
“Apaaaa??! Kau manusia?!” teriak tiga sahabat itu serempak usai Black Aura menceritakan alasan mengapa kakinya bisa patah setelah melompat dari atap lantai dua rumah Chloe.
“Yah, begitulah… Tapi, nggak papa sih. Aku bisa jadi lebih dekat dengan kalian bertiga juga,” ucap Black Aura terkekeh kecil. Untuk sekarang, kaki kanannya di gips sekedarnya oleh Aoi. Meskipun pengetahuannya sedikit tentang cara menangani tulang yang patah, setidaknya Aoi bisa membantu Black Aura meringankan sedikit sakit di bagian kakinya.
“Bukan begitu. Kau itu paling sering bertarung. Mana kalau bertarung itu, lawanmu suka nggak ngotak kalau bertarung. Pikirin juga nyawamu, Au,” omel Chloe khawatir. “Pasti kau jadi begini gara-gara aku, kan?”
“Eh, nggak. Bukan kok. Mungkin karena aku terlalu lama di dunia manusia. Yah, salah Yuuki sih aslinya,” jawab Black Aura meskipun sebagian yang Chloe juga ada benarnya tapi, Black Aura tidak ingin membuat perasaan Chloe terganggu. Melihat gadis itu tersenyum adalah prioritas utamanya.
“Uh! Pasti salahku!” Chloe tetap menyalahkan dirinya. Dia cemberut di atas sofa sambil memeluk erat kakinya.
Black Aura hanya tertawa kecil menanggapi tingkah laku Chloe. “Oh, ya… Kau nggak kenapa-kenapa kan? Orang yang masuk ke rumahmu itu sepertinya penyusup. Pria berbadan besar, terus dia pakai topeng,” jelas Black Aura mengalihkan topic pembicaraan.
Benar saja, Chloe langsung teralihkan ke topic yang Black Aura buat ini. Begitu pula dengan Aoi dan Jacqueline yang tadinya hendak menggigit ujung sandwich buatan Chloe jadi tertunda.
“Pakai topeng? Aneh. Di berita atau social media mana pun nggak ada yang membahas maling bertopeng,” Aoi sejenak berpikir. Tak lama kemudian, mengambil ponselnya dan membuka internet.
Jacqueline dan Chloe malah ngeri membayangkan betapa menyeramkannya pria bertopeng itu.
“Seram kali. Untungnya sih, Devil Mask imut. Baik hati lagi sama aku,” ujar Jacqueline.
“Benar-benar, dia juga tulus kalau bantu kami,” timpal Chloe.
Sejak kapan dia tulus? Dia membantu kalian karena dia nggak mau sibuk. Batin Black Aura heran.
“Hmm… Aku kok mendadak takut ya? Aku kuliah nanti sore. Aku takut kalau pas pulang nanti orang itu menyelinap lagi ke rumahku. Kok kesannya jadi horror ya?” Chloe menggigit ujung kukunya kemudian ditepis Black Aura.
__ADS_1
“Jorok,” katanya.
Chloe cemberut, “Kan aku takut sih.”
“Gimana kalau kita bertiga nginep aja di rumahmu? Oh, benar juga. Waktu kuliahku sama Chloe sama. Kelas kita juga sama. Jacqueline, kau kuliah kapan?” tanya Aoi kehabisan ide.
“Sama kayak kalian. Mana aku beda tempat lagi. Black Aura, kau bisa jaga diri kan?” Jacqueline menyengir bersamaan dengan Aoi dan Chloe yang masing-masing memiliki urusan penting yang berhubungan dengan kuliah mereka.
Black Aura tidak merespon dan tampaknya kehabisan kata-kata untuk menjawab omongan ketiga sahabat itu. Yah, mau bagaimana lagi. Satu-satunya Aura yang saat ini dekat dengan mereka hanyalah dirinya seorang. Devil Mask dan Yumi sibuk. Megawave memiliki urusan dengan Midnight.
Heran, dia yang paling banyak waktu senggang tapi sekalinya terlibat dalam pertarungan, selalu mendapatkan lawan yang tak kira-kira kekuatannya.
Akhirnya, Black Aura menuruti omongan tiga sahabat itu dan menyaksikan ketiganya ber high five ria.
