Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 77 {Cemburu}


__ADS_3

Di jam tangan Chloe menunjukkan pukul 10.05. itu artinya, sudah


satu jam lebih mereka mengerjakan tugas kuliah Chloe dan akhirnya selesai di


pukul 10.06.


Chloe menghela nafas lega. Akhirnya, tugas kuliahnya semuanya sudah selesai. Tinggal


dikumpul ke dosen lalu melanjutkan petualangan fantasinya lagi. Tapi, sebelum


semua itu terjadi, sesuai yang dikatakan Morgan, mereka akan pergi berkeliling


sejenak melihat-lihat suasana kampus Chloe.


Pemandangan di sana terlihat dingin karena salju. Namun, tidak


menutup kemungkinan kampus itu sama ramainya dengan area kota dengan lautan


manusia yang padat. Terlihat jelas di samping kiri, kanan mahasiswa yang


berlalu lalang membawa hal-hal yang membuat diri mereka tergerak untuk pergi ke


kampus.


“Kalau musim gugur, kampus ini akan terlihat seperti lukisan. Aku


pernah melukis salah satu pemandangan di kampus ini.” tutur Morgan di tengah


perjalanan mereka yang santai mengitari taman di sekitar kampus itu.


“Wah, kau berbakat juga dalam seni.” Puji Chloe sambil membenarkan


letak syalnya.


“Nggak semuanya. Bakatku Cuma bisa di seni rupa. Seni musik seni


tari, treater, aku nggak bisa. Memang turunan dari ayah. Adikku juga bisa


menggambar. Hanya saja, dia lebih ke animasi. Oh, ya! Kalian mau tidak


kulukis?” tawar Morgan yang langsung disambut reaksi terkejut dari Chloe dan


Black Aura.


“Melukis…”


“Kami?”


Chloe dan Black Aura saling berpandangan. Keduanya masih tak


percaya dengan apa yang ditawarkan Morgan. Karena itulah, Chloe bertanya. Yah,


Sekedar memastikan apakah pendengaran mereka bermasalah atau tidak. Dan setelah


mendapat anggukan kepala dari Morgan, barulah kedua remaja itu percaya bahwa


indra pendengaran mereka masih berfungsi dengan baik.


“Ka-kau yakin mau melukis kami? Kau tidak sedang bercanda, kan?”


Chloe bertanya dengan senyum kaku, malu, dan kaget? Intinya seperti itulah


senyumannya saat itu. Jari telunjuk yang mengarah padanya bergetar hebat saking


syoknya. Entahlah, selain kaget, Chloe pribadi juga merasa senang. Dia tidak


tahu harus menolak tawaran Morgan atau justru menerimanya?


“Aku tidak sedang bercanda. Aku memang lagi kepengin melukis.


Kebetulan, aku membawa peralatan lukisku. Hanya saja, kanvasnya belum kubeli.


Kalau nggak keberatan, kalian mau tidak menemaniku pergi membeli kanvas sambil


berjalan-jalan?”


“Tentu saja!” sambar Chloe semangat sekaligus menyetujui tawaran


Morgan dengan acungan jempolnya.


Tidak masalah baginya jika hanya sebatas berjalan-jalan. Lagi


pula, dia tidak ingin lukisan Morgan itu diberikan begitu saja. Chloe berniat


ingin menraktir pria itu sesuatu sepanjang perjalanan mencari kanvas yang akan


pria itu gunakan untuk mulukis dirinya dan Black Aura. Pasti cantik sekali


lukisan Morgan. Rasanya, Chloe jadi tidak sabar ingin melihat  bagaimana cara Morgan melukis hingga lukisan


itu sampai di titik dimana Morgan bisa mengatakan “selesai” di hadapan mereka.


Di sampingnya, Black Aura hanya terdiam sambil memperhatikan wajah


Chloe yang tengah berpikir keras. Aura itu tahu apa yang dipikirkan gadis itu.


Hanya saja, dia memilih untuk diam dan membiarkan gadis itu melakukan apa yang


ingin dia lakukan. Tapi…


Hah, selalu saja ada yang mengganggu.


Black Aura menghela nafas lelah. Padahal, dia ingin sekali


menyenangkan hati gadis itu dengan berjalan berdua ke tempat manapun yang ingin


mereka tuju. Black Aura sempat membenci permintaannya yang meminta Chloe untuk


pergi ke kampusnya karena ingin melihat suasana kampus Chloe. Lalu, ingatan


gadis itu bekerja dan membuatnya panik mengingat tugasnya yang menumpuk.


