Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 87 {Season 2}


__ADS_3

Black Aura duduk


menyandar di pohon besar yang kesepian tanpa ditemani ribuan helai daunnya.


Padahal sudah setengah menit lebih mereka mengelilingi kastil Asoka, tapi tidak


ditemukan satupun jejak kaki manusia yang melintasi area berbahaya tersebut. Wajar


saja, sebab area tersebut adalah area berbahaya. Orang manapun pasti tidak mau


mengambil resiko kehilangan nyawa meskipun sebagian memiliki rasa penasaran


yang tinggi dan bisa saja nekat melewati area kastil Asoka itu.


Black Aura menghela


nafasnya singkat. Bagi Black Aura justru lebih nyaman tinggal di bumi ketimbang


di Carnater. Sebab, di bumi Black Aura tidak merasa kesepian. Tapi yah… Dia


masih perlu beberapa waktu untuk berbaur dengan lingkungan yang ramai dan


berisik itu. Belum lagi dengan manusia-manusia yang menempati dunia tersebut.


Jelas sekaligus fakta bahwa mereka semua memiliki sifat yang beragam. Salah


satunya Chloe.


Sampai detik ini pun


Black Aura masih sulit melupakan wajah serta senyuman Chloe. Gadis itu terlalu


membekas diingatannya. Sampai-sampai, menjadi hambatan baginya ketika bertarung


melawan Aura-aura tanpa nama di dunianya. Dibilang kangen, Black Aura merasa


biasa saja. Dibilang tidak kangen, bayang-bayang wajah Chloe selalu saja memenuhi


benaknya. Lantas, apa maksudnya itu?


Di saat tertentu, Black


Aura merasa frustasi dengan dirinya. Dia kira, dunia Carnater ini bisa


menghilangkan seluruh perasaannya terhadap Chloe. Karena terus terang, memiliki


perasaan itu tidak menyenangkan. Perasaan itu sudah menjadi bagian dari dirinya


dan kapan saja bisa menyulitkannya saat bergerak. Contohnya saat bertarung. Sejak


memiliki perasaan, pedang yang biasanya dia layangkan tanpa halangan dijeda


oleh keraguannya. Hal itu membuat Black Aura bimbang antara mau membunuh


lawannya atau tidak. Ujung-ujung, Black Aura-lah yang pada akhirnya mengalami


cedera yang cukup parah dari serangan musuh.


Meski sesama spesies,


spesies Aura jenis baru-baru ini sangat berbeda dari sebelumnya. Aura yang


dibuat Legend Aura ini memiliki kekuatan yang bisa dibilang asalnya dari


perasaan stress dan depresi manusia. Tertekan juga yang menjadi kekuatan


tambahan para Aura tanpa nama itu. Serangan mereka lumayan mematikan. Walau


sejauh ini, Black Aura bisa mengatasi mereka semua dalam kurun waktu dua bulan


menggunakan kekuatan terlarang yang pernah ia gunakan untuk melawan Legend Aura


yang bernama Yui itu.


Tak hanya perasaan,


Black Aura mulai menyadari ada hal yang tidak biasa di dalam dirinya.


Dia mulai ingat sedikit


tentang masa lalunya, hubungannya dengan Midnight, Carmine, dan juga


kekuatan-kekuatan yang ia miliki.


Black Aura sadar, kekuatannya


adalah memanipulasi rasa sakit. Tapi, jika dipahami lebih dalam lagi maksudnya,


kekuatan itu memiliki sebuah arti yang mana dirinya sebenarnya tidak suka


disakiti. Dilihat dari beberapa serangan yang ia layangkan pada Legend Aura. Kemampuan


memindahkan rasa sakit salah satunya. Kemampuan itu bisa diartikan, sejak awal


Black Aura tidak suka disakiti. Black Aura cenderung langsung membalas jika ada


orang yang menyakitinya. Kemampuan itu bisa juga dikaitkan dengan perasaan


ingin dendam,


Black Aura sadar, ada


sebagian dalam dirinya yang berkaitan dengan sifat Carmine yang sangat benci


melihat orang-orang di sekitarnya disakiti. Bahkan termasuk dirinya sekalipun.

__ADS_1


Gadis itu cenderung diam, tapi pikirannya penuh akan taktik yang akan dia


gunakan untuk membalas orang yang telah menyakitinya.


Di menit selanjutnya, Aura itu diam. Devil Mask dan Yumi juga terlintas di benaknya. Captain


juga. Ketiga Aura itu memiliki kemampuan yang berhubungan dengan pikiran


negative manusia. Black Aura juga ingat dengan Live Party, dan si saudara


kembar, api dan es itu. Sayangnya, ketiga Aura itu sudah lama tewas dibunuh


Dark Fire. Yah, bagaimana tidak tewas? Pasalnya, Live Party dan si saudara


kembar itu memiliki penampilan seperti anak kecil. Otomatis, jika dihitung


menggunakan tinggi badan di bumi, maka usia mereka sekitaran enam sampai


sepuluh tahun. anak kecil melawan orang dewasa, ya, matilah!


 “Oi, Aura!” panggil Captain memecahkan lamunan


Black Aura meski dengan jarak yang lumayan jauh darinya.


Black Aura menoleh,


lalu meyipitkan matanya kearah gadis yang berlari ke arahnya. Captain terlihat


seperti membawa sesuatu.


“Kau bawa apa?”


“Ini… Mangkok bekas


makan mie sama…” Captain melempar beberapa lembar kertas bertuliskan tangan


manusia. “Aku menemukan ini di kebun strawberry Asoka. Kertasnya kelihatan


sudah lama tapi tintanya masih baru.” Jelas Captain.


