
"Kau...!"
"Tenanglah, Chloe!" Black Aura menahan lengan kanan Chloe yang hendak memukul Minji. Gadis ini telah dilahap emosinya.
"Kau bilang, aku main mengecap dia sebagai adik, kan? Kau nggak tahu ya? Kami kuliah di kampus yang sama dan kami sudah melewati puluhan musim bersama. Sementara kau? Kau melupakan dia dan lebih memilih dengan pria jepang itu." Minji masih belum menyerah membuat Chloe terpojokkan.
"Pertama kali aku melihatmu emosi. Kau pikir aku takut? Huh! Sama sekali tidak. Bagiku, kaulah yang tak pantas jadi sahabatnya. Kau cemburu di saat dia bersama yang lain."
"Jangan sok tau! Aku... Tidak menyalahkan Rara atau membencinya karena dia bersama yang lain. Tapi, caramu mengambil dia itu yang membuatku marah! Jangan bilang kau lupa tentang waktu istirahat itu?"
Saking kesalnya, Chloe sampai menghentakkan kedua kakinya dan menghasilkan retakan yang bisa membuat Minji terjatuh ke dalamnya.
"Yang mana?"
"Kau nggak ingat?! Oke, akan kuceritakan! Kau! Kau menyalahkanku karena kau mengira aku dan Rara berjalan berdua dan melupakanmu. Sebenarnya jari telunjuk sialanmu itu salah besar asal kau tahu itu!"
Melihat Chloe yang geram sekaligus emosi itu, membuat Remaja Aura ini mematung. Ingin melerai pertengkaran mereka tapi, rasanya seakan tidak pantas.
Mungkin, inilah saat yang tepat untuk menumpahkan rasa sakit yang selama ini dipendam pada orang yang sangat ia benci.
Tak hanya rasa sakit, Chloe juga... kecewa.
Dengan wajah yang memerah padam, Chloe menuangkan seluruh amarahnya.
"Saat itu, aku dan Rara mencarimu kemana-mana. Kau menghilang tiba-tiba dan datang menyalahkanku. Aarrggghh!! Sudahlah! Aku menyerah denganmu! Ambil saja Rara! Ambil aja dia! Buktikan padaku kalau kau bisa jadi kakaknya! Kau kakak yang baik! Kau pantas mendapatkan Rara! Pantas!!!"
Seketika, Black Aura dan Minji terkejut melihat gadis ini berteriak keras sampai mengundang perhatian sebagian remaja yang melewati area sekitar mereka.
Chloe berteriak mengeluarkan seluruh amarahnya. Ia sudah cukup muak dengan Minji. Ia diam-diam, menyimpan kebencian terhadap gadis itu dan mungkin, setelah mengutarakan amarahnya, Chloe tidak akan lagi mau bertemu dengannya.
Tanpa basa-basi lagi, Chloe mencengkram lengan Black Aura dan menghambur pergi meninggalkan Minji seorang yang masih bertahan dengan raut datarnya itu.
Chloe benar-benar tidak menyangka. Hari dimana seharusnya ia bertemu dengan Aoi, justru malah menjadi tempat dirinya menuangkan emosi masa lalu.
Emosi yang selama ini ia simpan dengan baik. Emosi yang ia kubur sedalam mungkin tanpa ada satupun yang tahu. Namun, karena suatu goncangan hebat, emosi tersebut menyembur dahsyat keluar dan melelehkan apapun yang ada di luar.
Setelah beberapa menit melangkah, Chloe pada akhirnya memilih untuk berhenti seraya mengusap air matanya. Seumur hidupnya, ia tidak pernah semarah ini terhadap orang lain. Pundaknya gemetar hebat menahan rasa sakit dan juga tangisan.
Black Aura menjadi iba memandang gadis itu dari belakang. Ia segera menghampiri Chloe dan mencoba untuk mengelus-elus punggungnya. Jelas sekali. Di dalam sana, Black Aura merasakan beragam rasa usai gadis itu menumpahkan amarahnya.
Sakit, kecewa, marah, menyesal dan merasa tak pantas.
"Chloe?" panggil Black Aura ragu.
"Hiks... Black Aura. Aku dari awal memang menyukai Rara. Aku senang bisa mengenalnya. Hiks... Dari semua orang yang kukenal, cuma dia seorang yang bisa menyembuhkanku selain Aoi dan keluargaku. Tapi... Apa yang kulakukan itu salah? Apa aku terlihat jahat hanya karena dia lebih dekat dengan Minji dan satu kampus dengannya?"
