
Black Aura menatap datar pada buku tebal yang Chloe temukan di bawah kolong meja membacanya. Sejak bertemu dengannya, Chloe jadi jarang membaca buku ini. Dia sibuk menghabiskan hari-harinya dengan berpetualang tanpa memandang waktu dan kesehatannya.
Buku yang malang. Begitu cepatnya dia dilupakan. Padahal, dari buku inilah gadis itu bisa mengenal Aura sepertinya hingga sejauh ini.
“Harusnya, dia berterima kasih pada buku ini.” Gumam Black Aura.
Saat ini, dia sedang berdiri di balkon lantai dua. Menikmati pemandangan langit menjelang terbitnya sang mentari pagi. Musim salju memang belum berakhir, tapi kehangatan yang ditebarkan cahaya matahari perlahan-lahan mencairkan duri-duri es yang menggantung di bawah atap rumahnya.
“Bosan.” Celetuk Black Aura yang kemudian membuka halaman pertama buku itu. Dari kemarin, dia penasaran dengan isi buku tersebut. Dia heran, bagaimana bisa Chloe tahu namanya dan penampilannya sedangkan di Carnater, tidak ada satupun dari warganya yang pandai menulis. Membaca huruf manusia saja mereka tidak bisa, apalagi menulis huruf alphabet.
Berbeda dengan dirinya yang memiliki seorang ibu manusia yang selalu menyempatkan diri untuk mengajari para Aura kesayangannya membaca dan menulis.
“Kau sudah bangun?”
Black Aura menoleh pelan ke belakang merespon suara lembut yang menarik perhatiannya itu. Awalnya, dia kira itu Chloe. Tapi rupanya bukan.
“Aku nggak bisa tidur.” Jawab Black Aura seadanya.
Midnight terkekeh. “Bukannya kau itu memang nggak bisa tidur ya?”
“Entahlah… Ibu sendiri? Kenapa ibu ke sini?”
“Sama sepertimu. Walau kelelahan, aku tetap tidak bisa tidur. Makanya, aku berkeliling. Kemudian mengecek kamar kalian dan tidak menemukanmu di kamar. Jadi, aku ke sini. Ngomong-ngomong, itu buku apa?” tanya Midnight menunjuk buku tebal yang masih Black Aura genggam.
“Judulnya samar. Tapi, buku ini punya Chloe. Oh, ya! Dimana Chloe sekarang?”
“Masih tidur. Semalam mereka tidur jam setengah satu.”
“Larut banget. Memangnya kalian membahas apa sampai selarut itu? Apa ada hubungannya denganku dan yang lainnya?”
Midnight berpikir sejenak sambil berjalan menghampiri Black Aura. “Ya, bisa dibilang begitu. Kau ingin tahu, ya?”
Black Aura mengangguk pelan.
“Fufufu… Baiklah, baiklah. Akan kuberitahu kau tapi dengan satu syarat.” Kata Midnight.
“Syarat?”
Mendapati reaksi bingung dari Black Aura, Midnight tersenyum. Dia mengambil beberapa langkah lagi agar dirinya semakin dekat dengan Aura kesayangannya itu. Menjinjitkan kakinya dan membisikkan beberapa syarat pada Black Aura. Sontak, Aura itu terkejut mendengar ucapan Midnight. Tubuhnya dibuat membeku sesaat sebelum akhirnya bisa kembali digerakkan.
“Se-sekarang?” tanya Black Aura ragu-ragu.
“Jam delapan nanti. Untuk rencana, aku masih belum menemukan idenya. Makanya aku pikir, sambil mencari ide, aku mau membuat sesuatu di rumah. Membuat kue lembut kesukaanmu!”
“Begitu ya? Kalau begitu, aku juga akan membantu ibu memikirkan rencana sambil…”
“Sssttt… Aura, dengarkan ibu! Kita nggak akan bisa menebak bagaimana akhir dari konflik ini. Dan juga, nggak baik buat kita terus-menerus melebur ke dalamnya. Meskipun bukan manusia, kalian itu sama seperti ibu. Punya batasan.” Ujar Midnight. Setelah itu menepuk pundak Black Aura tiga kali, membuat Aura itu kembali bingung. “Oke! Itu aja sih, yang mau ibu bilang. Percaya dirilah! Aku tahu kalian itu saling menyukai.” Lanjutnya yang diakhiri dengan kecupan singkat di pipi kiri Black Aura.
