
Siang ini terasa sangat membosankan. Setelah mendatangi Jacqueline dan menanyakan keberadaan Midnight, Elena memilih untuk duduk diam di kursi taman sambil memandang para pejalan kaki yang berlalu-lalang di depannya. Dia duduk sambil menggoyangkan kedua kakinya ke depan dan ke belakang. Sesekali dia terlihat menghela nafas karena merasa lelah.
Secara pribadi, Elena merasa kesepian. Dia ingin berbicara namun, disisi lain tidak ingin melibatkan orang-orang di sekitarnya. Elena sangat yakin kalau adiknya kali ini pasti mau terlibat.
“Kok bisa, ya? Bisa-bisanya, Yuuki punya ikatan dengan fantasi. Padahal kalau kupikir-pikir, hal itu sangat mustahil.” Dia bergumam.
Kemudian, dia membuka ponselnya. Tidak ada yang berubah di sana. Hanya ada foto dirinya dan adik perempuannya yang tertera dan masih dengan senyuman yang sama. Foto itu, ia ambil dua tahun yang lalu saat mereka masih awal-awal datang ke Amerika. Akan tetapi, foto itu tidak sanggup menghapus ekspresi sedihnya. Jari telunjuknya kini beralih pada aplikasi galeri yang digunakan untuk menyimpan foto-foto.
Elena membuka salah satu folder galeri yang menyimpan beberapa foto pribadinya. Dia menekan salah satu foto dirinya yang terlihat sangat muda. Senyuman yang Elena ukir sangat manis. Elena terlihat sangat bahagia merangkul seorang gadis berambut coklat dengan ikat rambut ekor kudanya. Kelihatannya, gadis itu berhubungan baik dengannya. Gadis itu tentu saja bukan, adiknya.
Masa-masa SMP memang indah, ya! Kau tahu? Aku rindu banget masa-masa itu. Kau orang pertama yang bisa memahamiku, sahabat pertamaku.
Beberapa tetesan air mata berjatuhan membasahi layar ponselnya. Diam-diam, Elena terisak. Dadanya terasa sakit setiap kali mengingat wajah gadis yang dia rangkul di foto itu. Gadis itu adalah sahabat pertamanya. Orang yang membelanya ketika di bully. Orang yang sangat mengerti apapun yang disukainya dan mau terjun dalam imajinasi hebatnya. Tapi, orang yang selalu memancarkan aura positif itu malah lebih dulu pergi.
“Andai kau disini, mungkin orang aneh itu nggak bakal bisa menyentuhku dan membuatku stress.” Elena memejamkan kedua matanya. Menyenangkan sekali saat-saat itu. Rasanya, dia jadi ingin sekali kembali ke masa lalu.
Elena menghela nafas sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Cahaya yang dipancarkan matahari tidak terlalu kuat untuk menyingkirkan hawa dingin di sekitarnya. Jejak air mata di pipi kiri gadis itu terlihat nyata bekasnya.
"Habis ini mau ngapain yah?"
Ding! Dong!
Elena tertegun sebentar menyadari ponselnya berdering. Disana tertara nama seorang pria bernama 'Ethan'. Tidak tahu siapa dan apa hubungan pria itu dengan Elena. Yang jelas, gadis itu langsung mengangkatnya dan menanyakan keberadaan pria itu tanpa basa-basi.
"Kau dimana?" tanyanya.
"Aku masih di perpustakaan. Aku nggak sengaja ninggalin jam tanganku disini, hehe."
"Cih, memangnya aku peduli dengan jam itu?! Lalu, buku yang kau maksud itu dimana? Kau bilang, kau pernah melihatnya? Apa isinya?"
Pria diseberang sana terdiam. Elena menduga, kalau orang itu sedang berpikir.
"Aku nggak ingat isinya. Tapi, buku itu masih ada sama Chloe. Cuma waktu itu, aku lagi di rumah sakit. Sampai sekarang sih, masih belum tahu dimana mereka sekarang. Aku juga nggak tahu apa yang Chloe lakukan. Bagaimana denganmu? Apa kau benar-benar meninggalkan adikmu padanya?"
Elena mengangguk pelan. "Yah, kuharap, Chloe bisa menjaganya dengan baik. Lagi pula, aneh saja kalau aku terus-terusan main sama adik kelas."
