Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 19


__ADS_3

Suara sirine polisi bertebaran di mana-mana. Beberapa orang di area pertokoan tersebut terlihat bingung dengan kondisi di sekitar mereka yang ramai akan genangan aneh berwarna biru dan hitam. Ada juga kerusakan yang di alami mobil dan truk yang terbaring menempel di pintu masuk sebuah klinik. Miris sekali keadaan saat itu. Tapi, untunglah, tak ada satupun yang tahu atau ingat tentang pertarungan sebelumnya.


Seolah kerusakan di are toko itu bukan lagi urusannya, Black Aura berjalan santai sambil menggendong tubuh Chloe yang masih dibawah kendali alam sadarnya. Ia juga tak lupa dengan Morgan yang sudah menemani Chloe. Karena tak mungkin ia menggendong dua orang, jadi ia memilih untuk menyeret tubuh pria tersebut.


Kini yang terlintas dipikirannya adalah bagaimana caranya agar dia bisa membawa sepasang remaja ini pulang dengan selamat dan kembali menyelesaikan tugasnya termasuk menyelamatkan Aoi tanpa diketahui manusia-manusia di sekitarnya.


Black Aura menghentikan langkahnya untuk sesaat. Berbalik memandang sekumpulan manusia yang masih sibuk mempertanyakan fenomena apa yang terjadi di tempat mereka?


Yah, Black Aura memang sengaja menghilangkan ingatan mereka seolah genangan darah yang mereka ciptakan itu anggaplah karena faktor alam.


"Biarlah mereka mengurusnya..." gumamnya diiringi dengan hembusan nafas lelah. Ia pun berlalu meninggalkan daerah tersebut dan mencari tempat yang kosong dan sepi untuk mereka bersembunyi.


Black Aura menengadahkan kepalanya ke atas. Memandang langit siang yang kini bersembunyi di balik awan kumulus hitam yang tak lagi sanggup menampung air matanya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, Black Aura menemukan sebuah gedung tua yang sudah tak lagi berfungsi. Ia berjalan dengan kecepatan normal memasuki bangunan tersebut.


Untuk sementara, ia melupakan kondisi mobil Chloe yang kritis dan lebih mengutamakan keselamatan dua remaja ini.


Sesampai dirinya di dalam gedung, ia hanya menemukan ruangan gedung yang berantakan tak terawat. Ia juga sadar bahwa setan sangat menyukai tempat ini. Namun, ia tak punya pilihan lain selain bersembunyi di tempat yang jarah di datangi manusia.


Beberapa perabotan seperti meja, kursi berserakan di tempat yang beragam. Teruntuk dirinya yang bukan satpam gedung ini, ia takkan menaruh rasa peduli sedikitpun pada gedung ini. Bahkan sampai dirinya kembali ke dunianya.


"Kalian berat." Sembari membaringkan tubuh Chloe di atas keramik kering yang tak terlalu kotor. Ia melakukannya dengan penuh hati-hati agar tidak ada benturan apapun yang menghancurkan mimpi indah snow white.


Merasa semuanya aman terkendali, Black Aura pun menghampiri Morgan yang masih tertidur pulas. Sepertinya, tendangan maut tersebut berhasil membunuh kesadarannya sehingga membekukan dirinya di dalam alam bawah sadarnya lebih lama.


"Kenapa Chloe membawa laki-laki lain?" pikirnya. Sedari tadi, hanya pemikiran seperti itulah yang terlintaa di benaknya.


Terus terang, Ia benci dengan kehadiran Morgan. Ia rasa, sulit sekali bergerak bebas jika ada orang lain bersama gadis ini. TAK tanggung-tanggung, Ia bahkan menyamakan pria ini dengan parasit. Saking gak sukanya.


Entah dari mana asalnya, sebuah ide muncul dari dalam kepalanya. Ide itu mendorongnya untuk melakukan sesuatu terhadap Morgan.


Black Aura melangkah dalam diam menghampiri Morgan. Lalu menarik kaki kanannya dan kembali menyeretnya. sampai ke lantai-5 sebagai tujuannya. Ia tak peduli kotoran atau becekan yang menempel di tubuh pria tersebut. Yang penting sampai saja ke tempat tujuannya.


