
“Ada apa ini?”
Ayano menelengkan kepalanya heran setelah melewati perjalanan panjangnya mencari tanaman obat yang diperintahkan Asoka padanya. Pemandangan di depannya membuat Aura itu bertanya-tanya apa yang telah terjadi di istana Asoka sampai-sampai bangunan istananya terpecah belah dari pondasinya. Duri-duri Grimoire juga merasakan di halaman istana. Kalau tidak hati-hati, duri itu bisa dengan spontan menyerang kaki siapa saja yang tidak sengaja bersentuhan langsung dengan duri tersebut.
“Kenapa cewek Megavile itu ada disini? Kalian habis bertarung ya?” tanyanya lagi dengan memasang posisi waspada. Tak lupa, Ayano mengeluarkan keris andai kata Captain main menyerangnya begitu saja.
Melihat reaksi waspada Ayano terhadap Captain, Grimoire merentang tangan kanannya di depan Captain sebagai isyarat bahwa gadis ini tidak dalam posisi ingin menyerang.
“DIa tidak bersalah. Semua kekacauan ini ulah manusia,” tutur Grimoire.
“Manusia? Yang benar?”
Asoka mengangguk kemudian menambahkan sedikit penjelasan mengenai yang ia alami barusan. “Ada dua manusia, perempuan dan laki-laki datang menyerangku. Aku nggak tahu apa niat mereka tapi, mereka sukses membuatku tak terkendali. Karena itulah, aku meminta kalian untuk mengikuti semua arahan yang kukatakan dan jangan membantah. Terutama adikmu. Aku sudah melarangnya tapi dia keras kepala sekali.”
“Sepertinya dia mencari Aura. Entahlah, niat dia nggak jelas.” Captain ikut menimpali sambil terkekeh seolah mengejek adik Ayano.
Ayano berdecak kesal, “DImana dia sekarang? Aku akan menyusulnya!” tegas Ayano tanpa memperdulikan tatapan meremehkan dari Captain.
Grimoire menaikkan singkat pundaknya, pertanda dia tidak tahu. Aura berkekuatan duri itu maju. Lalu membuka telapak tangannya meminta keranjang berisikan tanaman obat yang Ayano bawa. “Obatnya sudah lengkap?”
Ayano mengangguk pelan seraya memberikan Keranjang itu pada Grimoire. Pikirannnya kacau membayangkan betapa ceroboh dan keras kepalanya adiknya itu. “Kalau begitu, aku duluan ya!”
“Hati-hati… kalau ketemu manusia, aku sarankan langsung pulang. Tidak baik berhadapan langsung dengan mereka,” ucap Asoka mengingatkan.
“Cih, manusia kan lemah! Ngapaian juga takut!” sungut AYano berlalu meninggalkan istana Asoka bersama ketiga Aura yang hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapi sikap Ayano. Tidak ada bedanya dengan Alter sang adik. Keduanya mirip hanya gender saja sebagai perbedaan kecil di antara mereka.
“Oh, ya! Omong-omong, aku pergi lagi ya! Aku takut pasangan itu tersesat mencari Black Aura,”
Grimoire menghela nafas berat. “Cepat susul mereka! Kemungkinan besar, ada pertarungan sengit begitu kau sampai ke tempat Black Aura.”
“Iya, aku tahu itu. Aura itu memang nggak bisa jauh-jauh dari perkelahian. Asoka, kau harus jaga kesehatan selalu ya!” Captain membelai puncak kepala Asoka dengan lembut. Aura itu juga memamerkan cengiran lebarnya.
Situasi seperti ini selain memberi dampak negatif berupa rasa frustasi yang menjadi beban bagi para Aura, ada beberapa dampak positif yang terselip di dalamnya. Ikatan mereka yang sebelumnya adalah musuh menjadi teman. Perlahan-lahan tapi pasti, ikatan itu akan berakhir indah apabila kedua pihak tersebut bisa mempertahankan ikatan pertemanan itu sampai dunia mereka, Carnater. Kembali seperti semula.
