
Chloe tersadar usai melewati mimpi singkatnya. Ia terbangun dengan kondisi yang sama seperti saat dirinya memimpikan Carmine untuk pertama kalinya. Keringat dingin memenuhi tubuhnya disertai nafasnya yang tak beraturan.
Pelan-pelan, Chloe mencoba membenarkan posisi duduknya dan mengatur napasnya.
Gadis itu... Kenapa akhir-akhir ini dia selalu muncul di mimpiku? Sejauh ini, aku gak pernah ketemu anak bernama Carmine. Bahkan saat aku masih di Indonesia pun, aku gak pernah nemu orang yang namanya Carmine.
Chloe membatinkan hal itu. Telapak tangan kanannya mengusap jidatnya. Sejumlah pertanyaan kembali menghampirir benaknya dan memaksanya untuk fokus pada mimpi tersebut. Padahal Aoi-lah yang harus diutamakannya
"Aoi..." Ia menyebut nama Aoi seraya membuka layar utama ponselnya. Disana ada dirinya bersama Aoi tengah memamerkan senyuman terbaik mereka.
"Kau dimana, Aoi ...? Hiks... Kenapa, Kenapa harus dia yang hilang?" Tanyanya.
Lagi-lagi, ia menangis mengingat hilangnya Aoi yang begitu tiba-tiba. Ia memeluk erat ponselnya sambil terisak.
"Minumlah..."
Tangisannya membeku begitu mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Dingin dan datar.
Ia mengangkat kepalanya perlahan dan menemukan sosok Black Aura yang berdiri menunduk di depannya. Tangan remaja itu menggenggam sebotol air putih dan menyodorkan botol tersebut tepat di depan wajahnya.
"Terima kasih..." Ucapnya meraih botol tersebut. Ia memutar tutup botolnya kemudian meneguknya setengah botol.
"Dari mana kau dapat minuman ini?" tanya Chloe usai meneguk air putih tersebut.
"Aku membelinya."
"Dengan uang siapa?"
"Nenek-nenek..."
"Oh, jadi kau menemukan nenek-nenek yang kesulitan menyebrang lalu kau membantunya? Begitu?" tebak Chloe. Saat ini kesadarannya masih belum sepenuhnya bangkit. Tapi, ia tahu bahwa gayanya ia tengah menggenggam sebotol air putih pemberian Black Aura.
"Kau meminta upah?" tanya Chloe lagi.
"Enggak. Nenek itu yang memberikanku sentil air." Lanjut Black Aura agar lebih jelas.
"Begitu ya... Lain kali, kalau sudah selesai bantuin orang, jangan terus-menerus meminta imbalan mereka. Sesekali nolak sebagai tanda kau itu benar-benar tulus membantu mereka. Kecuali, kalau kau udah menolak beberapa kali tapi mereka tetap bersikeras memberikanmu imbalan, baru boleh kau terima." Jelas Chloe seolah dirinya seorang ibu dari remaja Aura ini.
"Oke..."
"Baguslah kalau kau... Eh? Lah? INI DIMANA COBA? MOBILKU... MOBILKU DIMANA? LAPTOPKU... LAPTOPKU ADA DI..."
Chloe mendadak terdiam setelah menyeruakan kepanikannya di depan Black Aura.
Laptop yang ia tanyakan itu kini berada di depannya. Masih utuh hanya saja berdebu.
"Laptopku!" Chloe meraih laptopnya dan memeluknya layaknya anak sendiri. "Lalu, apa yang terjadi dengan mobilku?"
"Mobilmu..." ekspresi yang selalu terlihat datar itu menghilang dengan cepat ketika mendapatkan pertanyaan mengenai mobil gadis tersebut.
Raut wajahnya 100% berubah menjadi bingung. manik violetnya melirik ke kiri dan ke kanan. Ia juga menggigit ujung bibirnya. Menunjukkan bahwa dirinya benar-benar bingung.
Rasanya, ingin sekali berbohong. Tapi...
"Black Aura? Ada apa dengan ekspresi itu? Jangan bilang mobilku nasibnya sama kayak truk yang bolong itu?" Nada suara gadis ini perlahan menajam.
"Katakan 'YA'!" perintah Chloe.
Black Aura menghela nafas lelahnya. Tampaknya sudah tak ada jalan keluar lain untuknya berbohong.
Setelah menghabiskan satu menit berpikir, akhirnya remaja ini memutuskan untuk mengatakan 'ya' sesuai yang diperintahkan Chloe.
