Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Episode 199 {End of Season 2}


__ADS_3

“Jalan-jalannya sampai disini aja dulu ya. Besok kita lanjutin lagi,” ujar Black Aura selepas berjalan mengantar Chloe ke rumahnya dan kali ini dia hendak kembali ke rumahnya untuk beristirahat. Rupanya, jalan-jalan yang Chloe lakukan bersamanya itu melelahkan juga. Black Aura jadi merasa kalau tidurnya selama ini belum cukup.


Chloe mengangguk pelan. Gadis itu melirik jam tangannya dan sudah pukul sepuluh lewat. Mana mungkin perjalanan romantis mereka dia lanjutkan sampai jam tiga dini hari. Yang ada makhluk tak kasat mata yang mereka temui di tengah jalan.


“Kau benar. Hm, kau mau makan malam dulu, gak? Maaf, aku lupa kalau kita ada acara makan malam berdua,” balas Chloe sambil terkekeh dan menggaruk kepala bagian belakangnya.


Black Aura tersenyum, “Bisa kita lanjutkan pas sarapan, kok. Ya, udah ya, aku pulang dulu. Kalau ada sesuatu yang janggal di rumahmu, hubungi aku atau Aoi, ya!” Sebelum pergi dari halaman rumah Chloe, Black Aura mengingatkan gadis itu sambil tak lupa memberikan nomor kontak Midnight. Dosen berkacamata bulat itu juga sangat penting menurut Black Aura.


“Iya, makasih dan selamat malam!”


Di waktu bersamaan, Chloe menutup pintu rumahnya lalu menguncinya. Sementara, Black Aura melangkah menjauh dari rumah Chloe. Sebelum langkahnya benar-benar jauh dari rumah pacarnya, Black Aura menyempatkan dirinya beberapa menit memandang rumah gadis itu.


Rumah bertingkat dua itu hanya Chloe-lah yang menempatinya. Sejujurnya, Black Aura ragu seandainya terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu. Akan tetapi, disisi lain merasa dirinya belum pantas menginap di rumah Chloe.


Black Aura menghela nafas berat dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah Midnight. Sejauh ini, dia merasa senang dan puas dengan perjalanan romantisnya bersama Chloe. Dia menikmati apapun yang Chloe berikan padanya. Bahkan hanya dengan berjalan sambil bergandengan tangan saja, Black Aura sudah merasa puas. Rasanya, jadi ingin berjalan-jalan lagi besok.


“Oh, ya, Chloe kuliah ya… Kalau dia kuliah, apa aku perlu mengantarnya sampai ke kampus?” pikir Black Aura sebelum akhirnya dirinya benar-benar jauh dari kawasan komplek perumahan Chloe.


~


Sesampainya Black Aura di rumah Midnight, yah seperti biasanya, rumah wanita itu sepi. Meskipun lampu luar dan dalam tetap menyala, hal itu tetap tidak bisa menutupi betapa kesepiannya rumah itu. Yah, kondisinya tak jauh beda dengan Midnight saat ini.


Usai menghela nafas singkat, Black Aura melangkah menghampiri pintu rumah dosen itu dan masuk ke dalam karena tidak dikunci.


“Ibu kebiasaan, nggak kunci pintu,” gumamnya sambil memutar kunci yang berada di kenop pintu, kemudian merantainya lalu menyegel. Segitunya-kah Black Aura?


Melewati ruang tamu yang sepi, Black Aura hanya mengarahkan seluruh pandangannya ke depan. Tujuan dia kali ini hanyalah ke kamar. Pikirannya kosong dan tidak ada hal acak apapun yang lewat di pikirannya. Sampai akhirnya, Aura itu dibuat terkejut oleh lengan kirinya yang tak sengaja tergores oleh paku yang dipaku di meja tapi ujungnya keluar di sisi kiri meja. Sehingga, bagi siapapun yang berlalu-lalang di sekitar meja itu bisa saja lengannya tergores dan berdarah.


“Aish, perih!” celetuk Black Aura refleks menarik tangannya dari meja tersebut.


Saat dilihat luka goresnya, betapa terkejutnya Black Aura mendapati kalau darah yang mengalir di lengannya bukan hitam tapi merah. Black Aura juga bisa merasa betapa perihnya rasa sakit yang dihasilkan goresan panjang itu.


“Perih…” syok menerima luka seperti itu, Black Aura nyaris saja tersungkur lantaran kedua kakinya yang mendadak lemas. Untunglah, di benaknya langsung terlintas kotak P3K yang Midnight simpan di lemari dapur.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Black Aura mempercepat langkahnya menuju dapur untuk mengobati lukanya.


“Jangan bilang, kejadian ini memang beneran terjadi?” pikirnya sambil menempelkan hanscaplast di lukanya.


Black Aura menoleh ke sekitarnya dan tidak ada siapapun di rumah. “Mungkin yang lain masih di luar…”


Selesai dengan lukanya, Black Aura berdiri dari kursi makan. Tak sengaja, manik violetnya tertuju kea rah pisau dapur yang tergeletak di atas meja makan. Seperti biasanya, Midnight ceroboh dan lupa meletakkan benda berbahaya itu ke tempat yang semestinya.