Black Aura


membolak-balikkan kertas tersebut penasaran. Kertas itu ada dua lembar. Lembar


pertama kosong. Lembar yang kedua terdapat serangkaian kalimat yang dituliskan


rapi.


“Sebentar, kubaca.”


Captain mengangguk.


Untuk


Nge-vlog di


sini enak banget!!


“Hah?” Black Aura terngaga


tak percaya.


“Kenapa, Aura?”


“Apaan nge-vlog?” tanya


Black Aura sambil mengusap beberapa kali tengkuknya. Astaga, istilah apa lagi


ini? Entah Chloe, Aoi, Jacqueline, bahkan manusia yang tersesat di Carnater pun


sempat-sempatnya membuatnya bingung.


Black Aura menyerah.


Tanpa bicara, Aura itu menyerahkan kertas tersebut pada Captain, mana tahu Aura


itu tahu arti “Nge-vlog”


Tak jauh beda dengan


Black Aura, Captain mengeryitkan keningnya bingung. Aura itu terlihat sedang berpikir


meski kenyataannya dia memang tidak tahu apapun arti dari “nge-vlog” itu.


“Tau, ah! Pusing!”


gerutunya kesal, kemudian membuang asal kertas tersebut.


“Jangan dibuang.” Seru


Black Aura reflex menangkap kertas yang melayang tak seimbang itu. “Bagaimana


kalau kita hubungi saja ibu? Mana tahu dia paham maksud kata-kata ‘nge-vlog’


ini.” usul Black Aura.


“Terserahlah… Huft!


Kalau nggak ada Yumi, rasanya bosan.” Keluh Captain kehabisan ide. Aura itu


hanya tidak menyangka tugas yang Midnight berikan akan sesulit ini. Belum lagi


dengan rencana Legende Aura yang hingga saat ini masih samar untuk diketahui.


Terus-menerus

__ADS_1


memikirkan itu membuat Captain frustasi. Yah, maklum saja. Captain ini


perempuan. Dia tidak begitu suka hal-hal yang ribet. Captain ingin sekali


hal-hal yang ribet itu diatasi oleh Black Aura atau nggak Devil Mask. Tidak


sepatutnya perempuan seperti dirinya melakukan pekerjaan yang berat. Kalau


diingat lagi, Yumi yang saat ini tinggal di bumi kelihatannya baik-baik saja.


Santai seperti sungai yang mengalir deras.


Iri mendadak jadinya.


“Aura… Aku capek.”


Black Aura menelengkan


kepalanya heran. Tiba-tiba saja Captain berbicara dengan nada yang terkesan


memelas itu. Black Aura berdeca sebal. Langsung saja dia tanya daripada


dibiarkan diam di sampingnya. Jujur saja, Black Aura terkadang merasa jengkel


dengan kelakuan Captain yang seenak mood-nya sendiri.


“Terus?”


“Misi ini biar kau yang


urus ya! Sumpah! Capek banget!” ujar Captain tambah memelas. Kali ini ditambah


dengan wajah imutnya yang sengaja ia perlihatkan demi menarik perhatian Black


Aura padanya. Sayang, Black Aura bukan type yang perhatian. Aura sepertinya


cenderung mengabaikan sesuatu yang menurutnya tidak penting untuk diselesaikan.


“Terserah. Tapi, kalau


ada apa-apa, kau urus sendiri. Jangan panggil namaku tiga kali!” tegasnya.


“Kejam ah! Emang kaga


punya hati nih orang!” kesal Captain, berlalu begitu saja. Langkah kakinya yang


semula berat berubah menjadi ringan seiring perasaannya yang mulai membaik.


Setelah memastikan


jarak antara dirinya dengan Captain jauh, barulah Black Aura melanjutkan


misinya lagi. sejauh ini, dia belum menemukan Aura-aura yang melintasi area


kastil Asoka. Dan juga, dari menara Asoka, jendelanya selalu tampil tertutup.


Kastil itu seperti tidak ada nyawanya.


Black Aura menyipitkan


matanya ke jendela menara itu. Dia tahu kalau dibalik jendela itu, sang pemilik


kastil tengah memperhatikan gerak-geriknya saat ini. Black Aura masih ingat


dengan pemilik kastil tersebut. Dia gadis muda itu memiliki nama belakang


‘Asoka’. Dia orang yang sangat tertekan. Baik di dunia nyata maupun di dunia


lain. Warga setempat sering memanggilnya dengan sebutan, “Lady Asoka”


Menurut Black Aura,


namanya terdengar indah dan enak dibaca.


Kalau tidak salah


ingat,  memiliki makna tersendiri. Dalam


bahasa jawa, Asoka berarti terbebas dari kesedihan. Sedangkan kenyataan yang


Black Aura dapat, gadis muda itu selalu tampil dengan garis melengkung ke bawah


di wajahnya. Black Aura masih ingat factor-faktor yang menyebabkan Lady Asoka


dan dirinya di dunia nyata itu sulit sekali tersenyum. Itu karena…


“KYAAAAAAAAAAAAAA!!!”


Black Aura tersentak


kaget oleh suara teriakan cempreng milik seseorang yang terdengar dari


belakang. Suara itu sangat familiar bagi Black Aura. Teriakan seorang pria yang


terdengar cempreng. Seperti sedang dikejar-kejar sesuatu.


“Tunggu dulu!


Jangan-jangan…”


Tanpa menunggu waktu


lama, Black Aura berlari ke sumber teriakan cempreng itu muncul.


~

__ADS_1


__ADS_2