Setelah itu bertemu Morgan dan berakhir berjalan bertiga mencari kanvas. Yah,


bagaimanapun caranya, Black Aura harus menyingkirkan Morgan agar acara


jalan-jalannya bersama Chloe berakhir dengan kenangan yang tak kan bisa mereka


lupakan sepanjang hidup mereka.


Black Aura memainkan arah topinya ke kiri, kanan, belakang, lalu


kembali ke depan. Aura itu duduk di kursi taman sambil menampung rasa bosan


yang memenuhi pikirannya dan juga menyesali niatnya menyingkirkan Morgan dari


lingkaran mereka. Rupanya, menyingkirkan Morgan tidak mudah seperti dirinya


menyingkirkan Legend Aura. Huke adalah pengecualian.


Berulang kali Black Aura memutar otak tapi sia-sia. Pikirannya


masih tidak bisa lepas dengan antusiasme Chloe terhadap tawaran Morgan yang


berniat ingin melukis mereka hari ini. Sekarang, kedua remaja itu tengah


memilih merek kanvas yang bagus di sebuah toko yang berdiri tak jauh di


depannya. Tinggal menyebrang jalan saja, Aura itu langsung sampai tanpa harus


merogoh kocek sedalam mungkin sambil berteriak “Taxi! Taxi!”


Tapi, setelah dipikir-pikir, untuk apa dia masuk ke dalam toko itu

__ADS_1


jika tahu dirinya hanya akan menjadi nyamuk diantara pria dan gadis yang tengah


seru-serunya membahas merek kanvas yang digunakan sang pria untuk melukis?


Tekadnya sudah bulat dan niatnya sudah jelas. Black Aura sama


sekali tidak berminat menggerakkan kedua kakinya masuk ke dalam toko. Hmmm, apa


jangan-jangan… Inikah yang disebut rasa cemburu?


Jujur saja, Black Aura benci mengatakan bahwa dirinya merasa cemburu


jika melihat Chloe bersama pria lain. Yah, memang wajar. Karena dirinya yang


sekarang sudah memiliki perasaan. Black Aura bahkan bisa tertawa lepas jika dia


mau.


Sekilas, dia ingat perkataan Midnight beberapa menit sebelum


berangkat untuk berjalan-jalan dengan Chloe. Saat itu, Chloe sedang menunggu di


teras sambil bermain salju bersama Aoi dan Jacqueline. Di saat itulah, Midnight


mengambil kesempatan untuk berbicara sebentar dengan Black Aura sekaligus


memberitahu beberapa hal penting padan Aura kesayangannya itu.


“Ingat, Aura! Ada beberapa hal yang sebaiknya jangan kau lakukan


selama di luar. Pertama, jangan pernah lepaskan topi dan kacamatamu. Kedua,


jangan pernah membahas aku, Aura, dan Legend Aura pada orang yang tidak kau


kenal dekat. Ketiga, buat kenangan bagus dengan Chloe. Usahakan jangan sampai


ketahuan oleh Legend Aura. Ada kemungkinan salah satu dari mereka ada yang


sedang berkeliaran. Yah, kurasa itu saja.”


Sekian pesan yang disampaikan Midnight jam delapan pagi.


Sayangnya, pesan nomor tiga tidak bisa dia turuti.


“Lama banget.” Ujarnya sambil melakukan kegiatan yang tidak biasa


dia lakukan saat sendirian. Aneh. Dulu, Black Aura sangat terbiasa dengan


kesendirian. Berjalan seorang diri memandang Aura-Aura penghuni Carnater dari


kejauhan kemudian, menghajar mereka dengan brutal. Sebenarnya, dibalik


pertarungan itu terselip sebuah alasan kenapa pertarungan itu bisa terjadi.


Tapi sayang, ingatan Black Aura mendadak hilang begitu dirinya berpapasan


dengan dunia ini.


Sebenarnya, Black Aura berniat mewawancarai ibunya selepas pulang


dari jalan-jalan yang membosankan ini. Sejak mengenal Chloe, dia disambut oleh


rentetan pertanyaan yang berkaitan dengannya namun tidak sanggup ia jawab


karena dia tidak begitu mengenal informasi apapun yang ada di dalam dirinya.


