Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 118 {Season 2: Setuju}


__ADS_3

“Aku nggak tahu kenapa manusia itu bisa masuk ke dunia kita. Apa dunia mereka sudah lebih canggih dari dunia kita sampai-sampai membuat mesin penghubung dunia?” celetuk Aoi yang sibuk melahap biscuit buatan Jean, teman asramanya.


Aoi Shizukana. Bukan Aoi sahabat Chloe. Aura berkekuatan es itu menoleh ke jendela luar yang mana hanya menampilkan ketenangan dan betapa kesepiannya Carnater tanpa adanya festival. Dunia tanpa warna bagi Aoi sama saja dengan neraka. Aura yang gemar berpesta dan menghabiskan waktu luangnya dengan berkumpul dan bermain itu mau tak mau berdiam diri di rumah sambil membantu musuhnya mencari keberadaan manusia yang menjadi ancaman para Aura. Menyebalkan, bukan?


Aoi meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, kemudian mengisi password-nya. Aoi bermain game demi menghilangkan rasa bosan yang kerap kali mengganggu pikirannya. Berulang kali dia berdecak sebal dengan situasi yan tengah ia alami saat ini.


“Bosan. Kenapa kita harus bekerja sama dengan Megavile? Megawave kesambet apa sih, sampai-sampai menyerah dan mau-maunya disuruh Midnight cari manusia di kota ini. Toh, manusia itu kan lemah. Kenapa pakai dianggap ancaman juga? Hiperbola banget dah!” omel Aoi yang suaranya tak sengaja terdengar Megawave yang tak sengaja melintas di depan pintu kamarnya.


Megawave mengeraskan kepalan tangannya karena tersinggung. Tanpa ragu-ragu, dia menendang pintu kamar tersebut hingga terpental menghantam jendela di samping Aoi berbaring.


Betapa terkejutnya Aoi  mendapati pintu kamarnya terlempar menabrak jendela di sampingnya dan nyaris saja mengenai dirinya. Lantas, ia pun berteriak kesal dengan perbuatan abangnya, Megawave.


“Oi, Meg! Apa-apaan pintu ini?! Kau mau membunuhku ya?” bentaknya, tapi sebenarnya takut.


“Terlalu gampang untukmu mati dengan cara seperti itu!” cibir Megawave. Aura itu mulai memasuki kamar Aoi dan menyandarkan dirinya di dinding dekat engsel pintu yang sudah terpisah dengan pintunya.


Megawave menyilangkan tangannya disertai tatapan tajam yang mengarah cepat pada Aoi. Hawa di kamar Aoi memanas karena ekspresi kesal dari Megawave dan juga kondisi kamar Aoi yang berantakan. Serbuk-serbuk yang berasal pintu Aoi berterbangan hingga membuat hidungnya sensitif dan bersin sejadi-jadinya.


“Ngomong apa tadi, ha? Coba ulangi!”


“Memangnya aku ngomong apa?” Aoi pura-pura tidak tahu. Keringat dingin bercucuran di wajahnya. Dia sudah menebak kalau di menit selanjutnya, dia akan babak belur di tangan abangnya. Yah, Megawave itu memang terkenal jenius, cerdas, dan pendiam. Dia cukup ramah di depan banyak orang. Hanya saja, jika seseorang berani memancing amarahnya, saat itulah rumah sakit menanti kehadiran orang tersebut. Dan Aoi adalah pasien yang paling sering berkunjung ke rumah sakit sampai-sampai penghuninya hafal.


“Oke, nggak papa kalau kau nggak mau ngomong. Sekarang, coba kutanya.”


Aoi meneguk salivanya susuah payah. Rasanya ingin menghilang saja dari dunia ini.


“Misalnya, kau ini pemimpin. Terus, kotamu diserang oleh musuh tapi… Musuh itu berurusan dengan musuh bebuyutan mu. Semua orang tewas karena perang itu sementara kita ini nggak tau apa-apa. Musuh yang baru datang itu kebetulan kuat banget sehingga bisa kapan saja membunuh kita. Kemudian, kau yang pemimpin itu melihat satu-persatu anggota dari musuh bebuyutan kita tewas sementara, pendatang itu malah seenaknya membuat kekacauan. Apa yang akan kau lakukan?” Megawave berusaha mengetes Aoi. Tangan kanannya sudah terkepal erat dan tidak tahan ingin meninju pipi adiknya andaikata jawabannya tidak sesuai dengan pemikirannya.


