
"Di rumah ini kau melihatnya?" tanya Black Aura sambil menyiapkan pedangnya. Baguslah karena kekuatannya masih aktif meskipun dirinya saat ini adalah manusia.
Yira memgangguk. Selama diperjalanan, gadis itu asik membahas semua yang terlintas di ingatannya. Hebatnya, dia mengingat semua yang ada di mimpinya.
Gadis itu berubah pikiran tentang gedung kantor dan beralih ke rumah besar tingkat tiga. Rumah itu dulunya merupakan panti asuhan dan kini ditelantarkan begitu saja.
"Di mimpiku, Ghost Wave menyimpan banyak senjatannya disini. Dia juga sering kesini sama Dark Fire," tuturnya sambil meraba tektur dinding rumah yang semakin lembab termakan usia.
"Ghost Wave... Aku lupa apa aku pernah melawannya atau tidak," ucap Black Aura tanpa pikir panjang masuk ke dalam rumah tersebut dan menemukan ruang tamu yang luas. Tidak ada sofa ataupun meja yang menyambut mereka. Hanya ruangan kosong dengan ribuan debu dan sarang yang menempati setiap sudut ruangan.
Menyeramkan. Black Aura berharap tidak ada hantu yang bergentayangan seperti yang lernah Chloe ceritakan sebelumnya.
Rasanya aneh hari ini. Tidak berbicara dengan Chloe itu aneh.
Black Aura melirik sebentar ke arah Yira yanh asyik bersenandung sambil membongkar isi lemari makanan di dapur rumah tua tersebut.
Gadis itu terlihat lebih santai dari Chloe. Lebih lembut dari Jacqueline. Dan, dia misterius. Walaupun Black Aura tidak berminat mencari tahu siapa sebenarnya gadis itu, Black Aura merasa kehadiran Yira mungkin saja bisa menjadi akhir dari semua masalah ini.
Black Aura menghela pelan. Dia takut kehadiran Yira ini perlahan-lahan menyingkirkan perasaan cintanya terhadap Chloe.
Saat ini, selain memikirkan keberadaan Ghost Wave yang masih menjadi pertanyaan, Black Aura juga tak akan pernah lepas memikirkan Chloe. Midnight juga. Dosen itu ikut menghilang dan tidak memberi kabar apapun padanya. Masuk akal jika Chloe dan Midnight diserang dan ponsel mereka dihancurkan.
"Nggak masuk akal sih kalau Ghost Wave sampai menyerang ponsel mereka... Eh? Ah, lupakan!"
Merasa bodoh dengan pikirannya, Black Aura beralih ke tempat lain. Dia menaiki satu persatu anak tangga.
Panti asuhan ini lumayan luas. Mengecek satu persatu ruangannya cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Apalagi jika yang mwngecek panti asuhan itu hanya dirinya seorang. Memang ada Yira yang masih sibuk memeriksa barang-barang yang ada di lantai satu. Akan tetapi, terlalu banyak mengandalkan gadis itu sudah pasti akan menarik perasaan suka Yira padanya.
"Aku ke lantai atas dulu ya! Jangan kemana-mana!" tegas Black Aura.
Yira dengan pose hormat bendera mematuhi omongan tegas Aura itu dan kembali memeriksa lemari yang ada di dapur.
Black Aura kembali menghela pelan karena tidak tahu harus berbuat apa pada Yira.
"Oh, ya, Black Aura!" panggil Yira.
Black Aura yang baru saja berhasil membobol pintu kamar yang terkunci itu terpaksa turun ke lantai satu dan kembali menemui Yira.
"Apa?" tanyanya datar.
"Jeng, jeng jeeeng!!" serunya memperlihatkan mind mapping berukuran besar dengan panjang melebihi pundaknya dan tinggi karton yang melebihi pahanya.
Black Aura tertegun seketika melihat foto dirinya bersama teman-temannya di coret-coret dengan spidol bertinta merah.
__ADS_1
"Siapa yang membuat semua ini?" gumam Black Aura meraih karton raksasa tersebut dan membaca isi mind mapping-nya.
Ada foto Live Party yang sudah di coret dengan spidol. Foto Captain yang belum dicoret. Foto dirinya yang belum dicoret. Akan tetapi...
"Devil Maks... Kenapa fotonya dicoret?" perasaannya mendadak cemas memandang foto Devil Mask yang sudah di coret oleh tinta merah. Sudah pasti, panti asuhan ini ada yang menempatinya saat ini.
"Wah, ada Midnight!" tunjuk Yira kekanak-kanakkan.
"Ibu?"
Syukurlah, foto Midnight masih bersih dari coretan.
Tak cuma foto kelompoknya, ternyata masih ada foto Chloe, Aoi, Jacqueline, Ethan, dan Elena. Elena yang hilang selama ini untungnya belum dicoret sama sekali.
"Huft... Merepotkan."
Black Aure menggulung kembali karton tersebut dan menyerahkannya pada Yira. Aura itu berbalik dan pergi keluar panti asuhan tanpa mengajak Yira.
Yira memasang raut cemberut lantaran Black Aura yang main meninggalkannya begitu saja tanpa memberinya tawaran ataupun izin sebelum keluar.
