Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 117 {Season 2: Musuh yang Lain}


__ADS_3

 


 


“Hei, kau nggak papa?” tanya Jacqueline pada Aurora yang berusaha membuka kedua matanya yang terasa berat sekali. Tubuh Aurora lemas. Dia bahkan kesulitan menggerakan jari telunjuknya. Jacqueline jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang telah terjadi pada Aurora. Meski tak kenal, gadis itu menaruh rasa simpati pada Aura itu. Dan hati kecilnya menyuruhnya untuk membantu Aurora.


Jacqueline menoleh ke arah Black Aura seolah ingin meminta sesuatu pada Aura bermanik violet itu.


“Black Aura, apa kau ada obat atau makanan yang bisa menyembuhkan Aurora? Kurasa…”


“Nggak ada gunanya.”


“Heh?”


Jacqueline memasang raut penuh tanda tanya usai mendengar ucapan Black Aura barusan. “Kenapa begitu? Kau nggak mau menolongnya?”


Black Aura menggeleng pelan, “Bukan itu yang kumaksud. Maksudku, Aurora sudah tak bisa bertahan lagi,” jelas Black Aura datar.


Kemudian, Black Aura menunduk. Memandang wajah Aurora lekat-lekat. Mungkin, waktunya tidak akan cukup, akan tetapi, Black Aura ingin setidaknya ada lima sampai sepuluh kata dari jawaban Aurora yang bisa ia jadikan petunjuk untuk mencari pelaku yang telah mengendalikan Aurora. Benang merah yang Black Aura potong sebelumnya dia klaim berasal dari manusia. Dia tidak yakin kalau itu adalah perbuatan Yuuki. Mungkin ada kenalan Yuuki yang lain yang menaruh dendam pada Midnight lalu memanfaatkan Aura Yuuki untuk membunuh Midnight.


Black Aura menggenggam tangan Aurora yang tiba-tiba retak. Retakan kecil itu sukses membuat keduanya terkejut. Jacqueline sesegera mungkin menggenggam tangan pergelangan Aurora. Tangan Aura itu dingin. Warnanya pucat seperti patung manekin.


Aurora merasa pandangannya semakin mengabur. Kesadarannya seakan disedot oleh kehampaan yang selama ini ia sebut sebagai kematian. Aurora tidak menyangka kalau Aura seperti dia pun pasti akan menghadapi kematian.


Aurora melirik k earah Black Aura dan Jacqueline. Senyuman yang biasanya terlihat jahat kini berubah menjadi lemah. “Aura… Maafkan aku, karena sudah melukaimu dan teman-temanmu. Aku juga… Sudah membuat kekacauan dan dengan bodohnya mengikuti jalan berpikirnya Yuuki,” ucapnya. Air mata Aurora langsung menetes tanpa ia sadari. Disusul dengan retakan kecil yang pelan-pelan menguasai dirinya, Aura itu berusaha mengatakan sesuatu sebelum kesadarannya benar-benar lenyap.


Saat mendengar permintaan maaf dari Aurora, awalnya Black Aura tidak percaya. Rasanya, ingin sekali ia abaikan kata-kata tersebut namun, ada sesuatu yang tak kasat mata membuat Black Aura paham dan sadar bahwa ucapan Legend Aura ini tidaklah bohong. Dia mengatakannya dengan jujur. Dia juga menunjukan wajah penyesalannya.


Tak hanya Black Aura, Jacqueline sendiri juga merasa ragu dengan apa yang Aurora katakan. Gadis itu takut kalau Aurora akan menjebak mereka dengan kata-kata manis hingga berujung kemenangan berada di tangan Aura itu.


“Black Aura…” Panggilnya sedikit berbisik.


“Hm?” sahut Black Aura penasaran.

__ADS_1


Diam-diam, raut penasaran Aura itu sukses membuat Jacqueline tersipu malu. Namun, perasaan itu segera Jacqueline buang jauh-jauh. Bukan saatnya malu, Jacqueline!


“Apa omongannya bisa dipercaya? Aku takut…”


“Kuharap bisa. Tapi, jangan khawatir. Aku ada disini. Kalau kau takut, mundurlah ke belakang,” balas Black Aura. Nada bicaranya terdengar tenang sekali. Sampai-sampai membuat denyut jantung Jacqueline berdetak cepat. Tubuhnya terasa panas tiba-tiba.


