
Tidak ada perubahan signifikan dari hutan yang menjadi tempatnya bertemu dengan Chloe untuk pertama kalinya. Semuanya sama. Bahkan tidak terlihat terlihat sedikitpun jejak kaki manusia ataupun jumlah pohon yang berkurang. Tidak ada aktivitas negatif seperti menebang pohon disana. Yang ada hanyalah kenangan membekas disetiap batang pohon, rumput-rumput kecil, dan salju yang sudah mencair.
Dalam diam, pikiran yang kosong namun tujuan hanya satu, Black Aura melangkah sambil menyeret tubuh Ghostwave. Meskipun sepatunya menginjak daun-daun kering di tanah, tapi tidak terdengar sedikitpun suara daun-daun itu tertekuk. Seolah suasana hutan saat ini berpihak kepada Aura itu. Seolah suasana itu merindukan sosok yang telah mengukir kenangan manis disana. Seolah suasana itu menginginkan dan memberikan ruang dan waktu untuk Aura itu melakukan sesuatu yang dia inginkan.
Black Aura melangkah cepat menuju area yang dia rasa sangat aman untuknya menghabisi Ghostwave.
Black Aura berhenti tepat di area dimana terdapat lima pohon yang berdiri mengelilinginya, tempat dimana dia mengadakan ritual secara diam-diam untuk menjadikan arwah musuhnya menjadi bagian dari kekuatannya.
Tidak ada yang tahu ritual Black Aura ini. Bahkan Chloe dan teman-temannya sekalipun. Yang tahu hanyalah Midnight dan anggota kelompoknya.
Meskipun dunia ini bukanlah dunianya, Black Aura mendapatkan izin dari hutan itu untuk melakukan ritual tersebut.
Black Aura melempar Ghostwave yang sudah tak lagi bernyawa. Kemudian, dia menyiapkan beberapa bahan demi kelancaran ritualnya seperti menusuk lima pedangnya hingga membentuk lingkaran, kemudian menggores tangannya dan membiarkan darahnya membasahi wajah Ghostwave, dan terakhir mantra.
Merasa persiapan ritualnya sudah lengkap, Aura itu tanpa pikir panjang menjalankannya. Ditengah fokusnya dia membaca mantra, pikirannya kembali memainkan ingatan masa lalu. Jauh sebelum dirinya bertemu dengan Chloe. Jauh sebelum dirinya terjebak di dunia ini. Bahkan jauh sebelum perang antara Legend Aura dengan Megaville, kelompoknya.
"*Midnight, kau sampai kapanpun bakal terus jadi kakakku, kan?"
Ketika berjalan, Black Aura tidak sengaja melewati pintu kamar Carmine. Tidak sengaja juga dia mendengar percakapan kecil antara Midnight dan Carmine saat itu.
Cepat-cepat, Black Aura langsung menghentikan langkahnya dan menempelkan telinganya di dinding. Dia sudah memperkirakan posisinya agar lebih aman dan tidak diketahui oleh kedua perempuan itu.
"Midnight, kok nggak jawab?" tanya Carmine sekali lagi. Wajah gadis itu polos. Terlihat tak berdosa meskipun di dalam dirinya dia menyimpan segunung dendam terhadap keluarganya.
__ADS_1
Midnight langsung terbangun dari lamunannya. Wanita itu menggeleng kecil kepalanya dan merespon pertanyaan adik angkatnya.
"Kenapa Carmine tiba-tiba nanya gitu?"
"Hmm... Perasaanku nggak enak."
"Nggak enak kenapa?"
"Nggak enak gara-gara Yuuki. Aku yakin, Yuuki sampai saat ini masih mengincarmu, kan? Aku takut juga kalau Yuuki udah berubah terus kau malah jadi suka sama..." Suara kecil Carmine serta kekhawatirannya langsung ditepis oleh tolakan tegas dari Midnight.
"NGGAK! Nggak bakal. Sampai kapanpun bahkan sampai usiaku menua pun, aku nggak bakal tertarik dengan laki-laki lain. Hatiku seluruh perasaanku, sepenuhnya hanya untuk Meg dan Carmine. Karena itu, Carmine jangan berpikiran seperti itu ya!" balas Midnight dengan nada bicara yang sangat lembut. Bahkan lebih lembut dari sutra.