"Pfftt! Makanya, kalau sekolah tuh yang niat! Kita seharusnya ada di kampus yang sama. Tapi kau malah memutus sekolahmu."
"Cih, kau nggak bakal ngerti yang namanya depresi cewek itu bagaimana! Oh, ya! Udah ketemu belum?"
"Ketemu apa?"
Untuk sesaat, Elena terdiam. Dia memandang foto dirinya bersama sahabatnya.
"Perempuan bernama Midnight itu." Tutur Elena sedikit murung.
"Oh, Midnight. Belum. Untunglah, orang gila itu lupa wajahmu."
"Ya, baguslah. Selain itu, aku yakin. Perempuan itu pasti masih hidup. Aku juga yakin, perempuan yang diincar Yuuki itu..." Elena menahan kalimatnya. Sudah berulang kali dia menebak-nebak mengenai identitas perempuan bernama Midnight itu.
Selain itu, banyak kejanggalan yang menyangkut di pikirannya setiap kali mengingat nama perempuan itu.
"Ethan, aku ada ide."
~
__ADS_1
Sekarang sudah dua puluh menit berlalu dan pertarungan masih belum jelas bagaimana akhirnya.
Suara peluru-peluru kosong yang tertembak itu membuat telinga mereka merasa risih. Ditambah lagi dengan Yuuki yang ternyata ikut membantu Huke melawan para Megaville itu. Aneh pria itu. Padahal dia manusia tapi, dia bisa mengeluarkan senjata Aura sesuka hati dia dari tangannya. Senjata-senjata yang dikeluarkannya cukup sederhana penampilannya.
Awalnya, dia mengeluarkan senapan yang bentuknya agak mirip dengan bolpoin. Sekarang, dia mengeluarkan senjata tajam mirip jangka. Senjatanya unik-unik. Chloe jadi menduga kalau Yuuki, adalah manusia yang kerasukan Aura.
“Dia manusia biasa dan dia dalam keadaan sadar. Jadi, nggak mungkin kalau dia kerasukan Aura. Buktinya, dia bekerja sama dengan Huke. Mereka juga kelihatan akrab.” Tutur Jacqueline yang saat ini tengah bersembunyi di balik mobil bersama Chloe dan Rara.
Rara mengeluh, "Padahal musuh cuma satu. Tapi kok, susah amat dikalahin. Jadi, memang seperti inikah pertarungan mereka? Seperti di dunia lain saja!"
“Jangan-jangan jebakan.” Tebak Chloe tiba-tiba.
“Ha?” sahut Jacqueline.
“Nggak tahu juga, ya. Aku cuma menebak.”
“Padahal aku berharap, benar.” Rara merasa kalah karena dugaannya salah.
Di waktu yang sama, Black Aura dan Yumi melakukan serangan kombo. Black Aura berteleport di belakang Huke dan Yumi memanfaatkan kemampuannya untuk mengecohkan perhatian Huke. Perempuan itu berulang kali melempar pisau rotinya ke berbagai arah agar pandangan Huke tertuju sepenuhnya pada pisau-pisau itu. Huke tidaklah lemah dan tidak juga kuat. Yang ditakutkan dari Aura itu adalah, dia Aura yang tak terduga.
Bagaimana tidak? Memang dari depan, Aura itu terlihat tidak fokus. Namun, ketika sabit Black Aura hendak menebas Aura itu, Huke bisa cepat sadar akan serangan yang akan melukainya.
Seperti saat ini, Black Aura hendak menembak Huke dengan senapannya. Belum lagi menarik pelatuk, Huke itu sudah lebih dulu menggenggam lengan kanan Black Aura dan mematahkannya. Kemudian, menendang Aura itu sejauh mungkin.
Devil Mask muncul dan membalas Huke dengan tendangannya. Huke yang menerima tendangan Devil Mask, hanya diam sambil menahan beberapa tendangan Aura itu. Menunggu kesabarannya habis hingga dirinya bisa melepaskan serangannya dengan emosinya.
"Ambil ini." Ujarnya datar seraya mengubah lengan kirinya menjadi meriam canon. Kemudian, dilayangkannya dengan kuat ke arah Devil Mask.
Aura bertopeng kucing itu terlempar kencang. Tapi untunglah, Kedua kakinya yang terseret-seret itu sukses menyeimbangkan posisi berdirinya.