Belaian tangan Captain ternyata memiliki kelembutan tersendiri. Kelembutan layaknya seorang ibu yang membelai kepala anaknya sebagai wujud kasih sayangnya sekaligus bangganya beliau akan pencapaian anaknya. Asoka akui, Captain ini memiliki sisi lembut yang hanya orang-orang tertentu saja bisa merasakan. Rumor mengenai kekejaman Megavile itu perlahan-lahan memudar tersapu oleh waktu dan juga perubahan sikap yang dialami setiap anggotanya.
“Kami janji, dunia kita ini akan kembali seperti semula. Festival, musik, makanan, pemandangan, apapun yang kau inginkan akan kami kembalikan semua. Kami juga… Minta maaf…”
“Untuk apa minta maaf?”
Captain tersentak dengan kedua pipinya yang merona. Ratu itu tersenyum padanya. Begitu pula Grimoire. Pengawal setianya yang menjadi musuh terbesar para Megavile itu memperlihatkan ekspresi teduh untuk pertama kalinya. Hal sepele seperti itu dengan mudahnya membuat obsesi Captain terhadap senyuman Aura berkekuatan duri itu muncul.
“Kami sudah mengerti apa maksud kalian melawan kami dulu. Semua itu, demi dunia luar kan?”
Tanpa Captain sadari, kepalanya mengangguk pelan. Mendadak, rasa percaya dirinya lenyap termakan rasa bersalah dan rasa malunya akan pernyataan lembut yang Asoka lontarkan langsung di depannya.
Asoka menarik lengan Grimoire, meminta Aura berkekuatan duri itu untuk membantunya berdiri. Kedua kaki Asoka masih lemah. Hal itu membuat Captain tergerak hatinya untuk ikut membantu Asoka berdiri.
“Mulai sekarang, kita bukan musuh lagi ya! Mari sama-sama kita bangun dunia kita menjadi semeriah dulu!” ajak Asoka dengan suara lemahnya.
Captain mendengus mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau urusannya dengan Kelompok Asoka akan berakhir baik seperti ini. DItambah lagi, Captain tidak perlu susah payah membujuk ratu itu. Sungguh di luar dugaan! Secepatnya, Captain harus pergi mendatangi Black Aura, memberitahukan kabar bagus tersebut.
“Kalian tidak sendirian lagi. Ada kami yang akan membantu kalian menemukan manusia itu,” Grimoire menimpali dan tanpa sepengetahuan Aura itu, Captain dibuat jatuh hati pada pesonanya yang elegan sekaligus hangat itu.
__ADS_1
“Be-begitu ya…? Terima kasih banyak ya!” ucap Captain sambil membungkuk badanya sebanyak tiga kali. “Kalau begitu, aku duluan ya! Aku mau menyusul Aura! Bye!”
“Bye…”
Lambaian tangan Captain itu dibalas Grimoire dengan senyuman dan untaian kata “bye”-nya. Kecil tapi sanggup membuat dada Aura itu berdebar-debar hebat. Seumpama taman bunga di dalam dirinya mekar di waktu bersamaan.
~
Alter mencengkram kuat batu dihadapannya. Rasa menyesal menghujam batin dan pikirannya. Keputusannya ingin menghabisi Black Aura justru berakhir menjadi kekalahan mutlak untuknya. Dirinya langsung ditikam rasa takut akan tatapan dingin Black Aura juga pilihan yang Aura itu berikan padanya. Kalau sudah serius, Aura bermanik violet itu tentunya tak segan-segan menghabisi lawannya. Apapun caranya pasti akan melibatkan kekerasan.
Alter berpikir keras memilih kedua pilihan Black Aura yang sebenarnya sangat mudah untuk dijawab. Hanya saja harga dirinya yang tinggi itu memperumit dirinya. Tinggal cap-cip-cup saja selesai sudah urusannya. Atau kalau dirinya sayang nyawa, pilih saja pilihan kedua. Bekerja sama dengan Black Aura.