Selama ini, dia hanya bergerak mengikuti naluri. Ada musuh, dia merasa


tergangga, maka hari itu juga, musuh itu mati.


Black Aura menghela nafasnya sejenak. Entah bagaimana cara dia


menanggapi dirinya dari masa lalu. sadis dan tidak mengenal belas kasih. Tapi


teman-temannya. Setidaknya, ada perasaan ingin berterima kasih di dalam dirinya


mengenai dunia yang telah membuatnya berubah meskipun pada dasarnya, Black Aura


tidak ingin sifatnya yang sebenarnya itu kian memudar.


Manik violet yang tadinya menghadap ke sepasang sepatunya, kini


teralihkan oleh suara seorang gadis yang memanggil namanya.


Menyadari namanya dipanggil, Black Aura langsung menoleh ke sumber


suara dan mendapati sosok gadis dengan kepala yang ditutupi topi rajut berwarna


hitam. Wajahnya sangat familiar. Oleh karena itulah, Black Aura tidak perlu


menanyakan siapa nama perempuan itu melainkan menanyakan alasan kenapa gadis


itu bisa sampai ke kursi taman tempat ia duduk itu.


“Ngapain disini?” tanya Black Aura datar pada Rara yang


menyunggingkan senyum canggung ke arahnya.


“Kau sendirian? Dimana Chloe?” jawab Rara berusaha mencairkan


suasana canggung tersebut. Dia melirik ke sekelilingnya dengan raut bingung dan


Black Aura tidak terlalu memperdulikan keberadaan gadis itu. Aura itu kembali


ke kegiatannya menghitung detik menggunakan kelima jarinya. Tidak tahu kapan


kegiatan itu akan berakhir. Yang jelas, ia melakukan itu karena bosan.


“Di toko itu.” Black Aura menunjuk tapi kepalanya mengarah ke


tempat lain. Seolah dirinya enggan melihat Morgan dan Chloe yang sedang


berbincang berdua di iringi dengan gelak tawa mereka di dalam.


Rara menghela nafasnya. Gadis itu segera mengambil posisi duduk di


samping Black Aura. Rasa penasarannya dipancing saat melihat Black Aura yang


bertingkah aneh. Ya, menurutnya, agak tidak biasa melihat Aura itu tba-tiba


berinteraksi dengan kelima jari kanannya di kursi taman.


“Nggak keberatan kan, aku duduk di sini?” tanya Rara lembut.


Black Aura tidak merespon kecuali menggeleng singkat kepalanya


tanda tidak keberatan.


“Kau suka lagu, ya?”


“Ya,”


Rara kembali tersenyum. Entah bagaimana, Aura ini bisa terlihat


menggemaskan di matanya. Selama ini, yang terlihat menggemaskan di mata Rara


hanyalah Yo-han yang dulunya menyandang status sebagai kekasih kakaknya.


Sayang, perasaan gemas itu pudar begitu cepat sejak dia tahu sosok yang


bersembunyi dibalik cerahnya senyuman Yohan.


Setiap kali memikirkan Yo-han, nama kakaknya selalu terlintas di

__ADS_1


kepalanya hingga kekhawatiran itu kembali menguasai pikirannya. Tapi sekarang,


Rara berusaha untuk positive thinking dan mencoba untuk berbaur dengan Aura.


Dia berharap, dirinya dan Black Aura bisa menjadi teman yang baik apabila Chloe


sedang tidak bersama Black Aura. Sungguh. Rara tidak memiliki niatan apapun


menikung Aura yang sangat Chloe sukai ini. Hanya saja, dirinya merasa sedih


melihat Black Aura yang hanya menghabiskan sebagian waktunya di luar, di kursi


taman sambil menghitung jari.  Andai kata, Aura itu belum bertemu Chloe, dia pasti memilih bertarung di suatu tempat yang jauh dari keramaian melawan Legend Aura.


“Pernah dengar lagu ini?” Rara mengeluarkan ponselnya kemudian


memperlihatkan judul lagu yang dibahasnya tadi. Judulnya adalah “Mysterious”.


“Lagu ini punya melodi yang enak. Bagiku, lagu ini cocok buat


pasangan yang masing-masing memiliki rahasia. Entah rahasia macam apa yang


mereka simpan. Tapi intinya, aku sangat merekomendasikan lagu ini untukmu. Coba


dengar!”


