Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 48


__ADS_3

Sudah lebih dari lima menit, Black Aura dan Aurora bertarung. Beradu senjata sambil kejar-kejaran di setiap lorong. Hingga akhirnya, mereka sampai di dek teratas kapal persiar itu. Disana luas dan terdapat beberapa fasilitas yang sudah lama tak terurus. Seperti, kolam renang, lapangan golf, dan fasilitas mewah lainnya.


Tubuh Chloe yang dikuasai oleh Aurora terasa sangat ringan, pergerakannya menjadi terbantu. Dia dapat bergerak bebas dengan kecepatan tinggi.


Aurora melesat di tepi kolam renang sembari mengeluarkan tombak berukuran besar. Sempat Aurora sekilas memandang kondisi kolam renang yang sangat menjijikkan itu. Ada banyak lumut tumbuh di dalam kolam. Airnya juga keruh. Berbeda dengan laut yang memancarkan sinar rembulan.


“Hiii!” pundaknya bergidik geli melihatnya.


Belum sempat bergerak, Black Aura sudah duluan melancarkan serangannya. Dia menarik kerudung jaket Chloe. Kemudian, melempar gadis itu ke udara. Saat melempar, Black Aura memejamkan kedua matanya. Ia tidak ingin melihat tangannya sedang melukai gadis itu.


“Kalau nggak sanggup mending biarin aja! Biarkan aku yang membawanya ke dunia kita!” seru Aurora disela dirinya tengah terlempar tak stabil di udara. Sebisa mungkin ia mengendalikan dirinya agar dapat menapakkan kedua kakinya di udara.


Di atas sana, terlihat sangat jelas Aurora dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Ia sangat memaksakan diri. Tidak! Dirinya terlalu memaksakan tubuh Chloe yang lemah.


Memikirkan kondisi tubuh Chloe, Black Aura jadi khawatir. Jika dibiarkan terus bergerak, Aurora bisa saja membunuh Chloe secara tidak langsung.


Kenapa dari awal aku nggak menyadari


keberadaannya? Black Aura membatin kesal. Terus terang saja, dirinya benar-benar pusing dengan situasi ini. Semakin lama Legend Aura membuat dirinya jengkel saja.


Tiba-tiba, seseorang meremas kuat pundaknya. Membuat Black Aura reflex menoleh ke belakang. Manik violetnya berpapasan langsung dengan iris biru Chloe yang menyala.  Senyuman yang terukir disana adalah senyuman jahat. Senyuman yang hanya


terukir di kala melihat orang lain menderita.


“Hai manis!” goda Aurora disusul dengan tijuannya mengarah langsung pada pipi lawannya. “Aku sangat terkesan dengan Chloe. Oh, ya! Aku belum memberitahumu jawabannya.”  Ujar Aurora menepuk keningnya.


Kepalan tangan Chloe sanggup membuat


Black Aura hilang keseimbangan. Ia menabrak dinding sebagai penghalang agar tidak ada penumpang yang jatuh dari dek kapal paling atas. Untung saja, dinding itu tidak pecah. Jika pecah, nanti dia kecebur. Black Aura berusaha membenarkan posisi berdirinya sambil memegang pipi kanannya yang semakin memar.


“Di sampingmu!”


Sontak, Black Aura melirik cepat ke samping lalu menangkis beberapa pisau Aurora dengan pedangnya. Tak hanya pisau, pemiliknya juga ikut bermain peran. Aurora memanfaatkan kelemahan Black Aura yang enggan menyakiti Chloe.


Aurora berteleportasi tepat di depan Black Aura kemudian, menendang lututnya hingga patah. Setelah itu, menendang keras Aura itu.


BRAK!


Black Aura menabrak salah satu tempat yang biasa digunakan untuk para koki memasak.


Beberapa serpihan dan bongkahan dinding mewarnai lantai. Lagi-lagi, pedangnya pecah. Black Aura benar-benar kehabisan ide untuk menyerang balik lawannya. Meskipun membencinya, ia akui Aurora itu cukup lihai dalam memanfaatkan waktu.


Manik violetnya terangkat ke atas dan


memantulkan sosok Chloe yang berdiri dari kejauhan sana.


