
Black Aura duduk
menyandar di pohon besar yang kesepian tanpa ditemani ribuan helai daunnya.
Padahal sudah setengah menit lebih mereka mengelilingi kastil Asoka, tapi tidak
ditemukan satupun jejak kaki manusia yang melintasi area berbahaya tersebut. Wajar
saja, sebab area tersebut adalah area berbahaya. Orang manapun pasti tidak mau
mengambil resiko kehilangan nyawa meskipun sebagian memiliki rasa penasaran
yang tinggi dan bisa saja nekat melewati area kastil Asoka itu.
Black Aura menghela
nafasnya singkat. Bagi Black Aura justru lebih nyaman tinggal di bumi ketimbang
di Carnater. Sebab, di bumi Black Aura tidak merasa kesepian. Tapi yah… Dia
masih perlu beberapa waktu untuk berbaur dengan lingkungan yang ramai dan
berisik itu. Belum lagi dengan manusia-manusia yang menempati dunia tersebut.
Jelas sekaligus fakta bahwa mereka semua memiliki sifat yang beragam. Salah
satunya Chloe.
Sampai detik ini pun
Black Aura masih sulit melupakan wajah serta senyuman Chloe. Gadis itu terlalu
membekas diingatannya. Sampai-sampai, menjadi hambatan baginya ketika bertarung
melawan Aura-aura tanpa nama di dunianya. Dibilang kangen, Black Aura merasa
biasa saja. Dibilang tidak kangen, bayang-bayang wajah Chloe selalu saja memenuhi
benaknya. Lantas, apa maksudnya itu?
Di saat tertentu, Black
Aura merasa frustasi dengan dirinya. Dia kira, dunia Carnater ini bisa
menghilangkan seluruh perasaannya terhadap Chloe. Karena terus terang, memiliki
perasaan itu tidak menyenangkan. Perasaan itu sudah menjadi bagian dari dirinya
dan kapan saja bisa menyulitkannya saat bergerak. Contohnya saat bertarung. Sejak
memiliki perasaan, pedang yang biasanya dia layangkan tanpa halangan dijeda
oleh keraguannya. Hal itu membuat Black Aura bimbang antara mau membunuh
lawannya atau tidak. Ujung-ujung, Black Aura-lah yang pada akhirnya mengalami
cedera yang cukup parah dari serangan musuh.
Meski sesama spesies,
spesies Aura jenis baru-baru ini sangat berbeda dari sebelumnya. Aura yang
dibuat Legend Aura ini memiliki kekuatan yang bisa dibilang asalnya dari
perasaan stress dan depresi manusia. Tertekan juga yang menjadi kekuatan
tambahan para Aura tanpa nama itu. Serangan mereka lumayan mematikan. Walau
sejauh ini, Black Aura bisa mengatasi mereka semua dalam kurun waktu dua bulan
menggunakan kekuatan terlarang yang pernah ia gunakan untuk melawan Legend Aura
yang bernama Yui itu.
Tak hanya perasaan,
Black Aura mulai menyadari ada hal yang tidak biasa di dalam dirinya.
Dia mulai ingat sedikit
tentang masa lalunya, hubungannya dengan Midnight, Carmine, dan juga
kekuatan-kekuatan yang ia miliki.
Black Aura sadar, kekuatannya
adalah memanipulasi rasa sakit. Tapi, jika dipahami lebih dalam lagi maksudnya,
kekuatan itu memiliki sebuah arti yang mana dirinya sebenarnya tidak suka
disakiti. Dilihat dari beberapa serangan yang ia layangkan pada Legend Aura. Kemampuan
memindahkan rasa sakit salah satunya. Kemampuan itu bisa diartikan, sejak awal
Black Aura tidak suka disakiti. Black Aura cenderung langsung membalas jika ada
orang yang menyakitinya. Kemampuan itu bisa juga dikaitkan dengan perasaan
ingin dendam,
Black Aura sadar, ada
sebagian dalam dirinya yang berkaitan dengan sifat Carmine yang sangat benci
melihat orang-orang di sekitarnya disakiti. Bahkan termasuk dirinya sekalipun.
__ADS_1
Gadis itu cenderung diam, tapi pikirannya penuh akan taktik yang akan dia
gunakan untuk membalas orang yang telah menyakitinya.
Di menit selanjutnya, Aura itu diam. Devil Mask dan Yumi juga terlintas di benaknya. Captain
juga. Ketiga Aura itu memiliki kemampuan yang berhubungan dengan pikiran
negative manusia. Black Aura juga ingat dengan Live Party, dan si saudara
kembar, api dan es itu. Sayangnya, ketiga Aura itu sudah lama tewas dibunuh
Dark Fire. Yah, bagaimana tidak tewas? Pasalnya, Live Party dan si saudara
kembar itu memiliki penampilan seperti anak kecil. Otomatis, jika dihitung
menggunakan tinggi badan di bumi, maka usia mereka sekitaran enam sampai
sepuluh tahun. anak kecil melawan orang dewasa, ya, matilah!
“Oi, Aura!” panggil Captain memecahkan lamunan
Black Aura meski dengan jarak yang lumayan jauh darinya.
Black Aura menoleh,
lalu meyipitkan matanya kearah gadis yang berlari ke arahnya. Captain terlihat
seperti membawa sesuatu.
“Kau bawa apa?”
“Ini… Mangkok bekas
makan mie sama…” Captain melempar beberapa lembar kertas bertuliskan tangan
manusia. “Aku menemukan ini di kebun strawberry Asoka. Kertasnya kelihatan
sudah lama tapi tintanya masih baru.” Jelas Captain.
