Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 219


__ADS_3

Black Aura membuka matanya. Tangannya masih setia menggenggam pedangnya.


“Bagaimanapun juga, kau yang akan mati.” katanya datar.


Dia mengangkat pedangnya ke atas. Semua pedang yang menghujani daerah kota itu menghilang. Berubah menjadi puluhan pilar dengan serangkaian tulisan simbol di sisi-sisi pilarnya. Hujan laser itu mendadak menghilang.


“Demi Chloe… Demi semua orang yang kucintai.. Aku akan mempertaruhkan sebagian diriku!”  katanya penuh percaya diri.


Saat itulah, dirinya berubah menjadi sosok yang mengerikan. Beruntunglah, Black Aura saat ini berada di dunia mimpi. Jadi, tidak akan ada orang yang terluka akibat serangannya.Sejenak, Black Aura menutup matanya. Waktu seakan berhenti.


Dalam kegelapan, Black Aura berusaha mengingat semua rasa sakit yang pernah dirasakan Midnight, Chloe, Carmine, Jacqueline, Aoi, dan orang-orang yang dia kenali lainnya.


Semua tangisan serta usaha-usaha mereka kala menghadapi rasa sakit tersebut.


Semuanya membutuhkan kekuatan yang sangat besar, bukan?


Black Aura membuka matanya. Rasa sakit itu memiliki akhir yang berbeda-beda. Tergantung cara seseorang menghadapinya.


Menyakiti diri sendiri atau bertahan? Atau malah, melampiaskannya pada orang lain? Atau… berbagi rasa sakit tersebut dengan orang lain?


“Midnight…”


“Aku rasa, aku ini anak terkutuk. Kurasa, memang sebaiknya anak sepertiku ini pantas dilenyapkan.”


“Ayah bilang, ‘aku ini pantas dibunuh olehnya,”


“Chloe…”


“Aku sendirian. Apapun yang kupunya selalu menjadi milik orang lain.”


“Kalau Aoi hilang, Aku nggak punya siapapun yang bisa menjadi tempatku berkeluh kesah,”


“Kumohon, jangan tinggalkan aku…”


“Carmine…”


“Kebahagiaanku hilang. Kenapa sih, semua orang merendahkan keluargaku? Apa sih, bahagianya dari merendahkan orang lain?”


Mata merah Black Aura melirik kearah Ghostwave yang berdiri di atas gedung bersama dengan beberapa  arwah dari bongkahan gedung yang melayang di belakangnya.


“Gampang kok…”


“Gampang?”


“’iya, kalau kau mau tau caranya…” Black Aura menyeringai.


~

__ADS_1


Sementara itu…


Kicauan burung di pagi hari tak henti-hentinya bernyanyi mengiringi suara angin dan beberapa rimbunan daun yang berterbangan. Jatuh di pekarangan rumah Chloe tanpa suara.


Di dalam rumah itu…


“Black Aura masih belum bangun juga,” keluh Chloe diakhiri dengan helaan nafas berat.


Chloe benar-benar tak habis pikir dengan Black Aura yang tiba-tiba menghilang dan ditemukan Ethan tertidur di kursi taman.


Ethan membawa Black Aura langsung ke rumah Chloe setelah tiga belas kali dibangunkan tapi tak kunjung bangun juga Auranya.


Chloe menggenggam erat tangan Black Aura yang dingin. Aura itu tidak mati. Jiwanya masih ada di dalam tubuhnya yang tertidur saat ini. Meskipun tahu kenyataan Black Aura masih hidup, tetap saja Chloe merasa takut jika seandainya tidurnya Black Aura ini akan berujung selamanya.


“Ini udah tiga hari, Ethan! Aku yakin, ini pasti ulah Huke atau Au…”


“Aurora udah mati,” potong Devil Mask tiba-tiba berdiri di ambang pintu ruang tamu.


“Benar juga sih. Lagi Pula, banyak anggota Legend Aura yang sudah mati. Tak ada lagi yang bisa kita salahkan atau tuduh,” timpal Ethan.


Mendengar omongan Ethan, Chloe hanya bisa menghela nafas berat. Dia lelah dan tidak tahu harus berbuat apalagi demi membangunkan Black Aura.


Dibangunkan dengan suara musik dan panci yang dipukul dengan benda keras lainnya saja, Aura itu masih tak kunjung bangun dan masih sama dalam posisi tidurnya, Midnight masih mencari tahu  penyebabnya.


“Kalau Black Aura nggak bangun lagi, aku sama siapa? Aku sendirian. Aku nggak punya siapa-siapa yang bisa menemaniku sedih dan senang,” ungkap Chloe sedih. Dia menunduk menahan air matanya.


