Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 45


__ADS_3

Min-ji berdecak sebal selama menunggu Chloe dan petugas penyelamat itu mencari ponsel gadis itu. Min-ji kerap kali melirik jam tangannya bahkan sudah ketiga belas kalinya dia melihat jam. 


“Huft! Aku lapar! Sayang, kau nggak bawa cemilan, ya?” tanyanya dengan nada yang terkesan mengancam itu.


Yo-han berpikir sejenak. “Bawa sih… Aku yakin, kau nggak akan suka.”


“Sudahlah! Berikan padaku!” paksanya dengan tangan kanan terbuka tanpa memperdulikan raut cemberut Yo-han.


Akhirnya, pria itu menyerah dan memberikan lima permen karetnya kepada Min-ji. Beruntunglah, gadis itu tidak mempermasalahkannya. Min-ji main merampas lalu, melahapnya.


Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikan gerak-gerik mereka dalam diam. Selama tidak ada yang mengajaknya berbicara, gadis itu akan terus mengamati. Terkhusus untuk Yo-han yang sangat ia curigai keberadaannya. 


Aku yakin, dia kesini untuk membunuh Chloe dan Black Aura. Tuduh Rara tak senang. Kedua pandangannya tiba-tiba teralihkan oleh suara petugas yang baru saja menghampirinya bersama dengan Chloe yang menghela nafas lega.


“Ayo, kita pulang!” ajak petugas itu.


“Ponselmu udah ketemu? Ceroboh sekali!” sungut Minji sambil menyilangkan kedua lengannya. 


Chloe tidak merespon selain memasang raut sebal. Gadis itu mengambil posisi duduk di samping Rara. “Nanti, kita lanjutkan lagi ya, makan bomboloninya!” ujarnya lalu tersenyum.


“Ah, iya!”balas Rara sambil tertawa ringan. Dibalik rautnya yang santai, Rara merasakan aura aneh pada Chloe di sampingnya. Dia keluar dari kapal dengan senyuman yang tak biasa. Seperti ada keberuntungan yang menghampirinya. Ah! Seperti baru kejatuhan uang seratus miliyar di depan rumahnya.


Ada yang aneh dengan Chloe. 


“Ra. Ngapain duduk disitu? Sini!” perintah Minji sinis. 


Rara berdecak sebal. Semakin hari, kakaknya semakin menyebalkan di matanya. Tapi anehnya, Chloe tidak mendengarkan perkataan Minji dan malah mengelus-elus sisi ponselnya. Rara membeku ketakutan. Dikiranya, Chloe kerasukan roh penunggu kapal persiar itu. Dilihat dari tingkahnya.


“Chloe? Kau kenapa?”


“Nggak kok. Aku baik-baik aja! Kalau kau mau duduk di samping dia, silahkan! Aku nggak keberatan kok!” ucapnya masih mempertahankan senyumannya.


Bulu kuduknya meremang menanggapi senyuman itu. “Be-benaran?”


Chloe mengangguk sekali. “Yup! Lagi pula, kau ‘kan’ adiknya. Manfaatkan waktu kebersamaan kalian, ya! Dan lagi, umur juga nggak ada yang tahu.” Kali ini, ia membuka kedua mata birunya. Senyumannya berubah menjadi menyeramkan dan dingin. 


Rara terkesiap melihatnya. Seumur hidupnya, Chloe tidak pernah sedingin ini. Dia! Kesurupan!


Tanpa pikir panjang, Rara segera beranjak dari kursinya. Berjalan menahan rasa takut. Kemudian, duduk di samping Minji. Padahal, cuaca hari ini sangat menenangkan dan cerah walau musim dingin. AKan tetapi, melihat raut sahabatnya yang tak biasa, semua yang ia anggap menenangkan dan indah itu menjadi buram seketika.


Rara terjebak dalam pikirannya. Ada dua pilihan menurutnya. Membiarkan Chloe bertingkah aneh atau memberitahu Minji tapi, ada dua kemungkinan yang dia hadapi. Minji akan mengabaikan Chloe atau dia turun tangan namun, dengan cara lain. Di lihat dari senapan AWM Min-ji yang masih ia genggam itu. Samar tapi cukup jelas. Min-ji memiliki keinginan untuk menghabisi Chloe. 


Kak Min-ji orang yang protektif. Dia akan melakukan apapun agar tidak ada satupun yang berani merebutku darinya. Dia bahkan… Nggak ragu-ragu menghajar orang.