Mendengar perkataan Midnight tersebut, senyuman lebar dengan cepat terukir di wajah gadis SMA tersebut. kekhawatirannya seketika menghilang. Semua bayang-bayang mengerikan itu perlahan-lahan terkikis oleh kelembutan dan kasih sayang kakaknya.
Midnight.
Kemudian, mereka berdua berpelukan. Masing-masing membagikan kasih sayang mereka dan duka yang pernah menyakiti hati juga kehidupan mereka.
Black Aura yang tadinya menguping, kini mengundurkan niatnya untuk mendengar lebih lanjut percakapan kecil antara kakak dan adik tersebut. Aura itu kembali pada aktivitasnya mengamati Carnater. Berjalan menuju gerbang disertai senyuman kecil di bibirnya.
Perkataan Midnight tadi... adalah tulus.
Black Aura bisa merasakannya karena dia merupakan bagian dari perasaan Carmine. Aura sepertinya yang dikenal tidak memiliki hati, mendadak merasa terpukul. Aura sepertinya yang jarang mengeluarkan air mata, mendadak ingin menumpahkan semua kesedihannya.
__ADS_1
Tidak hanya Black Aura, perasaan Carmine yang lain seperri Devil Mask, Yumi, Captain, Live party juga ingin menangis. Di tempat yang jauh dari jangkauan Midnight dan Carmine saat itu*.
~
Setelah menarik nafas, Black Aura akhirnya mulai menjalankan ritualnya hingga lima belas menit kemudian, ritualnya itupun usai. Muncul cahaya merah dari lingkaran yang digambar oleh darahnya. Lalu, cahaya itu masuk ke dalam tubuh Ghostwave.
Layaknya kawah gunung yang panas, tubuh Ghostwave dibakar oleh cahaya itu. Proses pembakarannya membutuhkan kira-kira lima belas menit. Mulai dari bagian kaki hingga kepalanya. Semuanya dibakar hingga menghilang--berubah menjadi arwah yang kemudian menyatu dengan Black Aura.
Ritual ini Black Aura lakukan selain untuk melenyapkan musuhnya juga untuk mengubah kembali spesiesnya menjadi Aura. Dia masih ingat. Bahkan jauh sebelum insiden Legend Aura ini terjadi, dia membuat ritual sendiri sebagai antisipasi jika terjadi sesuatu yang buruk menimpanya.
Mengingat saat kemarin dirinya yang mengalami patah tulang di kaki, rasa sakit karena cemburu, dan kemampuan bertarungnya yang semakin berkurang. Bukannya ingin mengecewakan Chloe, tapi demi mempertahankan kehidupannya agar dirinya bisa terus bersama Chloe.
Saat membuat ritual, Midnight sempat mengawasinya dari kejauhan. Wanita itu tidak berkomentar apa-apa selain tersenyum melihat Black Aura melakukan yang dia suka.
Setelah Black Aura menyusun langkah-langkah ritualnya, barulah Midnight menghampiri Black Aura dan mengatakan bahwa dirinya setuju. Kemudian, menyuruh Black Aura untuk merahasiakan ritual itu dari orang lain termasuk orang terdekatnya sekalipun.
Black Aura menghela pelan usai menghapus sapuan darah di rumput dengan kemampuannya menghisap darah.
Sampai ritualnya selesai, tidak ada hal mencurigakan di sekitarnya. Meskipun demikitan, Black Aura tetap melirik ke kiri dan kanannya cuma mau memastikan tidak ada seorangpun yang mengikutinya.
"Aman."
Baru akan berbalik, pendengarannya menangkap suara langkah kaki seseorang dari arah belakang. Instingnya mengatakan, jarak jejak itu lumayan jauh dari tempatnya berdiri. Akan tetapi, tekanan dari sepatunya menjelaskan bahwa orang tersebut hendak berjalan ke tempat dirinya berada.
__ADS_1
Raut wajanya seketika menjadi serius. Rasa tidak aman dengan cepat menyerangnya. Seolah memaksa Aura itu untuk langsung menghabisi orang tersebut.
Black Aura melompat ke dahan pohon tertinggi. Lalu, meloncat dari pohon satu ke pohon lainnya tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Bahkan daun yang tangkainya sudah lemah itu masih bisa bertahan di batangnya demi melindungi keberadaan Black Aura dari orang misterius tersebut.