Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 56


__ADS_3

"Ck... Kenapa nggak diangkat? Jangan bilang, dia meninggalkan ponselnya di dalam kamar." Ujar Chloe lalu mematikan ponselnya yang tak lama lagi akan mati.


Jacqueline menghela nafas pasrah setelah mendengar perkataan Chloe barusan.


"Anak itu ceroboh sekali. Seandainya terjadi sesuatu padanya dan dia tidak bisa menghubungi kita, bagaimana? Masa iya harus pakai sharingan atau byakugan untuk mencarinya? Dasar Aoi!" gerutu Jacqueline.


"Kalian berisik sekali. Aku sedang mencarinya sekarang." timpal Black Aura melirik singkat pada kedua gadis yang sedari tadi hanya mengeluh.


Pantas saja mereka bebas sekali mengeluh bahkan sampai meninggikan suara. Karena posisi mereka ada di dalam gedung perkantoran yang sudah lama sekali terbengkalai. Gedung perkantoran ini memang berbeda dari gedung yang sebelumnya pernah dijadikan tempat untuk melawan Dark Sport.


Tanpa sadar, rona merah mewarnai kedua pipi Black Aura. Dia merasa malu dengan dirinya yang dulu. Terlihat kaku dan dingin. Entah dipandang apa dirinya oleh Chloe?


"Oh, benar juga ya! Aku baru ingat kalau Black Aura punya kemampuan melacak. Cari cepat!" seru Chloe bersemangat.


Black Aura mengangguk patuh dan kembali mencari Aoi. Selain mencari Aoi, Aura itu masih tak habis pikir dengan cara Jacqueline menyembuhkan Aura seperti Devil Mask. Black Aura bisa mengambil kesimpulan mengenai kejadian sebelumnya.


Jadi begitu ya? Kekerasan manusia adalah kelemahan terbesar Aura yang tidak memiliki emosi dan perasaan. Akan tetapi, kasih sayang mereka adalah obat bagi Aura juga. Black Aura membatin sejenak.


"Gawat sih... Sepertinya, Yuuki sudah keluar dari tempat persembunyiannya. Kalau dia sampai bertemu Aoi... Tamat sudah." Tutur Devil Mask yang sudah membaik keadaannya.


Saat ini, dia sedang duduk bersandar di sofa tua. Meskipun dirinya sudah sembuh, retakan besar di topengnya tidak akan bisa menghilang.


"Memangnya, Yuuki itu orangnya berbahaya, ya?" tanya Chloe penasaran.


"Bisa dibilang begitu." Balas Devil Mask santai.


"Hmm?" Black Aura menoleh.


"Kalau Yuuki sampai bekerja sama dengan suatu organisasi di negara ini atau mengajak beberapa temannya, nyawa kita bisa terancam." Jelas Devil Mask.


"Bahkan manusia disini juga terancam. Dia memang manusia gila." ejek Yumizuka.


Jacqueline membelalak. "Ha? Nggak mungkin Yuuki bisa sejauh itu!"


"Bisa saja. Buktinya sekarang. Dia bahkan santai sekali membunuh para manusia dengan Legend Aura-nya." Yumizuka memutuskan untuk berbaur.


"Kenapa dia segitunya? Tujuannya untuk membunuh kalian? Balas dendam? Atau apa?" tanya Jacqueline pusing.


"Sudah kami bilang, yang tahu cuma Midnight. Kita nggak bisa percaya dengan kata Yuuki karena dia yang mulai duluan." seru ketiga Aura itu serempak.


Chloe dan Jacqueline terkejut lalu tertawa bersama. Membuat ketiga Aura itu bersamaan menelengkan kepala mereka.


"Kalian lucu ya!" celetuk Chloe yang berusaha menyeimbangkan ketawanya.


"Kalian terlihat seperti saudara saja!" Jacqueline menambahkan kemudian membuka ranselnya dan mengeluarkan ponselnya.


Saat Jacqueline dan Chloe sibuk dengan layar ponsel yanh menyala, ketiga Aura itu hanya terdiam sambil mencerna baik-baik perkataan Jacqueline barusan.


Yumizuka menundukkan kepalanya, meletakkan tangannya di bawah dagunya, lalu melirik Devil Mask dan Black Aura.


"Saudara?" katanya lirih.


