Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 114 {Season 2: Aura vs Aurora}


__ADS_3

Pertarungan sengit di dalam hutan sungguh tak terelakan sama sekali oleh sepasang Aura dari kelompok berbeda. Black Aura yang setia dengan keinginannya ingin menghabisi Aura sibuk menebas-nebas dahan pohon yang sekiranya cukup keras untuk melukai Aurora.


Menggunakan kemampuan memindahkan barangnya, Black Aura melempar semua dahan-dahan itu ke arah Aurora kemudian mengubahnya menjadi pisau setelah menjentikkan jarinya. Tambahan, Black Aura juga meningkatkan rasa sakit Aurora menjadi tingkat sepuluh setelah Aura itu terkena serangannya.


Aurora menyeringai lebar. Dengan lincah menghindari pisau-pisau Black Aura sembari membalas serangan lawannya. Aurora melompat-lompat di beberapa dahan yang kokoh, berusaha mendekati Black Aura.


Begitu dekat, langsung saja tendangan itu ia layangkan tepat di samping Black Aura. Untunglah, Black Aura bisa menghindari serangan tersebut. Jangan sampai kejadian yang lalu terulangi lagi. Jangan sampai.


Black Aura menebas tangannya hingga terpisah dari dirinya. Lalu, memindahkan luka tersebut pada Aurora. Sehingga dampaknya beralih pada Aurora sepenuhnya. Luka yang Aurora alami semakin parah. Namun, hal itu tidak membuat Legend Aura itu merasa lemah, justru semakin tergila-gila  mengetahui lawannya kali ini bersemangat ingin menghabisinya.


“Kenapa? Kau takut aku masuk ke tubuh Chloe lagi?” tanyanya basa-basi atau sekedar memancing Black Aura agar konsentrasi Aura itu terganggu.


Black Aura tidak merespon seperti biasanya. Selain membalas ocehan tak berarti milik Aurora, Black Aura memilih terlihat jahat dan membantai Aurora.


Black Aura mendarat di atas rerumputan yang bergoyang damai. Dia mengangkat pedangnya setinggi mungkin, lalu menancapkannya ke tanah. Saat itulah, lima pilar merah tumbuh menjulang ke langit. Bahkan, awan mendung yang kala itu menutupi keindahan langit itu ditembus oleh pilar merah itu.


Black Aura memejamkan matanya, membiarkan mantra-mantra yang ia sebutkan dalam batinnya keluar dan melingkar di tangan kanannya. Setelah tangannya dipenuhi oleh mantra, barulah Black Aura mengaktifkan kekuatan yang sebenarnya Midnight larang untuk digunakan kecuali dalam situasi sangat gawat.


Berubah menjadi sosok mengerikan berwarna merah, itulah salah satu kemampuan Black Aura.  Namanya adalah, Reverse. Dirinya yang Chloe kenal dingin itu akan terhapus sementara oleh sosok mengerikan dengan senyuman yang terukir di pipi kanannya. Rambut putihnya berubah merah pengaruh kekuatan terlarang tersebut.


Untuk kali ini saja, Black Aura menggunakan kekuatan terlarang itu hanya di bagian tangannya. Dia rasa, bukan ide bagus berubah menjadi Reverse untuk melawan satu Legend Aura.


Dia akan menjadi sosok yang kejam dan berisik alias Reverse kala musuhnya berjumlah lebih dari sepuluh atau bahkan bisa berpuluh-puluh lebih.


Huh, kenapa nggak langsung satu grup aja ke sini? Batin Black Aura malas. Buang-buang tenaga kalau dirinya harus menghabisi satu hari satu Aura. Yah, Legend Aura itu pintar tapi merepotkan.


Crat!


Black Aura tersadar dari lamunannya ketika sebuah tebasan yang Aurora layangkan sukses melukai tangan kirinya hingga terpisah dari dirinya. Tak mau kalah, Black Aura langsung memindahkan luka tersebut menjadi Aurora yang merasakan lukanya.

__ADS_1


Aurora meringis kesakitan mendapati lukanya semakin parah. “Hahahahaha! Yang benar saja? Luka seperti ini mana bisa mengalahkanku! Cari kek serangan yang lain! Buat aku puas napa?!” teriak Aurora diiringi dengan tawa jahatnya.


Black Aura mendesah berat. “Oke. Kuharap, kau nggak menyesal.”


Lagi-lagi, hal yang tak ingin Black Aura alami terulang untuk kesekian belas puluh kalinya. Aurora memanfaatkan ketidaksadaraan Black Aura akan keberadaannya dengan menghilang begitu saja dan begitu mata Black Aura berkedip, lima centi lagi ujung sepatu seseorang mendorong wajahnya.


Black Aura tersentak kaget tapi terlambat. Tubuhnya terhempas hingga menabrak batang pohon yang sudah rapuh usianya. Samar-samar, ia mendengar suara teriakan dua orang gadis secara bersamaan. Suara mereka terdengar panik.


Ditengah rasa sakit yang menguasai dirinya, Black Aura berusaha bangun dan berdiri walau dirinya sendiri sempoyongan. Kepalanya pusing dan pandangannya kabur. Black Aura berusaha menstabilkan penglihatannya namun, serangan lain dari Aurora menyerbunya tanpa memikirkan dampak yang akan Black Aura alami selanjutnya. Lima pohon runtuh bersamaan dan Black Aura tertimpa oleh batang-batang yang berat itu.