“Makasih ya, Au! Btw, kau mau ikut kami ke kampus nggak? Sekalian jalan-jalan?” tawar Chloe yang menurut Black Aura sama saja dengan dirinya mengantar gadis itu ke kampus dan andaikata dia bosan, dia pasti pulang ke rumah Chloe.
“Dengan kaki seperti itu? Apa kau nggak papa jalan pakai tongkat keliling kampus Chloe yang luas?” tanya Jacqueline ragu.
“Tenang aja, aku masih punya kekuatan, kok.”
Black Aura mengedipkan mata kirinya yang berarti dirinya tidak masalah ikut mengantar mereka dengan kondisi kaki yang patah itu. Karena, kakinya itu tak lama lagi akan sembuh saat orang yang Black Aura hubungi itu datang ke rumah Chloe sebelum ketiga sahabat itu berangkat ke kampus.
~
“Jadi begitu ya? Kalau Yuuki koma, itu artinya Legend Aura semakin lemah. Huft, salahku juga sih kenapa aku malah mendorong Yuuki. Habisnya, dia selingkuh sih. Udah pacaran sama aku dan bentar lagi mau tunangan, kenapa hatinya masih melirik orang lain?”
__ADS_1
Di dalam kamar yang hening, gelap lantaran lampu kamarnya yang pecah, dan beberapa perabotan serta benda yang berceceran di lantai, Emma bergumam di atas ranjang. Kedua matanya tak bisa lepas memandang foto Yuuki dan Midnight. Sekilas, mereka berdua itu…
“NGGAK COCOK JADI PASANGAN!” bentaknya pada foto itu. Emma berdecak sebal. Dia sadar, kalau semua rencana yang Yuuki rangkai ini ternyata bukan untuk melindungi dirinya dan keluarganya dari dendam Carmine melainkan untuk mendapatkan Midnight.
Dengan membuat pasukan terkuat, Yuuki membuat berbagai taktik dan menciptakan spesies dengan kemampuan yang berkaitan erat dengan keinginannya.
Dan dia, dengan polosnya menuruti semua yang Yuuki katakan.
Emma menyeringai licik. Tapi, dilain sisi sakit hati karena tanpa ia sadari, dirinya telah diperalat oleh pria yang sangat ia cinta itu.
“Ini sudah keterlaluan, Yuuki. Aku… Aku akan membunuh semua orang-orang yang kau sayangi termasuk Midnight. Akan kubunuh semua anggotanya sesuai keinginanmu. Tapi! Midnight juga akan kubunuh! Semuanya! Apapun yang menyakiti hatiku akan ku musnahkan semuanya!” teriak Emma penuh amarah. Gadis itu mencampakkan dua foto yang berisikan gambar Midnight dan Yuuki.
“Aku lelah. Tapi, langkahku nggak boleh berhenti sampai disini. Aku harus… Aku harus melanjutkan mimpi buruk ini!”
Emma menoleh ke bingkai foto dirinya yang dirangkul oleh Yuuki. Foto itu mereka jepret dua tahun yang lalu. Waktu itu, Yuuki masih sering menyempatkan dirinya untuk berkencan dan mengajak Emma berjalan-jalan. Tapi sekarang, pria itu justru memprioritaskan wanita lain.
Emma merasa keberadaannya selama ini buat Yuuki tidak ada apa-apanya. Dirinya seolah diperalat atau dijadikan sebagai pemuas Yuuki sebelum pria itu bertemu Midnight.
Sampai saat ini, Emma masih mencari identitas dan lokasi tempat Midnight berada. Pekerjaannya juga masih belum dia ketahui.
“Benar-benar misterius. Aku penasaran, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku ingin kali kita berbicara empat mata di café atau di hotel mewah,” gumam Emma disertai seringai licik.
Wanita itu turun dari ranjangnya. Kemudian, menghampiri laci mejanya dan mengambil beberapa hasil jepretan foto orang-orang yang memiliki hubungan dengan Midnight. Ada foto Chloe, Black Aura, Devil Mask, Yumi, Jacqueline, Ethan, Aoi, dan Midnight.
“Yuuki akan kurebut dan Midnight akan kulenyapkan bersama mereka semua…”
__ADS_1
~