Gadis itu mengungkapkan perasaannya tak hanya dengan tangisan tapi juga dengan omongan. Ia bahkan serta merta mendekatkan dirinya pada Black Aura.
Tentu saja, Black Aura semakin bertambah bingung dengan Chloe.
"Hei... Jangan menangis. Kau nggak malu diliatin anak kecil sana?" bujuk Black Aura sampai-sampai melibatkan anak kecil yang tengah menjilat es krim corn miliknya.
Chloe menggeleng cepat. Ia kecewa dan sakit. Tapi, disisi lain juga merasa tak pantas. Ia juga merasa bersalah karena telah egois dengan Rara. Akan tetapi, ia juga tidak rela memberikan Rara begitu saja pada orang lain. Begitulah, hatinya tidak bisa berbohong.
"Tiga tahun berpisah dengan Rara sedangkan mereka, memiliki waktu yang banyak bersama Rara. Bahkan, mereka menyimpan sebagian foto mereka bersama Rara. Black Aura... Aku ingin seperti mereka tapi rasanya sulit sekali... Huwaaa!" Tangisannya memecah.
Cepat-cepat, Black Aura melindungi wajah gadis itu dari penglihatan masyarakat yang melintasi area tersebut.
"Sudah. Jangan menangis lagi. Rara nggak akan pernah melupakanmu. Di dalam hatinya ia selalu memikirkanmu. Dia pasti mencemaskanmu, Chloe." Ucap Black Aura lembut seraya mengajak Chloe kembali ke depan perpustakaan.
"Bagaimana kau bisa tau?" Chloe mengangkat kepalanya sebentar dan memperlihatkan tampangnya yang hancur karena tangisan.
Astaga...
"Sudah... Sudah... Nih, makan dulu!" seru Blacm Aura sambil menyodorkan seember kentang goreng jumbo yang masih utuh tepat di depan wajah Chloe.
"Terima kasih." Ucap Chloe yang masih terisak itu.
"Yah, aku nggak begitu mengerti dengan manusia. Tapi, Aku yakin. Kau dan Rara sudaj terhubung. Selain Aoi, kau masih memiliki dia yang peduli denganmu. Meskipun kalian berjauhan. Kau nggak sendirian, Chloe.
"Aku tahu di dalam hatimu, kau berharap.Aoi ada di sampingmu dan memberimu semangat, bukan?"
__ADS_1
Langkah mereka akhirnya berhenti sesampai di depan perpustakaan. Pelan-pelan, Black Aura membawa gadis itu ke posisi duduk yang nyaman.
"Kau tahu? Kau telah belajar banyak hal dari masalah ini." Ujar Black Aura tiba-tiba.
Chloe tertegun dan refleks menatap Black Aura dengan raut herannya.
"Apa yang bisa kupelajari dari ini?"
"Nanti kau akan menemukannya. Agak aneh aja jika aku yang menasehatimu."
Chloe berdecak sebal. "Nggak ada yang bisa kudapatkan selain sakit. Hah... Sudahlah. Aku relakan saja Rara."
Black Aura menghela nafas berat, lalu menengadahkan kepalanya ke langit. Langit pagi menjelang siang itu terlihat sangat tentram. Tak ada objek apapun yang mengganggu mereka. Beberapa awan kumulus berkumpulan dan ada pula sebagian yang menyatu dengan awan lainnya.
Dari pertengkarang Chloe tadi, Black Aura merasa dirinya mendapatkan banyak sekali pelajaran. Mereka bertengkar namun tidak mengalami luka fisik. Mereka beradu omongan.
Berbeda sekali dengan dunianya yang selalu mengedepankan pertarungan dengan beradu senjata dan tidak mementingkan pertarungan dingin. Pertarungan sengit yang menghabiskan berliter-liter darah mereka. Tapi untunglah, mereka bukan manusia.
"Kau menyuruhku untuk belajar tentang duniamu dan aku berusaha mempelajari apapun yang kudapat. Seharusnya, kau punya sesuatu yang bisa kau pelajari dari masalahmu itu. Aku yakin, kau sudah belajar banyak. Hanya saja, kau tak menyadarinya." Black Aura menjelaskan dengan artikulasi yang jelas dan nada yang lembut.