Devil Mask menoleh. Walau topeng menyembunyikan wajahnya, Black Aura dan Yumizuka bisa menebak kalau Aura itu juga sedang bingung dan memikirkan hal yang sama.


Sepertinya, kita memang harus bertemu ibu. Dengan begitu, semua rahasia ini akan terungkap. Batin Black Aura serius.


"Chloe! Jacqueline!" Panggil Black Aura kemudian.


"Eh? Ya?" sahut Chloe malah salah tingkah usai namanya dipanggil oleh Black Aura.


"Ada apa, Aura?" tanya Yumizuka penasaran.

__ADS_1


Kali ini, semua perhatian remaja itu tertuju lurus pada Black Aura yang hendak membuka mulutnya. Hanya dengan menunggu Black Aura berbicara, jantung mereka serasa berdebar-debar saking ingin tahunya.


Black Aura menarik nafas sejenak, lalu perlahan membuangnya.


"Kita akan bergerak di malam hari saat salju berjatuhan. Dan saat itulah kita akan menemukan dimana Aoi dan Ibu berada!" ucapnya mantap diakhiri dengan senyuman singkat.


~


Yuuki menghembuskan nafas lelah sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Saat berjalan, kepalanya terisi penuh akan pikirannya. Namun, dari semua pikiran acak yang terngiang-ngiang di kepalanya hanya sosok wanita berambut biru malam yang paling mencolok.


Pria itu masih tak lepas dengan wanita berambut malam itu. Dia sangat mencintainya. Dia selalu mencari wanita itu ke manapun bahkan sampai mempertaruhkan banyak hal.


Berbagai cara dia lakukan akan tetapi, hasilnya tetap sama. Cintanya tidak bisa meraih hati wanita yang sekelam malam itu. Yah, itu karena kesalahannya di masa lalu. Keegoisan membuatnya hilang kendali sehingga menodai tangannya dengan darah pria lain yang menyandang status sebagai suaminya.


Sejak kejadian itulah, wanita berambut malam yang sangat ia cintai itu menunjukkan sisi gelapnya untuk menghabisi orang-orang yang Yuuki sayangi sebagai ganti nyawa mendiang suaminya.


Yuuki bahkan tidak menyangka bahwa, salah satu anggota keluarganya mengkhianatinya dan berpihak pada wanita berambut biru malam tersebut.


Yuuki menyadari bahwa perjalanannya selama ini benar-benar sulit. Meskipun begitu, dia sangat yakin jika suatu hari nanti dirinya bisa meluluhkan malam itu menjadi fajar yang menghangatkan.


Langkahnya semakin dipercepat. Berniat menjauh dari keramaian dan mencari tempat yang bisa membuatnya berpikir jernih.


Saat berjalan, Yuuki bergumam. "Memangnya, apa yang salah dariku? Kenapa dia seakan pernah mengenalku di masa lalu? Memangnya, aku pernah bertemu dan menyakitnya? Satu sekolah aja tidak."


Tak lama kemudian, Yuuki menemukan kursi taman yang menganggur. Dia pun mengambil posisi duduk di kursi taman.


Entah dari mana asalnya, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Yuuki mengerutkan keningnya heran. Ternyata, sesuatu yang menarik perhatiannya adalah jam tangannya.


Jam tangan itu pecah dan arah jarum jamnya tak beraturan. Bagaimana bisa? Kalau diingat-ingat, sedari tadi jam itu masih setia memeluk pergelangan tangannya. Jam itu juga masih mengeluarkan suara. Mungkinkah terbentur meja cafe?


Yah, karena merasa tak nyaman untuk dilihat, Yuuki pun memutuskan untuk membenarkan arah jarum jam tersebut pada waktu yang sebenarnya.


Ketika sedang fokus megubah arah jam tangannya, sebuah tepukan keras mendarat ke pundak kanannya disertai semburan kekesalan seseorang.


Dengan cepat, Yuuki menoleh ke belakang. Mendapati seorang gadis dengan wajah memerah menahan amarah.


Yuuki berdecak sebal, perempuan mana lagi yang mau mengganggunya saat ini? Dan lagi, perlakuan kasar yang diterimanya itu benar-benar membuatnya naik darah.


“Apa-apaan tanganmu ini?” sentak Yuuki disertai tatapan mengancamnya.


Minji terkejut bukan main mendapati tangannya ternyata salah menepuk pundak orang. Dia mengira, Yuuki adalah pacarnya karena kemeja yang dikenakannya mirip sekali dengan yang Yohan pakai. Sepatunya juga!