Sedari tadi, ia sedang menyusun banyak cara agar tidak melukai Chloe. Dia juga memaksa ingatannya untuk mengingat seluruh kemampuan anggota Megavile yang sangat efektif untuk menghajar Aurora tanpa harus melukai Chloe. Dulunya, ia tidak ragu menghajar manusia yang dikendalikan oleh Legend Aura. Tapi, seiring berjalannya waktu dan dirinya yang


perlahan-lahan berbaur dengan lingkungan dunia Chloe, Black Aura setidaknya mengerti perasaan setiap manusia.


Tidak secara langsung mengerti dan tidak langsung pula memilikinya. Menyunggingkan senyuman itu bukan perkara mudah baginya. Dari senyuman Chloe dan teman-temannya, Black Aura mulai mempelajarinya.


Senyuman layaknya sinar mentari pagi yang membangunkan lembut dirinya dari dunia mimpi. Mengatakan bahwa saatnya untuk memulai hari yang baru. Baginya, ungkapan seperti itu sangat cocok apabila disuguhkan dengan sepiring kentang goreng panas dan segelas susu. Setiap kali membayangkan kentang, susu, dan senyuman, yang terlintas di


benaknya hanyalah Chloe.


Gadis berambut pirang yang selalu tampil ceria di depannya. Cengeng dan mood-nya mudah sekali berubah. Orang yang banyak pertimbangan jika itu hanya untuk seseorang yang sangat ia sayangi.


“Di dalam gadis ini, hanya ada satu perasaan negative yang benar-benar kuat. Aku bahkan menggunakan perasaan itu untuk menghabisimu.”


Black Aura mengangkat kepalanya lemas. Lelah rasanya. “Huft… Dari tadi dia berisik sekali.” Gumamnya.


“Ha? Kau bilang apa? Pfft! Aura sepertimu memang benci berisik ya! Kau mau tahu, Perasaan negative apa yang Chloe pendam di dalam dirinya?” tanya Aurora yang kini sukses menarik perhatian Black Aura.


Dari rautnya… Dia kelihatan nggak tertarik,


sih. Ah, sudahlah! Aurora memutar malas bola matanya.


“Jawabanya dendam! Polos-polos gini, dia juga punya dendam, lho! Tampaknya, Chloe telah memendam banyak amarah dan rasa sakitnya. Begitu bertemu dengan targetnya, Chloe sudah pasti akan menumpahkan emosinya. Hanya saja belum ada momen yang tepat untuk itu.” jelas Aurora.


“Terus?” tanya Black Aura. Nada suaranya terdengar lemas sekali.

__ADS_1


Aurora menelengkan kepalanya penasaram. “Kau menyerah?”


Pertanyaannya tidak direspon Black Aura. Genangan darah itu memantulkan tatapan matanya yang kosong.


Aurora tersenyum miris. Ia melangkah


maju menghampiri Black Aura dan menancapkan tombaknya di atas lantai. “Pfft!


HAHAHAHA! Jadi, aku menang gitu? Kau membolehkanku membunuhmu? Wah, nggak


biasanya ada Megavile seperti ini. Biasanya kalian itu keras kepala lho!”


Belum ada respon apapun dari Black Aura.


Situasinya sangat sulit. Sebenarnya, dia bisa mengalahkan Aurora jika dirinya mengabaikan Chloe. Akan tetapi, ada sebuah perasaan yang membuatnya enggan menyakiti Chloe. Black Aura bertanya-tanya, perasaan apa itu?


Dia melirik tangan kanannya yang hanya


tersisa dua jari. Mereka lelah dipaksa menggenggam  sabit dan pedang terus-menerus. Mereka juga sempat menggenggam tangan kanan Chloe. Hangat.


Kelihatannya, aku terlalu memaksakan diriku. Tapi… Aku bilang padanya untuk terus melindungi senyumannya.


“Oi, Black Aura! Aku heran. Kenapa kau


rela mengorbankan apapun demi gadis ini?”


Meskipun tatapannya terlihat sangat kosong, di dalamnya banyak hal yang dipikirkannya. Lebih tepatnya, berusaha mengulang kembali memori yang sudah ia simpan selama di dunia nyata. Dari semua memori yang terlintas, hanya kenangan bersama Chloe yang sangat mudah untuk diingatnya. Gadis remaja yang sanggup mengubah dirinya. Sanggup membuatnya


merasakan kehangatan meski suhu di sekitarnya sangat dingin.


