
Toko baju saat ini terlihat lumayan ramai. Dimana beberapa kelompok keluarga yang saling mencocok-cocokkan pakaian pilihan mereka dengan anaknya atau dengan diri mereka sendiri.
Sama halnya dengan Chloe yang kini sibuk mencari mantel hangat untuk dirinya dan yah, tentu saja untuk Black Aura. Salah satu penghuni baru di rumahnya.
Cukup memakan waktu banyak berdiskusi dengannya di pagi hari. Maklum, Black Aura bukan penghuni asli dunia ini dan dia juga tidak memiliki pengetahuan lebih tentang bagaimana cara menempatkan dirinya di lingkungan manusia dan juga berinteraksi dengan manusia.
Lihat saja, berinteraksi dengan Chloe saja ia masih berpikir dengan raut datar yang sulit sekali untuk diubah.
"Kurasa dia lebih cocok pakai jaket hitam. Ditambah warna matanya yang unik dan rambutnya yang putih... Aha! Apa kupotong aja kali rambutnya?" pikir Chloe secara berurutan.
Ia asyik berpindah tempat dari rak baju sini ke baju sana. Mall yang ia datangi tengah mengadakan diskon besar-besaran. Oleh karena itulah kesempatan tersebut tak boleh ia lewatkan. Selama dompetnya masih penuh akan uang.
"Wah... Yang ini keren! Bahannya juga bagus... Kira-kira Black Aura mau pake apa nggak ya?"
Setelah larut sejenak dalam pikirannya, Chloe kembali bangun dan tetap mengambil mantel hangat yang ia pilih tersebut. Ia berpikir, Black Aura pasti akan menuruti apapun yang ia katakan.
"Pokoknya, dia harus terima apa yang kukasih!" tegasnya.
Merasa tidak lagi yang ingin ia cari, Chloe melangkah ke belakang pelan-pelan sembari memilah satu persatu baju yang tergantung. Tanpa pengetahuannya, seorang lelaki melintas dibelakangnya dan secara tidak sengaja kakinya belakang Chloe tersandung oleh sepatu pria tersebut.
Kecerobohannya nyaris membuatnya tumbang ke belakang. Untunglah, punggungnya sempat tertolong oleh pegangan orang tersebut.
"Wow!"
Kedua pandangan mereka secara otomatis bertemu.
Pria dengan iris mata biru laut yang indah itu menunjukkan ekspresi tegangnya pada Chloe. Begitu pula Chloe yang pada saat yang sama berusaha mengatur nafas dan detak jantungnya.
Chloe lumayan terkejut dengan bola mata biru yang menatap matanya tepat di depannya. Warnanya indah sekali. Seketika teringat akan nama Aoi yang berarti biru itu. Ah, bukan saatnya berpikir yang seperti itu!
"Terima kasih...?". Chloe angkat bicara dengan senyuman kaku miliknya. Bola matanya mengisyaratkan pada pria tersebut bahwa ia ingin bangkit dan tak mau berlama-lama saling memandang wajah.
"Maaf." Pria tersebut otomatis membantunya berdiri dan mundur selangkah.
"Gak perlu meminta maaf... Aku yang salah kok."
Pria itu hanya tersenyum tanpa suara.
"Namaku Morgan. Sepertinya aku pernah melihatmu. Atau... Jangan-jangan, kita ada di kampus yang sama? Kau gadis yang selalu berjalan dengan pria jepang itu kan?" pria bernama Morgan itu memperkenalkan dirinya dengan santainya. Ia bahkan malu mengulurkan tangannya.
"Hmmm... Kau percaya diri sekali..." Gumam Chloe agak risih. Ia mengamati Morgan dari ujung kaki hingga kepala. "Tapi, aku gak pernah melihatmu. Hmmm... Aku sibuk. Tolong biarkan aku pergi ya!"
Tanpa pikir panjang, Chloe berbalik cepat dan meninggalkan Morgan.
Chloe mengabaikan tangan pria itu yang masih terbuka. Memang penampilannya OK. Bahkan sangat diidamkan para wanita. Tinggi, atletis, dan pastinya tampan. Akan tetapi, jika terlalu percaya diri akan mendapatkan nilai minus dari Chloe.
"Apa-apaan sih, dia?"
Begitu selesai berurusan dengan toko baju, Chloe segera angkat kaki dari mall dan menjauh dari pria tersebut. Ia melangkah cepat menuju mobilnya dan mengetuk jendela kanan moblinya.
"Buka, buka!" Seru Chloe terburu-buru. "Black Aura? Jangan bilang kau lupa cara membuka kunci...?"
Belum lama ia emosi, kali ini Chloe justru dibuat menganga begitu kedua matanya menangkap sosok Black Aura yang baru saja menghampirinya dengan membawa 2 ember berukuran sedang berisi ayam krispi.
Dengan polosnya ia bertanya, "Kenapa?"
