Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 42 (Kapal part2)


__ADS_3

Black Aura terbelalak bukan main begitu menemukan sosok seorang gadis yang sangat familiar di matanya. Bukan Chloe. Bukan Jacqueline.


Tak hanya Black Aura, gadis itu juga ikut terkejut. Antara senang dan tidak percaya bahwa ada orang lain selain dirinya yang menyadari keberadaannya. Akan tetapi, bukannya berterima kasih, ia justru melemparkan pertanyaannya.


“Kau…? Kau yang bersama Chloe itu kan?”


tanya gadis itu memastikan. Sudah kedua matanya sipit, ia menyipitkan lagi hingga nyaris tak terlihat bola matanya. 


Di depannya, Black Aura membeku. Ia tidak percaya akan bertemu dengan gadis yang beberapa hari yang lalu sempat membuat Chloe naik darah. 


“Sabit? Kenapa kau membawa sabit? Kau malaikat kematian ya?” raut ketakutan gadis itu kian memudar dan beralih sepenuhnya menjadi curiga. “Kau bukan manusia?”


Merasa terganggu, Black Aura akhirnya merampas tangan gadis itu dan membawanya keluar dari ruangan tersebut. 


Di saat seperti ini… Kenapa aku malah bertemu Minji?!


Yap! Orang yang digandeng Black Aura ini adalah Minji. Lama-kelamaan, kejadian aneh menimpa beberapa orang terutama yang disekitaran Chloe. Tapi, kenapa harus Minji? 


Black Aura memasang raut malas. Usai sudah dirinya. Identitasnya yang bukan manusia itu sudah terungkap jelas oleh Minji. Semoga saja, gadis itu tidak membeberkan apapun tentangnya di internet. Jika ia melakukannya maka, Black Aura terpaksa main kekerasan terhadap gadis itu. Dia bisa saja menggunakan kemampuannya untuk membunuh atau menghilangkan sebagian ingatan Minji. 


Setelah ini, akan kuhapus ingatanmu. Batinnya mantap.


“Hei. Tanganmu nggak papa?” Minji buka suara di tengah jalan.


Black Aura tidak merespon dan sibuk mencari pintu keluar. Yah, memang pada dasarnya Black Aura tidak terlalu peduli dengan orang lain. Sejak tahu kalau keberadaan Minji hanya akan membuat Chloe naik darah, Black Aura memilih untuk mengikuti alur Chloe saja. Mengabaikan keberadaannya.


Pintu keluarnya… Yang mana satu pintunya?


Black Aura asal mendobrak pintu dan malah menemukan ruangan kamar yang sudah lama tak terurus. Jelas sekali bukan? Pengetahuannya terhadap dunia manusia benar-benar minim. Dia akhirnya menghela nafas singkat. 


“Kau kayaknya bukan berasal dari dunia ini.” Ujar Minji. “Akan kubantu cari jalan keluarnya.”


Mendengar Minji yang mau memberinya sedikit keringanan, Black Aura hanya meliriknya singkat tanpa jawaban. Ia pun mengikuti langkah gadis itu satupersatu.


“Sebelum itu, namaku Lee Minji.” Gadis itu mengulurkan tangannya tanpa senyuman.


“Tanganku terluka.” Jawab Black Aura yang langsung beralih ke tempat lain. Sejauh ini, belum ada tanda apapun. 


“Dasar. Tapi, aku heran. Bagaimana kau dan aku bisa disini? Apa karena kejadian aneh menimpaku tadi? Wah, sial sekali aku. Oh, ya! Aku sempat mendengar rumor dari tetangga terutama—kalau ada beberapa orang yang bertingkah aneh. Ada juga yang kemarin sampai membuat keributan di sekolah malam-malam.” Beber Minji santai. Entah maksudnya memancing atau bukan?

__ADS_1


Black Aura sebenarnya agak terkejut di dalam. Namun tetap saja, di depan gadis ini dia harus bersikap sebagaimana dirinya sebelum bertemu Chloe. Jika terpancing sedikit saja bisa fatal ke depannya. Bisa saja, Minji ini sekongkol dengan Legend Aura.


Chloe bilang, kakak Rara ini memiliki pacar yang berhubungan dengan Legend Aura. Kalau dia berhubungan langsung denga boss-nya, hanya ada dua kemungkinan untukku. Jika aku beruntung, aku bertemu dengannya, aku bisa saja langsung membunuhnya dan Legend Aura akan menghilang. Jika aku sial, aku bisa tewas di sini. Devil Mask dan lainnya pasti akan dalam bahaya besar. Astaga… 


“Ngomong-ngomong, kau dan Chloe punya hubungan apa?”


