gadis itu sedang memohon pada Black Aura untuk menemaninya ke tempat yang bisa saja berbahaya kedepannya.
“Baiklah… Tapi jangan lama-lama. Aku lelah soalnya.”
“Iya, aku tahu itu. Aku Cuma memintamu untuk menemaniku. Aku yakin, nggak ada musuh di sekitar sini.”
Chloe berjalan mendahului Black Aura, sedangkan Aura itu mengekornya dengan langkah malas. Black Aura memperhatikan sekitarnya takut jika muncul makhluk aneh yang tiba-tiba menggigit tangan Chloe.
“Pinjam pedangmu!”
“Potong rumput. Rumput di depan tinggi sekali. Aku takutnya ada ular.”
“Ck, karena itulah sebaiknya kita kembali ke tenda saja!” tegas Black Aura mulai geram.
Chloe cemberut. “Bentar aja kok. Nggak sampai satu menit selesai!” tolaknya.
“Huft… Oke.”
Black Aura pun menyerah dan memberikan pedangnya pada Chloe. Gadis itu berteriak girang setelah dipinjamkan senjata yang akan ia gunakan untuk memotong rumput. Chloe pun mulai memainkan tangannya untuk menebas-nebas rerumputan liar di depannya. Rumput-rumput itu menghalangi jalannya. Karena itulah, Chloe bersikeras meminjam senjata kekasihnya dan memotongnya sampai habis. Chloe melakukan tindakan seperti itu juga demi orang lain yang andai kata sedang berpetualang di hutan itu.
“Kalau malam ini bahan ritual terakhirnya bisa ketemu, besok pagi tinggal mulai aja ritualnya dan kita bisa jalan-jalan. Aku pengen banget kita berdua menginap di villa atau di hotel. Ah, pas kuliahku lulus nanti, aku ingin sekali kau melihatku pakai topi toga. Terus seragam wisuda. Kau pernah lihat?” beberkan Chloe antusias meskipun wajah dan badannya menghadap ke depan.
__ADS_1
“Belum. Seragam itu bagus ya?”
“Bagus. Tapi, biar bisa dapat seragam itu, aku harus belajar lebih giat dan menjadi mahasiswa yang baik. Itu aja. Aku niatnya mau sampai S… Oh, kau belum mengerti ya, soal kuliah,” Chloe terkekeh sambil meminta maaf berulang kali.
“Nggak papa. Aku justru bingung. Aku ini nggak tahu apa-apa soal kuliah dan dunia manusia. Kau nggak malu gitu punya pacar yang…”
Langkah Chloe secara otomatis berhenti. Dia memutar badannya sampai berhadapan dengan Black Aura. “Ep! Jangan ngomong gitu! Santai aja Aura. Kau juga seharusnya percaya diri dengan kemampuan bertarung mu yang di atas rata-rata!”
“Masa? Kau berlebihan, Chloe.”
“Berlebihan apanya? Memang benar kok. Jatuh cinta itu spontan bagiku. Kalau udah terlanjur, susah mau berpaling. Pas tahu kau juga menerimaku… Aku udah pasti senang dong!” ungkap Chloe penuh percaya diri. Rasa malu di dalam dirinya berusaha ia gali sedalam mungkin agar tidak mengganggu momen manis mereka saat ini.
“Black Aura, berikan aku tangan kananmu!” perintah Chloe tiba-tiba.
Black Aura yang agak setengah terkejut itu langsung menuruti omongan Chloe. Aura itu mengangkat tangannya dan dengan lembut digenggam pacarnya.
“Ini namanya gandengan,” Chloe memperlihatkan posisi tangan mereka berdua yang saling terikat satu sama lain. “Gimana rasanya?”
“Nyaman…” meskipun ngasal, tapi Black Aura merasa itulah jawabannya. Kalimat itu tiba-tiba saja muncul di benaknya.
Chloe terkekeh. “Kau keberatan tidak kalau tangan kita begini?”
“Nggak tuh.”
“Good. Kalau kita bergandengan, rintangan apapun bisa kita hadapi bersama. Itu yang dikatakan Lucas sebelum putus dengan pacarnya,” tutur Chloe. Kaki mereka yang semulanya diam perlahan-lahan maju dan melangkah ke depan. Tinggal beberapa centi lagi menuju area gelap itu.
Black Aura tampaknya tidak terlalu memikirkan gelapnya area itu. Perhatiannya terpaku sepenuhnya pada cerita yang Chloe beberkan. Tangan mereka bahkan masih tertaut satu sama lain. Tidak ada keinginan mau dilepas di dalam pikiran mereka. Yang ada hanyalah perasaan ingin semakin dekat.
Chloe bercerita dengan antusias. Dia juga mendalami perannya sebagai Chloe di masa lalu dan Lucas, abangnya. Ekspresi seperti itulah yang membuat Black Aura semakin nyaman berada di sekitar Chloe. Black Aura sempat bimbang, apakah Aura kejam sepertinya pantas mendapatkan kehangatan dari seorang manusia? Meskipun begitu, Black Aura tidak ingin menjauhkan dirinya dari kehangatan yang Chloe tebarkan padanya.
__ADS_1
~