Dalam istilah jepang, Rara menyebut Minji sebagai gadis yandere. Pada dasarnya, Min-ji bukan lesbian. Dia menjadikan Rara sebagai adiknya karena, hanya Rara seorang yang bisa meluluhkan amarahnya. Hanya Rara saja yang mau mendengarkan cerita uniknya yang belum tentu semua orang suka. Boro-boro suka, tahu aja tidak. 


“Ada apa, ra?” Yo-han buka suara. Dia menyadari gerak-gerik aneh dari Rara. 


Rara menatapnya cemas. Dia ingin mengatakan yang sebenarnya. Sayangnya, keinginan itu ia tunda karena rasa curiganya di awal. 


“Aku haus.” Rara bohong.


Yo-han terbelalak singkat dan malah tertawa geli. “Astaga… Min-ji! Adikmu unik, ya!”


“Tentu saja! Makanya, adik sepertinya itu langka dan harus dijaga dengan baik sifatnya.” Balas Min-ji melirik singkat pada Chloe kemudian, kembali pada Yo-han.


Lama-lama, mereka bertiga terlibat dalam perbincangan santai yang Yo-han ciptakan. Tanpa menyadari seorang gadis yang tadinya menggenggam ponselnya kini menjadi pisau. 


~


"Black Aura!" Seru Chloe senang. Namun, kesenangan tersebut justru berubah menjadi kekhawatiran. Chloe dengan jelas melihat Black Aura yang tak pernah lepas dari luka. Buru-buru, gadis itu segera menahan Black Aura yang nyaris saja terjatuh dan menghantam lantai kapal yang kotor itu.


"Kenapa bisa begini? Siapa yang melawanmu?"


"Entahlah. Wajahnya samar. Hmmm... Syukurlah, kau nggak kenapa-kenapa." Jawab Black Aura lega.


"Jangan khawatirkan, aku! Aku minta maaf kalau aku benar-benar menyusahkanmu." Chloe langsung menyela menyadari dirinya bersalah.

__ADS_1


"Kau masih bisa berteleportasi?" tanya Chloe yang sebenarnya merutuki dirinya sendiri karena masih saja meminta bantuan Black Aura. Aura ini sedang terluka dan cuma dia satu-satunya yang memiliki kemampuan teleportasi. Astaga... Apa-apaan diriku?!


Ketika Black Aura hendak menjawab, Chloe dengan cepat menyelanya.


"Ng-nggak jadi... Kita sebaiknya tunggu disini."


"Oke."


Chloe melirik ke kanan dan kiri. Lorong kapal ini sangat menyeramkan menjelang sore. Ditambah lagi, ada sebuah pertanyaan yang terlintas di kepala Chloe tentang siapa yang membawa mereka ke kapal dan apakah Yuuki yang baru saja melawan Black Aura adalah Yo-han yang sebelumnya membangunkan dirinya?


Membingungkan!


"Black Aura. Sebenarnya apa yang terjadi sebelumnya? Dimana kita saat itu?"


Black Aura menoleh pada Chloe lalu berpikir. "Kau terakhir kali bersamaku di cafe sebelum akhirnya kau bertemu dengan Rara. Selebihnya aku lupa."


"Apa jangan-jangan, yang kita alami ini adalah mimpi dan kita yang sebenarnya sedang tertidur di dalam cafe?" Chloe mulai menebak yang aneh-aneh.


"Tampar aku." Pinta Black Aura tanpa pikir panjang.


Chloe langsung menamparnya.


Plak!


"Bukan mimpi." Ujar Black Aura datar.


"Yah! Enaknya mimpi... Eh? Apa?!"


Sontak, Black Aura berdiri saat gadis itu berteriak kaget.


"Hmm? 'Apa' kenapa?!" tanyanya panik.


“Ki-kita ditinggal??” pekik Chloe yang baru saja memandang suasana luar dibalik jendela.


Ia tersungkur ke lantai. Ia tidak percaya dengan kenyataan dimana ada sosok gadis yang berpenampilan seperti dirinya duduk bersantai di kapal tim SAR itu. 


“Kita ditinggal?”


“Iya!!! Dan lagi! Disana ada perempuan yang menyamar jadi aku! Chloe!” teriak Chloe kesal.


Black Aura terkekeh melihat tingkah Chloe yang mudah sekali terserang panik. Lantas, Aura itu segera menghampirinya dan mengangkat gadis itu untuk berdiri. 