Telapak kakinya menapak sempurna. Black Aura menoleh pelan pada Minji yang memasang raut penasaran. Jika Minji terlihat penasaran dengan Black Aura, maka Aura itu justru terlihat tidak senang dengan kalimat Minji.


Apapun pertanyaannya, jawabannya adalah diam.


“Sejak nggak bermain dengan Rara lagi, dia tiba-tiba menemukan banyak teman. Bahkan berteman dengan makhluk aneh sepertimu. Melihatnya seperti, aku jadi iri.” Ungkap Minji tanpa alasan yang jelas.


Masih belum ada respon apapun dari Black Aura. Aura itu focus melanjutkan jalannya dan keinginannya mencari Chloe. Jujur saja, Black Aura merasa setiap kata yang dilontarkan Minji erbicara dengan Minji yang sudah pasti tidak dekat dengannya. 


 “Kau kakaknya Rara, bukan?” tanya Black Aura mengabaikan perkataan Minji sebelumnya.


Minji menyipitkan kedua matanya curiga. “Kau disuruh Chloe?”


“Nggak.”


“Hoh? Begitu ya? Yap! Aku kakaknya. Kalau dia bertanya, bilang padanya kalau aku adalah kakaknya. Kalau kau bertanya soal pacarku, namanya Yo-han. Beberapa menit yang lalu, aku berjalan bersamanya dan tiba-tiba aku disini. Aku nggak ngerti dengan jalan dunia ini. Semenjak kalian ada disini, semuanya jadi berubah. Aku jadi makin frustasi melihat Rara yang gemar keluar rumah. Jangan-jangan, kau yang membuat masalah dengan dunia kami ya? Apa yang kau incar dari dunia kami?” omel Minji yang berhasil membuat Black Aura terbelalak kaget.


“Aku udah menjawab pertanyaanmu. Jadi, jangan buat pertanyaanku dibalas oleh pertanyaan! Kau punya hubungan apa dengan Chloe? Kalau kau menjawab, aku akan memberitahumu sebuah informasi. Tentu saja nggak gratis dong! Duniaku ini nggak ada yang namanya gratis kecuali bagi orang yang memiliki hati malaikat. Aku yakin, kalian juga seperti itu.” tambahnya.


“Oh, begitu ya. Baiklah… Kalau kau nggak mau tahu kabar Midnight…”


Begitu mendengar nama Midnight, kedua manic violetnya langsung terbelalak. Tanpa ragu-ragu, ia melayangkan sabitnya tepat di samping Minji yang hendak berjalan berlain arah darinya. 


“Midnight, kau bilang?”


“Sudah kuduga kau akan terpancing.” Minji menyeringai. 


“Cih!”


“Kau tahu? Aku dan Chloe memang selalu cek-cok kalau sudah bertemu. Memperebutkan sahabat, sih. Memang bagiku terdengar seperti anak-anak. Tapi, mau bagaimana lagi kalau Cuma Rara doang satu-satunya memahamiku. Sama sepertimu, kan? Kau hanya nyaman dengan Chloe seorang. Sisanya kau anggap sebagai orang asing. Aku sudah lama mengamati gerak-gerik kalian. Aku lihat, kau agak sedikit protektif pada Chloe. Begitu pula aku.” Minji menendang Black Aura agar menjauh darinya. 


“Sebuah kebetulan yang menegangkan! Aku suka kebetulan ini. Kalau boleh jujur, aku benci dengan Chloe. Dia membuat Rara bimbang dan merasa kasihan padanya. Padahal, yang sepantasnya dikasihani adalah aku. Sejak kecil, aku memang berbeda dari orang-orang. Nggak banyak yang memahami apa yang aku suka. Bahkan Chloe yang dulunya berusaha mendekatiku saja malah menambah masalah baru untukku. Aku dijauhi oleh sahabat lamaku. Itu membuatku berpikir bahwa berteman itu tidaklah mudah dan sulit mempertahankannya. 


“Keberadaan orang baru itu sangat mengganggu. Oleh karena itu, aku ingin melakukan eksperimen berdasarkan apa yang kulihat. Suatu hari, aku masuk ke lingkaran pertemanan Chloe dan Rara. Mencuri perhatian Rara itu benar-benar mudah karena dia memiliki sifat yang  selalu tampil positive dan easy going. Dia mau berteman dengan siapa saja. Saat aku berhasil mendapatkan hatinya, aku merasakan betapa menyenangkannya mendapatkan Rara. 

