
“Ah… Bosan!”
Dark Sport menghentikan kegiatan memasak bubur ayam yang
diajarkan buku resep padanya. Aura itu menatap Emma risih karena sudah lebih
dari setengah menit wanita itu mengeluh. Keluhannya tersebut juga tidak begitu penting.
Apalagi kalau bukan soal Yuuki?
“Padahal sudah selarut ini tapi Yuuki belum juga pulang.
Kemana saja dia? Huh, aku nggak menyangka masalahnya bakal setidak masuk akal
begini. Hei, Dark Sport!” panggil Emma sambil memandang peluru tokarev.
“Apa?”
“Dunia Carnater itu sebenarnya sesunyi apa sih? Entah
kenapa, aku pengen ke sana kalau masalah Yuuki ini udah tuntas semuanya.”
Dark Sport memutar malas bola matanya, “Kau kesana maka
hari itu juga kau mati.”
“Jahat sekali mulutmu! Kan, ada kalian yang bakal
ngelindungin aku. Kalian kan hebat-hebat! Pandai kelahi juga pun.” Komen Emma
sebelum akhirnya beralih ke topic lain. “Dark Sport, kau tahu tidak kenapa
belakangan ini wajah Yuuki selalu terlihat kaku? Yah, aku sih udah nanya sama
Huke. Tapi jawaban Aura itu tidak terlalu memuaskan. Dan lagi, siapa Midnight
itu? Memangnya dia punya masalah apa dengan Yuuki? Kenapa masalahnya sampai
sejauh ini? Carmine itu siapa?”
Dark Sport tertegun ketika dirinya diserang oleh
serangkaian pertanyaan Emma. Entah kenapa, dia sulit mengatakan kebenaran di
balik pertanyaan yang Emma ajukan padanya. Tapi, Dark Sport akui, dia tahu
banyak soal Yuuki.
Di tengah kebimbangannya, Dark Sport disadarkan oleh
raut penuh harap dari Emma. Tatapan wanita itu mengarah penuh padanya. Dark
Sport menangkap genangan air mata yang tak lama lagi akan mengalir. Akhirnya,
Aura itu menyerah dan menjelaskan semua yang ia tahu termasuk informasi yang
sama sekali tidak Yuuki dan Emma ketahui bahkan semua anggota Legend Aura juga tidak ada yang
tahu. Informasi yang tidak sengaja ia peroleh selama dirinya merasuki tubuh
Morgan. Dia tidak menyangka bahwa pria yang ia rasuki itu ternyata menyimpan
sebuah fakta yang benar-benar mengejutkan dan berhubungan sekali dengan masa
lalu Yuuki.
“Aku tahu semuanya termasuk awal mula masalah itu.” kata
Dark Sport setelah itu tersenyum kaku.
Seketika, senyuman lebar terpahat di wajah cantik Emma.
“Apa itu? Katakan semua yang kau tahu!”
“Eh? Tu-tunggu dulu! Ada syaratnya!”
“Syarat?” Emma menelengkan kepalanya melihat reaksi
ketakutan dari Dark Sport. Wanita itu tersenyum licik. “Ada apa dengan wajahmu
itu, Dark Sport? Apa ada rahasia yang Yuuki sembunyikan dariku?”
Pelan-pelan, Emma berdiri seraya mengeluarkan pistols
seraya memasukkan beberapa peluru tokarev itu ke dalamnya kemudian, mengarahkan
ujung pistol itu tepat di depan Dark Sport yang terduduk kaku di kursi makan.
Keringat dingin Aura itu bercucuran seiring dengan rasa takut yang kian
__ADS_1
mengambil alih jalan pikirannya.
Dark Sport panik. Namun, dia tidak mau dianggap tidak
sportif. Dengan tidak rela, Dark Sport pun membeberkan semua yang ia tahu
termasuk fakta-fakta mencengangkan yang tidak Emma ketahui.
