
Di perjalanan, Black Aura masih terpaku pada surat yang Minji berikan sambil menyusun rencana agar dirinya bisa membagi waktu antara mencari Minji, Aoi, dan Midnight dengan bersenang-senang dengan kedua gadis itu di restoran malam nanti.
Black Aura juga diam-diam mengaktifkan kemampuan melacaknya menggunakan kedua matanya. Sedari tadi, dia tidak menemukan keberadaan Midnight dan Aoi karena ada sebagian orang-orang di kota yang memiliki gaya rambut sama dengan Midnight. Pendek dan berwarna gelap.
Black Aura menghela nafasnya, padahal dia sudah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan Midnight tapi, dia tidak pernah tahu. Ralat. Lebih tepatnya, tidak berusaha untuk mengetahui penampilan Midnight. Yang dia tahu adalah, ibunya selalu tersenyum dan pergi ke dunia nyata untuk mengurus pekerjaannya. Nah, pekerjaannya saja dia juga tidak tahu.
"Black Aura..." Panggil Chloe menyadari bahwa dirinya telah mengabaikan Black Aura karena sibuk berbincang dengan Rara.
"Ya?"
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Memikirkan Midnight. Maksudku... Ibuku. Aku sedang melacaknya dan tidak menemukannya. Minji dan Aoi juga sama." Balas Black Aura datar.
"Ooh... Iya juga, ya! Kalau mencari ponsel Aoi lewat aplikasi khusus pencari ponsel, kita hanya akan menemukannya di rumah Jacqueline."
"Lho? Kenapa bisa begitu?" timpal Rara.
Chloe menghela nafasnya keras. "Aoi itu ceroboh sekali. Dia selalu tanpa sadar, meninggalkan barang-barang penting. Makanya, sekarang aku bingung bagaimana caranya agar bisa mencarinya dengan mudah. Ini sudah kedua kalinya dia hilang dan... Aku tidak menemukan petunjuk apapun. Kalau dulu, petunjuknya aku dapat dari Dark Fire. Dia adalah pemimpin Legend Aura sekaligus musuh Black Aura." Beber Chloe yang tanpa ia sadari, dirinya tenggelam dalam pikiran beberapa hari yang lalunya.
"Wah... Berarti, kali ini Aoi hilangnya bukan karena ulah Aura dong. Tapi, selain Aoi... Aku justru mempertanyalan Aura-Aura ini. Bagaimana bisa kalian terjebak di sini dan ini langka sekali bukan? Dunia nyata memang mustahil sekali ditemukannya makhluk berkekuatan seperti kalian. Dan Black Aura, kau tidak merasa aneh memperlihatkan rambut putihmu di publik?" tanya Rara yang terus memperhatikan Black Aura meskipun Aura itu tidak memperhatikannya balik.
"Kurasa tidak. Karena, jika ada orang yang bertanya, aku bisa membuat alasan kalau dia itu seorang cosplayer atau albino. Tapi, agak aneh kalau albino bermata ungu. Makanya, aku memilih cosplayer biar tidak dicurigai." Balas Chloe.
"Wah, entar, semua orang bakal mengira kau adalah otaku yang nyasar, Black Aura!"
"Tidak juga." Black Aura membalas seadanya. Sejak awal, dia tidak tertarik berbicara dengan Rara. Yang semalam, dia tertarik untuk berbincang dengan Rara hanya sebatas ingin mengetahui masalah yang sedang gadis itu alami sekaligus mencari tahu apakah masalahnya berhubungan dengan masalah Chloe? Dan tampaknya berhubungan setelah dia membaca surat Minji.
Yuki. Nama musuh kami, Yuki-nya 'double u'. Tapi, kurasa sudah cukup untuk dikatakan petunjuk. Itu artinya, Minji saat ini sedang terlibat dengan Yuuki. Yah, syukurlah... Rara dan Chloe tidak sadar karena panggilan Jacqueline tadi.
Black Aura menghela nafas lega. Dia rasa, bisa gawat kalau Rara tahu mengenai kakaknya yanh memiliki masalah dengan Yuuki. Seandainya Rara tahu, maka, akan terjadi adu mulut antara Chloe yang sedang mencari Aoi dengan Rara yang sedang mencari kakaknya.