Dalam diamnya, Black Aura setia menunggu jawaban Alter. Genggaman tangannya semakin erat menggenggam tongkat sabitnya seolah dirinya sudah tak kuasa lagi menahan amarahnya mengingat para Aura Carnater ini lebih percaya akan kebohongan ketimbang mendengarkan kronloginya. Mereka semua sudah terbakar dendam. Dendam itu melahirkan sejumlah sifat menyebal yang nantinya menimbulkan masalah baru. Membayangkannya saja sudah cukup membuat Black Aura muak. Seandainya dirinya belum mengenal apa itu belas kasih, mungkin semua warga di Carnater sudah ia bantai tanpa menyisakan sedikitpun potongan tubuh mereka.
“Pilih!” seru Black Aura dingin. Sebagai bonus menambah ketakutan Alter, Aura meletakkan ujung sabitnya satu centi di samping leher Alter.
Seketika, tubuh Alter menegang. Bola matanya tak sanggup menatap ujung sabit yang tajam itu. Akhirnya, Alter menyerah. “Baik! Baik! Aku akan membantumu! Tolong jangan bunuh aku!” teriaknya memelas.
“Mau bantu apa memangnya?” tanya Black Aura langsung membuat Alter tercekat. Pertanyaannya sungguh membuat Alter kehabisan ide. Otak jadi buntu, tapi tidak untuk rasa takutnya yang kian bertambah.
Di kejauhan sana, terlihat Chloe sedang berlari tergesa-gesa sambil menggenggam pedang pacarnya. Senyuman lebar terkulas di wajah gadis itu. Memperlihatkan betapa bangganya gadis itu bisa mengeluarkan senjata andalan kekasihnya.
“Oi, Aura! Lihat apa yang aku bawa ini!” teriaknya meski demikian suaranya tidak sampai ke tempat dimana Black Aura berdiri saat ini.
“Black Aura!! Aku bisa mengeluarkan pedangmu, lho! Aku punya kekuatan fantasi!! Gila kan?!”
Samar-samar, Black Aura merespon teriak cempreng seorang gadis dari arah belakang. Kira-kira siapa ya?
“Chloe?” Aura itu melongo heran mengamati tingkah laku Chloe yang berlari seperti dikejar anjing. Ingin rasanya menghampiri gadis itu. Akan tetapi Aura itu tidak ingin meninggalkan dan membiarkan musuhnya kabur begitu saja. Alter harus menjalani hukuman darinya sekaligus Black Aura harus mengetahui apa saja yang bisa Alter lakukan untuk membantunya.
“Pacarmu?” tanya Alter mengejutkan Black Aura.
“Iya.”
“Wajahnya… Agak familiar.”
“Aku tahu.”
Alter menyunggingkan senyuman licik. “Mirip banget sama Chloe pacarnya Megawave. Kalau dia sampai tahu, bisa gawat lho…”
“Kau mau memberitahunya soal Chloe?” Black Aura menatap sengit ke arah Alter. Sudah diposisi terdesak pun masih sempat-sempatnya mencari masalah.
“Yep! Biar kau rasain gimana rasanya…”
BUAK!
Muak mendengar omongan Alter yang terkesan mengomporinya itu, Black Aura tak segan-segan mempertemukan ujung sepatunya dengan wajah Aura itu. Black Aura melakukannya sebanyak yang ia mau. Sampai dirinya puas. Sampai Alter memohon padanya untuk berhenti.
“Hentikan! Ya! Ya! Aku salah! Aku janji nggak bakal kasih tahu soal Chloe padanya!” teriak Aura itu kesakitan.
Black Aura menghentikan aksi kerasnya dan memilih untuk diam. “Jadi, apa yang bisa kau bantu untukku? Kalau bisanya bantu lihat aja, jangan nyesel kehilangan matamu!”
“Astaga… Iya, iya. Aku akan membantumu mencari manusia yang kau maksud. Nggak peduli mau dihajar pakai apa diriku, yang penting manusia itu ketemu dan nggak membuat kekacauan di dunia kita,” jelas Alter panjang lebar. Suaranya bergetar menahan rasa takut yang menguasai dadanya itu.
__ADS_1
“Oke… Kuterima.”
Hening…
Black Aura mengernyitkan keningnya. Kemana perginya suara cempreng Chloe tadi?