Tanpa pikir panjang, Rara menekan tombol play  di ponselnya dan membiarkan Black Aura


mendengarkan lagu yang direkomendasikannya itu. Tidak disangkanya, Aura itu mau


mendengarkan lagu itu. Kedua matanya sampai terpejam karena menikmati alunan


musik yang dimainkan lagu tersebut dan juga nada yang dinyanyikan sang


penyanyi.


“Aku suka.” Ucap Black Aura setelah lagu itu selesai diputar. Dia


menyunggingkan senyuman kecilnya pada Rara hingga membuat pipi gadis itu merona


semerah tomat. “Bisa kirim ke ponselku, tidak? Maaf ya, aku gagap teknologi.”


Rara terkekeh mendengar pernyataan Black Aura. “Nggak perlu


meminta maaf. Nah, sekarang, aku akan mengajarimu cara memindahkan file dari


ponselku ke ponselmu. Perhatikan ya!”


"Segampang itu..."


“Yep!. Ada lagi kah?” tanya Rara usai mengajari Black


Aura cara memindahkan file menggunakan sejumlah aplikasi dan menggunakan email.


Black Aura menggeleng seakan yang Rara berikan padanya sudah lebih


dari kata cukup. Selain itu, dia merasa senang bisa mendapatkan informasi baru


dari gadis bernama Rara itu. Mengingat Rara yang tampak nya ingin berkomunikasi


dengannya, Black Aura pun membulatkan tekadnya untuk berbicara dengan Rara.


Dimulai dari hobi mungkin? Atau membahas kakaknya?


“Ra,” panggil Black Aura.


“Eh, iya?”


“Mungkin, pertanyaanku memang agak sensitive bagimu. Tapi, aku


butuh jawabanmu agar aku bisa mempertimbangkan dan menyusun rencana untuk


besok.”


“Oke. Tanya saja.”


Begitu mendapat respon setuju dari Rara, Black Aura segera menarik


nafasnya sedalam mungkin. Merasa tenang, barulah dia menanyakan pertanyaan yang


baru saja terlintas di kepalanya.


“Apa kakakmu sudah bisa dihubungi?” tanya Black Aura tapi tidak


berani menatap Rara.


“Eh?” Rara tercengang mendengarnya. Kemudian, dia tersenyum.


“Sudah, kok. Tapi belum ada jawaban apapun darinya.”


“Begitu ya. Sebenarnya, aku ingin membantumu. Waktuku lagi


senggang. Tapi anehnya, ibuku memintaku untuk berlibur bersama Chloe. Sedangkan


orangnya lagi dekat dengan pria lain.” tutur Black Aura. Diam-diam dia merutuki


dirinya karena sudah membahas hal yang berkaitan dengan Minji kemudian malah


curhat.


“Jadi, kau pergi karena permintaan ibumu? Yah, kupikir, yang ibumu


katakan itu benar. Sebaiknya kau berlibur saja dulu. Aku… Sudah cukup lega


karena kau mau berbicara denganku. Kupikir, orang sepertiku ini membosankan.”


“Nggak juga. Kalau udah dekat, pasti bakal seru.” Black Aura


tersenyum kecil setelah mengucapkan rentetan kalimat yang otomatis membuat dada


gadis di sampingnya berdebar-debar. Jika Rara kesulitan mengontrol detak


jantungnya yang tidak stabil, bisa-bisa dia mati konyol.


“Bisa gitu, ya?” Balas Rara yang semakin memerah wajahnya.


“Ngomong-ngomong, siapa nama pria yang sedang bersama Chloe itu?


Apa mereka sahabatan?”


“Bukan, tapi teman.” Balas Black Aura dengan raut malas.


“Sepertinya, kau tidak suka dengan orang itu.”


“Ya.”


“Kau cemburu padanya?”


“Tunggu… Apa kau bilang?”


Rara menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan yang ia ucap


satu menit yang lalu. Menurut Rara pribadi, tingkah aneh Black Aura ini muncul


atas dasar perasaan cemburu melihat Chloe bersama pria selain dirinya. Yah,


Rara hanya tidak menyangka saja bahwa Aura seperti Black Aura yang selalu


tampil datar ini bisa menaruh rasa cemburu pada manusia. Sesuatu yang baru


begitu baginya.


“Biar nggak bosan, gimana kalau kita keliling?” usul Rara beranjak

__ADS_1


dari kursi taman disertai senyuman hangatnya.


__ADS_2