Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 173 {Season 2: Karena Kita Teman}


__ADS_3

Berusaha untuk menjernihkan pikirannya, Black Aura beralih ke tempat dimana Chloe masih berbincang-bincang dengan Ethan. Tidak ada habisnya mereka ini. Topik yang mereka bahas masih topik yang sama, yaitu game pc tentang gadis SMA yang sangat mencintai kakak kelasnya sampai-sampai rela membunuh saingannya karena tidak ingin orang lain memiliki kakak kelas yang ia cintai tersebut.


Black Aura memutar maniknya malas. Saat berjalan, dia memikir puluhan cara agar dirinya bisa menarik Chloe dari Ethan. Black Aura sempat curiga kalau Ethan memang sengaja menahan Chloe bersamanya agar pria itu bisa berlama-lama dengan Chloe. Besar kemungkinan, Ethan menaruh perasaan terhadap Chloe. Akan tetapi, tetap saja tindakan itu sangat Black Aura benci karena sudah jelas Chloe itu sudah punya pacar dan Ethan dengan santainya merebut Chloe dengan memanfaatkan perhatiannya yang sangat gampang sekali teralihkan.


Yah, intinya, setiap kali melihat wajah Ethan, rasanya tangan ini ingin sekali melempar pedang atau senjata lain yang bisa langsung membunuh pria itu. Sayangnya, Black Aura tidak bisa melakukannya karena Ethan adalah manusia. Andai saja pria itu adalah Aura, mungkin sudah Black Aura hajar setiap hari.


“Datang… Atau nggak?” pikir Black Aura semakin ragu. Aura itu pun akhirnya memutuskan untuk menghampiri Chloe. Ya, hanya Chloe-nya saja. Tidak dengan Ethan yang duduk di hadapan gadis itu masih membicarakan topic yang sama. Astaga…


“Hai, Aura!” sapa Chloe.


Black Aura tidak  merespon kalimat Chloe melainkan langsung menarik Chloe untuk menjauh dari Ethan. Jujur saja, melihat Chloe yang tidak peka dan mudah sekali teralihkan ini membuat Black Aura jengkel. Selain itu, Black Aura harus pandai-pandai menahan emosinya agar tidak meledak dan berubah menjadi reverse.


“Kita mau kemana?” tanya Chloe bingung. “Ethan bagaimana?”


Tepat saat Chloe menyebut nama Ethan, saat itulah langkah kaki Black Aura berhenti sepenuhnya. Black Aura diam dengan tangan kanannya yang masih menggenggam tangan kiri Chloe.


“Sebenarnya, kau lebih peduli siapa sih? Pacarmu itu siapa sebenarnya?” tanya Black Aura datar walau sebenarnya, jauh di dalam dirinya, Black Aura berusaha menahan amarah serta sakitnya karena seseorang yang ia cintai justru lebih memperdulikan orang lain ketimbang dirinya. Black Aura bukan bermaksud meminta imbalan karena dia dulunya telah membantu Chloe banyak. Dia hanya ingin arti dari ikatan yang dia jalin dengan Chloe.


Kalau yang Chloe katakan memang benar dia suka dengan Black Aura, lantas, kenyataan ini apakah sesuai dengan omongan yang keluar dari mulutnya?


Black Aura memejamkan kedua matanya disusul dengan hembusan nafas panjang. Ini sudah kelewatan, kan? Atau justru dirinya harus lebih dalam lagi mengenal Chloe?


“Aura? Maaf… Kau pasti sakit hati ya, diabaikan terus?” Chloe buka suara walaupun dia ragu.

__ADS_1


“…”


“Aura?”


“Disini kan luas, daripada ngobrol di tempat itu-itu aja, bukannya lebih baik kita jalan-jalan? Pantai ini kan luas,” ucap Black Aura dengan cepat mengalihkan perhatian Chloe ke sesuatu yang setidaknya bisa mencairkan suasana canggung tersebut.


Di luar suasana itu, Ethan hanya tersenyum memandang kedua pasangan itu. Ya, dia tahu bahwa Chloe sudah berpacaran dengan Black Aura. Hanya saja, dia merasa terhibur melihat Black Aura cemburu.


“Boleh kok! Kalau naik perahu kayaknya seru tuh! Aura belum pernah naik perahu kan?” usul Chloe kembali cerah wajahnya. Mudah saja menghilangkan raut bingung Chloe. Jika ditawarkan dengan sesuatu yang sekiranya menyenangkan buat dia, maka saat itu juga senyumannya terukir.


Baru saja senang dengan respon Chloe, Black Aura lagi-lagi dibuat murung oleh Ethan yang kelihatannya sengaja ingin mengganggu waktu kebersamaannya dengan Chloe. Pria itu bangkit dari karpet sambil mengunyah sosis panggangnya.


“Aku ikut ya! Soalnya, aku agak kurang yakin sama Black Aura. Dia bisa mendayun atau tidak,” pancingnya sengaja disertai senyum jahil miliknya. Ya, wajar saja Black Aura jengkel melihatnya.