Otomatis, Minji mengambil beberapa langkah ke belakang karena malu. Setelah itu dia membungkuk disertai permintaan maafnya. Hal itu  membuat Yuuki tambah risih dan tanpa pikir panjang, langsung mengusir gadisn itu dengan suara yang dingin.


“Ck! Bisakah kau pergi dari sini? Tolong jangan memperparah keadaan sekitar.”


"Ah, iya... Aku benar-benar minta maaf soal tadi." Gadis itu terkekeh malu dan pergi tanpa pamit.


Yuuki memasang raut malas. Jangan bilang, bakal kena sial lagi nanti? Batinnya.


Diam-diam, Yuuki menghitung langkah gadis itu memastikan kalau jaraknya semakin menjauh darinya. Oke! Gadis itu sudah menjauh sekarang. Dengan begitu, Yuuki bisa tenang membenarkan arah jarum jam tangannya sembari menjernihkan pikirannya dengan mengingat beberapa lagu kesukaannya.


Di perjalanan menuju cafe, ada sesuatu yang dengan mudahnya menjeda langkah Minji menuju café. Minji terdiam untuk sesaat. Dia berpikir tentang kemeja yang dikenakan pria tadi itu mirip sekali dengan Yohan. Dan juga, gaya rambutnya.


Yah, gaya rambut tersebut memang terkenal dikalangan aktor pria bule, akan tetapi, hal itu bisa saja digunakan Yohan apabila dirinya ingin terlihat keren. Untuk wajah, sekilas mereka terlihat agak mirip. Hanya saja, tatapan tajam yang dilayangkan pria itu menjelaskan perbedaan besar antara dirinya dengan Yohan.


Kalau tidak salah, Yohan ada mendatangiku dan meminjam sisirku karena rambutnya berantakan. Dia juga keluar dari café saat itu. Apa jangan-jangan, pria yang kutepuk tadi adalah Yohan? Tapi, mana mungkin Yohan sedingin itu. Dia saja memiliki bakat menggoda cewek.


Kedua matanya terpejam kuat, Minji berusaha mengingat kembali penampilan dan atribut apa saja yang dikenakan pria dingin itu. Selain itu, Minji telah membuat kesepakatan pada dirinya sendiri untuk mendatangi pria itu lagi dan memastikan apakah benar dia adalah Yohan yang menyamar? Jika benar, maka dia akan menghadiahkan pacarnya itu satu jitakan keras di kepala.


“Permisi…” Panggil Minji usai berlari kecil.

__ADS_1


Yuuki menoleh dingin. Ternyata urusannya masih belum selesai dengan gadis korea dengan tampang singa Afrika yang pernah ia tonton di televisi itu. Yuuki melihat jelas raut curiga dari Minji dan kedua tangannya yang terkepal kuat. Jelas sekali, gadis ini ingin memastikan identitasnya untuk kedua kalinya.


Tidak ingin waktunya terbuang banyak hanya dengan bertatapan diam, terpaksa Yuuki menelantarkan jam tangannya yang arah jarum panjangnya berbanding terbalik dengan waktu pagi menjelang siang ini.


“Apa?” tanyanya.


“Aku kesini cuma mau memastikan saja.”


“Apa?”


Minji menarik nafas kemudian menyeringai. Setelah itu, membalas pertanyaan Yuuki.


“Memastikan bahwa kau adalah pria yang sebelumnya meminjam sisirku kemudian membuangnya begitu saja kan?” Minji sebenarnya hanya asal tebak dengan meninggikan suaranya bermaksud ingin membuat Yuuki terkejut.


Tak hanya itu, Minji  merasa perkataannya barusan ada kaitannya dengan pria yang duduk di kursi taman tepat di depannya saat ini.


Yuuki masih belum merespon. Atau sebenarnya, dia tidak berniat untuk merespon.


Dalam diam, Yuuki mengeluarkan satu batang rokok dari saku celananya lalu menyalakan apinya. Kemudian, dia mengisap rokok itu dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan.


“Coba jawab pertanyaanku terlebih dahulu…”


“Heh?” Minji terkejut.


“Namamu... Minji, bukan? Jadi, kapan terakhir kali kau pergi ke toko baju dan bersama siapa kau ke sana?” bukannya menjawab, Yuuki malah balik bertanya dengan nada yang datar.