“Semua masalah ini muncul ketika kau dan Yuuki berpisah
selama dua tahun. Saat itu, kalian kuliah di tempat yang berbeda. Lalu, Yuuki
tidak sengaja bertemu dengan Midnight yang sedang kerja sambilan menjadi
pelayan café. Sejak pertemuan itu, Yuuki menaruh hatinya pada Midnight sampai
saat ini. Dia tidak memberitahu kenyataan ini padamu.”
“Ooh… Rupanya ada wanita lain yang mau nikung kami
berdua?”
“Eh? Bukan! Midnight justru membenci Yuuki. Alasan
kenapa Midnight membenci Yuuki masih belum kuketahui. Lalu, masalahnya dengan
Carmine itu aku juga nggak begitu ngerti dan aku bingungnya… Kenapa Carmine
menaruh dendam pada Yuuki.”
“Ada lagi yang lain? Katakan saja semuanya! Biar
kuselesaikan semua masalahnya dengan begitu, waktuku dengan Yuuki nggak akan
terbuang sia-sia!” tegas Emma tak mau tahu.
“Baiklah… Informasi satu ini sebenarnya kudapat dari
seorang pria yang waktu itu sedang kurasuki. Morgan. Selama aku di dalam
tubuhnya, aku melihat semua yang Morgan lakukan. Dia selalu menghubungi adik
perempuannya dan membicarakn banyak hal yang berkaitan dengan Yuuki. Tapi, yang
satu ini benar-benar membuatku kaget.”
“Apa itu?”
perempuannya. Mereka juga sedang menyelidiki sesuatu tentang sahabat mereka
yang katanya sih, mati terbunuh di usia 15 tahun. Aku juga mendengar beberapa
percakapan mereka tentang tempat-tempat yang biasanya di datangi Yuuki. Aku
nggak tahu kenapa mereka kerap kali membahas itu. Kadang, aku mendengar suara
adiknya yang terdengar mau menangis lewat telepon. Adiknya selalu bilang kalau
anak yang terbunuh itu sebenarnya masih hidup. Akan tetapi, Morgan selalu menegaskan
padanya untuk menyelidiki lebih dalam Aura-aura yang merasuki tubuh manusia
belakangan ini. Sejujurnya, aku cukup kagum dengan rencana yang mereka rancang.
Mereka seperti agen rahasia saja. Ah! Aku ingat! Morgan itu sebenarnya bukan
nama aslinya. Nama aslinya adalah Ethan.”
Begitu nama itu tersebut, Emma terbelalak bukan main.
Seketika tubuhnya menengang akan informasi yang tidak sengaja Dark Sport
peroleh. Sebenarnya, Emma ingin memuji kehebatan Dark Sport dalam memperoleh
semua informasi itu meski tanpa rencana. Tapi, perhatiannya telah terpaku pada
identitas Morgan.
Ethan. Nama itu sangat familiar baginya. Begitu juga
dengan adiknya. Yah, banyak yang menggunakan nama Ethan, Emma tetap bersikeras
dan percaya bahwa pria bernama asli Ethan itu adalah sosok yang ia kenal semasa
dirinya menduduki bangku kelas 1 SMP sampai lulus SMP. Dan kasus gadis berusia
lima belas tahun yang terbunuh itu, Emma pernah mendengarnya.
“Hei, Dark Sport… Kalau pria itu bernama Ethan, lalu
__ADS_1
siapa nama adiknya? Apakah mereka itu kembaran?”
Dark Sport mengangguk, “Mereka kembaran. Nama adiknya
adalah Elena.”
“SUDAH KUDUGA! SEKARANG AKU PAHAM MAKSUD SEMUA MASALAH
INI! Hoho… Ternyata ada juga yang mau mengganggu rencana kami ya? Mereka tidak
tahu kalau aku masih punya satu lagi yang bisa membuat mereka bimbang. Eh?
TUNGGU DULU! KAU BILANG, YUUKI MENARUH HATI PADA MIDNIGHT?!”
“I-iya…”
“Begitu ya? Jangan khawatir… Aku nggak bakal berbuat
yang aneh-aneh pada Yuuki. Sekarang, aku paham dengan alur masalah ini.