Setiap kali berjalan berdampingan dengannya, aku merasa melihat banyak warna yang indah. Dia memperlihatkan banyak hal-hal menyenangkan dari dunianya yang berisik ini. Dia selalu tersenyum walau kadang-kadang, ia sangat sensitive. Kalau saja tidak ada Chloe


di sampingku maka… Semua kenangan ini hanya akan menyakitiku.


Aurora masih bertahan di depan Black Aura yang tengah termenung itu. Ia jadi penasaran dengan apa yang dipikirkan Black Aura. Tidak biasanya Aura seperti Megavile ini termenung dengan tatapan yang penuh akan kekosongan.


“Oi! Kau menyerah?” tanya Aurora berusaha menarik perhatian Black Aura.


“Tak peduli apapun yang menimpaku, dirimu, nyawamu, waktumu dan senyummu adalah prioritas utamaku”


Black Aura ingat kata-kata itu. Ia bertanya-tanya, apa yang membuatnya tiba-tiba sanggup mengatakan hal seperti itu?


Benar. Aku memang mengatakannya. Aku mengatakannya sesuai apa yang kurasakan


saat itu.


Black Aura memejamkan tatapan kosongnya lalu tersenyum. Dia menengadahkan kepalanya memandang wajah Chloe. Meskipun di depannya ini bukan Chloe yang ia kenali. Rambut, wajah yang manis, dan iris biru itu sepenuhnya milik Chloe.


“Kalau kau nggak ada, kenangan yang selama ini kita buat hanya akan menyakitiku. Jujur saja, Chloe. Aku nggak peduli kau dengar atau tidak, aku benar-benar bahagia dan senang bisa bertemu denganmu. Memang, aku berbicara


pada orang yang salah. Tapi, setidaknya, aku sudah berani mengungkapkan apa yang kurasakan selama bersamamu.” Ungkap Black Aura dengan nada suara yang tenang.


Aurora mengernyit heran, “Kau Kenapa?”


“Kau pasti bingung kenapa aku sampai tak peduli dengan diriku, bukan?” Black Aura tidak menggubris perkataan Aurora dan fokus pada apa yang ingin ia ungkapkan.


Aurora terdiam dan memilih untuk mendengarkannya.


“Yang kuinginkan memang nggak akan sepenuhnya terjadi. Tapi, melihatmu kembali sudah cukup bagiku. Kau tahu? Aku ingin sekali merasakan tertawa dan air mata. Aku…” Black Aura menggantungkan kalimatnya.


Kali ini, Aurora terbelalak melihat sesuatu yang tak biasa dari Aura itu. Selama ini Aurora selalu menganggap, Black Aura tidak memiliki perasaan. Akan tetapi… Yang sekarang ini?


Tes… tes…


Genangan darah itu tak kesepian rupanya. Ada beberapa butiran air bening yang menyusul dan menetes di samping darah itu.


“Aku ingin melihat senyumanmu sampai misi ini selesai. Tak peduli apapun yang menimpaku, Chloe. Aku akan melakukan apapun. Aku ingin mempelajari banyak hal termasuk menjadi orang yang bisa mencintaimu.” Air mata yang menggenang itu mengalir tetes demi tetes. Hanya mata kirinya saja yang mengalirkan air mata. Black Aura mengatakan semua itu dengan suara yang bergetar.


“Kalaupun aku harus mati disini, asalkan kau selamat… Bukan masalah bagiku.” Black Aura


menambahkannya sekaligus menghilangkan pedangnya yang kelihatan sekarat.

__ADS_1


“Maaf ya, kalau aku sudah menyakitimu… Chloe.” Ucapnya sekali lagi bersamaan dengan hela nafas lelah. Aku… Apa aku akan mati? Pandanganku buram. Atau karena memang gelap?


Krak…


Suara retakan itu terdengar begitu mendadak. Untuk letak keberadaannya, hanya Black Aura sendiri yang mengetahuinya. Sebuah retakan kecil yang muncul di pergelangan tangan Black Aura. Sebenarnya ia bingung. Bagaimana bisa retakan itu terjadi? Tapi yah, sudahlah… Toh, dirinya sudah tidak bisa melawan rasa lelah yang kerap kali ia abaikan saat bertarung.


Suasana malam itu menjadi sangat hening. Tidak ada satupun dari mereka yang mau membagikan suara mereka lagi. Membiarkan hembusan angin tanpa nama menerpa diri mereka.


Dinginnya.