“Uhm, oke…” Jacqueline mundur ke belakang, tepatnya di belakang punggung Black Aura.


Selesai dengan Jacqueline, tiba saatnya Black Aura mengalihkan semua fokusnya pada Aurora. Omongan Aurora tadi lupa Black Aura balas dan karena pandangan mereka saat ini saling berpapasan, saat itulah Black Aura merespon kalimat Aurora.


“Nggak papa,” balas Black Aura seadanya.


Aurora terkekeh, “Jawabanmu selalu saja singkat. Yah, itu memang ciri khas-mu, kan?”


Black Aura tersenyum mengangguk. Tangannya masih belum bisa memisahkan diri dari tangan Aurora yang semakin retak. Bukan karena dirinya berjaga-jaga akan serangan kejutan Aurora, tapi melainkan, ingin memberi musuhnya sedikit kekuatan untuk berbicara.


“Jujur saja, waktu itu aku merasa terhibur dengan pertarungan kita dua bulan yang lalu. Benar-benar menyenangkan. Oh, ya Aura… Ada sesuatu yang ingin kukatakan dan wajib kau katakan juga pada Midnight. Ini penting. Juga… Sekali lagi maaf sudah menyeret kalian hingga sejauh ini. Kalian pastinya menginginkan kehidupan yang tenang, kan? Tapi, karena keegoisan Yuuki dan kebodohan kami mengikuti jalan pikirannya, kalian jadi tidak bisa mendapatkan kehidupan tersebut,”


Air matanya semakin deras seakan stok penyimpanan air di dalam matanya masih banyak, seluas lautan.


Aurora tersenyum tipis, “Ceritanya lumayan panjang. Kuharap, aku punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya sampai akhir.”


Aurora memejamkan matanya sambil berusaha menenangkan dirinya walau kenyataan yang Black Aura lihat, Aura itu sedikit kesulitan saat bernafas. Bukan karena serangan Black Aura, Midnight, ataupun Chloe. Melainkan, serangan dari seorang wanita yang menaruh dendam sekaligus kebencian pada Yuuki yang kemudian, perasaan negative itu mengalir pada Legend Aura hingga sebagian anggotanya terkontaminasi oleh perasaan itu.


“Semuanya… Adalah miliknya sekarang. Jiwa dan raga kami, dia kendalikan sesuka hatinya demi membunuh Midnight,” kata Aurora sebelum akhirnya fokus menceritakan kejadian-kejadian tak menyenangkan yang menimpa dirinya beberapa hari yang lalu.


Black Aura dan Jacqueline membenarkan posisi duduk mereka agar lebih dekat dengan Aurora yang hendak bercerita. Sejujurnya, Black Aura merasa prihatin dengan kondisi Aurora saat ini. Retakannya bertambah banyak dan tertangkap beberapa kulitnya terkelupas dan melayang ke atas. Tidak ada yang bisa Black Aura lakukan selain membiarkan Aurora pergi.


“Miliknya? Siapa?” Jacqueline mengernyit bingung.


Tiba-tiba, perhatian Jacqueline teralihkan oleh lengan jaketnya yang Black Aura tarik. Saat pandangan mereka bertemu, Jacqueline mendapati Black Aura yang menempelkan telunjuknya di bibirnya seakan menyuruhnya untuk diam dan menedengarkan semua cerita Aurora.


Dunia sunyi untuk sesaat.

__ADS_1


Baik Black Aura dan Jacqueline, keduanya tak ada yang berani berbicara. Aurora yang katanya akan bercerita juga sedang bersiap-siap mengatur nafasnya. Dia membenarkan posisi menyandarnya di batang pohon agar setidaknya, merasa nyaman saat bercerita. Luka yang parah membuat sebagian perasaannya menghilang satu-persatu. Namun tidak dengan ingatannya yang sangat kuat.


“Cerita ini memang akan sangat panjang. Entah aku sanggup atau nggak yang jelas, aku melihat semua yang Yuuki lihat.”


~


Black Aura dan Jacqueline kembali melanjutkan langkah mereka menyusul Chloe dan Aoi. Cerita yang dibeberkan Aurora tadi tidak sampai selesai mereka dengarkan lantaran Aurora sudah lebih dulu lenyap menjadi kelap-kelip yang indah dan bercampur dengan langit Carnater yang mendung itu. Langit di atas hutan tempat Aurora lenyap berubah sedikit berwarna. Karena Aurora identik dengan warna Aurora Borelis, maka awan di langit berwarna demikian.