Ngomong-ngomong, kau ada informasi lain tentang Midnight, tidak? Atau, ada
tidak informasi lain tentang Ethan dan Elena?”
“Ada. Ethan dan Elena. Kalau Ethan selama ini memiliki
nama lain Morgan, adiknya menggunakan nama Korea. Elena juga menyamar menjadi
mahasiswa dan sempat menjalin hubungan dengan Yo-han, diri Yuuki yang lain. Soal
Midnight, Ethan dan Elena masih meragukan identitasnya dan berencana ingin
bertemu dengannya. Tapi, Ethan bilang, dia punya satu masalah yang masih belum
terselesaikan. Dan masalah itu juga ada hubungannya denganmu.”
Dark Sport terdiam untuk sesaat. Dia rasa, sudah cukup
baginya membeberkan semua informasi tersebut sampai-sampai dirinya sukses
membuat Emma merasa puas.
Satu masalah yang tidak Yuuki ketahui dan masalah itu
hanya diketahui oleh Emma dan Dark Sport seorang. Seingat Dark Sport, saat itu
orang bernama Morgan alias Ethan itu juga terlibat bersama sahabatnya yang
sebenarnya memiliki hubungan erat dengan gadis yang belakangan ini terlihat
bersama Black Aura.
Sahabatnya meninggal ketika hendak menyelamatkan Morgan
yang akan Dark Sport rasuki. Kemudian, mereka berpapasan dengan pasutri. Pasangan
itu berniat menghubungi polisi namun, sepasang tangan menarik mereka ke portal
dunia Carnater dan membuat ,mereka terjebak di dunia itu. Sampai saat ini, Dark
Sport belum mendapatkan kabar apapun mengenai pasutri itu. Yang dia ingat,
dirinya yang sempat kewalahan itu dibantu oleh Emma.
Saat itulah, Emma melancarkan seluruh rencana yang sudah
ia susun sedemikian rupa di kepalanya demi menutupi kematian sahabatnya Morgan
yang disaat bersamaan merupakan mantan pacarnya. Datang ditemani seorang gadis yang terlihat mabuk berat. Kemudian memberikan
kunci mobilnya serta menyuruh Dark Sport yang sudah sepenuhnya menguasai tubuh
Morgan untuk mengangkat tubuh pria yang sudah tidak bernyawa itu ke dalam kursi
belakang mobil.
"Ingatan itu... Dark Sport."
"Ya?" Dark Sport merespon ketakutan. Seluruh pandangannya mengarah ke ujung pistol di depannya.
"Aku ada rencana untuk mengakhiri semua masalah ini. Aku yakin, baik Yuuki maupun Midnight, mereka pasti akan bungkam kubuat." Emma menyeringai.
Seolah, peran antagonist itu sudah diambil alih sepenuhnya oleh Emma dimana Yuuki yang sekarang ini terlihat lengah sebab terus menerus memikirkan Midnight.
Emma sadar bahwa dirinya adalah perempuan dan dia sepatutnya marah pada Yuuki yang telah menyembunyikan beragam rahasia besar darinya.
Emma merasa, hubungannya dengan Yuuki saat ini berada di atas tali yang tipis. Ada Banyak sekali faktor yang menjadi penyebab tipisnya hubungan mereka itu. Pertama, kehadiran Midnight. Kedua, Aura-aura itu. Dan terakhir, masalah yang kerap kali menghampiri mereka tanpa di undang sekalipun. Tiga hal itu membuat benak Emma penuh dan semangat ingin mengakhiri semua itu membara di dalam dirinya. Begitu pula dengan rasa cemburunya. Tak kalah kuat dengan semangatnya itu.
Iris biru lautnya menatap pistol yang ia todongkan ke arah Dark Sport.
__ADS_1
Dalam keheningan ruangan itu, Emma melambungkan imajinasinya sekaligus bertanya-tanya. Bagaimana jadinya kalau pistol itu dia arah langsung pada Midnight?
~