“Ka-kau! Bagaimana kau bisa tahu namaku?” seru Minji curiga. Jantungnya berdetak diselimuti ketakutan yang tidak jelas apa maksudnya.


Meskipun begitu, Minji tetap mempertahankan keberaniannya sampai dirinya melihat sendiri apakah dirinya bisa memecahkan pertanyaan yang terlintas di benaknya beberapa menit yang lalu atau tidak?


“Jawab dulu.”


“Cih! Hari senin. Aku pergi sore hari kira-kira jam lima bersama Rara dan pacarku, Yohan.” Minji menjawab malas.


“Kau pasti lihat, kan? Kalau di toko baju itu ada banyak sekali jenis-jenis pakaian? Ada juga pakaian dengan model yang sama digantung berjejeran. Jadi, wajar bukan kalau kemejaku ini kebetulan sama dengan pacarmu? Kau pikir, cuma pacarmu saja yang boleh mengenakan kemeja seperti ini?”


“Aku ‘kan’ cuma memastikan saja!”


“Caramu memastikan itu terkesan memaksa, asal kau tahu itu.” Yuuki mengakhiri omongannya dengan seringai kecil. “Kalau tidak ada urusan lagi, tolong tinggalkan aku sendirian, ya! Jujur saja, aku sedang jatuh cinta dan tak ingin perasaanku goyah saat melihatmu.”


Kedua mata Minji memelotot sempurna. “Lalu! Apa hubungannya dengan toko baju dan jam lima itu, ha? Dasar!”


“Jangan marah seperti itu, dong. Aku tahu, kau punya niat ingin memperumit pikiranku dengan perkataanmu sebelumnya, kan? Dengan pikiranku yang telah dibuat rumit, perasaan panik bisa saja menguasaiku dan membuatmu berpikir bahwa aku adalah Yohan yang ingin melarikan diri dari hubungan percintaanmu. Tapi, maaf ya! Aku type pria yang bersungguh-sungguh dan setia.”


“Aku nggak butuh omong kosongmu. Jelas sekali kau adalah Yohan. Dari suaramu, tinggimu, dan merek jam tangan itu! Apa mungkin seseorang bisa dikatakan hanya kebetulan berpakaian sama sementara, atribut yang dia pakai, tinggi badannya, dan BAHKAN! Merek sepatu itu juga sama?


"Hei, Yohan! Aku tahu kau sedang berakting. Kau juga tidak bisa melarikan diri dengan wajah seperti itu. Dan lagi kenapa memilih gaya rambut seperti orang Amerika? Jangan-jangan, kau punya kekasih simpanan, ya?” tuduh Minji begitu saja.


Yuuki masih terdiam di tempat. Dia melirik sekilas jam tangan dan sepatu yang ia kenakan. Yah, dia akui… Dia sedikit ceroboh untuk hal kecil seperti merek jamnya itu.


“Jam tangan itu aku yang beli saat kau berulang tahun yang ke dua puluh tiga tahun. Hari ini, saat di café, kau melepasnya untuk mencuci tanganmu dan Hyori tidak sengaja menyenggolnya. Sudah jatuh, seorang pelayan menginjaknya.” Minji masih belum selesai berbicara dan cukup puas bisa membuat pria di depannya itu terdiam.


“Begitu… Kah?”


Minji mengangguk mantap dengan senyuman puas miliknya. “Yep! Apa kau mau berhadapan dengan ayahku setelah aku mengetahui kalau kau ingin kabur dariku? Aku tahu, Yohan. Kau pasti memiliki pacar selain aku!”


“Keras kepala sekali... Memangnya, apa sih yang membuatku terlihat mirip dengan pacarmu? Atau malah, kaulah yang menyukaiku namun, memaksaku dengan mengakui bahwa aku adalah Yohan? Yang benar saja!" Yuuki lama-lama mulai terpancing.


Bukannya pergi, Minji malah semakin berani berhadapan dengan Yuuki. Ditambah, dia memiliki beberapa bukti kuat untuk membongkar identitas Yuuki yang sebenarnya adalah Yohan yang menyamar. Tapi, masih ada satu yang kurang. Untunglah, Minji cepat menyadarinya.


"Jangan senang dulu. Aku masih punya bukti yang lain." Ucap Minji menyeringai.

__ADS_1


~


__ADS_2