Ragu-ragu, Aoi mulai berpikir. Di situasi seperti itu apalagi ditemani Megawave yang sedang diselimuti oleh kekesalan membuat Aoi ragu ingin menjawab ngasal. Sebab, orang seperti kakaknya ini paling benci apalagi disengaja yang namanya jawaban ngasal. Megawave pernah bilang, jawaban ngasal bukan berasal dari hasil pemikiran dan kerja keras otak mereka, melainkan rasa malas akan berpikir dan dengan kemampuan sastra menjawab suatu pertanyaan dengan mencocokan juga memperindah jawaban ngasal tersebut.


Aoi tidak mengerti dengan jalan berpikir abangnya. Terkadang, Megawave suka sekali membuat hal sepele menjadi sangat rumit sampai-sampai memancing emosi orang dan berakhir dengan perkelahian. Untuk menang, jangan diragukan lagi. Selalu Megawave yang berada di posisi teratas.

__ADS_1


“Mana jawabanmu, Aoi Shizukana?!” tegasnya dengan suara lantang.


“Huft, baiklah! Kalau aku di posisi seperti itu maka aku akan memilih untuk ikut campur dan WAAAAAAAA!” Aoi tiba-tiba melayang di udara ditemani dengan mainan-mainannya yang ikutan melayang. Aoi mendongakkan kepalanya ke atas menemukan portal yang terbuka berasal dari kamarnya. Tidak diragukan lagi, abangnya iseng memindahkan dirinya menggunakan portal. Tentunya sebagai hukuman.


“GILA KAU MEGAWAVE!” teriak Aoi.


Di atas sana, Megawave memandangi adiknya yang melayang ke bawah. Daratan dan tubuh Aura itu masih sangat jauh. Jadi, dia tidak perlu mengkhawatirkan adiknya secara berlebihan.


“Sudahlah… Akan kususul dia nanti,” ujar Megawave sambil menutup portalnya dan beralih ke ruang kerjanya.


~


Chloe menyilangkan tangannya di dada sambil sesekali menghembuskan nafas. Sudah sepuluh menit lebih Black Aura dan Jacqueline tak kunjung tiba. Chloe khawatir dan ingin menyusul sebenarnya. Akan tetapi, dia ragu seandainya Midnight melarangnya untuk pergi.


Chloe melihat ke arah Midnight yang saat ini sibuk menyusun rencana dengan Aoi. Chloe tidak ikut berdiskusi karena dia sudah lebih dulu diberitahukan Silentwave menggunakan kemampuan telepati Aura itu.


Di tengah lamunannya, tiba-tiba Chloe teringat akan mimpinya dimana ada pedang Black Aura yang terlempar kemudian tertancap di dada gadis elf yang tengah berlarian di kota yang hancur. Chloe bertanya-tanya hingga saat ini, siapa gadis elf itu dan bagaimana bisa pedang Black Aura tertancap padanya.


Apa mungkin karena aku terlibat, jadi Midnight berpikir keras agar aku tetap terlindungi sampai masalah ini selesai? Atau jangan-jangan karena aku dan Black Aura udah pacaran kali?


“Oh, ya. Chloe,” panggil Midnight datar.


Chloe terkesiap dan langsung membalikkan badannya menghadap Midnight sambil terkekeh malu. “Kenapa, Midnight?”


“Ada yang ingin kubicarakan padamu.”


“Oalah… Baiklah.”


“Tapi bukan disini tempatnya. Ini privat antara kau dan aku.”


Chloe bingung.Lalu menoleh ke arah Aoi khawatir. “Bagaimana dengan Aoi? Masa iya, dia ditinggal sendirian?”