Seketika, Black Aura merona seraya membelai pipi kirinya. “Ibu…?”
“Bersenang-senanglah. Aku ingin kau bisa memanfaatkan dengan baik waktu-waktumu di dunia ini. Kau tahu? Dunia tempat ibu lahir ini memang berisik. Tapi, dari sinilah kau bisa berubah. Kau lihat sendiri, kan? Kau bisa berteman dengan Chloe, Rara, Jacqueline, dan Aoi karena dunia ini, kan? Ibu juga bisa melihat perubahan di dalam dirimu. Salah satunya…” Midnight menjeda omongannya. Wanita itu meletakkan telapak tangannya di pipi kiri Black Aura. “Ini… Pipimu hangat.”
__ADS_1
Nafas Black Aura tercekat ketika jari-jari halus Midnight menyentuh pipinya dan melontarkan beberapa untaian kata yang bahkan tak pernah sekalipun terlintas di kepalanya. kemudian, ditambah dengan suara Midnight yang lembut. Suara itu sudah menjadi ciri khas-nya. Di mata Black Aura, Midnight adalah orang dengan Aura positif yang kental. Dia ingat beberapa waktu yang lalu, tepatnya semasa Carmine masih hidup.
Setiap kali bibir Carmine membentuk garis lengkung ke bawah, Midnight selalu hadir kapanpun dan dimanapun anak itu berada. Wanita berkacamata bulat itu pasti akan bertanya alasan kenapa bibir mungil Carmine melengkung ke bawah. Terkadang, pertanyaan Midnight itu dijawab, terkadang tidak. Namun, entah bagaimana caranya, Midnight selalu memiliki banyak cara agar adiknya itu bisa kembali tersenyum dan tertawa seperti anak-anak pada umumnya.
Sekarang, Black Aura bisa merasakan sendiri pancaran positif yang Midnight tebarkan lewat kecupan dan perhatian yang diberikannya.
Aura itu membatin, Jadi, inilah yang Carmine rasakan saat itu? Hangat.
~
“A-u-ra?” Chloe mendikte nama belakang Black Aura dengan wajah yang memperlihatkan dengan jelas betapa tidak nyamannya gadis itu mempersingkat nama Black Aura. Yah, kalau bukan karena Midnight yang menyuruhnya, mungkin sudah dari tadi pagi Chloe menyeru dengan bebas nama teman Auranya itu.
“Apa?” sahut Black Aura ketika sedang memilih ukuran permen kapas yang hendak ia pesan.
“Hahh… Kenapa aku harus memanggilmu ‘Aura’? Kenapa nggak Black Aura aja?” protes Chloe.
“Haahh… Kau ini yang tidak-tidak saja! Kalau kau melanggar apa yang ibuku katakan, maka acara jalan-jalan ini bisa batal karena tatapan orang-orang terhadap kita! Kau tau sendiri kan kalau penampilanku aneh?!” tanya Black Aura yang langsung memalingkan wajahnya dari papan menu permen kapas menjadi wajah Chloe yang cemberut itu.
“Iya, aku tahu.”
“Haah… Lama-lama, kau bakal terbiasa juga kok. Pesan dua yang ukuran besar ya!”
“Oke!” seru si penjual makanan usai menerima beberapa lembar uang dengan nilai yang sepadan dengan harga makanan yang ia jual itu.