Saat Black Aura hendak menoleh ke belakang, berniat ingin mengecek sampai manakah langkah menggemaskan gadis itu membawanya. Tidak disangka-sangka, gadis dengan suara cempreng itu kini terikat dengan ekor Kristal milik Ayano. Kakak perempuan Alter yang kini memperlihatkan senyum seringainya pada Chloe. Senyum itu menimbulkan kesan mengancam bagi Chloe yang dilanda panik.
“Aura!! Tolong! Dia mau bunuh aku!” jeritnya terdengar melengking.
“ASTAGA SUARAMU! Jadi kau yang mencari gara-gara di istana Asoka ya?!” bentak Ayano.
Tidak terima dengan perlakuan Ayano pada pacarnya, Black Aura segera berteleportasi dan menendang Ayano dari samping. Sebelum Ayano terlempar cukup jauh, Black Aura mengambil kesempatan memotong ekor Kristal Ayano dengan sabitnya. Chloe akhirnya terbebas dari belenggu ekor Kristal yang mengikatnya tadi.
Terus terang, selain merasa takut, Chloe juga merasa kagum dengan penampilan dan warna ekor Kristal milik Ayano. Warna merah darah tapi kilatannya sungguh mempesona.
“Aura!” seru Chloe riang mendapati dirinya dalam posisi favoritnya yaitu digendong ala-ala princess. Chloe melingkarkan tangannya manja di leher Black Aura. “Kau tahu nggak? Aku dapat kekuatan baru lho!”
“Apa itu?” tanya Black Aura lembut.
“Aku bisa mengeluarkan pedangmu, lho! Nggak pakai mantra!”
“Oh, ya?”
“Iya! Terus… Eh? DI ATAS!!!”
Black Aura tersentak, spontan mendongakkan kepalanya ke atas. Tinggal beberapa centi lagi ekor Kristal Ayano menyentuh wajahnya. Cepat-cepat, Black Aura menghindar dengan maju selangkah ke depan. Tak hanya ekor, Ayano meluncurkan serangkaian Kristal dengan ujung setajam mata elang. Dengan target yang sudah ia tentukan yaitu Black Aura, Kristal berjumlah genap itu meluncur menembus angin di depannya. Salah satu kristalnya berhasil tertancap di kaki kanan Black Aura hingga menyebabkan ledakan Kristal yang langsung membekukan kakinya.
Keberadaan Kristal itu menghalangi kegiatan berlari Black Aura dan membuat Aura itu tersandung. Chloe yang digendongnya ikut mencium tanah sampai terseret-seret.
“Aduh…” Chloe mencoba bangkit setelah tubuhnya puas diseret oleh dorongan kuat usai diserang oleh Ayano tadi. Chloe mengibas-ngibas jaketnya yang berdebu dengan sapuan halus tangannya.
“Black Aura! Kakimu!” tunjuk Chloe, terkejut setengah mati.
“Cih! Aku nggak papa…” Katanya berusaha bersikap tenang tapi tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa dirinya kesulitan bergerak lantaran kaki kanannya membeku di dalam Kristal Ayano yang berat itu.
“Sini kubantu!” ujar Chloe menghampiri Aura itu. “Berat ya?”
“Lumayan…” Bahkan Black Aura kesulitan membalikkan badannya.
Tidak ingin melihat Black Aura terus-terusan seperti itu, sebuah ide cermelang muncul di benaknya. Chloe menepuk kepalan tangannya di atas telapak tangan kirinya yang kosong. “Aku ada ide!”
“Apa?”
“Sini kubantu!” Chloe mengeluarkan pedang Black Aura kemudian, menancapkannya di kristal yang membekukan kaki Black Aura.
Black Aura terbelalak panik. “Chloe! Apa yang kau lakukan?”
“Jangan khawatir… Aku bisa mengatasinya. HIYAAAA!”
Dengan tenaga penuh, Chloe mencabut ujung pedang Black Aura dari Kristal itu. Alhasil, Kristal Ayano pecahnya sampai kepingan terkecil bersama bagian kaki Black Aura yang ikut mengkristal di dalamnya.
“Aduh…” Chloe menutup mulutnya dengan tangan. “Maaf nggak sengaja.”
__ADS_1
~