Pukulannya ringan. Devil Mask menyeringai di balik topengnya.
“Rasakan ini!” seru Devil Mask seraya menebas Huke dengan cakarannya tanpa memperdulikan damage yang Aura itu alami. Disusul dengan Black Aura dan Yumi.
Mereka bertiga menyerang Huke bersama-sama. Serangan yang mereka keluarkan sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan Huke. Akan tetapi, karena regenerasi Huke yang sangat tinggi, lukanya jadi lebih cepat sembuh. Sementara, tiga Megaville itu sudah merasa kelelahan melawan Huke.
Tenaga mereka sudah terkuras sangat banyak. Ditambah dengan waktu istirahat mereka yang sedikit dan tidak mungkin untuk mereka diam sejenak dan membiarkan diri mereka dalam bahaya.
Black Aura melirik Yuuki yang saat ini tengah berhadapan dengan Jacqueline. Pria itu terlihat terganggu dengan keberadaan tiga gadis itu. Black Aura tahu kalau niat Yuuki adalah untuk menjebak mereka di dimensi buatan Huke dan membunuh mereka. Tidak untuk ketiga gadis itu karena mereka tidak ada hubungannya dengan Yuuki.
“Menyingkirlah!” gertak Yuuki yang kedua lengannya ditahan oleh Jacqueline dan Rara.
“Kita apa kan, dia?” tanya Jacqueline.
“Kembalikan kakakku!” sambar Rara tiba-tiba. “Aku tahu kau yang membuat kakakku hilang!”
“Kembalikan Aoi juga dan jangan yang aneh-aneh lagi!” tambah Chloe.
“Aoi nggak ada sama kami. Lagi pula, kalian jangan ikut campur! Masalahku cuma sama mereka, bukan kalian!” bentak Yuuki yang hampir kehilangan kesabarannya.
“Tapi mereka teman kami! Sebenarnya, masalah kalian apa sih?” Jacqueline juga sama, nyaris habis kesabarannya.
“Cih, kalian nggak usah ikut campur napa!” Yuuki memberontak sampai membuat Rara dan Jacqueline terdorong dan terjatuh.
“Akan ku akhiri semuanya! Setelah itu, aku..." Yuuki memejamkan kedua matanya. Di dalam penglihatannya yang hitam itu, ia melihat sosok Midnight dengan senyuman hangat yang sangat ia dambakan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, dia membuka kedua matanya, merogoh kocek kemejanya sedalam mungkun. Ada buku kecil yang keluar dari sakunya.
“Minggu ini, tidak ada lagi yang namanya Black Aura, Devil Mask, dan Yumi!” tegasnya. Buku itu. ia buka.
Black Aura merespon cepat omongan Yuuki yang bernada tinggi itu. Otomatis, dia melihat tindakan Yuuki, lalu terbelalak. Begitu pula dengan Yumi dan Devil Mask.
“I-itu kan…" kata-kata Devil Mask tertahan di ujung lidah. Tiba-tiba, dirinya merasakan ada sesuatu yang menyakitkan di dadanya. Dia melirik ke samping. Rupanya Huke! Ujung pedang Huke menembus Devil Mask tanpa sepengetahuan Aura bertopeng itu.
“Bye.” Ucap Huke setelah itu menebasnya ke atas, lalu menembaknya hingga damage yang dihasilkan itu benar-benar bisa melumpuhkan lawannya.
Cairan kental berwarna magenta itu menyebar hingga membentuk genangan. Devil Mask melemah karena serangan kejutan tadi. Dia tumbang dan tidak bergerak lagi.
“Devil Mask!” pekik Jacqueline panik. Matanya berkaca-kaca.
“Astaga!” belum sempat Yumi melirik ke belakang, gadis itu sudah ditebas oleh Huke hingga bernasib sama dengan Devil Mask.
“Yumi!!!” teriak Jacqueline yang hendak mengejar Huke untuk membalas serangan Aura itu. Akan tetapi, dia ditahan Rara untuk tidak mendekati Huke.
Untunglah, Black Aura yang terakhir. Dengan kemampuannya memindahkan rasa sakit, dia segera memindahkan rasa sakit Devil Mask dan Yumi pada Huke. Betapa terkejutnya Huke dengan kemampuan itu. Luka yang di dapatkan Devil Mask dan Yumi, kini dia rasakan sendiri.