"Ya. Tapi, bukan aku yang menghancurkannya." Ungkapnya dingin.
"Aku tau! Tapi, bagaimana bisa??".
"Yui menemukanku dan menyerangku begitu cepat. Dia tiba-tiba ada di dalam mobil kemudian menembakku." Jelas Black Aura.
"Kenapa gak keluar aja dari mobil?"
"Hah... Aku lupa cara buka kunci mobilnya. Maaf..."
"Aduh! Bagaimana ini? Mana itu mobil satu-satunya. Aduh..." Chloe panik. Gadis itu mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar saking bingungnya.
Sementara itu, tak ada respon dari Black Aura. Ia juga bingung. Ia merasakan kepanikan, kecemasan, dan kebingungan itu menguasai pikiran gadis itu.
"Aku... Alasanku kenapa manusia gak boleh terlibat ialah 'ini'. Aku gak tau apa-apa mengenai dunia kalian. Aku bahkan gak tau nama benda ini." Black Aura mengungkapkan rasa bingungnya dengan perkataan dan menunjukkan lakban yang sedari tadi ia genggam.
"Lakban?".
__ADS_1
"Oh, namanya lakban." Black Aura kembali murung. "Aku gak tau apa yang harus kulakukan dengan mobilmu. Kemampuanku cuma mengendalikan rasa sakit. Bukan memperbaiki mobil.".
Entahlah, Chloe mendadak prihatin dengan Black Aura ketimbang mobilnya yang rusak.
"Salahku sih, sebenarnya. Aku terlalu lama di restoran dan malah mengobrol dengan orang lain." Akhirnya, Chloe mengakui kesalahannya.
"Sudahlah... Mau bagaimana lagi? Oh, ya! Kau lapar gak? Ini aku bawakan ayam. Entah masih hangat atau gak. Jam berapa ini? Kenapa gelap sekali?".
"Intinya malam.".
Chloe mengedarkan pandangannya ke berbagai arah. Jelas sekali ruangan ini sangat asing baginya. Ditambah dengan langit yang perlahan menghitam.
"Makanlah..." ucapnya seraya menyodorkan seember ayam tersebut pada Black Aura.
"Te-terima kasih...".
"KYAAAAAAA!!! DIMANA INI?!?? WOII SIAPA YANG NGIKAT AKU WOIII?!!".
Sebuah jeritan jantan dari lantai atas mengejutkan kedua remaja yang hendak menyantap ayam krispi tersebut.
Chloe otomatis berdiri beriringan dengan Black Aura.
"Itu suara Morgan, kan? Dimana dia?".
Black Aura tidak merespon dan hanya memutar malas bola matanya. Bangun pula tuh, anak...
~
"Kau! Apaan lakban ini, ha?" bentak Morgan setelah bebas dari lakban-lakban yang mengikatnya.
Saat ini, ketiga remaja itu berkumpul di bagian rooftop sembari menikmati ayam krispi yang Chloe beli. Wajah Morgan memerah padam mengetahui kenyataan sebelumnya bahwa dia diikat oleh lakban. Ia tahu pasti pelaku yang melakukan hal itu.
"Black Aura!" gertak Morgan.
"Chloe, kenapa pria ini bisa bersamamu?" tanya Black Aura dan mengabaikan bentakan Morgan.
Chloe melirik ke atas. "Eh, itu... Dia! Kemanapun aku pergi, dia selalu mengikutiku! Jujur. Aku tak berniat membawa dia kesini. Ta-tapi, dia bilang... Dia juga punya seseorang yang sedang ia cari." Ungkapnya ketakutan.
Sayangnya, Black Aura tak meresponya. Ia terus memasang tatapan tajam pada Morgan. Terus terang, ia benci dengan kehadiran orang lain. Terutama Morgan. Ia merasa bahwa orang itu adalah parasit yang mesti dibunuh agar tidak lagi mengganggu kesehariannya bersama Chloe.
"Rumahmu dimana?" tanya Black Aura singkat.
"Jujur, aku benci dengan kehadiranmu yang dadakan ini. Aku dan Chloe punya urusan penting! Kau yang bukan teman dekatnya jangan berani-berani menyentuhnya atau bahkan mencampuri urusannya. Jadi, pergilah! Jangan buat aku melukaimu!" ancam Black Aura.
"Alah bacot aja..." ejek Morgan.
Tanpa pikir panjang, Black Aura mengeluarkan sabitnya dan melingkarkan sabitnya di leher Morgan.