“Ayo!” ajak Ethan.


Karena sekarang yang akan menaiki perahu berjumlah tiga orang, tampaknya wajar jika salah satu dari mereka menggandeng dua orang yang akan mereka aja menaiki perahu. Tapi bagaimana jadinya jika yang digandeng itu satu orang dan orang yang menggandengnya bukanlah pacarnya melainkan orang lain yang menggandeng pacar orang.


Seperti kenyataan saat ini dimana Black Aura dibuat diam mematung di tempat saat kedua manik violetnya dibuat tak percaya oleh Ethan yang menggandeng tangan Chloe lalu membawa gadis itu pergi ke tempat dimana perahu-perahu pisang itu disediakan. Saking senangnya, Chloe lagi-lagi melupakan Black Aura sendirian di tengah daratan pantai yang luar itu.


“Cih!”


~

__ADS_1


Chloe bergegas menuju perahu pisang yang menganggur. Dia duduk di depan disusul dengan Ethan. Sedangkan Black Aura yang pada awalnya berniat duduk di samping Chloe terpaksa duduk di kursi nomor dua. Lebih tepatnya, duduk di belakang Chloe dan Ethan yang duduk di kursi nomor satu.


Lagi-lagi, dia terlambat. Untunglah, dia tak sendirian. Ada Aoi, Jacqueline, Kenzo, dan Okka yang rupanya tertarik menaiki perahu. Langsung saja, mereka menaiki perahu tersebut dan mendayung dengan bebas di lautan.


“Lah, kenapa nggak sama Jacqueline?” Chloe yang menyadari kehadiran Aoi di kursi kedua itu bertanya.


“Oh, biasalah. Dapat teman baru dia. Kau sendiri, kenapa nggak sama Black Aura?” balas Aoi dan sepertinya dia sengaja membuat Chloe tertohok lantaran sedari pagi sampai siang ini, dirinya terus bersama Ethan. Bahkan berbicara panjang lebar dan bergandengan tangan dengan Black Aura saja tidak ada.


Sejujurnya, Aoi ingin sekali mengungkapkan apa yang Black Aura rasakan setiap kali melihat mereka berdua bersama. Memang wajar Chloe dan Ethan itu dekat, karena mereka adalah teman. Akan tetapi, jika terlalu dekat sampai-sampai melupakan keberadaan Black Aura yang statusnya adalah pacarnya, apa itu… Keterlaluan? Seandainya kesabaran Black Aura habis, bisa-bisa, Black Aura meminta putus atau Aura itu diam-diam pergi meninggalkan Chloe. Atau yang lebih parahnya lagi, jika Black Aura menggunakan sihir, Aura itu bisa saja menghapus ingatan Chloe dan Black Aura dari awal sampai akhir dari kepala Chloe.


Menjalin ikatan dengan makhluk fantasi itu memang besar tantangannya. Tapi, dari situlah mereka diuji bagaimana cara mereka mengatasi konflik-konflik yang kerap kali menghampiri mereka.


“Oh, kami lagi bahas game yandere itu lho! Kau tahu kan? Yang tokoh utamanya bernama Ayano. Game itu kan terkenal di kalangan gamers. Kenzo dan Okka aja tahu,” iris biru Chloe melirik singkat kedua youtuber yang asyik berbagi candaan mereka dengan Jacqueline.


Aoi tidak lagi terlihat curiga. Daripada membuat Chloe merasa tidak nyaman, Aoi memutuskan untuk berbicara dengan Black Aura. Sambil menepuk pelan pundak Aura itu, Aoi berkata dengan nada bicara yang sangat lembut dan lirih.


Aoi tersenyum, sebisa mungkin dirinya bisa menghibur Black Aura yang murung, “Dia pasti kembali. Jadi, tunggu saja ya!” begitu katanya.


Melihat sosok Aoi yang tersenyum hangat di depannya, sukses membuat Black Aura tersentuh hatinya. Senyuman itu sepele tapi sanggup menyadarkan Black Aura betapa pedulinya Aoi terhadap dirinya. Apakah mungkin, Aoi seperti ini karena merasa berhutang pada Black Aura yang telah menjaga Chloe selama dirinya tidak ada. Atau malah, ada maksud lain dibalik senyuman tersebut?


“Kenapa kau seyakin itu? Kenapa kau berusaha menghiburku?” merasa bingung dan penasaran, Black Aura melontarkan pertanyaannya. Untungnya, perkataannya itu tidak sampai ke telinga Chloe dan Ethan karena waktu itu, suara ombak dan angin lebih kencang dari suara lirih Black Aura.


Untuk kesekian kalinya, Aoi tersenyum. Pria jepang itu memandang Black Aura lurus-lurus. Meskipun gugup, Black Aura tetap memandang wajah yang tersenyum padanya.

__ADS_1


“Karena kita ini teman. Aku seperti ini karena aku senang bisa memiliki teman yang kuat sepertimu. Kau inspirasiku juga, Aura,” jawabnya.


__ADS_2