Jacqueline sempat terpukau akan keindahan setelah kematian Aura. Mereka mati meninggalkan keindahan.


Selain keindahan, ada satu hal lagi yang membuat Black Aura termenung dalam pikirannya. Di saat kesadarannya mulai pudar, Aurora sempat menyebutkan nama seorang wanita yang menjadikan Legend Aura itu sebagai boneka. Namanya asing, namun, begitu dijelaskan ciri-ciri dari wanita itu, Black Aura merasa familiar dengan rambut pirang yang terurai panjang dan bergelombang.


Black Aura mulai berpikir kalau, gadis yang duduk di atas motor dengan rambut piring sepinggang itu adalah Emma. Gadis itu sering terlihat di tengah keramaian dan menghilang layaknya bayangan.


Emma itu siapa? Kenapa dia bisa kenal ibu? Memangnya apa hubungan mereka?


Sadar Aura di sebelahnya diam karena memikirkan Emma, Jacqueline pun menyenggol siku Black Aura demi mengalihkan perhatian Aura itu dari hal-hal yang membuatnya sakit kepala.


“Diam mulu. Kepikiran sama yang Aurora bilang tadi?”


“Yah, begitulah. Aku bingung. Kenapa banyak sekali yang membenci ibu? Apa ibu tidak pantas untuk bahagia? Kalau ibu nggak bahagia maka kami nggak akan bahagia,” ungkap Black Aura. wajahnya murung.


“Jangan ngomong gitu dong. Kalian itu pantas bahagia tahu! Dan lagi, perjuangan kalian sudah sepanjang ini. Sayang kalau harus diakhiri dengan melenyapkan diri sendiri,” Jacqueline menepuk pundak Black Aura. Berusaha memberi Aura itu kekuatan. “Kau pantas bahagia juga. Kau bahagia, otomatis Midnight juga. Kau sudah punya Chloe yang bisa membahagiakanmu. Kau juga punya kami berdua. Kita ini… Sahabat. Suka dan duka kita lalui sama-sama!” dan Jacqueline mengakhiri kalimatnya dengan senyuman.


Black Aura terdiam. Bingung harus memasang wajah apa menanggapi kepedulian Jacqueline padanya. Dia juga berpikir kalau yang Jacqueline katakan ada benarnya. Dia sudah punya Chloe. Gadis berambut pirang itu adalah semangatnya untuk terus hidup. Black Aura bisa berubah, tertawa, menangis, karena kehadirannya. Karena itulah, Black Aura harus memanfaatkan sebaik mungkin waktunya bersama Chloe. Mengingat gadis seperti dia itu langka.


“Kau benar. Selama ini aku sendirian. Melakukan apapun seorang diri meskipun ditemani anggota Megavile yang lain. Yah, jujur saja, aku merasa kesepian saat itu. Aku merasa kosong dan hampa bisa dibilang,”


“Sama hehe. Waktu aku kuliah di kampus yang berbeda dengan Aoi dan Chloe, perasaan kesepian itu terlalu kuat kehadirannya. Selain itu, ekspektasi keluarga yang terlalu memaksa sempat membuatku merasa stress dan berpikir ingin mengakhiri hidupku. Tapi, kalau dipikir-pikir, kalau aku mati, bagaimana dengan mimpi yang sejak kecil kurangkai? Aku punya banyak mimpi dengan sahabat-sahabatku. Aku juga ingin berpacaran dengan Aoi. Kalau aku mati, sudah jelas kebahagiaan itu tak akan pernah kurasakan,” Jacqueline memberitahu banyak hal mengenai dirinya dan sukses menarik perhatian Black Aura meskipun Aura itu hanya mengangguk seadanya.


Terlalu asyik dengan dunia mereka sendiri, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengamati gerak-gerik mereka. Beruntunglah, jarak mereka yang jauh sehingga pembicaraan panjang itu tidak sampai terdengar ke telinga orang yang mengintip mereka itu.


Di atas dahan pohon tertinggi, dia duduk sambil menggenggam crossbow-nya. Dia menyeringai seolah menemukan rusa yang hendak ia buru lalu dijual tanduk dan kulitnya.

__ADS_1


“Ketemu…”


~


__ADS_2