Aurora menghentikan serangannya sejenak. Dia memandangi bayangan dirinya lewat layar ponsel milik pria jepang alias Aoi, kekasih Jacqueline sekaligus sahabat Chloe. Ya, kemampuan Aura itu adalah memanipulasi ketidaksadaraan orang. Berbeda dengan ilusi, Aurora memanfaatkan lamunan seseorang untuk bergerak. Menurutnya, kemampuannya itu sudah lebih dari kata cukup. meskipun memiliki batasan waktu sepuluh detik, Aurora merasa sudah sangat kuat.


“Aoi! Astaga, dia kerasukan?” Jacqueline panik. Di sela kegiatan berlarinyam dia malah tersandung hingga wajah cantiknya berpapasan dengan permukaan tanah yang berdebu. Rumput-rumput liar yang tertimpa tubuh Jacqueline diam-diam membuat goresan kecil di kulit halus gadis berambut ungu itu.


“Cih! Kalau lawannya Aurora, jadi susah!” keluh Chloe seperti anak-anak. “Misi kita tadi jadi gagal kan, gara-gara dia!”


“Iya! Pintar amat sih, jadi Aura! Bodoh kek gitu!” tambah Jacqueline nyaris membuat Chloe menyemburkan tawannya di situasi sulit seperti ini. “Aku rasa, kita harus kerja sama bantuin Aura lawan si Aura-bleh-bleh, namanya susah banget.”


Mendadak, tubuh Aoi membeku atas keinginan Aurora yang telinganya merespon kalimat “Berlebihan banget!”


Aurora menoleh ke belakang dengan raut sebalnya. Tak terima dengan ocehan gadis-gadis di belakangnya, kendati demikian hatinya merasa senang dianggap berlebihan dalam konteks kuat.


“Anak-anak itu belum tahu seberapa kuatnya aku kalau bertarung,” gumam Aurora.


“Kalau nggak salah ingat, aku pernah lawan Aurora,” pikir Chloe berusaha mengingat kembali gaya dan tak-tik bertarungnya saat dia membantai Aurora sampai lunas nyawanya.


“Kalau nggak salah ingat ya? Gimana kalau ingatanmu itu salah?” gurau Jacqueline.


“Nggak salah kok! Lagian, aku… MINGGIR JACQUELINE!”

__ADS_1


Chloe menangkis sabit Black Aura yang dirampas Aurora. Betapa terkejutnya Chloe melihat sosok Aoi itu menyeringai jahat padanya. Wajahnya jauh dari yang biasa Chloe lihat.


“Aoi…” gumam Chloe tak percaya dengan kenyataan yang ia lihat.


Aurora menarik kembali sabit itu lalu mengubah arah serangannya menjadi ke samping Chloe. Cepat-cepat, ujung sabit itu Chloe tangkis dengan pedang Black Aura. Karena Aoi adalah laki-laki, otomatis serangan yang dikeluarkannya sangat kuat, sampai Chloe terjatuh lantaran kehilangan keseimbangan.


“Inilah akibatnya kalian membantu penjahat seperti Aura!” seru Aurora dengan sabitnya yang tak lama lagi akan melukai Chloe.


Chloe yang syok, kesulitan bergerak. Sialnya lagi, kedua kakinya mendadak kesemutan. Kenapa malah kesemutan sekarang, kocak?!


Trang!


Sabit Black Aura terlempar jauh entah kemana. Aurora membelalakan matanya tak terima dengan serangannya yang gagal karena kehadiran Black Aura yang baru saja menangkis sabitnya sendiri. Dengan tangannya yang sudah dikuasai oleh kemampuan reverse itu, Black Aura mencengkram wajah Aurora. Walau kenyataannya yang dicengkramnya adalah wajah Aoi, Black Aura tetap akan melakukannya. Toh, yang terluka juga Aurora. Aoi-nya sendiri justru baik-baik saja.


“Ambil ini!”


Black Aura menarik wajah Aurora lalu meninju wajahnya dengan tangan yang ia kepal sekuat tenaga. Darah Aurora berceceran di udara. Raut kosong seketika menguasai wajah Aurora. Pandangannya putih seakan kesadarannya kian menipis karena serangan Black Aura tadi.


Cih, aku nggak boleh kalah! Demi Yuuki, aku akan melakukan cara apapun demi mendapatkan Midnight! Pasti! batin Aurora mantap.


Sedikit lagi tubuhnya tumbang menghantam tanah, kesadarannya pulih kembali. Kali ini dengan palu milik Dark Sport yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari sebelum dirinya bertemu dengan Black Aura untuk kedua kalinya.


Tak peduli seberapa keras gadis berambut pirang itu berteriak, target Aurora adalah melenyapkan Aura-aura milik Carmine yang sampai saat ini berusaha melindungi Midnight.


Bodoh amat dengan dunia Carnater yang sepi dan keberadaan manusia yang menjadi ketakutan terbesar Aura. Intinya, keinginan Yuuki adalah prioritas utama mereka.


Darah hitam bercampur merah itu bercipratan di mana-mana. Jumlahnya tidak banyak namun keberadaan cairan itu menggambar betapa kerasnya serangan Aurora terhadap Black Aura. Palu Dark Sport yang sudah Aurora modifikasikan menggunakan teknologi di dunia manusia berulang kali menghantam wajah Black Aura sampai akhirnya melempar lawannya itu ke tempat yang lumayan jauh.


Senyum seringai di wajahnya tak kunjung pudar seiring kenikmatan yang ia rasakan bertambah dari aksi gilanya demi mewujudkan impian Yuuki.

__ADS_1


~


__ADS_2