Chloe tak merespon. Dia hanya termenung dalam diam. Konflik dirinya dengan Minji itu masih terbayang jelas dipikirannya. Kejanggalan di hatinya muncul.
Gadis itu menatap Black Aura untuk sekian kalinya seraya berkata, "Apa aku terlihat seperti anak-anak?"
"Hmm? Biasa aja. Memangnya kenapa?"
"Huft... Entahlah. Aku merasa nggak pantas aja. Di usiaku yang hampir dua puluh tahun ini, aku masih aja membahas masa lalu. Terutama soal pertemanan. Padahal, aku udah punya Aoi dan Jacqueline yang benar-benar bisa menghiburku, yang mau menerimaku."
Chloe kembali terdiam kemudian menghela nafas sesaat. Perasaannya lelah. Selain itu, ia merasa bodoh karena masih memikirkan masalah masa lalu. Chloe bingung ingin menganggap masalah itu sebagai wajar atau nggak?
"Kau nggak bakal tinggalin aku, kan?"
Black Aura terkejut bukan main mendengar pertanyaan yang Chloe utarakan tanpa pikir panjang. Masalahnya, ia tidak tahu harus menjawab apa? Dirinya juga tidak bisa janji untuk berada di samping Chloe selamanya.
Karena perasaan bingung telah menguasai pikirannya dan dia juga tidak ingin kehilangan akal sehatnya karena terlalu banyak menerima hal baru di dunia Chloe. Kenapa jadi sesulit ini?
"Black Aura...?" Chloe memanggilnya nama remaja tersebut yang langsung kembali diserbu oleh lirikan datar Black Aura.
"Baiklah... Kurasa, sulit juga untukmu. Nah, makan nih kentang goreng."
"Kau marah padaku?"
"Nggak. Cuma lelah aja. Kau merasa lelah bukan?"
Chloe mengangguk pelan kepalanya sesuai apa yang ia rasakan saat ini.
"Itulah yang kurasakan."
"Jadi, begitu ya? Aura seperti kalian yang udah memiliki ikatan dengan manusia juga bisa merasakan apa yang dirasakan manusia?"
"Ya. Kalau kau nggak pintar-pintar menahan emosimu, aku akan terkena pengaruhnya juga. Dampaknya juga bisa saja berbahaya bagi orang banyak. Terus terang, aku nyaris gila dengan duniamu. Tapi, apa boleh buat?"
Black Aura mengusap kepalanya seraya membenarkan posisi duduknya.
Kondisi perpustakaan kala itu sangat sepi. Orang yang melintasi area tersebut semakin berkurang seiring berjalannya waktu. Dari pagi ke siang.
Kedua manik violetnya memandang ke arah gumpalan salju yang mewarnai ranting-ranting pohon. Warnanya putih bersih.
Penasaran dengan apa yang Black Aura pikirkan, Chloe pun pada akhirnya bertanya.
"Apa yang kau lihat dari salju itu?" tanyanya penasaran.
"Kenapa kau bertanya? Memangnya salah aku melihat salju?" Black Aura balik bertanya.
Chloe terkekeh pelan. "Risih ya? Sorry... Aku penasaran banget denganmu. Oh, ya! Ngomong-ngomong, Aoi lama kali!" ujar Chloe sembari melirik ke sana kemari.
Lega rasanya bisa melihat gadis itu kembali normal. Pusing rasanya jika melihatnya sedih.
"Kurasa, Aoi sebentar lagi akan... Eh...?"
Entah dari mana asalnya, Black Aura tiba-tiba merasakan sebuah sinyal merah. Sinyal yang akan membahayakan mereka itu masih terasa jauh namun, lama-kelamaan semakin mendekat..
__ADS_1
"Bahaya..." Gumam Black Aura.
Lantas, Chloe terkejut dan langsung beranjak berdiri. "Dimana? Ada Aura lain yang mengincar kita kah?" tebak Chloe antara polos dengan panik.
Sementara itu, Black Aura kini sibuk memejamkan kedua matanya. Tampaknya, ia sedang mencari keberadaan sinyal merah tersebut. Ia merasakan, sinyal tersebut perlahan-lahan mendekati ke arah mereka. Seperti sedang mengendap-endap di antara rerumputan liar dan memantau mangsanya dari kejauhan.