“Aku lupa.” Huke menoleh kearah Black Aura. Wajahnya sangat datar. Aura itu belum menunjukkan reaksi terkejut atau ketakutan. Seakan dirinya tidak memiliki jiwa sehingga tidak bisa merasakan yang namanya rasa takut.
Di pihak Yuuki, pria itu menyeringai karena Huke sukses mengalihkan perhatian Black Aura dan yang lainnya. Sekarang, saatnya dia beraksi dengan buku yang entah apa itu namanya. Buku itu bercahaya ketika dibuka halaman tengahnya. Yuuki menggores telapak tangannya, kemudian mengecap tangannya di atas lembaran-lembaran buku tersebut.
Menyadari ada yang bercahaya di belakangnya, Rara pun menoleh ke belakang. Gadis itu terbelalak menemukan Yuuki yang bertindak aneh dengan buku yang dipegangnya. Pria itu menyebut beberapa kalimat. Sayangnya, telinga Rara tidak terlalu fokus untuk mengeja apa yang pria itu katakan.
“Oi! Apa yang kau lakukan?!” Rara berlari ke arah Yuuki dengan tergesa-gesa.
“Eh? Rara!” Chloe ikut mengejarnya. “A-apa itu?” sama halnya dengan Rara yang penasaran dengan buku kecil itu, Chloe akhirnya mengubah pikirannya dan memilih untuk menghentikan perbuatan Yuuki. Chloe tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa teman-teman Auranya.
“Bayangan di bawah pijakan, bunga-bunga yang berguguran mahkotanya, api unggun yang padam, keruhnya air, kemenangan bukan untuk yang kuat…” Yuuki menyebut beberapa kalimat yang tampaknya tidak ada hubungannya dengan kejadian saat ini.
Karena merasa terganggu dengan kalimat-kalimat itu, Rara dan Chloe melompat bermaksud menghalangi Yuuki berbuat sesuatu yang aneh.
“Cukup!” gertak Chloe.
Yuuki terjatuh, terseret lumayan jauh ke belakang. “Cih! Terlambat!”
“Apa?”
Kata-kata “terlambat” itu terdengar sampai ke tempat Black Aura bertarung melawan Huke. Black Aura tertegun. Dia menoleh ke arah Yuuki yang menyeringai ke arahnya sambil berkata, “Selamat tinggal, Carmine.”
“Hah?”
Dalam hitungan detik, tanah yang Yuuki pijak itu mengeluarkan simbol aneh. Chloe yang tadinya menahan Yuuki, memilih untuk menghindar. Symbol itu membentuk lingkaran. Kemudian, lingkaran itu bercabang dan melahirkan lima lingkaran kecil lainnya. Dari lingkaran itulah, muncul beberapa sosok yang menyerupai orang namun, dilengkapi dengan senjata.
“Tangan ogre?” Chloe bergumam. Dia membeku di tempat. Seperti déjà vu. Entah dimana dan kapan, dirinya melihat senjata itu. Tak hanya ogre, pedang yang diselimuti api, seorang gadis berambut pirang pendek dengan jaket panjang yang memiliki tekstur cair layaknya air. Orang-orang itu sepertinya pernah Chloe lihat. Tapi, dimana?
“Hahahaha! Nah! Bagaimana caranya kalian melawan semua perasaanku ini? Mereka semua sudah terlahir kembali. Mereka juga tentunya lebih kuat dari sebelumnya.” Seru Yuuki disertai senyuman lebar.
"Oh, tidak." Yumi berusaha bangun walau masih merasa nyeri.
"Mereka hidup lagi?" Devil Mask kembali menyiapkan cakarannya setelah menelan keraguannya dalam-dalam.
Tidak ada yang bisa menghindari pemandangan di depan mereka. Yang mereka lakukan saat ini, hanya bisa mematung dalam keraguan mereka. Angin yang mereka rasakan terasa tak begitu sehat untuk tubuh mereka.
__ADS_1
Yui, Dark Sport, Dark Dlower, Dark Fire, Aurora dan Dark Shadow. Mereka semua berdiri dengan senyuman seringai yang mereka sunggingkan.
~