Dan aku yang sedang mencari ibuku hanya bisa mematung memandangi mereka dari jauh.
Black Aura melirik sebentar pada Chloe dan Rara yang kembali berbincang hangat. Mereka terlihat tertawa, saling melemparkan pukulan, dan ejekan. Melihat hal itu membuat Black Aura memasang wajah malas.
Benar yang dikatakan ibuku. Jika sudah bersenang-senang dengan orang terdekat mereka, masalah sebesar apapun bisa terlupakan begitu saja. Bisa pula seperti itu?
"Aneh... Suasana hari ini biasa saja. Tidak seperti beberapa hari yang lalu." Gumam Black Aura mengarahkan kembali tatapannya ke depan sambil mengalihkan perhatian Chloe padanya.
"Eh? Benar! Biasanya, kalau kita berjalan di tengah kota, pasti ada saja yang menghampiri kita dan melawan kita." Chloe merespon cepat.
"Iya! Kalau dilihat dari langit, birunya menjelaskan kalau hari ini, kegiatan apapun akan berjalan tanpa kendala apapun." Ditambah Rara.
Jika dilihat dari langit dan kerumunan orang yang melintasi di daerah perkotaan, semua itu membuat pemikiran negatif Chloe akan bahaya yang selalu mengikuti mereka dari belakang berkurang. Keseharian itu, kedua mata Chloe berbinar. Yah, setidaknya pemandangan seperti itulah yang ingin ia lihat setiap hari. Tentunya bersama Black Aura.
Memang benar, cita-citanya masih semu dan Chloe belum bisa memutuskan untuk menjadi apa dirinya setelah lulus kuliah nanti. Tapi, dirinya berjanji untuk menuangkan seluruh petualangannya bersama Black Aura ke dalam tulisan yang nantinya bakal dia sebut sebagai novel. Novel fantasi yang benar-benar nyata.
Chloe berharap, setelah semua masalah ini selesai dia bisa bersenang-senang dengan Black Aura dan kalau bisa, mereka berdua...
"Oi, Oi, apa yang kau pikirkan, Chloe?!" gumam Chloe tiba-tiba dengan kedua pipinya yang memerah.
"Eh? Chloe kenapa? Walah! Lihat pipimu! Merah!" tunjuk Rara bersemangat. "Kau pasti sedang memikirkan cowok yang kusukai, kan?"
"Ha? Apa?! Tentu saja tidak! Aku cuma keingat salah satu bagian novelmu di mana si..." Chloe mencoba berbohong namun, disela dengan cepat oleh omongan Rara.
"Ooh... Maksudmu, bagian dimana Rai hilang ingatan ya? Wah, nggak kusangka, kau bakal suka sama agen itu! Cih! Dia milikku!"
Untunglah, sahabatnya itu dengan mudahnya tertipu dan tanpa sadar telah menipu dirinya sendiri. Dasar Rara... Si maniak cerita romance.
__ADS_1
Chloe terkekeh dengan tangan kanan yang menutup mulutnya. Lucu saja melihat tingkah Rara.
"Rai itu memang hebat! Dia punya pacar dan mantan. Yah, aku agak kecewa karena dia memutuskan mantannya dan jatuh cinta sama gadis lain. Padahal, niatnya mau menyusup eh, malah tergoda oleh kecantikannya si profesor itu."
Rara. Gadis itu masih belum lepas dengan topik pembicaraannya mengenai novel romantis yang belakangan ini sering ia baca. Karena, Chloe berhasil menipunya, mau nggak mau dia mengikuti topik pembicaraan Rara yang sekarang. Meskipun sudah tahu kalau Black Aura sebenarnya bisa membaca isi pikiran Chloe.
Mengingat kemampuan itu, membuat Chloe ingin sekali menghajar Black Aura.
Awas kau, ya! Ancamnya dalam hati.
"Hei, Chloe! Kau dengar tidak?"
"Eh? Dengar kok. Kau bahas tentang agen M16 bernama Rai itu, kan? Kalau nggak salah kau ada membahasnya di rumah Minji tadi, kan?"
"Yep! Tepat!" Rara membenarkan.