“Ngomong-ngomong, kau keren juga memakai topi dan kacamata hitam. Apa Midnight yang menyuruhmu mengenakannya?” tanya Chloe selang beberapa menit kemudian. Perasaan tidak enaknya menghilang begitu saja dan hal itu membuat Black Aura bisa kembali bernafas lega. Malas terus-terusan menanggapi ocehan tak bermakna dari mulut Chloe yang mengeluh karena hal sepele itu
“Iya. Warna mata dan rambutku ini terlalu mencolok. Untuk berjaga-jaga, ibuku memberiku kacamata dan topi ini jika seandainya ada salah satu dari pejalan kaki di area kota ini yang diam-diam memiliki ikatan dengan Yuuki.” Jelas Black Aura. “Ambil satu.” Kemudian menyodorkan harum manis berukuran besar yang dibelinya tadi.
Dengan senang hati, Chloe menerima permen kapas itu dan memakannya sambil berjalan. “Oh, ya, jadi hari ini kau memang lagi senggang ya?”
“Beneran, ya!” goda Chloe dengan senyum jahilnya.
Black Aura tidak menggubris senyuman itu dan menjawab perkataan Chloe dengan jawaban yang sama. Sambil berjalan, Black Aura menoleh ke berbagai arah. Mencari tempat yang bagus untuk mereka kunjungi.
Apa tidak apa-apa ya, jalan-jalan di hari senin? Bukankah hari ini, hari yang sibuk? Semua orang bekerja. Batin Black Aura setelah itu mendesah lelah. Meskipun sama ramainya dengan hari minggu, keramaian di hari senin justru memiliki perbedaan tersendiri di dalamnya. Dimana hari minggu, langkah kaki para pejalan kaki terlihat santai tanpa paksaan. Jika dilihat dari sisi keluarga, di tempat manapun pasti akan terlihat satu atau dua keluarga dengan anggotanya yang lengkap. Maksudnya, ayah, ibu, kakak, dan adiknya ikut berlibur semua. Sedangkan senin, langkah kaki mereka selalu terlihat seperti orang sibuk. Suara tapak kaki mereka tergesa-gesa dan sama seperti hari minggu, jika dilihat dari sisi keluarga, hanya ada satu atau dua anggota yang keluar rumah. Sang kepala keluarga atau sang anak yang masih berstatus sebagai pelajar.
Kalau tidak salah, Chloe ini mahasiswa.
“Black Aura? Kenapa kau diam saja? Kau ngantuk, ya?” tanya Chloe memecah lamunan singkat Black Aura.
“Nggak. Aku cuma… Penasaran dengan kampusmu.” Balas Black Aura sekaligus mengubah topic pembicaraan mereka agar gadis itu tidak penasaran dengan apa yang ia pikirkan sebelumnya.
“Kampus? Kenapa kampus? Oh- Astaga! Sudah berapa hari aku bolos?!” Chloe terkejut bukan main begitu melontarkan kata kampus yang sebelumnya juga disebutkan Black Aura. Chloe ingat sekarang! Sejak hilangnya Aoi, gadis itu yang awalnya berniat berangkat ke kampus bersama Aoi namun karena tidak menemukan Aoi di dalam rumahnya, dia langsung terserang syok dan mengubah rencananya menjadi mencari Aoi.
“Jangan! Pokoknya, jangan! Kalau sampai aku ketemu dosen yang mengajar di sana, aku pasti bakal ditanya-tanya!”
“Aoi? Jacqueline? Bukannya mereka juga mahasiswa sepertimu?”
“Iya! Kalau Jacqueline, aku tidak tahu dia sudah izin atau tidak. Tapi aku dan Aoi… Kami belum!” Chloe mengacak-acak rambutnya gila. Perasaan yang semulanya setenang daun yang melambai-lambai karena tiupan angin, kini menjadi daun yang tersesat di dalam tornado.
“Jadi, kita mau kemana sekarang? Aku lagi senggang, nih. Makanya, aku mau menemanimu jalan-jalan. Ah, gimana kalau aku membantumu menyelesaikan tugas kuliahmu?” tawar Black Aura santai.
__ADS_1
“Nggak, terima kasih. Kau bukannya membantu malah menambah beban.” Sarkas Chloe tiba-tiba.
Bukannya tersinggung, Black Aura justru tertawa dengan balasan Chloe itu. Jujur saja, Black Aura suka melihat wajah Chloe yang panik itu.
