
Di jam tangan Chloe menunjukkan pukul 10.05. itu artinya, sudah
satu jam lebih mereka mengerjakan tugas kuliah Chloe dan akhirnya selesai di
pukul 10.06.
Chloe menghela nafas lega. Akhirnya, tugas kuliahnya semuanya sudah selesai. Tinggal
dikumpul ke dosen lalu melanjutkan petualangan fantasinya lagi. Tapi, sebelum
semua itu terjadi, sesuai yang dikatakan Morgan, mereka akan pergi berkeliling
sejenak melihat-lihat suasana kampus Chloe.
Pemandangan di sana terlihat dingin karena salju. Namun, tidak
menutup kemungkinan kampus itu sama ramainya dengan area kota dengan lautan
manusia yang padat. Terlihat jelas di samping kiri, kanan mahasiswa yang
berlalu lalang membawa hal-hal yang membuat diri mereka tergerak untuk pergi ke
kampus.
“Kalau musim gugur, kampus ini akan terlihat seperti lukisan. Aku
pernah melukis salah satu pemandangan di kampus ini.” tutur Morgan di tengah
perjalanan mereka yang santai mengitari taman di sekitar kampus itu.
“Wah, kau berbakat juga dalam seni.” Puji Chloe sambil membenarkan
letak syalnya.
“Nggak semuanya. Bakatku Cuma bisa di seni rupa. Seni musik seni
tari, treater, aku nggak bisa. Memang turunan dari ayah. Adikku juga bisa
menggambar. Hanya saja, dia lebih ke animasi. Oh, ya! Kalian mau tidak
kulukis?” tawar Morgan yang langsung disambut reaksi terkejut dari Chloe dan
Black Aura.
“Melukis…”
“Kami?”
Chloe dan Black Aura saling berpandangan. Keduanya masih tak
percaya dengan apa yang ditawarkan Morgan. Karena itulah, Chloe bertanya. Yah,
Sekedar memastikan apakah pendengaran mereka bermasalah atau tidak. Dan setelah
mendapat anggukan kepala dari Morgan, barulah kedua remaja itu percaya bahwa
indra pendengaran mereka masih berfungsi dengan baik.
“Ka-kau yakin mau melukis kami? Kau tidak sedang bercanda, kan?”
Chloe bertanya dengan senyum kaku, malu, dan kaget? Intinya seperti itulah
senyumannya saat itu. Jari telunjuk yang mengarah padanya bergetar hebat saking
syoknya. Entahlah, selain kaget, Chloe pribadi juga merasa senang. Dia tidak
tahu harus menolak tawaran Morgan atau justru menerimanya?
“Aku tidak sedang bercanda. Aku memang lagi kepengin melukis.
Kebetulan, aku membawa peralatan lukisku. Hanya saja, kanvasnya belum kubeli.
Kalau nggak keberatan, kalian mau tidak menemaniku pergi membeli kanvas sambil
berjalan-jalan?”
“Tentu saja!” sambar Chloe semangat sekaligus menyetujui tawaran
Morgan dengan acungan jempolnya.
Tidak masalah baginya jika hanya sebatas berjalan-jalan. Lagi
pula, dia tidak ingin lukisan Morgan itu diberikan begitu saja. Chloe berniat
ingin menraktir pria itu sesuatu sepanjang perjalanan mencari kanvas yang akan
pria itu gunakan untuk mulukis dirinya dan Black Aura. Pasti cantik sekali
lukisan Morgan. Rasanya, Chloe jadi tidak sabar ingin melihat bagaimana cara Morgan melukis hingga lukisan
itu sampai di titik dimana Morgan bisa mengatakan “selesai” di hadapan mereka.
Di sampingnya, Black Aura hanya terdiam sambil memperhatikan wajah
Chloe yang tengah berpikir keras. Aura itu tahu apa yang dipikirkan gadis itu.
Hanya saja, dia memilih untuk diam dan membiarkan gadis itu melakukan apa yang
ingin dia lakukan. Tapi…
Hah, selalu saja ada yang mengganggu.
Black Aura menghela nafas lelah. Padahal, dia ingin sekali
menyenangkan hati gadis itu dengan berjalan berdua ke tempat manapun yang ingin
mereka tuju. Black Aura sempat membenci permintaannya yang meminta Chloe untuk
pergi ke kampusnya karena ingin melihat suasana kampus Chloe. Lalu, ingatan
gadis itu bekerja dan membuatnya panik mengingat tugasnya yang menumpuk.