Morgan terkejut mengetahui sesuatu yang tajam mendekati lehernya.
"Kau mau membunuhku?" tanya Morgan gak terima.
"Ya.".
"Oooh... Gitu ya? Oke. Fine! Eh, APAAN ITU!!" seru Morgan dengan suara lantang. Jari telunjuknya mengarah cepat pada jendela yang terletak di sudut ruangan.
Seruan tadi sukses menarik perhatian Black Aura dan Chloe. Memalingkan kepala mereka pada sesuatu yanh ditunjuk Morgan.
Kesempatan! Selama perhatiannya tertuju lurus pada jendela, Morgan segera menyingkirkan sabit Black Aura dari lehernya kemudian menyerang pundak kanan Black Aura dengan tendangan karatenya.
Tendangannya berhasil 100% membuat remaja Aura itu terpental cukup keras menghantam salah satu meja kantor.
Chloe yang tidak berurusan dengan perkelahian kedua pria itu terbelalak kaget.
"Hei! Apa yang kalian lakukan?! Hentikan perkelahian kalian!!" jerit Chloe panik.
"Majulah! Meskipun bukan manusia bukan berarti kau gak punya kelemahan." Tantang Morgan.
Black Aura mencoba untuk bangun dan kembali berdiri tegak. Ia mengubah sabitnya menjadi pedang.
"Kalau kau terluka, jangan salahkan aku." Ucap Black Aura tajam.
"Hentikan!! Woi! Kalian!! Hentikan!! Hentikan perkelahian kalian!! Ayo, makan!!" teriak Chloe tidak ingin melihat kedua remaja itu membuang-buang luka mereka. Ia pun menghampiri dua remaja itu dan menarik salah satu lengan mereka.
"Ayo, makan sama-sama!" ajal Chloe seraya memberikan mereka masing-masing satu ayam.
Mau gak mau, Morgan dan Black Aura menuruti perintah Chloe. Ya, tahu sendiri juga kalau saat ini mereka berada di dalam bangunan tak terpakai. Jika membuat keributan, bisa saja mengganggu penghuni asli tempat tersebut.
"Kami disini karena ada hal-hal penting yang harus kami selesaikan. Aku kehilangan sahabatku. Black Aura, dia punya beberama misi dan dia juga harus mencari keluarganya yang hilang sekaligu membunuh para Legend Aura yang bakal ngambil jiwa manusia-manusia disini.
__ADS_1
"Morgan, kalau kau gak punya kepentingan apa-apa disini selain hanya membuat kami naik darah, tolong pulanglah. Ini masalah kami dan kami tak ingin siapapun mencampuri urusan kami. Kalau kau tak punya masalah apapun mengenai Aura, lebih baik pulang!" Jelas Chloe.
Ia sadar apa yang dikatakan Black Aura itu benar. Bahkan sampai ancamannya pun ia anggap benar. Ia tak ingin terus-terusan seperti ini. Menjalani kesehariannya tanpa Aoi itu menyakitkan.
"Tapi... Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu? Bagaimana kalau Black Aura ini menyerangmu dari belakang?" Morgan lagi-lagi mengatasnamakan Black Aura agar mereka membiarkan dirinya ikut dalam pertualangan mereka.
"Dia gak akan pernah seperti itu, asal kau tahu. Kami berdua udah melewati masa perkenalan yang cukup rumit kau tau? Pokoknya, aku ingin kau pergi. Tinggalkan kami berdua, oke?".
"Tapi...".
"Tapi apalagi? Aku tau kau cuma mau mendekati Chloe. Kau hanya ingin mengganggu misinya saja. Kau tak tau masalah dia itu rumit. Jadi menyingkirlah!" Black Aura menimpali dan masih dengan tatapan mengancamnya.
Morgan berdecak sebal menanggapi situasi yang tengah ia hadapi saat ini. "Oke... Fine! Aku pulang!". Pria itu beranjak dari posisi duduknya. "Aku pulang! Tapi kalau ada sesuatu yang menimpa kalian, jangan harap...".
BUAKKKK!!
Belum selesai ia berbicara, tapak sepatu Black Aura lebih dulu menempel di wajahnya dan mengakibatkan pria itu menabrak dinding kantor cukup keras.
Chloe spontan menutup separuh bagian wajahnya dengan kedua tangannya.
"Black Aura..." Chloe hendak menahan Black Aura. Akan tetapi, remaja tersebut tampaknya benar-benar tak ingin diganggu saat ini.