"Kenapa? Dari mana saja kau?! Bagaimana kalau orang-orang melihatmu? Dengan uang siapa kau beli ayam, ha?" Chloe langsung menghantam remaja tersebut dengan beberapa pertanyaan.
"Tadi aku melihat seorang wanita dengan dada besar menjatuhkan dompetnya di jalanan. Langsung kuambil dompetnya. Aku buka isinya, ada banyak kertas didalamnya." Jelas Black Aura akurat tapi membakar otak gadis dihadapannya.
"Baik... Aku bahkan bisa membayangkan sebesar apa. Lalu, kau apakan dompet itu?"
__ADS_1
"Aku kembalikan. Wanita itu memasang muka senang dan pipinya merah."
"Dia bilang apa?"
"Terima kasih sudah mengembalikan dompetku. Tanpa dia, aku bisa kewalahan di dalam." Jelas Black Aura sambil meniru cara bicara wanita itu.
"Wow... Hahaha! Setelah itu? Astaga... Ber-ekpresilah sedikit. Kau lama-lama terlihat menggemaskan ketimbang menyeramkan. Jadi, kau dapat uang dari wanita itu?" Chloe terkekeh pelan.
"Iya. Dia memberitahuku kalau di dalam mall ada yang jualan ayam. Enak sekali. Dia mengantarku kesana dan membelikannya untukku."
"Syukurlah... Aku malah takut kalau di antara manusia itu ada yang berniat mengincarmu."
"Memang ada." Jawab Black Aura datar.
Chloe terbelalak kaget. "Ehhh? Benarkah? Siapa?"
"Entahlah. Intinya, aku mau masuk. Disini sangat panas." Tutur Black Aura melirik ke kanan dan ke kiri. Entah apa yang diliriknya itu.
Chloe meresponnya dengan senyuman. "Okelah. Yuk, masuk-masuk!" Chloe membuka kedua pintu mobil dan mendorong Black Aura masuk ke dalamnya.
"Untuk manusia yang mengincarmu itu, kita bahas nanti ya! Sekarang, kita harus cari tempat penginapan dan juga..." Chloe berhenti berucap ketika memandangi wallpaper lock screen ponselnya yang menyala dengan sendirinya. Ada dirinya dan Aoi didalamnya. Tersenyum bersama memamerkan penampilan mereka yang kacau tersiram cat tembok.
Chloe tersenyum miris memandangnya.
Disampingnya, Black Aura juga menyadari keanehan tersebut melalui raut wajah gadis itu. Ia berpikir bahwa gadis itu masih merindukan sosok sahabatnya.
"Mobilnya belum nyala..." ujar Black Aura berusaha mengalihkan perhatian Chloe sampai membuatnya tersentak hebat.
"Aku tahu kau merindukan sahabatmu. Tapi, kalau melamun terus gak akan menghasilkan apa-apa..."
Chloe menoleh ke arah Black Aura lalu tersenyum tipis. "Aku tahu. Entah kenapa, kau yang bukan manusia saja punya sifat seperti manusia. Padahal kalau yang kubaca dibuku..."
"Bukunya masih bersamamu kan? Berikan padaku!" pinta Black Aura langsung.
"Milik ibuku. Buku itu sebenarnya bukan buku novel ataupun cerita. Buku itu adalah hasil pengamatan ibuku setelah kami diciptakan."
"Heh? Begitu ya? Ngomong-ngomong... Bagaimana kalian tercipta? Dari apa kalian diciptakan?"
"Entahlah. Kalau kau ingin tau, silahkan tanya ibuku. Dia mengetahui banyak hal tentang masa lalu kami. Tapi, ia memilih untuk tidak mengatakannya." Ungkap Black Aura. Ia memandang bangunan-bangunan kota yang mereka lewati di balik kaca mobil.
"Aneh. Pasti ada sesuatu nih."
"Bisa jadi. Terakhir kali aku bertanya, beliau hanya tersenyum. Tapi, anehnya... Aku bisa merasakan kesedihan di dalam hatinya. Dia bilang, dia tak ingin kehilangan dirinya di dalam hati kami dan juga ditinggal pergi oleh kami. Aku waktu itu belum bisa merasakan banyak hal. Aku cuma bisa diam."
"Merasakan banyak hal ya? Baiklah! Aku akan mengajarkanmu bagaimana cara merasakan jutaan warna di duniaku ini!" Ucap Chloe mantap disertai dengan sorot mata penuh keyakinannya.
Black Aura menoleh ke arah Chloe tanpa respon. Jadi, beginilah kalau Aura dipertemukan dengan manusia. Akan ada banyak perbedaan dan informasi baru yang mereka bagikan dan dapatkan.
"Rupanya, banyak sekali peran yang kalian mainkan." Tanpa sadar, Black Aura mengucapkan kalimat yang langsung membuat Chloe mengalihkan seluruh perhatiannya pada remaja bermanik violet itu.
