
“Oalah, jadi kau menyimpan cerminnya disini?” celetuk Aoi saat Midnight memperlihatkan pada semua remaja itu tempat dimana dia menyembunyikan cermin penghubung Carnater dengan dunia nyata.
Midnight mengangguk pelan seraya menerangkan beberapa aturan jikalau mereka ingin pulang ke dunia mereka lagi.
“Jadi, ada beberapa aturan yang harus kalian patuhi kalau mau masuk ke dalam cermin ini. Tenang, Cuma ada tiga,” ujar Midnight.
“Sekalinya tiga, tau-taunya beranak,” bisik Kenzo iseng pada Jacqueline dan Aoi.Untunglah, omongan mereka tidak sampai terdengar di telinga Midnight yang saat itu sangat fokus menjelaskan beberapa peraturannya.
“Aturan pertama, kalian dilarang bolak balik pakai cermin sebanyak tiga kali. Kalau kalian melanggar, maka kalian nggak akan bisa kembali karena cerminnya rusak. Yang kedua, kalian harus saling bergandengan tangan dan jangan pernah lepaskan gandengan itu sampai kalian mendarat di dunia kalian. Begitu pula sebaliknya. Yang terakhir, santai aja. Oke, silahkan digunakan…”Jelas Midnight akhirnya ia menyingkir dari cermin carnater itu dan mempersilahkan Chloe dan Black Aura untuk masuk terlebih dahulu.
“Pegangan yang kuat ya!” ucap Black Aura lembut.
Chloe mengangguk mantap. Tanpa pikir panjang, Chloe dan Black Aura pun melangkah masuk ke dalam cermin tersebut dan beruntunglah, mereka sampai di bumi dengan selamat.
Chloe tersenyum puas memandang dirinya yang kelihatan baik-baik saja. Tanpa pikir panjang, Chloe segera menggandeng tangan Black Aura dan membawa Aura itu pergi ke tempat-tempat yang ingin ia kunjungi. Sekalian berkencan.
~
Dua jam berlalu dan semuanya berjalan dengan lancar sesuai keinginan mereka berdua. Mereka berjalan-jalan, shoping, dan nonton bioskop.
Chloe terkekeh saat memandang Black Aura yang agak terkejut melihat jagung yang meledak di dalam microwave. Aura itu bertanya-tanya secara terang-terang, tentang kekuatan yang dimiliki microwave itu hingga bisa membuat jagung meledak dan menjadi popcorn.
Chloe dengan senang hati menjawab pertanyaan Black Aura sesudah dirinya membeli tiket.
“Kita bakal nonton apa memangnya?” tanya Black Aura untuk ketiga kalinya. Dia duduk di kursi antrian sambil memandang tiket serta nomor kursi yang akan mereka duduki nantinya.
Chloe memilih genre horror. Dia dan Black Aura sudah sepakat akan menonton film horor, mengingat Black Aura yang tidak tahu bagaimana rupa hantu itu sebenarnya.
“Intinya film horror. Horor itu genre-nya dan film yang kita tonton ini termasuk dalam jenis film dewasa. Bakalan ada adegan yang mengejutkan jantung, yang bikin kita halusinasi, dan bikin kita terngiang-ngiang deh sama muka hantunya,” jelas Chloe bersemangat seolah dirinya sama sekali tidak takut akan film yang ia pilih kali ini.
Sementara Black Aura hanya mengiyakan saja kata-kata Chloe karena, mau bagaimanapun juga, inilah kali pertamanya dia pergi ke bioskop dan menonton bersama seorang kekasih yang amat ia cintai itu. Tidak masalah bingung, asalkan hatinya bahagia bisa berada di dekat Chloe.
“Aura, kemari sebentar,” bisik Chloe.
__ADS_1
Black Aura yang merasa terpanggil itu, lantas berdiri dari kursinya. Lalu menghampiri Chloe yang kelihatan serius memandangnya.
Heran dong tentunya, “Hm, ada apa, Chloe?”
“Topimu agak miring. Sini ku betulkan,” balas Chloe seraya membenarkan posisi topi Black Aura.
Sambil menunggu Chloe selesai membenarkan letak topinya, secara tidak sengaja, pandangan Black Aura berpapasan dengan wajah serius Chloe yang saat ini terpaku lurus pada topinya.
Jadi, posisi Black Aura saat ini agak menunduk menyamakan tingginya dengan Chloe. Chloe itu pendek, jadi mau tak mau dia menunduk sampai tidak sadar wajahnya berpapasan langsung dengan sang pacar.
Alhasil, merona sudah wajah Aura itu. Jika yang biasanya Chloe yang merasa jantungnya berdetak tak beraturan karena pesona pacarnya Aura-nya. Kini, Black Aura-lah yang merasakan perasaan berdebar-debar tersebut.
Black Aura dibuat kagum sekaligus terpesona dengan wajah Chloe yang terlihat sangat manis ini.