__ADS_1


“Setiap hari, dia mewarnaiku dengan candaannya dan aku cukup terkesan dengan usahaku yang berhasil membuat Chloe cemburu. Entah kenapa, melihat dia cemburu itu terasa menyenangkan.” Gadis itu diam-diam menyembunyikan tangan kanannya di belakang punggungnya. Membuat Black Aura menaruh curiga padanya. 


Tak lama kemudian, Minji memperlihatkan tangannya yang menggenggam sebuah senapan disertai dengan seringaian yang menakutkan. Sayangnya, tidak cukup membuat Black Aura ketakutan dan berlutut padanya. 


“Setelah dekat dengan Rara, aku mulai membawanya dengan game. Ternyata, selera game kami sama yaitu, tembak menembak. Siapa sih, yang nggak suka menembak? Kebahagiaan yang kita rasakan benar-benar fantastis saat peluru kita berhasil menembak musuh.”


Orang ini… Kenapa?


Black Aura perlahan-lahan mengambil tiga langkah mundur. Menguatkan genggaman sabitnya sekaligus mengaktifkan kemampuan mata penghancurnya.


Setelah kuperiksa, Minji tidak memiliki aura apapun di dalamnya. Dia hanya manusia biasa. Perasaan yang dia ucapkan memang benar dirinya yang mengucapkannya.


“AWM…”


“Hmmm?” 


“Senapan ini yang sering kugunakan saat bermain game. Kemudian, Yo-han menghadiahkannya untukku. Entah bagaimana cara dia mendapatkannya. Minji mengangkat ujung senapan yang ia sebut AWM itu tepat di wajah Black Aura. 


“Menunduk.”


Tanpa pikir panjang, jari Minji segera menarik pelatuk tersebut dan… DUAR!


Untunglah, Black Aura langsung menunduk. Tembakannya barusan berhasil melukai monster aneh yang jatuh terkapar di belakang Black Aura. Darah yang mengalir dari monster aneh itu berwarna hitam oli. 


“Masa kau nggak merasakan hal aneh di belakangmu? Fufu… Aku suka dirimu, Aura.” Minji meniup asap yang baru saja keluar dari senapan AWM miliknya. Kemudian, ia berjalan menghampiri Black Aura yang tidak disangkanya—agak syok dengan tembakannya barusan. 


“Tinggi 186. Kalau nggak langsung menghindar, kau bisa celaka.” Ujarnya. Setelah itu, ia sejenak memandang monster yang sudah tak lagi bernyawa. 


"Ayo, keluar dari kapal ini! Aku yakin, bukan cuma kita aja disini. Ada Chloe, Rara, dan... Itu saja kayaknya." Ajak Minji santai.


Meskipun meragukan ajakan Minji, Black Aura akhirnya memilih untuh mengikutinya sambil terus berwaspada terhadap gadis itu.


Tiba-tiba, ia jadi teringat akan perkataan Jacqueline sebelumnya. Gadis itu sempat mengingatkan padanya untuk tidak mempercayai semua manusia yang dijumpainya.


"Ada kalanya manusia seperti kami ini bisa selicik kalian. Makanya, kuperingatkan kalian untuk tidak mempercayai manusia selain kami. Bagiku, lemahnya kalian ada di dalam kepercayaan kalian. Jangan lengah hanya karena mereka menyelamatkan nyawamu. Kau tahu? Aku yang manusia saja kadang bisa nggak percayaan dengan manusia lain."


Sekian nasehat dari Jacqueline. Black Aura tersenyum disertai dengan kedua mata yang terpejam. Ia sadar bahwa, keberadaannya dan tugasnya adalah mencari Midnight. Setelah Midnight ketemu, barulah ia mencari tahu asal usul dirinya, bagaimana semua masalah ini bisa terjadi, dan kaitannya dirinya dengan Carmine.


Kalau dipikir-pikir, sebenarnya Black Aura telah menemukan satu-persatu keinginannya dari dunia Chloe. Perlahan-lahan memahami setiap emosi mereka. Tapi, saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan keinginannya.

__ADS_1


"Ayo." Ucap Black Aura yang kembali melanjutkan langkahnya tanpa melirik singkat pada Minji.


~


__ADS_2