Black Aura
membolak-balikkan kertas tersebut penasaran. Kertas itu ada dua lembar. Lembar
pertama kosong. Lembar yang kedua terdapat serangkaian kalimat yang dituliskan
rapi.
“Sebentar, kubaca.”
Captain mengangguk.
Untuk
Nge-vlog di
sini enak banget!!
“Hah?” Black Aura terngaga
tak percaya.
“Kenapa, Aura?”
“Apaan nge-vlog?” tanya
Black Aura sambil mengusap beberapa kali tengkuknya. Astaga, istilah apa lagi
ini? Entah Chloe, Aoi, Jacqueline, bahkan manusia yang tersesat di Carnater pun
sempat-sempatnya membuatnya bingung.
Black Aura menyerah.
Tanpa bicara, Aura itu menyerahkan kertas tersebut pada Captain, mana tahu Aura
itu tahu arti “Nge-vlog”
Tak jauh beda dengan
Black Aura, Captain mengeryitkan keningnya bingung. Aura itu terlihat sedang berpikir
meski kenyataannya dia memang tidak tahu apapun arti dari “nge-vlog” itu.
“Tau, ah! Pusing!”
gerutunya kesal, kemudian membuang asal kertas tersebut.
“Jangan dibuang.” Seru
Black Aura reflex menangkap kertas yang melayang tak seimbang itu. “Bagaimana
kalau kita hubungi saja ibu? Mana tahu dia paham maksud kata-kata ‘nge-vlog’
ini.” usul Black Aura.
“Terserahlah… Huft!
Kalau nggak ada Yumi, rasanya bosan.” Keluh Captain kehabisan ide. Aura itu
hanya tidak menyangka tugas yang Midnight berikan akan sesulit ini. Belum lagi
dengan rencana Legende Aura yang hingga saat ini masih samar untuk diketahui.
Terus-menerus
__ADS_1
memikirkan itu membuat Captain frustasi. Yah, maklum saja. Captain ini
perempuan. Dia tidak begitu suka hal-hal yang ribet. Captain ingin sekali
hal-hal yang ribet itu diatasi oleh Black Aura atau nggak Devil Mask. Tidak
sepatutnya perempuan seperti dirinya melakukan pekerjaan yang berat. Kalau
diingat lagi, Yumi yang saat ini tinggal di bumi kelihatannya baik-baik saja.
Santai seperti sungai yang mengalir deras.
Iri mendadak jadinya.
“Aura… Aku capek.”
Black Aura menelengkan
kepalanya heran. Tiba-tiba saja Captain berbicara dengan nada yang terkesan
memelas itu. Black Aura berdeca sebal. Langsung saja dia tanya daripada
dibiarkan diam di sampingnya. Jujur saja, Black Aura terkadang merasa jengkel
dengan kelakuan Captain yang seenak mood-nya sendiri.
“Terus?”
“Misi ini biar kau yang
urus ya! Sumpah! Capek banget!” ujar Captain tambah memelas. Kali ini ditambah
dengan wajah imutnya yang sengaja ia perlihatkan demi menarik perhatian Black
Aura padanya. Sayang, Black Aura bukan type yang perhatian. Aura sepertinya
cenderung mengabaikan sesuatu yang menurutnya tidak penting untuk diselesaikan.
“Terserah. Tapi, kalau
ada apa-apa, kau urus sendiri. Jangan panggil namaku tiga kali!” tegasnya.
“Kejam ah! Emang kaga
punya hati nih orang!” kesal Captain, berlalu begitu saja. Langkah kakinya yang
semula berat berubah menjadi ringan seiring perasaannya yang mulai membaik.
Setelah memastikan
jarak antara dirinya dengan Captain jauh, barulah Black Aura melanjutkan
misinya lagi. sejauh ini, dia belum menemukan Aura-aura yang melintasi area
kastil Asoka. Dan juga, dari menara Asoka, jendelanya selalu tampil tertutup.
Kastil itu seperti tidak ada nyawanya.
Black Aura menyipitkan
matanya ke jendela menara itu. Dia tahu kalau dibalik jendela itu, sang pemilik
kastil tengah memperhatikan gerak-geriknya saat ini. Black Aura masih ingat
dengan pemilik kastil tersebut. Dia gadis muda itu memiliki nama belakang
‘Asoka’. Dia orang yang sangat tertekan. Baik di dunia nyata maupun di dunia
lain. Warga setempat sering memanggilnya dengan sebutan, “Lady Asoka”
Menurut Black Aura,
namanya terdengar indah dan enak dibaca.
Kalau tidak salah
ingat, memiliki makna tersendiri. Dalam
bahasa jawa, Asoka berarti terbebas dari kesedihan. Sedangkan kenyataan yang
Black Aura dapat, gadis muda itu selalu tampil dengan garis melengkung ke bawah
di wajahnya. Black Aura masih ingat factor-faktor yang menyebabkan Lady Asoka
dan dirinya di dunia nyata itu sulit sekali tersenyum. Itu karena…
“KYAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Black Aura tersentak
kaget oleh suara teriakan cempreng milik seseorang yang terdengar dari
belakang. Suara itu sangat familiar bagi Black Aura. Teriakan seorang pria yang
terdengar cempreng. Seperti sedang dikejar-kejar sesuatu.
“Tunggu dulu!
Jangan-jangan…”
Tanpa menunggu waktu
lama, Black Aura berlari ke sumber teriakan cempreng itu muncul.
~
__ADS_1