Setelah itu bertemu Morgan dan berakhir berjalan bertiga mencari kanvas. Yah,
bagaimanapun caranya, Black Aura harus menyingkirkan Morgan agar acara
jalan-jalannya bersama Chloe berakhir dengan kenangan yang tak kan bisa mereka
lupakan sepanjang hidup mereka.
Black Aura memainkan arah topinya ke kiri, kanan, belakang, lalu
kembali ke depan. Aura itu duduk di kursi taman sambil menampung rasa bosan
yang memenuhi pikirannya dan juga menyesali niatnya menyingkirkan Morgan dari
lingkaran mereka. Rupanya, menyingkirkan Morgan tidak mudah seperti dirinya
menyingkirkan Legend Aura. Huke adalah pengecualian.
Berulang kali Black Aura memutar otak tapi sia-sia. Pikirannya
masih tidak bisa lepas dengan antusiasme Chloe terhadap tawaran Morgan yang
berniat ingin melukis mereka hari ini. Sekarang, kedua remaja itu tengah
memilih merek kanvas yang bagus di sebuah toko yang berdiri tak jauh di
depannya. Tinggal menyebrang jalan saja, Aura itu langsung sampai tanpa harus
merogoh kocek sedalam mungkin sambil berteriak “Taxi! Taxi!”
Tapi, setelah dipikir-pikir, untuk apa dia masuk ke dalam toko itu
__ADS_1
jika tahu dirinya hanya akan menjadi nyamuk diantara pria dan gadis yang tengah
seru-serunya membahas merek kanvas yang digunakan sang pria untuk melukis?
Tekadnya sudah bulat dan niatnya sudah jelas. Black Aura sama
sekali tidak berminat menggerakkan kedua kakinya masuk ke dalam toko. Hmmm, apa
jangan-jangan… Inikah yang disebut rasa cemburu?
Jujur saja, Black Aura benci mengatakan bahwa dirinya merasa cemburu
jika melihat Chloe bersama pria lain. Yah, memang wajar. Karena dirinya yang
sekarang sudah memiliki perasaan. Black Aura bahkan bisa tertawa lepas jika dia
mau.
Sekilas, dia ingat perkataan Midnight beberapa menit sebelum
berangkat untuk berjalan-jalan dengan Chloe. Saat itu, Chloe sedang menunggu di
teras sambil bermain salju bersama Aoi dan Jacqueline. Di saat itulah, Midnight
mengambil kesempatan untuk berbicara sebentar dengan Black Aura sekaligus
memberitahu beberapa hal penting padan Aura kesayangannya itu.
“Ingat, Aura! Ada beberapa hal yang sebaiknya jangan kau lakukan
selama di luar. Pertama, jangan pernah lepaskan topi dan kacamatamu. Kedua,
jangan pernah membahas aku, Aura, dan Legend Aura pada orang yang tidak kau
kenal dekat. Ketiga, buat kenangan bagus dengan Chloe. Usahakan jangan sampai
ketahuan oleh Legend Aura. Ada kemungkinan salah satu dari mereka ada yang
sedang berkeliaran. Yah, kurasa itu saja.”
Sekian pesan yang disampaikan Midnight jam delapan pagi.
Sayangnya, pesan nomor tiga tidak bisa dia turuti.
“Lama banget.” Ujarnya sambil melakukan kegiatan yang tidak biasa
dia lakukan saat sendirian. Aneh. Dulu, Black Aura sangat terbiasa dengan
kesendirian. Berjalan seorang diri memandang Aura-Aura penghuni Carnater dari
kejauhan kemudian, menghajar mereka dengan brutal. Sebenarnya, dibalik
pertarungan itu terselip sebuah alasan kenapa pertarungan itu bisa terjadi.
Tapi sayang, ingatan Black Aura mendadak hilang begitu dirinya berpapasan
dengan dunia ini.
Sebenarnya, Black Aura berniat mewawancarai ibunya selepas pulang
dari jalan-jalan yang membosankan ini. Sejak mengenal Chloe, dia disambut oleh
rentetan pertanyaan yang berkaitan dengannya namun tidak sanggup ia jawab
karena dia tidak begitu mengenal informasi apapun yang ada di dalam dirinya.