"Argh!".
Sakit. Hal itulah yang pertama kali ia rasakan ketika punggungnya dipertemukan dengan permukaan dinding yang keras.
"Kau!!".
"Katakan dimana rumahmu." Black Aura saat ini berdiri tepat di depan Morgan yang tengah menahan rasa sakitnya.
"Rumahku? Kau mau tau dimana rumahku? Dimana asalku? Baik!".
Di situasi yang memanas namun terkesan dingin itu, Chloe hanya bisa menonton mereka dari belakang dengan perasaab ketakutan yang perlahan mengendalikan pikiran dan raganya. Untuk maju selangkah saja ia takut. Apalagi melarang mereka untuk berhenti berkelahi. Tampaknya mustahil.
Sementara itu, Black Aura masih menunggu jawaban dari Morgan. Ia dengan setia menunggu mulut pria itu mengeluarkan sebuah jawabannya.
"Aku dulunya tinggal di..." beberapa kalimat satu-persatu keluar dari mulutnya. Akan tetapi, aneh. Sebelum hendak melanjutkan kalimat selanjutnya, sebuah seringai muncul di wajahnya
"Carnater!!".
CRAATTTT!!
Chloe terbelalak minta ampun melihat pemandangan yang mengejutkan itu. Darah hitam Black Aura Muncrat dan membekas mengenai beberapa benda di ruangan tersebut.
Tubuhnya gemetar hebat. Air matanya mengalir begitu cepat. Jelas sekali dibayangan bola mata birunya memperlihatkan sosok Morgan yang menusuk Black Aura dengan pedangnya. Entah muncul dari mana pedang itu.
Tak hanya Chloe, Black Aura justru lebih terkejut dengan pedang yang kali ini menembus dirinya. Berbeda dari luka awalnya saat melindungi Chloe. Pedang yang satu ini malah yang paling banyak menghabiskan darahnya.
Morgan menyeringai panjang. "Gak heran kalau kau benci denganku." Ucapnya dengan nada yang terkesan licik berbeda dengan Morgan yang selalu bercanda bersama Chloe.
Tampaknya pedang tersebut sukses mengunci pergerakan Black Aura. Ditambah dengan rasa sakit yang dihasilkan itu lumayan besar pengaruhnya.
"Tenang Chloe... Aku gak akan menyakitimu. Tapi, terima kasih banyak udah memberitahuku semua rencanamu dan Black Aura. Kau sangat membantuku." Ucapnya disertai dengan senyuman licik yang menyeramkan.
Karena berhasil memblokir pergerakan Black Aura, Morgan mengubah tangan kirinya menjadi lengan mekanik hitam yang sangat besar. Lengan mekanik tersebut melekat di lengan kirinya. Bisa dikatakan istilah lainnya ogre arm.
"Lepaskan dia!!" Teriak Chloe. Ia melirik ke kiri dan kanan mencari senjata yang bisa digunakannya untuk melukai Morgan. Ia tak percaya bahwa Morgan juga dirasuki Legend Aura.
"Dimana?"
Tak ingin berlama-lama di dalam gedung, Morgan segera menghancurkan dinding kantor hingga menciptakan sebuah lubang besar dan memperlihatkan pemandangan di malam hari
Black Aura masih tertahan di pedang Morgan.
Pria itu tak akan membebaskan lawannya semudah itu. Tanpa pikir panjang, Morgan segera mengayunkan lengen ogre-nya dari belakang dan meninju keras wajah Black Aura hingga terbebas dari pedang yang menembus tubuhnya.
"BLACK AURA!!!" Teriak Chloe.
Amarahnya memuncak mengingat Morgan melukai Black Aura dengan sangat kasar.
"Berani... Beraninya kau!!!" Chloe berlari mengejar Morgan. Meskipun tahu bahwa musuhnya bukanlah manusia, Chloe bersikeras untuk tetap melayangkan tinjuannya pada Morgan.
Dengan berbekal amarah, tak lama lagi ia akan meraih Morgan dan menghajarnya dengan sekali pukulan.
Sementara, Morgan yang masih berdiri membelakangi lubang raksasa itu memperlihatkan senyumannya seraya memanjangkan salah satu kakinya.
"Ceroboh."
Apa yang terjadi? Chloe yang dibawah kendali amarah itu otomatis terkejut. Langkah kakinya menjadi sulit dikendalikan hingga pada akhirnya menabrak lutut Morgan dan terjatuh dari lantai 5.
__ADS_1
~