“Percuma. Aoi dan Jacqueline pasti lebih sibuk dengan urusan mereka sendiri. Apalagi setelah menikah. Aku nggak mungkin mengganggu kehidupan mereka terus. Kau juga punya pekerjaan yang berbahaya. Kau itu FBI-kan?” tanya Chloe sambil memperlihatkan ekspresi sedihnya. Ekspresi itu yang membuat Ethan tidak tega.


“Kau benar. Aku FBI. Tapi, jangan bocorin ke siapa-siapa yah!”


“Iya.”


“Chloe, sini!” panggil Devil Mask.


Chloe bangkit dari sofanya kemudian, menghampiri Aura bertopeng kucing itu.


“Kau pergilah jalan-jalan. Dua hari kedepan, kau akan kami bawa lagi ke Carnater. Dunia itu membutuhkanmu,” jelas Devil Mask serius.


“Baik…” jawa Chloe seadanya.


Devil Mask memiringkan kepalanya menghadap wajah Chloe yang terlihat masih bersedih itu. Lantas, dia bertanya, “Kau masih sedih?”


Chloe mengangguk pelan.


Jujur juga dia… Batin Devil Mask hampir saja tertawa.


“Ya udah. Ikut aku!” ajak Devil Mask tanpa pikir panjang menarik tangan Chloe keluar rumah gadis itu.

__ADS_1


Dari jauh, Ethan hanya bisa memandang Chloe dalam diam. Sebenarnya, pria itu menaruh perasaannya pada Chloe. Dari semua gadis yang dia temui, hanya Chloe-lah yang menurutnya sempurna untuknya.


Gadis penggemar kentang goreng. Mudah sekali sedih jika ada sesuatu yang benar-benar membuatnya sedih. AKan tetapi, dia cukup berani dengan  masalah aneh yang kerap kali menimpanya sejak dirinya menjalin ikatan dengan Black Aura.


“Sejak nggak ada Lucas, Chloe jadi berubah banyak. Apa jangan-jangan, factor yang mendorong Chloe menutup diri itu… Abangnya?”  pikir Ethan.


Tangan kanannya bergerak perlahan lalu, mengusap poni rambut Black Aura yang tadinya menutup sebagian wajahnya.


“Kau entah kenapa, mirip dengan Lucas,” lanjutnya.


~


Black Aura menendang semua mobil-mobil yang ada di depannya saat ini. Semua mobil yang ditendangnya itu satu-persatu menghantam Ghostwave yang berubah penampilan menjadi Dark Fire.


Seluruh arwah yang menghuni kota itu turun tangan membantu Ghostwave melawan Black Aura. Senjata yang mereka bawa macam-macam. Ada pisau, gergaji, tongkat, dan tas.


Jari telunjuk Black Aura dan Ghostwave saling menunjuk satu sama lain. Serangan Black Aura yaitu laser mengarah cepat kearah Ghostwave. Di saat bersamaan, pasukan hantu Ghostwave maju.


Trang! Trang! Trang!


Sabit Black Aura berhasil menusuk salah satu pundak hantu itu sampai terpisah dari tangannya.


Hantu itu bagusnya disegel aja.


Black Aura mengayunkan tangannya ke kiri. Bayangan bekas ayunannya tersebut berubah menjadi serangkaian mantra yang berjatuhan ke tanah. Mantra-mantra itu menyebar dengan cepat hingga menguasai seisi kota.


“Tidurlah dengan tenang…” lirih Black Aura kemudian menggores lengannya dan membiarkan darahnya menyentuh mantra-mantra itu.


Cahaya violet muncul dari mantra-mantra tersebut. Para hantu yang tadinya hendak menyerang Black Aura perlahan-lahan menghilang. Termasuk Ghostwave. Aura tidak menghilang melainkan diubah zatnya menjadi padat. Dengan begitu, Black Aura bisa menyerangnya sesuka hati.


Betapa terkejutnya Ghostwave mendapati dirinya yang sudah tak bisa lagi berubah menjadi transparan layaknya hantu.


Dia salah lawan. Kelihatannya juga, jebakan yang dia buat untuk Black Aura juga tak berpengaruh apa-apa pada Aura itu.


Ghostwave terdiam. Tak lama kemudian, dia tersenyum. “Kau mirip sekali dengan Meg. Nggak terduga,”


Setelah memuji Black Aura, saat itu juga, tubuh bagian atasnya terjatuh. Disusul dengan tubuh bagian bawahnya yang pada akhirnya tergeletak lemas mengeluarkan genangan darah biru yang lumayan luas.


Black Aura menurunkan pedangnya usai membelah Ghostwave.


Pertarungan selesai akhirnya.


Barulah Black Aura bisa menghela nafas lega setelah semua kebohongan yang dia hadapi seorang diri ini.


Dunia mimpi itu pecah. Tanah yang menjadi pijakan Black Aura pecah dan melayang ke langit putih hampa di atasnya.


Black Aura tersenyum tipis, “Aku pulang, Chloe…”

__ADS_1


~


__ADS_2