Selama ini, dia hanya bergerak mengikuti naluri. Ada musuh, dia merasa
tergangga, maka hari itu juga, musuh itu mati.
Black Aura menghela nafasnya sejenak. Entah bagaimana cara dia
menanggapi dirinya dari masa lalu. sadis dan tidak mengenal belas kasih. Tapi
teman-temannya. Setidaknya, ada perasaan ingin berterima kasih di dalam dirinya
mengenai dunia yang telah membuatnya berubah meskipun pada dasarnya, Black Aura
tidak ingin sifatnya yang sebenarnya itu kian memudar.
Manik violet yang tadinya menghadap ke sepasang sepatunya, kini
teralihkan oleh suara seorang gadis yang memanggil namanya.
Menyadari namanya dipanggil, Black Aura langsung menoleh ke sumber
suara dan mendapati sosok gadis dengan kepala yang ditutupi topi rajut berwarna
hitam. Wajahnya sangat familiar. Oleh karena itulah, Black Aura tidak perlu
menanyakan siapa nama perempuan itu melainkan menanyakan alasan kenapa gadis
itu bisa sampai ke kursi taman tempat ia duduk itu.
“Ngapain disini?” tanya Black Aura datar pada Rara yang
menyunggingkan senyum canggung ke arahnya.
“Kau sendirian? Dimana Chloe?” jawab Rara berusaha mencairkan
suasana canggung tersebut. Dia melirik ke sekelilingnya dengan raut bingung dan
Black Aura tidak terlalu memperdulikan keberadaan gadis itu. Aura itu kembali
ke kegiatannya menghitung detik menggunakan kelima jarinya. Tidak tahu kapan
kegiatan itu akan berakhir. Yang jelas, ia melakukan itu karena bosan.
“Di toko itu.” Black Aura menunjuk tapi kepalanya mengarah ke
tempat lain. Seolah dirinya enggan melihat Morgan dan Chloe yang sedang
berbincang berdua di iringi dengan gelak tawa mereka di dalam.
Rara menghela nafasnya. Gadis itu segera mengambil posisi duduk di
samping Black Aura. Rasa penasarannya dipancing saat melihat Black Aura yang
bertingkah aneh. Ya, menurutnya, agak tidak biasa melihat Aura itu tba-tiba
berinteraksi dengan kelima jari kanannya di kursi taman.
“Nggak keberatan kan, aku duduk di sini?” tanya Rara lembut.
Black Aura tidak merespon kecuali menggeleng singkat kepalanya
tanda tidak keberatan.
“Kau suka lagu, ya?”
“Ya,”
Rara kembali tersenyum. Entah bagaimana, Aura ini bisa terlihat
menggemaskan di matanya. Selama ini, yang terlihat menggemaskan di mata Rara
hanyalah Yo-han yang dulunya menyandang status sebagai kekasih kakaknya.
Sayang, perasaan gemas itu pudar begitu cepat sejak dia tahu sosok yang
bersembunyi dibalik cerahnya senyuman Yohan.
Setiap kali memikirkan Yo-han, nama kakaknya selalu terlintas di
__ADS_1
kepalanya hingga kekhawatiran itu kembali menguasai pikirannya. Tapi sekarang,
Rara berusaha untuk positive thinking dan mencoba untuk berbaur dengan Aura.
Dia berharap, dirinya dan Black Aura bisa menjadi teman yang baik apabila Chloe
sedang tidak bersama Black Aura. Sungguh. Rara tidak memiliki niatan apapun
menikung Aura yang sangat Chloe sukai ini. Hanya saja, dirinya merasa sedih
melihat Black Aura yang hanya menghabiskan sebagian waktunya di luar, di kursi
taman sambil menghitung jari. Andai kata, Aura itu belum bertemu Chloe, dia pasti memilih bertarung di suatu tempat yang jauh dari keramaian melawan Legend Aura.
“Pernah dengar lagu ini?” Rara mengeluarkan ponselnya kemudian
memperlihatkan judul lagu yang dibahasnya tadi. Judulnya adalah “Mysterious”.
“Lagu ini punya melodi yang enak. Bagiku, lagu ini cocok buat
pasangan yang masing-masing memiliki rahasia. Entah rahasia macam apa yang
mereka simpan. Tapi intinya, aku sangat merekomendasikan lagu ini untukmu. Coba
dengar!”
