Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 160 {Season 2: Tidak Kelar}


__ADS_3

Salju yang turun di bawah indahnya jingga di sore hari berubah menjadi hitam, setelah tercampur dengan cipratan darah Grimoire.


Usai dua puluh menit bertarung, Midnight akhirnya berhasil mengalahkan Grimoire bahkan sampai membunuh Aura itu. Dilihat dari wajah Midnight juga, tidak terlihat sedikitpun rasa kasihan ataupun perasaan bersalah. Semua itu tersingkirkan oleh amarahnya.


Midnight menghilangkan boomerangnya. Terdiam sejenak dengan kepala yang menghadap ke permukaan salju. Midnight tidak menyesali apapun. Bukan bangga, melainkan dirinya puas telah membalaskan amarahnya dengan membunuh Aura yang telah melukai mahasiswa yang kebetulan satu kampus dengannya.


Kenzo yang sedari tadi fokus memperhatikan gerak-gerik Midnight yang gesit terutama saat menghajar Grimoire, berdecak kagum dibuatnya. Kenzo merasa, skill bertarungnya masih di bawah Midnight dan perlu ditingkatkan lebih banyak lagi. Mungkin, dia perlu mengikuti ekskul karate atau taekwondo?


“Gila… Dua musuh langsung koit dong!” celetuk Kenzo.


Silentwave yang sudah siap mengobati sekaligus memulihkan luka Aoi dan Okka segera beranjak ke Mamanya yang saat ini tengah mengatur nafasnya.


“Mama…” panggil Silentwave pelan. Aura itu juga sampai ketakutan ingin menyentuh pundak Midnight.


Menyadari ada yang memanggil dirinya, Midnight pun menoleh ke belakang. Kemudian, memperlihatkan senyuman manisnya. “Oh, kenapa? Kau sudah mengobati mereka?”


Silentwave mengangguk tersenyum, walau aslinya dia tidak memiliki mulut, akan tetapi Midnight bisa mengetahui ekspresi wajah Silentwave saat ini. “Paling lima menit ke depan, mereka bakal bangun. Hm, mama nggak papa? Itu lengan mama tergores,”tunjuk Silentwave takut-takut.


“Ah, ini bukan masalah besar kok. Dan juga, kayaknya masalah kita udah siap. Sisanya tinggal mencari tahu keberadaan Emma saat ini,”


“Emma? Memangnya mama tahu dari mana kalau pelakunya adalah Emma?”


“Asal tebak. Tapi, aku merasa, hatiku yakin kalau satu-satunya orang yang mengetahui Carnater selain aku, Yuuki, dan tiga remaja itu adalah Emma. Aku tahu itu dia dari benang merah ini. Aku bisa mencium aroma parfumnya yang norak itu!” gerutu Midnight sambil mengepal keras tangannya yang menggenggam benang merah tersebut.


Tidak diragukan lagi kalau semua kekacauan yang melanda Carnater ini adalah ulah Emma.


“Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Aoi dan Okka? Apa mereka baik-baik aja?” tanya Midnight kemudian.


“Mereka baik-baik aja. Paling sebentar lagi bangun. Oh, ya! Soal Ethan…”


“Itu urusanku. Silentwave, tolong jagain orang-orang ini. Aku mau mencari Aura dulu!” potong Midnight setelah itu pergi meninggalkan Kenzo dan lainnya.

__ADS_1


“Hati-hati…” lirih Kenzo. Sebenarnya, dia ingin membantu Midnight. Setidaknya menjadi pelindung wanita itu. Akan tetapi, setelah ia lihat dari raut wajah Midnight yang serius, Kenzo akhirnya mengundurkan niatnya.


“Aneh, kenapa dari tadi aku nggak kepikiran soal Aura ya? Chloe juga. Hah, ini pasti karena terlalu banyak pikiran,” gumam Midnight. Wanita itu berlari menembus angin malam yang dingin. Tidak peduli dengan cipratan air yang membasahi sepatunya, keinginan dan kekhawatirannya sudah tak lagi bisa ia control. Sejak Aoi dan Okka terluka tadi, Midnight jadi mencemaskan banyak hal.


“Hah… Semoga saja mereka baik-baik saja.”


Saat Midnight berlari, ada sesuatu menabrak pinggangnya sampai membuat wanita itu terjatuh di tengah jalan. Becek. Lensa kacamatanya jadi kotor karena kepalanya terjatuh mengenai genangan air.


“Cih! Siapa sih?!” gerutu Midnight berusaha bangkit dari jatuhnya. Hanya untuk saat ini saja, Midnight tidak membutuhkan Silentwave. Keselamatan anggota dan remaja-remaja itulah prioritas utamanya. Tampaknya, Midnight mau tak mau mengesampingkan urusan pribadinya demi orang lain.


Midnight membuang nafasnya kesal, lagi-lagi dia harus bertanggung jawab. “Kalau mau membunuh, keluar saja! Langsung hadapi aku! Aku benci sama orang yang pakai cara sembunyi-sembunyi. Kalau emang niat, hadapi langsung orangnya! Face to face napa?!” bentak Midnight pada kesunyian di waktu peralihan sore dengan malam.


~


“Siapa?” sambil memainkan pedangnya, Black Aura terus mengamati sosok misterius yang tadinya berdiri di ujung lorong. Sosok itu jelas. Jelas mirip dengannya.


“Bagaimana bisa ada ‘aku’ yang lain?”


Chloe manusia. Jadi wajar jika dirinya sulit menerima kenyataan apalagi saat jiwanya rapuh karena ketakutan.