__ADS_1


“Ada Silentwave. Percayalah padaku, sahabatmu akan baik-baik saja,” ucap Midnight. Dari suaranya, dia tampak kelelahan. Tidak tahu alasan dibalik rasa lelah itu yang jelas, ekspresinya menjelaskan betapa muaknya wanita itu dengan hidupnya. Chloe jadi berpikir kalau fantasi yang selama ini dia kagumi justru bisa saja membuat orang lain stress.


Tak ingin membuang waktu lama, Chloe segera menuruti omongan Midnight. Kemudian, mengikuti Midnight kemana wanita itu pergi. Dia berjalan mengikuti jamur dengan payung berwarna biru. Jamur yang indah, tapi, kenapa harus ikut jamur? Kalau tidak mengikuti jamur, apa akan ada bahaya yang menghampiri mereka?


Setelah memastikan jarak mereka jauh dari Aoi, Midnight langsung menghentikan langkahnya seraya membalikan badannya agar menghadap Chloe. Wanita itu tersenyum.


“Chloe, bagaimana hubunganmu dengan Black Aura? Apa berjalan mulus? Kudengar juga, kalian berdua sudah berpacaran. Apa itu benar?” Midnight langsung memberondong Chloe dengan berbagai pertanyaan  yang terkesan kepo bagi Chloe. Meskipun begitu, Midnight adalah ibunya Black Aura. Wanita berkacamata bulat itu harus tahu soal hubungan mereka saat ini dan Chloe berharap, Midnight menyetujuinya.


Chloe terkekeh malu sambil menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinganya. “Hubungan kami selama ini baik kok. Yang dua bulan itu udah terselesaikan dengan baik sekarang. Dan… Kita juga udah pacaran, Midnight,” ungkap Chloe.


Midnight manggut-manggut.


“Nggak papa, kan kalau aku pacaran dengannya?”


“Bukan masalah besar kok. Pasti ada saatnya begitu. Selain itu, aku senang Aura bisa berubah sedikit demi sedikit karenamu. Tapi, yang kuinginkan dari kalian berdua Cuma satu,” Midnight mengangkat telunjuknya sambil menggoyangkannya ke kiri dan kanan.


Alis Chloe terangkat karena penasaran. Di sisi lain, jantungnya berdebar-debar menanti permintaan yang tak lama lagi akan Midnight beritahukan padanya. Kira-kira, permintaan seperti apa? Chloe hanya bisa berharap, permintaan itu bisa dia penuhi bersama Black Aura.


“Kalian harus saling menjaga satu sama lain. Itu saja. Sisanya tergantung pada kalian. Pacaran beda dunia itu terdengar mustahil tapi butuh perjuangan mempertahankan ikatan tersebut,” jelas Midnight.


Chloe hanya bisa mengangguk seadanya karena dia tahu kalau Midnight lebih berpengalaman berteman dan berpacaran dengan makhluk fantasi. Wanita itu sudah merasakan suka dan duka dalam menjaga ikatannya dengan mendiang suaminya.


“Itu artinya, kau setuju aku dan Black Aura berpacaran?” tanya Chloe sekedar memastikan.


“Ya.”


“Beneran? Wah! Makasih banyak Midnight!” tanpa Chloe sadari, kakinya berlari dan langsung menyerang Midnight dengan pelukan eratnya. Gadis itu bahagia sekali mengetahui dosen sekaligus ibu dari pacarnya itu menyetujui hubungan mereka. “Sayang Midnight! Sayang Midnight! Mwah!” Chloe bahkan tanpa ragu mencium pipi kanan wanita itu hingga membuatnya meronta-ronta karena sesak. Pelukan Chloe hangat tapi cukup membunuh jika terlalu erat.


“Woi, lepaskan! Jangan berlebihan gitu kenapa sih?!” Midnight berusaha sekuat tenaga memisahkan dirinya dari Chloe namun sia-sia usahanya. Midnight pun akhirnya menyerah. Mau tak mau membiarkan Chloe memeluknya sampai gadis itu merasa puas.


Midnight geleng-geleng kepala. Dia berpikir, Chloe dan Black Aura ini cocok juga.

__ADS_1


~


__ADS_2