Di sisi lain, Black Aura yang tidak terlibat dengan lingkaran kedua sahabat itu terkejut. Langkahnya terhenti saat sepasang manik violetnya menangkap sosok yang tidak asing di matanya.
Sosok itu tengah berjalan di antara keramaian orang sambil mengisap rokoknya. Seorang pria yang ia tahu sangat tergila-gila akan kecantikan ibunya. Pria yang merupakan musuh utama mereka sampai masalah ini terjadi.
Pria itu memang belum menyadari keberadaannya. Akan tetapi, kehadirannya sanggup menelan suara keramaian yang sedari tadi mengusik telinganya.
"Aku menemukannya." Gumam Black Aura. Tangan kanannya gemetar hebat seiring perasaan membunuh itu perlahan-lahan menguasainya pikirannya.
"Yuuki..."
~
"Jacqueline, kenapa kau nggak kasih tahu berita mana yang harus dibuka Chloe?" protes Yumi.
"Ah, dia itu pintar." Balas Jacqueline sambil memainkan game kesukaannya di ponsel.
Sudah sepuluh menit lebih mereka di dalam taxi. Pengemudinya terkadang suka memperhatikan mereka lewat kaca spion.
"Kalian ini mahasiswa, ya?" tanya si pengemudi. Namanya Ben.
Jacqueline nyaris saja tersedak saat bermain game dan langsung mengiyakan perkataan Ben barusan.
"Iya... Hari ini temanku ulang tahun, jadi kami berencana memakai kostum aneh. Yah, temanku ini wibu jadi... Kurasa kostum ini sudah cukup untuknya." Jawab Jacqueline diselingi dengan tawa ringannya.
"Oh, begitu ya..."
"Memangnya, kenapa? Aneh ya?"
"Bukan. Saya jadi teringat tentang berita yang baru-baru ini beredar."
Jacqueline dan kedua Aura itu langsung membulat sempurna kedua mata mereka. Tanpa pikir panjang, Jacqueline segera menanyakan berita tersebut.
"Berita tentang apa kalau boleh tahu?"
"Lho? Saya kira, kalian sudah tahu. Soalnya, berita ini saya dengar dari kalangan mahasiswa dan siswa SMA di sekitar sini. Beritanya sih tentang orang-orang yang menghilang secara misterius. Banyak orang terdekat korban yang datang ke kantor polisi. Ada pula yang menanyakan keberadaan korban lewat media sosial." Beber si pengemudi, Ben.
"Katanya, orang-orang yang hilang itu ada sebagian yang pulang ada sebagian yang tidak. Polisi juga lagi cari tahu siapa pelaku dibalik orang-orang hilang itu. Nah, masalahnya, dalam satu hari bisa dihitung lima lebih orang yang hilang."
"Waduh..." Yumi menutup mulutnya dengan tangan kanan.
Devil Mask yang duduk di sampingnya masih setia memandang jejeran gedung dibalik kaca taxi yang tertutup oleh embun. Aura itu tidak bersuara sedikitpun.
"Hmm... Aneh ya!" respon Jacqueline seadanya. Tapi, di dalam dirinya, dia menduga bahwa kasus itu ada hubungannya dengan yang selama ini dia urus bersama Megavile.
__ADS_1
"Yah, saya sarankan, kalian jangan jeluar malam-malam. Bahaya." Ben memperingatkan dengan wajah cemas. Oh, dia rupanya juga mencemaskan Jacqueline dan lainnya.
Devil Mask yang tadinya tenggelam dengan pemandangan gedung yang megah, kini beralih pada topik pembicaraan yang tengah Ben bahas. Dalam hati, Devil Mask merasa bersalah dan tidak nyaman mendengarkan cerita Ben.
Devil Mask justru mengkhawatirkan Jacqueline yang kerap kali keluar malam meskipun selalu ditemani Aoi. Sejauh ini, Jacqueline tak pernah sekalipun membawa luka saat sampai ke rumah.
"Jacqueline..." Bisik Devil Mask sambil mendekatkan kepalanya ke pundak kiri gadis itu.
"Hmm? Ada apa?"
"Nggak ada... Cuma... Jangan jauh-jauh amat dari kami." Ucapnya lirih.
"Oooh... Kau takut aku hilang, ya?" Jacqueline terkekeh.