"Hmm? Entahlah... Menurut aku sih, kek buat drama secara gak langsung gitu. Tokohnya kita dan kitalah yang mengatur alur cerita hidup kita. Apa kalian juga seperti kami?" Chloe melemparkan pertanyaannnya langsung pada Black Aura sebelum pada akhirnya kembali fokus ke hal lain.
"Sama." Jawabnya singkat.
"Oalah..."
Sebenarnya antara percaya dengan tidak bahwa dirinya saat ini tengah berbincang dengan sosok yang sulit sekali ia katakan sebagai manusia. Bahkan untuk menganggapnya sebagai Aura karena memang jelas spesiesnya itu juga sulit.
Meskipun percaya 99,9% keberadaan mereka memang ada, namun tidak menutup kemungkinan bahwa kejadian yang selama ini ia alami mesti ia telaah baik-baik. Diselingi dengan berbicara dengan diri sendiri bahwa yang ia kerjakan saat ini nyata apa tidak?
Mengingat mimpi yang pernah ia lewatkan beberala hari yang lalu. Mimpi yang terasa menyakitkan namun di sisi lain juga terasa seoalah itu nyata.
__ADS_1
Berbeda dengan kasus hilangnya Aoi. Salah satu masalah yang masih Chloe simpan dengan baik. Entah mimpi atau bukan.
Udara yang ia hirup saat ini. Kedua tangan yang tengah sibuk mengemudi. Dan seseorang yang duduk disampingnya menghadapkan kepalanya ke kiri. Semua ini tampak nyata.
"Black Aura..." panggil Chloe dengan nada suara halus.
Seketika perhatiannya pada gedung yang berdiri megah di sekitar kita itu teralihkan pada Chloe.
"Ya?".
"Sebenarnya yang kita lakukan ini... Nyata atau tidak?".
Mendengar pertanyaan Chloe tersebut, lantas membuat remaja bermanik violet itu membulatkan matanya sempurna layaknya bulan purnama.
"Apa maksudmu? Tentu saja nyata.".
Chloe menghela nafas usai menanggapi jawaban Black Aura. Sangat jelas bukan? Nyata.
Mungkin... Aku belum terbiasa.
~
Genangan cairan kental yang menyebar luas mewarnai seisi kelas itu terasa sangat mengerikan. Siapapun yang memasukinya secara otomatis menutup hidung mereka dan angkat kaki secepatnya meninggalkan area tersebut.
Tidak seperti darah pada umumnya, genangan kental ini bukanlah berwarna merah. Melainkan biru, ungu, pink, dan hitam. Semuanya beradu hingga menghasilkan warna yang mati. Sama halnya dengan kondisi ruangan yang tidak memiliki kehidupan sama sekali.
Permukaan papan tulis yang terciprat darah pink. Beberapa bangku yang berserakan hingga tidak ditemukan lagi tata letak yang sebenarnya dari kelas tersebut. Juga beberapa mayat yang memamerkan ekspresi keputusasaan mereka usai dilahap habis nyawa mereka oleh seorang pria dengan kapak besarnya itu.
Pria berjas hitam itu memandang datar beberapa mayat remaja. Mereka tewas dibawah perbuatan kejinya membunuh mereka yang tidak bersalah.
"Sebentar lagi, Megavile akan kukalahkan dan Carnater akan aku kuasai. Lihat saja... Begitu pasukan kami siap, kalian akan tamat." Gumamnya.
Di dalam lingkungan yang teramat sunyi ini, ia mengeluarkan ponselnya dan menemukan kotak pesan di layarnya. Senyuman tipis terukir pelan. Tampak samar bayangan wajahnya yang pucat.
"Oooh... Jadi kau berhasil menjalin ikatan dengan manusia? Good... Kau tunggu saja diriku. Aku akan mengunjungimu secepat mungkin." Ia mematikan ponselnya dan beranjak keluar dari ruang kelas.
"Huft... Rupanya Gak mudah hidup di dunia manusia.".
~
"Rumahmu banyak sekali." Ujar Black Aura mendongakkan kepalanya ke atas menatap ujung tertinggi dari gedung yang disebut sebagai hotel.
Chloe mendengus geli. "Bukan... Ini hotel. Tempat penginapan sementara tapi kek ada kesan mewahnya gitu.".
"Sementara?". Black Aura mengangkat satu alisnya tak paham.
Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit mencari tempat penginapan. Akhirnya, sampailah mereka disebuah hotel.
"Ayo, masuk!" Ajak Chloe disusul dengan beberapa langkah menuju pintu masuk.
Sementara itu, Black Aura hanya terdiam dan mengikuti gerak gerik Chloe. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah mengikuti apa yang Chloe lakukan sebagai manusia yang tinggal di dunia ini.
"Ngomong-ngomong.... Rambutmu panjang loh. Mau di potong?".
"Dipotong?".
"Iya. Kalau orang-orang sini melihat penampilanmu yang tak biasa itu, kau bisa saja diperhatikan mereka sampai keluar dari hotel.".
"Akan kupotong di kamar aja.".
"Sip!".
__ADS_1
~