"Tidak ada satu pun yang boleh menyentuh Chloe.." Batinnya serius. Tanpa rasa kasihan sedikitpun, ia mencampakkan Morgan ke atas meja kantor. Suara yang dihasilkan lumayan keras sehingga menghasilkan gema di setiap. lorong kantor tersebut.

__ADS_1


Masih belum cukup dengan mencampakkannya, Black Aura berkeliling sejenak mencari sesuatu yang sangat berguna untuknya. Apapun itu yang bisa ia gunakan untuk Mengerjai Morgan.


"Gak akan kubiarin dia merosak makan siang kami..." Gumamnya. Ia terus-terusan menggumam kalimat itu sampai ia menemukan lamban yang masih utuh dan baru. Isinya terlihat banyak. Tapi...


Remaja itu mengambilnya dan menelengkan kepalanya bingung. "Benda apa ini?" tanyanya. Ia berpikir apakah benda ini kegunaan yang beragam? Atau justru hanya sebaliknya.


Di sela-sela rasa bingung yang menguasai pikirannya, Black Aura kini memutuskan untuk berbaur dan mengenal lakban tersebut. Ia memutar lakban tersebut di jemarinya. Berusaha mencari kegunaan lakban tersebut sampai dirinya mrasakan ada sebuah tonjolan dari salah satu sisinya. Yap! Ia menemukan ujung lakban yang semu wujudnya.


Remaja itu terdiam. "Ini apa...?".


~


Di bawah rimbunan daun hijau yang menari-nari mengikuti alunan angin sore itu, seorang remaja perempuan duduk di bawah sana sambil memeluk sketchbooknya. Beberapa helai rambutnya berkibar terkena terpaan angin sepoi.


Sampai ketika, seseorang menghampirinya dan duduk di sampingnya. Dari segi penampilan, terlihat jelas bahwa gadis yang baru saja duduk itu adalah guru. Entahlah guru apa tetapi ia nampak jelas memiliki hubungan erat dengan gadis yang tengah memeluk sketchbooknya tersebut.


"Jangan khawatir ya, Carmine... Apapun yang kau inginkan, aku sebisa mungkin melakukannya. Karena aku tau, jika berada di posisimu yang kita minta hanyalah keadilan bukan kesabaran bukan?" Gadis berkacamata bulat itu membuka suara halusnya.


Carmine mengangguk sebagai jawabannya.


"Apapun yang kubayangkan gak akan pernah terjadi. Apapun yang kuinginkan gak pernah tercapai. Apapun obatnya gak akan pernah menyembuhkan lukaku. Kecuali... Aku mendapatkan apapun yang hilang dariku atau... Balas dendam." Carmine melanjutkan kalimatnya.


Rasa sakit di hatinya, perasaan kehilangan yang terus meremas hatinya.


Hampir kesehariannya hanya dipenuhi oleh rasa kesakitan dan kebencian. Bayangkan saja dirinya sudah 14 tahun menderita bersama keluarganya. Penderitaan tiada ujung bahkan sampai seluruh anggota keluarganya menghembuskan nafas mereka tepat di puncak penderitaan yang sebenarnya.


Carmine memegang kepalanya. Tidak kuat menahan beban pikiran yang selama ini memenuhi kepalanya. Ia merasa, sampai saat ini pun dirinya masih berada di bawah. Beratus-ratus cara ia lakukan demi berdiri di puncak dan semuanya selalu berakhir kegagalan.


Tak ingin berdiam-diam lebih lama, gadis berkacamata itu memutuskan untuk menyeruakan suaranya.


"Kita memang belum lama kenal. Tapi, aku ada di pihakmu. Aku rela menjadi kakakmu. Apapun yang terjadi, kau adalah adikku. Aku... Memang tak bisa melakukan banyak. Tapi, ada satu hal yang ingin kutunjukkan padamu. Aku yakin kau akan menyukainya. Percayalah." Gadis itu mengedipkan mata kanannya kemudian beranjak dari posisi duduknya.