“Jadi?” Black Aura mengulangi kata-katanya, membuat Chloe menjadi ragu. “Kalau tugasmu dibiarkan menumpuk. Nanti kau bakal kesusahan.”
“Aku tahu. Okelah, kalau gitu kau bantu aku! Tapi, jangan terlalu mencolok ya! Soalnya ada beberapa cewek yang suka…”
Saat sedang berbicara, ada tepukan kecil di pundak Chloe yang berasal dari belakang. Lantas, Chloe segera menoleh ke belakang dan…
“Morgan!” serunya senang.
Rupanya morgan. Sudah lama sekali mereka tidak berjumpa.
Morgan hanya terkekeh menanggapi raut wajah Chloe yang terlihat sangat senang menyambut kehadirannya. “Mau kuliah, ya?” tanyanya sekedar basa-basi.
“Sebenarnya sih, niatnya mau jalan-jalan bareng dia. Cuma, karena dia memintaku untuk pergi ke kampus, jadi kami ke sini. Sekalian selesaikan tugas kuliahku. Kau sendirian aja?”
“Ya. Tadi sih, abis ketemuan sama teman. Hmmm, yang disampingmu itu Black Aura, kan?” Morgan memiringkan badannya ke kanan untuk melihat penampilan Black Aura yang berdiri di belakang Chloe.
“Hai.” Sapa Black Aura kaku.
“Hai juga! Kau agak berubah ya!” puji Morgan setelah itu terkekeh. “Ngomong-ngomong, bagaimana konfliknya? Apa sudah selesai atau belum?”
“Belum. Untuk sekarang, kami disuruh beristirahat dulu.” Balas Black Aura.
“Disuruh? Siapa yang nyuruh?” Morgan terbelalak penasaran.
“Sama… Aoi! DIa bilang, kami sudah terlalu banyak bergerak. Jadi, ada baiknya beristirahat.” Sambar Chloe bohong.
Hahaha, bohong lagi dia. Batin Black Aura dengan raut herannya.
Sebenarnya, Chloe terpaksa harus berbohong. Mengingat Black Aura yang memiliki beberapa aturan apalagi yang menyangkut tentang identitas mereka. Ya, Chloe masih ingat dengan perkataan Black Aura yang melarangnya untuk tidak memberitahukan informasi apapun tentang Midnight. Sejujurnya Chloe masih penasaran dengan alasannya. Dia penasaran, kenapa identitas Midnight harus ditutupi? Apa karena Yuuki? Tapi, Yuuki ‘kan’ sudah mengenal Midnight. Pria itu juga sudah mengetahui bagaimana penampilan dan suara Midnight.
Mungkin karena masalah lain. Atau karena Aura, ya?
“Nah, bengong lagi nih anak.” Cibir Black Aura malas yang langsung disambut oleh gelak tawa ringan dari Morgan.
“Eh? Sorry-sorry. Soalnya, aku lagi mikirin tugas-tugasku yang menumpuk. Pasti banyak banget yang harus diselesaikan.”
Dia bohong lagi. Ujar Black Aura dalam hati.
“Kau benar. Gimana kalau kita bagi tugas?” usul Morgan.
“Bagi tugas untuk tugas kuliahku?” tanya Chloe ragu.
Morgan mengangguk, “Kebetulan, aku kesini Cuma untuk mengirim tugas ke dosen. Setelah itu, aku nggak punya tugas apa-apa. Makanya kuputuskan untuk membantu Chloe. Bagaimana? Kalau kau setuju, ayo kita selesaikan tugasmu bersama-sama! Setelah itu, kita bertiga bisa berjalan-jalan!”
“Oh, boleh juga ya! Tapi, kau keberatan nggak?”
“Sama sekali nggak!” Morgan membalas perkataan Chloe dengan mengedipkan mata kirinya.
__ADS_1
“Tunggu dulu…! Morgan juga ikut?” celetuk Black Aura setelah sekian menit ia berpikir, menelaah pembicaraan Chloe dan Morgan.
~