Black Aura menarik lengan Chloe agar lebih dekat dengannya. Jikalau ada serangan kejutan, Black Aura bisa menangkis serangan tersebut dan melindungi Chloe.
"Black Aura, gimana kita masuk aja ke dalam perpustakaan?" usul Chloe sambil melepas hoodie hitamnya. "Pakai ini!"
"Pakai ini?"
"Aissshh! Jangan buat aku mengulang-ulang kalimatku! Pakai ajalah!"
Black Aura memutar kedua bola matanya malas kemudian, mengambil hoodie tersebut.
"Ah, gimana kalau lengan hoodie-nya di ikatkan aja ke pinggangmu? Sini, biar kuikat."
"Terserah."
Seperti anaknya sendiri, Chloe mengikatkan lengan hoodie-nya di pinggang Black Aura. Ia mengikatnya dengan penuh kasih sayang. Haha...
"Jadi, orang-orang nggak merasa aneh liat dirimu." Ujarnya. "Selesai."
Black Aura tidak merespon. Ia hanya patuh dengan apa yang Chloe ucapkan. Akhirnya, mereka pun melangkah masuk ke dalam perpustakaan.
Di dalam perpustakaan, aroma buku tua secara otomatis menyerbu indra penciuman Chloe. Aroma yang sangat familiar mengingatkannya pada saat-saat dirinya dan Aoi sering mengunjungi perpustakaan tersebut seusai kampus.
"Aroma ini..."
Seketika, tetesan air mata mengalir begitu cepat di atas permukaan pipi Chloe. Perasaan rindu yang mendalam akan momen indah bersama Aoi.
Alih-alih tenggelama dalam memori masa lalu, Black Aura justru memandang sinis isi perpustakaan itu. Ia merasakan aura berkekuatan besar di sekitar perpustakaan ini tapi, ia tidak menemukan sosok pemilik sinyal tersebut.
"Chloe... Tetap waspada."
"Ah, iya."
Suasana sekitar mereka menghening seketika. Kesunyian yang sangat diidamkan perpustakaan itu telah memenuhi sampai ke sudut ruangan.
Tak hanya itu, perasaan aneh dan tak menyenangkan tersebut turut menyerbu pikiran mereka.
"Ngg... Kenapa jadi kayak gini suasananya?" ucap Chloe lirih bercampur takut. Ia mundur ke belakang Black Aura.
Mengetahui kondisi Chloe yang ketakutan membuat tingkat kewaspadaannya semakin tinggi. Sejak awal, Black Aura merasa ada yang aneh dengan kode tersebut. Seperti musuh dalam selimut.
Entah dari mana asalnya, sebuah suara muncul dan mengejutkan kedua remaja tersebut. Suara itu terdengar sangat asing bagi merekam Tapi anehnya, suara itu seakan mengenali mereka.
"Akhirnya kita ketemu juga, Black Aura!"
Seruan tersebut sukses membuat Black Aura bingung akan asal-usul suara tersebut Kedua manik violetnya melirik kesana kemari mencari si pemilik.
Tap... Tap...
"Keliatannya, perangkapku berhasil."
Suara seorang pria beserta langkah kakinya itu mengguncang kesunyian di antara mereka. Lihatlah gadis berambut pirang yang kini tengah berlindung di belakang teman Auranya.
Ketakutan mewarnai hampir seluruh wajahnya. Tangan kecilnya yang menggenggam erat jaket hitam Black Aura turut bergetar hebat merasakan takut. Aura kali ini sangat berbeda. Jauh lebih berbeda dari Yui dan Dark Sport.
Panas tapi dingin.
Tak ingin waktunya terbuang, sosok tersebut muncul usai melewati di antara rak buku yang tersusun di paling belakang.
Pria itu mengenakan kacamata yang ia gunakan untuk menopang poninya yang panjang. Jubah oranye dan kuning yang ia kenakan itu seperti menjelaskan kepada lawannya bahwa dirinya memegang kuasa api.
Tentu saja, Black Aura terbelalak bukan main melihat sosok itu. Tidak disangka, bahwa sosok yang selama ini bertarung dengan Megawave dan Siletwave, kini muncul dan akan berhadapan dengannya.
"Siapa dia...?" tanya Chloe ketakutan.
"Dia..." Black Aura menunda omongannya sebelum pada akhirnya, memilih untuk menghabiskan seluruh kalimatnya.
__ADS_1
"Dark Fire." Ucapnya serius.
~