"Mmm... Maka dari itu, turuti saja apa yang kubilang kalau kau sayang nyawa."
"Ah, dasar Devil Mask!" Jacqueline menghela nafasnya lalu, tersenyum. Walaupun Aura bertopeng ini sering terlihat cuek, dia juga bisa bersikap hangat terhadap dirinya. Ya, hanya Jacqueline seorang yang bisa merasakan kehangatan yang diberikan Aura itu sekaligus membuat Aura itu merasa khawatir.
"Nggak kok... Aku nggak bakal kemana-mana. Aku akan terus menemani kalian. Terutama dirimu, Devil Mask." Kata Jacqueline yang sebenarnya terenyuh dengan kata-kata Devil Mask tadi.
Mati-matian Jacqueline menahan air matanya agar tangisannya tidak di ketahui Ben dan kedua Aura itu. Meski demikian, gadis itu tidak bisa menyembunyikan senyumannya yang kaku karena ingin menangis.
Sebenarnya, aku takut jika harus kehilangan kalian berdua...
"Eh! Jacqueline! Devil Mask!" Yumi tiba-tiba menepuk-nepuk paha kedua temannya demi menyandarkan mereka akan sesuatu yang baru saja ia lihat.
"Eh? Kenapa sih?" tanya Jacqueline merasa risih.
"Itu... Aku merasa gadis berambut pirang itu membuntuti kita." Bisik Yumi pada Jacqueline.
Jacqueline terbelalak dan langsung menoleh ke belakang. Benar! Gadis berambut pirang yang kemarin sukses mengalihkan perhatian mereka, terlihat kembali dan kelihatannya tengah membuntuti mereka diam-diam. Gadis itu mengendarai sepeda motor dan sendirian. Wajahnya tak terlihat karena kaca hitam helm-nya yang menutupi seluruh wajahnya.
"Memangnya dia siapa?" Devil Mask berdecak sebal. Kemudian, dia menyuruh Ben untuk berbelok ke arah lain. Intinya, menghindar dari gadis berambut pirang tersebut.
Ben menuruti apa yang dikatakan Devil Mask meskipun dirinya curiga. Namun, Ben lebih memilih untuk tutup mulut dan tidak terlibat dalam masalah mereka.
"Tuan, bisa berhenti di depan toko bunga itu?"
"Yup! Tentu!" Ben dengan senang hati memutar kemudinya ke arah yang berbeda. Membelokkan taxi-nya ke kanan tak jauh dari toko bunga yang Jacqueline maksud itu.
Kondisi jalan yang ramai akan kendaraan bermobil sedikit menghambat pergerakan mereka untuk menjauh dari gadis penguntit itu. Akan tetapi, karena keyakinan dan keberanian Ben, mereka semua sampai di toko bunga itu.
"Ambil saja kembaliannya!"
"Terima kasih!"
Setelah Ben meninggalkan mereka, Jacqueline dan kedua Aura itu bergegas menuju toko bunga. Mereka berpura-pura menjadi pembeli di sana.
Di dalam toko bunga itu, tidak banyak ditemukan pengunjung yang terlihat. Hanya beberapa wanita kira-kira berusia 25 tahun ke atas sedang memilih bunga yang akan mereka bawa pulang.
"Kalian berpura-puralah menjadi pengunjung. Gadis itu biar aku saja yang mengurus." Tegas Devil Mask setelah itu menghamburkan langkahnya keluar.
Jacqueline menganga dalam diam. Sekarang, hanya dia dan Yumi yang tersisa. Berpura-pura menjadi pembeli. Sedangkan di luar sana, Devil Mask berjalan perlahan-lahan sambil membaur di keramaian.
Tidak memerlukan waktu lama, Devil Mask menangkap sosok penguntit itu sedang menelpon. Motornya ia parkirkan di depan sebuah restoran burger yang sedang mengadakan promo. Rasa penasaran itu semakin tinggi. Membuat Devil Mask ingin sekali mendekati dan mendengar diam-diam apa yang sedang dibicarakan gadis itu pada lawan bicaranya lewat telepon.
"Apa dia... Ada hubungannya dengan Yuuki?" gumam Devil Mask berhenti di antara keramaian.
~
__ADS_1