Ia mengulurkan tangannya. "Semua rasa sakitmu akan terbalaskan. Hidup itu ada imbal baliknya. Ada saatnya kita dikorbankan, disakiti, dihina, dikhianati, bahkan dilupakan sekalipun. Orang-orang yang melakukan itu pasti akan mendapatkan balasan yang lebih parah dari apa yang telah kalian perjuangkan." Ungkapnya.


Suara yang lembut dan penuh perhatian itu seolah menghipnotis pikiran Carmine.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa seyakin itu? Kenapa kau berpikir kalau masa depan bisa menyembuhkan rasa sakitku? Kau tau? Aku sudah melambungkan ribuan harapan dan keinginanku. Akan tetapi, tak ada satupun yang menjadi kenyataan. TAK ADA!


"Aku... Aku menyesal jadi orang baik! Banyak kali tantangannya. Belum lagi dimanfaatin, belum lagi disakiti, belum lagi dimaki dan difitnah. Kenapa? Kenapa aku malah membiarkan mereka memasuki zona amanku? Sementara aku tau bahwa mereka jelas2 ingin memanfaatkan kebaikan kami!


"*Bayangkan saja! Kita... Dipaksa menanam pohon apel. Kita dengan susah payah merawatnya agar tidak mati terlalu cepat. Begitu menghasilkam buah yang manis dan segar... Coba kau tebak! Siapa yang menikmatinya? Mereka. Mereka yang hanya berdiam diri menonton kita dari belakang. Mereka menikmati hasilnya sementara kita mengais-ngais sampah? Kejam sekali bukan?".


Carmine terus mengutarakan kesakitannya. Ia tak kuat lagi menahan semua beban yang dirasakannya selama 14 tahun ini. Air mata yang mengalir deras itu mengotori pipinya dan merusak kecantikannya. Suaranya terdengar serak disertai nafas yang terengah-engah.


Gadis berkacamata itu prihatin dengan kondisi Carmine. Kondisi gadis ini benar-benar kacau. Ia bertanya-tanya, bagaimana bisa gadis ini hidup diantara orang-orang jahat?


Entah dari mana asalnya, sebuah ide menyangkut di kepalanya.


"Carmine... Dengarkan aku!".


Gadis itu mengangkat kepalanya sekaligus memperlihatkan tampang sedihnya.


"Dengarkan aku baik-baik, ya! Aku tidak akan menyakitimu atau membiarkan orang lain menyakitimu. Mulai sekarang, aku adalah kakakmu dan kau adalah adikku. Aku ingin kau menerimaku sebagai kakakmu. Meskipun kau tak ingin aku terlibat, aku akan terus membantumu. Aku punya banyak cara agar mereka bisa merasakan apa yang kau rasakan selama ini." Jelasnya tanpa keraguan sedikitpun.


"Jadi... Apa rencanamu?" Tanya Carmine kehabisan energi untuk berbicara.


Gadis berkacamata itu tersenyum. Ia pun menjelaskan apapun yang terlintas di benaknya. Saat itu angin malam menghampiri mereka dan menemani kedua gadis remaja itu. Meniup halus beberapa helai rambut mereka dan menyelimuti punggung mereka dengan suhu di bawah ribuan bintang yang berserakan di langit*.


~


Di pihak lain.


Black Aura masih belum kelar berurusan dengan lakban yang masih ia genggam itu. 2 jam ia habiskan demi mencari kegunaan dari lakban yang ia temukan tersebut.


Wajahnya tidak menunjukkan raut frustasi sedikitpun.


"Akhirnya..." ucapnya lega diiringi dengan seringai kecilnya. Ya! Dia berhasil menarik ujung lakban tersebut. Usahanya tak sia-sia.


Black Aura melangkah pelan sambil mempertahankan suara langkah kakinya agar tidak membangunkan pria yang masih tertidur pulas itu. Ia menarik ujung lakban tersebur sepanjang yang ia inginkan.


"Diam disini, oke...".

__ADS_1


~


__ADS_2