Black Aura memutar malas kedua maniknya, kemudian, menaruh kembali benda berbahaya tersebut ke dalam lemari.


“Kau sudah pulang, Aura?”


Suara familiar itu tidak begitu mengejutkan Black Aura akan tetapi, sukses menarik perhatian Aura itu.


Black Aura menoleh ke belakang, “Oh, kau masih disini rupanya,” respon Black Aura datar pada Megawave yang berdiri di ambang pintu dapur, memandang dirinya yang baru saja menyimpan pisau.


“Lenganmu kenapa, Au?” tanya Megawave penasaran sembari melangkah menghampiri Black Aura.


“Kegores paku,” jawab Black Aura singkat.


“Maksudmu, warnanya?”


Megawave mengangguk pelan.


Dan yah, Black Aura yang tidak suka berbohong itu lantas menjawabnya berdasarkan fakta yang ia alami beberapa menit yang lalu.


“Merah.”


Begitu mendengar jawaban Black Aura, mata Megawave membulat sempurna. Spontan, Aura itu menarik tangan Black Aura yang terluka itu dan memandangnya dekat-dekat.


Black Aura yang risih tentu saja menarik kembali lengannya. “Apa-apaan kau ini?!” kesalnya.


“Aura, kurasa kau dalam bahaya besar,” ucap Megawave setelah sekian detik mengamati luka Black Aura dan kini mendapatkan kesimpulan yang tepat mengenai luka tersebut.

__ADS_1


Black Aura tampaknya tidak terlalu memperdulikan lukanya. Mengingat kemampuannya yang berhubungan dengan rasa sakit, jadi yah, luka sekecil itu mungkin sebaiknya dilupakan sambil berpikir luka itu akan sembuh dengan cepat.


Tapi sayang, pemikiran santai itu dengan cepat dibantah oleh kesimpulan Megawave yang mengatakan, “Kau sekarang manusia, Au!” simpulnya.


“Heh? Manusia?” Bukannya terkejut, Black Aura justru tidak mengerti dengan kesimpulan yang baru saja Megawave lontarkan itu.


“Iya! Manusia! Jadi begitu ya? Benar yang Midnight katakan,” gumam Megawave tapi masih terdengar sampai ke telinga Black Aura.


“Apa maksudmu dengan Midnight? Kalian punya rahasia?”curiga Black Aura.


“Nggak kok. Kami nggak punya rahasia apa-apa. Tapi, bukannya kau seharusnya sudah diperingatkan sama Midnight kalau kau tidak boleh terlalu sering atau dekat dengan manusia?”


Black Aura berpikir sejenak. Berusaha mengingat kembali saat-saat dimana Midnight memberinya peringatan yang berhubungan dengan manusia. Setelah diingat lagi, memang ada.


Wanita itu bilang, “Kalau kau mau berteman dengan manusia, well, It’s okay. Aku nggak melarangmu sama sekali. Tapi, jarak. Kau boleh berteman tapi berjarak. Kalau kau sampai lupa ini, maka hidupmu berubah total.”


Omongan itu dia dengar sekitar dua bulan yang lalu sebelum dirinya bertemu dengan Chloe di dalam hutan malam hari.


“Meg, maksudnya berubah total itu apa?” tanya Black Aura datar. Meskipun demikian, perasaannya yang terdalam itu sangat gelisah seakan takut akan sesuatu yang buruk menimpanya beberapa hari kedepan.


Bukannya tidak mau Megawave menjawab. Megawave sebenarnya tahu maksud dari kalimat Midnight.  Kalimat itu juga pernah wanita itu lontarkan padanya sehari sebelum Midnight memisahkan dirinya dari gadis berambut merah ikal itu.


Saat itu, Megawave seratus persen tidak percaya dengan apa yang Midnight katakan. Akan tetapi, dilihat dari raut serius wanita itu, kelihatannya tidak ada kebohongan yang tersirat di wajahnya. Karena itulah, Megawave memilih percaya selagi hal itu bisa melindungi nyawanya dari hal-hal yang tak terduga di luar sana.


Oh, ya. Kembali ke pertanyaan Black Aura sebelumnya. Lihat apa yang Megawave jawab. Aura bertopeng visor itu mengangguk pelan. Tidak ada keraguan dalam dirinya apalagi dengan jawaban yang ia berikan pada Black Aura.


“Kau bukan Aura lagi, Black Aura. Kau yang sekarang adalah manusia. Itu tentu saja karena kau yang udah terlanjur cinta sama Chloe dan ikatan kalian yang sudah semakin jauh,” jelas Megawave serius.


Saat itulah, Black Aura terdiam beberapa saat untuk mencerna penjelasan yang benar-benar membuatnya tak habis pikir dengan luka gores, rasa sakit, dan warna merah yang mengalir di tangannya. Sulit dipercaya bahwa dirinya yang kejam dan paling kebal dengan rasa sakit harus berubah menjadi…


Manusia yang katanya memiliki hidup yang singkat.


Dari kata singkat itulah, perasaan dan pikirannya bercampur aduk tak jelas kemana arahnya. Yah, ketenangan akan menghampiri selang beberapa menit setelah Black Aura berhasil mencerna penjelasan Megawave dan mau menerima kenyataan tersebut.

__ADS_1


~


__ADS_2