"Oi, aku ikut nggak?" tanya Yira membawa karton tersebut bersamaan keluar dari panti tersebut.
"Kartonnya kenapa dibawa?"
"Mana tahu bisa jadi petunjuk?"
"Nggak mau!" balas Yira tak mau kalah.
"Haah, terserahmu..." Black Aura kembali berbalik dan berjalan kembali menuju jalan raya.
"Aura... Di sini ada beberapa gedung yang di tulis di karton lho... Bisa jadi, ini tempat dimana Ghost Wave bakalan muncul!" celetuk Yira masih tak mau menyerah mengejar Black Aura.
"Ghost Wave itu kan kuat. Nggak mungkin kau bisa melawannya sendiri. Kau pasti butuh aku buat melawan Aura itu plus mencari Chloe kan?" ujar Yira panjang lebar.
"Nggak, kau pulang aja sana! Aku takut, keluargamu mencarimu. Entar, aku disangka curi anak orang lagi," jelas Black Aura tanpa menghentikan sedikitpun langkah kakinya.
"Nggak apa-apa kok. Lagipula, Aku nggak punya siapa-siapa yang bakal menyambutku pulang. Ayolah! Aku yakin, pasti mimpiku ini ada gunanya buat misimu, kan?" ucap Yira masih tak menyerah.
Seketika, langkah Black Aura berhenti. "Nggak punya siapa-siapa? Maksudmu, kau yatim piatu? Maaf, nggak maksud..."
"Nggak papa, kok... Itu... Sebenarnya jiwaku akan yang yatim piatu. Sudahlah... Black Aura. Kumohon, terima aku! Aku ingin setidaknya bisa tidur dengan tenang. Aku yakin, semua mimpi fantasi ini ulah dari Ghost Wave.
"Begitu ya? Huft, baiklah... Kau boleh ikut," Black Aura yang menyerah jadinya. Aura itu terpaksa menggandeng tangan Yira dan membawa gadis itu keluar dari hutan menuju jalan raya.
__ADS_1
Kenapa orang-orang yang kukenal hampir semuanya merasa diabaikan?
~
"Chloe hilang? Lalu, kenapa aku Aura nggak ngomong sama kami?!" Jacqueline terlihat tak terima saat mendengar cerita Devil Mask.
Aura bertopeng itu sebelumnya berkunjung ke rumah Chloe. Niatnya ingin bertemu Black Aura akan tetapi, malah cipratan darah serta pemandangan tak menyenangkan yang mewarnai rumah Chloe.
Tentu saja, hal itu harus segera ia beritahukan pada Jacqueline dan Aoi yang saat ini sedang mengerjakan tugas kuliah mereka. Terpaksa, Pasangan itu menutup buku tebal mereka dan turun dari kursi taman.
Devil Mask menghela pelan. Padahal bukan siapa-siapa, tapi ketidakhadiran Chloe entah kenala membuag hari ini terasa aneh. Walau dia jarang berada disisi Chloe, tetap saja, tanpa ocehan gadis itu, dunia terasa sepi.
Devil Mask tak bisa membayangkan perasaan Black Aura ketika Aura itu diperlihatkan pemandangan yang tak menyenangkan di rumah pacarnya.
"Pasti dia udah tahu duluan..." gumam Devil Mask setelah itu melangkah mengikuti Aoi dan Jacqueline.
Langkah pasangan itu cepat sekali. Sampai-sampai membuat Devil Mask terpaksa mempercepat jalannya.
"Mama juga hilang... Tapi, bukannya semua anggota Legend Aura udah mati? Bukannya Yuuki lagi koma? Emma? Elena? Ethan? Mereka kemana?" Devil Mask menarik nafasnnya sejenak berusaha menghilangkan semua beban yang ada di dalam pikirannya.
"Aku mau pulang..." gumamnya.
"Kau... Rindu rumah?"
Devil Mask membeku di tempat ketika mendengar suara seseorang yang berada beberapa meter di belakangnya.
"Jelas kali, kau sudah lupa denganku."
Suara itu muncul lagi. Tapi kali ini, terdengar seperti bisikan kecil yang mana artinya Devil Mask dibuat sadar akan sosok yang berdiri di belakangnya.
Sudah lama sekali Devil Mask tidak mendengar suara dingin itu. Bahkan lebih dingin dari Black Aura yang tak memiliki perasaan sama sekali.
Devil Mask menoleh ke belakang untuk melihat siapa sosok yang saat ini mengajaknya berbicara.
Saat topengnya hendak sepenuhnya mengarah ke sosok itu, sebuah kepalan tangan melayanh cepat menghantam topengnya hingga membuat sang pemilik terpental.
Karena posisi Devil Mask dan sosok itu saat ini berada di dapur rumah Chloe, alhasil, Devil Maks menghantam oven Chloe.
Topengnya pecah. Tangan kanan Devil Mask refleks menutupi wajahnya yang terluka akibat goresan dari pecahan topengnya tersebut.
Manik magentanya mengarah ke sosok yang berdiri tepat di depannya dengan senapan canon yang sudah dia arahkan ke arah Devil Mask.
Dia tidak menyeringai karena dia tidak memiliki wajah kecuali keempat mata merah yang menyala.
__ADS_1
"Matilah..." ucap sosok itu kemudian menarik pelatuknya.
~