Tanpa pikir panjang, Rara menekan tombol play di ponselnya dan membiarkan Black Aura
mendengarkan lagu yang direkomendasikannya itu. Tidak disangkanya, Aura itu mau
mendengarkan lagu itu. Kedua matanya sampai terpejam karena menikmati alunan
musik yang dimainkan lagu tersebut dan juga nada yang dinyanyikan sang
penyanyi.
“Aku suka.” Ucap Black Aura setelah lagu itu selesai diputar. Dia
menyunggingkan senyuman kecilnya pada Rara hingga membuat pipi gadis itu merona
semerah tomat. “Bisa kirim ke ponselku, tidak? Maaf ya, aku gagap teknologi.”
Rara terkekeh mendengar pernyataan Black Aura. “Nggak perlu
meminta maaf. Nah, sekarang, aku akan mengajarimu cara memindahkan file dari
ponselku ke ponselmu. Perhatikan ya!”
"Segampang itu..."
“Yep!. Ada lagi kah?” tanya Rara usai mengajari Black
Aura cara memindahkan file menggunakan sejumlah aplikasi dan menggunakan email.
Black Aura menggeleng seakan yang Rara berikan padanya sudah lebih
dari kata cukup. Selain itu, dia merasa senang bisa mendapatkan informasi baru
dari gadis bernama Rara itu. Mengingat Rara yang tampak nya ingin berkomunikasi
dengannya, Black Aura pun membulatkan tekadnya untuk berbicara dengan Rara.
Dimulai dari hobi mungkin? Atau membahas kakaknya?
“Ra,” panggil Black Aura.
“Eh, iya?”
“Mungkin, pertanyaanku memang agak sensitive bagimu. Tapi, aku
butuh jawabanmu agar aku bisa mempertimbangkan dan menyusun rencana untuk
besok.”
“Oke. Tanya saja.”
Begitu mendapat respon setuju dari Rara, Black Aura segera menarik
nafasnya sedalam mungkin. Merasa tenang, barulah dia menanyakan pertanyaan yang
baru saja terlintas di kepalanya.
“Apa kakakmu sudah bisa dihubungi?” tanya Black Aura tapi tidak
berani menatap Rara.
“Eh?” Rara tercengang mendengarnya. Kemudian, dia tersenyum.
“Sudah, kok. Tapi belum ada jawaban apapun darinya.”
“Begitu ya. Sebenarnya, aku ingin membantumu. Waktuku lagi
senggang. Tapi anehnya, ibuku memintaku untuk berlibur bersama Chloe. Sedangkan
orangnya lagi dekat dengan pria lain.” tutur Black Aura. Diam-diam dia merutuki
dirinya karena sudah membahas hal yang berkaitan dengan Minji kemudian malah
curhat.
“Jadi, kau pergi karena permintaan ibumu? Yah, kupikir, yang ibumu
katakan itu benar. Sebaiknya kau berlibur saja dulu. Aku… Sudah cukup lega
karena kau mau berbicara denganku. Kupikir, orang sepertiku ini membosankan.”
“Nggak juga. Kalau udah dekat, pasti bakal seru.” Black Aura
tersenyum kecil setelah mengucapkan rentetan kalimat yang otomatis membuat dada
gadis di sampingnya berdebar-debar. Jika Rara kesulitan mengontrol detak
jantungnya yang tidak stabil, bisa-bisa dia mati konyol.
“Bisa gitu, ya?” Balas Rara yang semakin memerah wajahnya.
“Ngomong-ngomong, siapa nama pria yang sedang bersama Chloe itu?
Apa mereka sahabatan?”
“Bukan, tapi teman.” Balas Black Aura dengan raut malas.
“Sepertinya, kau tidak suka dengan orang itu.”
“Ya.”
“Kau cemburu padanya?”
“Tunggu… Apa kau bilang?”
Rara menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan yang ia ucap
satu menit yang lalu. Menurut Rara pribadi, tingkah aneh Black Aura ini muncul
atas dasar perasaan cemburu melihat Chloe bersama pria selain dirinya. Yah,
Rara hanya tidak menyangka saja bahwa Aura seperti Black Aura yang selalu
tampil datar ini bisa menaruh rasa cemburu pada manusia. Sesuatu yang baru
begitu baginya.
“Biar nggak bosan, gimana kalau kita keliling?” usul Rara beranjak
__ADS_1
dari kursi taman disertai senyuman hangatnya.