Tidak kuat dengan posisi itu, Black Aura perlahan-lahan memisahkan dirinya dari Chloe dan tanpa ia ketahui membuat Chloe heran dengan aksinya barusan.
“Kenapa menjauh?” tanyanya heran.
Black Aura tersenyum malu sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. “Nggak ada.”
Chloe pun otomatis menarik tangan Black Aura dan membawa Aura itu masuk ke dalam bioskop.
Kesan pertama kali saat Black Aura masuk adalah dingin karena AC dan hening meskipun ramai. Black Aura juga menangkap aroma hangat serta gurih popcorn yang berbaur dalam keheningan. Ternyata, suasana setenang ini tak hanya dia jumpai di perpustakaan tapi juga di bioskop.
Black Aura memeluk dirinya karena merasa menggigil dengan pendingin ruangan yang ada di dalam bioskop kali ini. Entah kenapa, tangannya terasa agak sensitif layaknya orang yang sedang demam.
“Black Aura? Kau nggak papa kan?” tanya Chloe khawatir.
Black Aura menggeleng pelan disertai senyuman lemahnya. “Nggak papa. Jadi, kita duduk dimana?”
“Disini,” Chloe melangkah pelan sambil menuntun Black Aura ke kursi yang sudah ditentukan oleh tiket yang mereka beli tersebut.
Keduanya duduk di kursi yang empuk, tak lupa berpegangan tangan satu sama lain.
__ADS_1
Seperti biasanya, Chloe menyandarkan kepalanya di pundak Black Aura. Selalu dirinya merasa nyaman dengan posisi tersebut dan selalu berharap bahwa dirinya masih bisa diberi kesempatan atau waktu untuk terus berlama-lama dengan Black Aura.
“Film-nya mau dimulai, kalau kau takut, kau bisa peluk aku,” bisik Chloe dengan kedua matanya yang terpejam.
“Hm? Kenapa aku? Memangnya semenyeramkan apa film-nya?”
Dua jam berlalu dan film tersebut pun akhirnya selesai. Semua penonton dibuat tegang sekaligus puas oleh film yang mereka tonton saat itu. Bahkan, remaja yang baru pertama kali menyentuh lantai bioskop dan menyantap satu popcorn bisa-bisanya berteriak keras dan bersembunyi di belakang punggung Chloe saking menyeramkan jumpscare yang diperlihatkan sang hantu padanya.
Kini, Black Aura yang masih terbawa suasana film itu berdiri kaku di sudut lorong mall tanpa memperdulikan dirinya yang diperhatikan orang-orang yang berlalu lalang disana.
Black Aura benar-benar syok dengan rupa hantu yang muncul di film yang ia tonton barusan. Wajahnya yang sudah putih pucat, jadinya tambah pucat karena takut.
Chloe yang melihat tingkah Black Aura bukannya membantunya menenangkan diri malah menertawakannya setelah itu memotret pacarnya diam-diam.
“Astaga… Segitunya kau takut, Aura?” tanyanya tak bisa berhenti tertawa.
Black Aura tidak merespon. Kedua tangannya sampai keluar dari bioskop pun masih melingkar erat memeluk dirinya. Keadaannya sekarang tak jauh beda dengan orang yang baru saja di setrum.
Chloe menghela pelan. Lama-lama dirinya kasihan melihat Black Aura berdiri kaku dan pucat seperti itu. Gadis itu melangkah menghampiri Black Aura, kemudian merangkulnya.
“Jangan takut, hantu itu nggak bakal mengincarmu. Dia Cuma fiksi di dalam film yang kau tonton tadi. Sudahlah… Jangan takut lagi,” bujuknya. “Di duniaku ini ada yang namanya pengusir hantu. Kalau kau diganggu hantu, aku bisa melaporkannya langsung pada mereka. Bagaimana?” tambahnya setelah itu melirik Black Aura.
Black Aura mengangguk pelan. Jujur, dia merasa bodoh dengan tingkahnya sekarang. Mungkin bagi Chloe wajar jika semua orang bisa merasakan takut saat melihat sesuatu yang menyeramkan menurutnya. Akan tetapi, Black Aura tidak bisa memakluminya karena masalah harga diri. Dia yang selalu menganggap dirinya kejam dan main hantam apa saja yang ada di depannya, bisa-bisa dibuat syok setengah mati oleh hantu fiksi buatan manusia.
“Aura, hantu itu nggak bakal muncul di tempat ramai. Mereka biasanya muncul di tempat yang sepi atau di bangunan-bangunan yang sudah lama terbengkalai. Kau juga santai aja. Karena, hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat makhluk seperti mereka,” beber Chloe panjang lebar.
“Hahh… Iya. Aku tadi itu, Cuma kaget. Bukan takut. Hm, ngomong-ngomong, kita bakal kemana sekarang?”
“Hm, bentar ya…”
Chloe membuka ponselnya seraya mencari tempat wisata yang cocok untuk mereka jadikan sebagai tempat mereka untuk berkencan.
“Aku pastikan hari ini kita bersenang-senang,” ujar Chloe.
__ADS_1
~