“Kenapa ada dua Black Aura?” tanya Chloe. Mulutnya kelu. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain diam. Jika dia ikut campur, Chloe takut dia salah menyerang dan ujungnya malah membunuh Black Aura pacarnya. Tapi, jika dia diam, sama saja dia menyerahkan semuanya pada Black Aura meskipun dia sudah berulang kali berkata akan melindungi Aura itu.


Chloe berdecak sebal. Musuh yang sedang mereka hadapi saat ini adalah kembaran Black Aura yang kekuatannya besar kemungkinan mirip dengan aslinya. Black Aura misterius itu juga tak banyak berbicara ketimbang Black Aura pacarnya. Yah, karena perubahan, Black Aura miliknya jadi sering berterus terang. Terkadang, Aura itu mengajaknya mengobrol. Yah, intinya, Chloe harus mencari tahu ciri-ciri dari Black Aura misterius itu.


Black Aura misterius itu baik fisik maupun sifatnya mirip dengan Black Aura miliknya. “Hmm, apa perlu aku menyuruh Black Aura yang asli untuk terus tersenyum?” pikirnya. Memang agak mustahil bagi Black Aura tersenyum saat bertarung. Akan tetapi, jika tidak dicoba, maka mereka tidak akan tahu bagaimana akhirnya.


Pedang Black Aura terlempar dan tertancap di tanah tepat samping Chloe yang sedang berpikir. Untunglah, gadis itu terlalu larut dalam pikirannya.


“Cih!” Black Aura mengeluarkan sabit sebagai gantinya, namun, Black Aura misterius itu justru lebih agresif dan sadis cara bertarungnya. Black Aura misterius itu menjentikan jarinya sehingga waktu berhenti. Saat waktu berjalan, Black Aura misterius itu berhasil menebas Black Aura dihadapannya dengan pedang.


“Aura!” teriak Chloe terkejut. Tanpa pikir panjang, Chloe bangun lalu berlari menghampiri Black Aura palsu itu. Pedang Black Aura yang tadi tertancap di tanah tak lupa Chloe ambil. “Rasakan ini!”

__ADS_1


BUAK!


“Akh!”


Baru akan menebas Black Aura palsu, Chloe terlempar jauh usai ditendang perutnya oleh Black Aura yang dia incar tersebut. Beruntunglah, punggungnya tak sampai menghantam pohon yang masih berdiri kokoh di bawah sana.


“Ukh! Dia kuat kali!” geram Chloe.


“Kau sendiri jangan memaksakan dirimu juga. Kau itu manusia tahu,” ucap Black Aura heran. Aura itu menurunkan Chloe di dekat pohon sebelum akhirnya pergi untuk menghajar dirinya yang palsu.


“Black Aura! Tunggu! Aku juga mau ikut!” teriak Chloe namun tidak ditanggapi Black Aura.


“Huft… Yah, terserahmu lah, Aura,” Chloe tersenyum. Kemudian, membuka ponselnya untuk menanyakan kabar Jacqueline dan Aoi. Chloe harap, kedua sahabatnya itu baik-baik saja. Ini sudah lebih dari satu jam lebih Chloe tidak mendengar kabar mereka. Terakhir kali yah, pagi tadi. Entah kenapa, hari ini terasa begitu melelahkan.


Chloe tidak menyangka kalau dia dan Black Aura sudah menghadapi lebih dari dua musuh. Di Carnater, hari tanpa nama ini berlalu begitu cepat layaknya di bumi. Akan tetapi, perbedaannya adalah rutinitas. Jika di bumi Chloe pergi kuliah, maka di Carnater, Chloe justru terlibat dalam pertarungan sengit. Yah, sebenarnya tidak masalah bagi Chloe. Karena action juga merupakan genre favoritnya.


Sadar dirinya terlalu lama melamun, Chloe menampar wajahnya dan menyadari kejanggalan dalam suasananya saat itu. Sial. Chloe terdiam di tempatnya tanpa bisa melepaskan pandangannya dari langit. Kedua Black Aura itu tengah fokus bertarung. Masing-masing menggunakan kemampuan terkuat mereka agar bisa menjatuhkan salah satu pihak. Tapi…


“Yang mana satu Black Aura yang asli?!”


Sial, kalau sampai salah, bisa gawat nih! Kalau aku sampai salah serang, aku bisa aja membunuh Black Aura! Meresahkan! Pikir Chloe kacau.


Untunglah, kekacauan tersebut teratasi oleh keberadaan ponsel di genggamannya. “Oh, benar juga! Black Aura kan udah punya HP!”


Langsung saja dan tanpa pikir panjang lagi, Chloe segera mengirim pesan singkat ke ponsel Black Aura. Senyuman puas pun terukir di wajahnya. Chloe mendongak kepalanya ke atas untuk mengecek apakah Black Aura membuka ponselnya atau tidak.


Di tengah sibuknya membanting pedangnya dengan sabit Black Aura palsu itu, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Sesuai perkiraan Chloe, Aura itu pasti akan memblokir pergerakan lawannya sementara dengan menghancurkan pundak lawannya dengan kekuatan mata penghancur. Kemudian, Black Aura menusuk dirinya dan lukanya itu dia pindahkan ke tubuh Black Aura palsu itu. Dengan begitu, Black Aura memiliki kesempatan untuk membuka pesan yang Chloe kirimkan padanya.


Sama seperti Chloe, Black Aura ikut tersenyum puas dengan taktik penyerangan yang Chloe rancang lewat tulisan.


“Baiklah… Makasih, Chloe,” ucap Black Aura.

__ADS_1


~


__ADS_2