“Lantai ini kotor.” Katanya sembari mengangkat Chloe yang lemas.


“Lupakan! Ah, bagaimana ini?! Aku... Kita jadi… Kita harus apa?!”


“Jangan panik. Akan kupikirkan."


“Huft… Aku jadi terlalu banyak bergantung padamu. Bukannya membantu, malah menyusahkan.” Ungkap Chloe sembari mengatur posisi duduknya. Kemudian, ia menatap Black Aura yang masih berdiri.


“Terus terang, aku suka dengan Aura sepertimu. Setiap kali melihatmu, Devil Mask, Yumizuka… Aku jadi pengen terus main sama kalian.” Ujarnya.


Entah apa yang terlintas di benaknya, Tiba-tiba, ia membahas yang lain.


Merasa gadis itu ingin bercerita, Black Aura akhirnya mengambil posisi duduk bersebelahan dengan gadis itu. 


“Aku terlalu kekanak-kanakkan. Sudah setua ini masih aja memikirkan sahabat yang dicuri. Yah, aku masih nggak terima dengan sisa terakhir SMP-ku.”


Black Aura mengangguk kecil.


Chloe mendengus, "Maaf ya, mengoceh nggak jelas. Aku cuma ingin meluapkan emosi ini tapi, aku takut caranya salah. Aku ini takut dipenjara, mati, dan kehilangan suatu yang berharga. Aku pernah kehilangan sekali dan rasanya menyakitkan."


“Apa itu?” tanya Black Aura.


Chloe mengangguk dengan wajah heran. “Kakaku. Dia tewas karena kecelakaan. Dia kehabisan banyak darah. Sejak saat itu, aku jadi takut melihat darah. Melihat darah segar bisa membuatku menangis. Rasanya leherku terasa dicekik.


"Kalau mendengar berita tentang pembunuhan, para napi yang ditahan di penjara, bulu kudukku berdiri. Bahkan, melihat luka goresan saja, aku nggak sanggup. Jadinya, aku terkesan memiliki ketakutan terdalam terhadap darah. 

__ADS_1


“Makanya, aku selalu berhati-hati dalam menjalani rutinitasku sehari-hari. Bisa dibilang, demi melindungiku dari rasa sakit.” Ungkap Chloe lalu menatap Black Aura. Ia sempat tersenyum miris.


“Saking nggak maunya merasakan sakit, aku jadi nggak mau mencari masalah. Jika ada sesuatu yang hilang dariku, aku pasti merasakan sakit. Aku sadar kalau berteman itu nggak selamanya mulus. Aku memilih untuk diam saat cek-cok dengan Min-ji. Membiarkan dia melakukan apapun agar aku tidak terlibat masalah dengannya. Itu karena, aku paling nggak suka mencari masalah. Aku jadi nggak bisa tidur hanya karena itu.”


Black Aura berpikir, “Aku jadi ingat saat kau kehilangan Aoi…”


“Hush! Diam! Kau membuatku malu, tahu!” Chloe mencela menahan rona merah di wajahnya.


Black Aura heran. Memilih untuk diam. Ia menebak, gadis itu akan bertingkah aneh setelah ia membahas tentang hilangnya Aoi. 


“Oh, ya! Entah kapan, aku bermimpi bertemu dengan Carmine lagi.”


“Lagi?”


Chloe mengangguk pelan usai mendapat respon dari Aura itu. “Dia bilang, aku harus membunuh Yuuki dan melindungi kakaknya. Dia juga bilang kalau kau adalah anggota keluarganya. Aku jadi penasaran, Carmine itu berperan sebagai apa terhadapmu?”


“Aku nggak tahu pasti hubunganku dengannya. Sejauh ini, aku hanya bertugas melindunginya. Dia memiliki perasaan yang kuat tapi, kesannya sangat negative. Aku dulu nggak punya perasaan. Tapi, aku bisa merasakan rasa sakit yang ditanggungnya seperti gunung.


"Ia menahan dirinya yang jahat dengan menjadi perempuan yang periang. Tapi, seiring berjalannya waktu, justru malah membuatnya semakin sakit. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengumpulkan semua rasa sakit itu dan… Menumpahkannya pada orang yang telah membuatnya sakit. 