Jika terjebak di luar rumah sedangkan, kau tidak mengenakan mantel ataupun jaket untuk melindungi tubuhmu yang sekarat dan mendambakan kehangatan. Pasti akan terbayang warna oranye di ruang makan. Berkumpul bersama keluarga, teman, dan orang-orang yang kau cintai. Menikmati hidangan panas yang mampu menghapus perasaan dingin tersebut.


Krak! Krak!


Ternyata, retakan itu tak sampai disitu saja. Retakan itu mendaki sampai ke bagian pipi kanan yang memar itu.


Retakan ini… Apa aku akan lenyap? Tapi, misiku… Kalau begitu Chloe dan aku…?


Penglihatannya kabur. Wajah Chloe juga ikut kabur. Bahkan dengan bantuan kacamata minus sama sekali tidak membantu. Perasaan Black Aura yang sebelumnya kacau tak karuan, perlahan-lahan menghilang. Ia memejamkan


pelan kedua matanya bersamaan retakan yang semakin lama mewarnai dirinya


Setelah matanya terpejam, Black Aura seperti melihat cahaya oranye. Tak hanya cahaya oranye, dia juga melihat sosok seorang gadis yang berdiri di kejauhan sana. Seperti siluet. Rambutnya pendek dan pirang.


Black Aura tertegun saat gadis itu menoleh padanya. Iris biru itu bercampur halus dengan cahaya oranye. Menghasilkan gradasi ungu kecoklatan. Gadis itu memamerkan senyumannya. Seperti baru saja mekar setelah langit berhenti menangis.


“Chloe…” Ucap Black Aura. Aura jadi terbawa oleh suasana sore itu. Ia sadar, bahwa yang ia rasakan saat ini hanyalah khayalan. Akan tetapi, setidaknya dia bisa tersenyum lega.


~


"Hooaammm! Sudah sepuluh lewat, Aoi dan Chloe masih belum pulang juga. Huft... Padahal, aku cuma suruh dia beli cemilan sama kentang goreng." Celetuk Jacqueline usai menguap. Ia duduk di teras rumahnya seorang diri. Devil Mask dan Yumizuka sedang sibuk keluar. Mereka bilang ingin mencari Aoi dan Chloe secara terpisah,


"Mereka berdua keras kepala. Padahal sudah kularang, tetap saja melawan. Aku jadi mencemaskan mereka dan juga... Chloe." Jacqueline menghela nafas sejak. Kini, ia beralih pada potret dirinya bersama Aoi dan Chloe.


Aku kesepian jika berpisah dengan kalian sehari saja. Syukurlah... Persahabatan kita awet sampai sekarang. Hebatnya... Masing-masing dari kita memiliki patner Aura. Benar-benar tidak disangka ya!


Saat melamun, suara Yumizuka muncul


menghancurkan ketenanganya.


"Hey, Jacqueline! Aku sudah mencari Aoi. Sudah lima menit lebih aku tidak menemukannya." Katanya.


"Devil Mask bagaimana?"


"Dia mencari Chloe."


"Begitu ya? Entah kenapa, hari ini terasa membosankan, ya! Nggak ada yang mengajakku berbicara. Chloe juga.bDari pagi hingga malam ini belum kembali. Sebenarnya, apa yang dia lakukan dengan Rara? Huft! Gadis itu selalu saja mengacaukan perasaan Chloe! Mati aja sana!" gerutu Jacqueline langsung menyilangkan kedua lengannya.


"Namanya juga sahabat semasa SMP."


"Ha? Kau mau membela Rara?"


"Mana ada! Aku bahkan nggak tahu yang mana satu orangnya!" sangkal Yumizuka.


Jacqueline memutar malas kedua bola !matanya. Kita hanya akan bergelut kalau pembicaraan ini diteruskan. Batin Jacqueline sambil meneguk segelas susu.


"Kalian pada dimana, sih?"


~


Di pihak lain, Minji, Rara, dan Yo-han tengah berbincang riang di dalam rumah. Membahas hal-hal lucu dan berusaha melupakan kejadian siang tadi.


Tiga remaja itu sibuk mengomentari salah satu buku novel fantasi yang baru saja mereka beli usai berpetualang di lautan.


~


Di balik pepohonan yang berdiri tanpa memandang usia, Devil Mask bersembunyi ibaliknya. Dia kelihatan sangat berwaspada dengan cakarannya.


"Cih! Kenapa harus sekarang?" gerutunya.


~

__ADS_1


__ADS_2