“Aku nggak pernah mau tahu masalah apa yang dia alami. Saat itu, aku hanya membunuh Aura-aura yang berusaha mengganggu Carmine dan Midnight. Bagaimanapun rasa sakit mereka, setidaknya mereka masih memiliki kasih sayang. Midnight seperti seorang ibu bagi kami. Sekali lagi. Karena kami nggak punya perasaan dulu, kami jadi nggak tahu bagaimana kasih sayang itu.” Jelas Black Aura.


Tumben ia mau bercerita panjang dengan hati yang tenang. Tunggu dulu! Memangnya dia punya hati?


“Aku penasaran dengan Midnight. Dia itu memang benar manusia?” Chloe mengalihkan penasarannya pada Midnight.


“Yep!”


“Apa dia punya nama asli? Berapa usianya? Apa dia sudah menikah?”


“Dia punya nama asli. Tapi, dia memilih untuk menyembunyikannya. Usianya terakhir kali 27 tahun. Dia jatuh cinta dan menikah dengan Megawave yang merupakan guru di sekolah di Carnater. Hmm… Aku baru tahu kalau dulunya Carnater memiliki bangunan yang disebut sekolah.” Kata Black Aura sambil berpikir.


Terus terang, nama Midnight memang membuat Chloe penasaran sejak awal. Dibayangan Chloe, wanita itu berkacamata bulat dan berambut biru malam. Kalau dipikir-pikir, wanita itu tampaknya memiliki hubungan dengan malam. 


“Midnight itu… Wanita malam?” tanya Chloe ragu.


Black Aura tidak mengerti. Oleh karena itulah, dia menaikkan alisnya sebelah. “Wanita… Malam? Apa maksudmu?”


“Oh, baguslah kau nggak ngerti. Aku heran dengan ibumu. Bagaimana bisa dia menikahi makhluk yang jelas-jelas berasal dari luar bumi. Padahal itu terdengar mustahil untuk dipercaya.”


“Kau akan mengerti kalau bertemu dengannya. Yang kutahu, ibuku orang yang paling sering tersenyum. Walaupun kami ini Aura yang berbahaya, dia menganggap kami sebagai anaknya. Dia selalu membawakan kue lembut (bolu) dari dunia ini.


"Membagikannya dengan kami dan makan bersama. Aku jadi merasa bahwa, kita ini nggak jauh amat. Kau dan aku. Kita terlihat sama namun berbeda untuk beberapa hal.” Black Aura terdiam sejenak. Lalu tersenyum.


“Kau udah mahir tersenyum, ya! Aku senang dengan perkembanganmu.” Puji Chloe.


Kalau dipikir-pikir, Midnight yang manusia saja bisa jatuh cinta dan menikah dengan makhluk Canater. Secara otomatis, mereka bisa menciptakan sebuah keluarga yang harmonis meskipun berbeda spesies.


“Hey, aku bisa membaca pikiranmu,” celetuk Black Aura mengagetkan gadis itu.


“Curang!” serunya langsung melipatkan kedua lengannya ngambek. Gadis itu juga membuang mukanya.


Melihat tingkahnya, Black Aura terkekeh geli. Ia meletakkan tangannya di atas pundak Chloe. Lalu, membalikkan posisi duduk gadis itu agar menghadap padanya. 


“Kau sensitif, ya! Jujur saja... Aku paling nggak suka mengurus perempuan yang lagi ngambek.” Ujarnya.


“Bodoh! Ini privasi perempuan dan kau seenaknya membacanya!” gerutu Chloe yang masih mengambek. Entah itu dibuat-buat atau memang pada dasarnya ia sedang mengambek.


“Yah, Kemampuanku ini otomatis.” Black Aura memasangkan sisa ujung jari kanannya dengan ujung jari kanan Chloe yang baru saja terkulai.


Kemudian, mengangkat tangannya dan tangan gadis itu ke atas. Perlahan, ia memasukkan dua jarinya ke sela-sela jari Chloe. 


Kembali pada Chloe, jantungnya berdebar-debar melihat tangannya yang bersentuhan dengan tangan Black Aura langsung. Biasanya, tangan Aura itu kesannya selalu dingin. Namun kali ini berbeda. Chloe bisa merasakan kehangatan dalam dadanya. 


"Apa maksudmu?"


Disertai senyuman, Black Aura berkata. “Tak peduli apapun yang menimpaku, dirimu, nyawamu, waktumu dan senyummu adalah prioritas utamaku."

__ADS_1


~


__ADS_2