Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 145 {Season 2: Baru Ingat}


__ADS_3

“Kau mau kemana, Aura?”


“Chariot,” Black Aura menjawab singkat pertanyaan Chloe disertai jempol yang mengarah ke Chariot yang sedang menghisap api yang membakar pohon-pohon di hutan. Tubuh Aoi dan Jean yang terbakar tadi berubah menjadi butiran Kristal yang kemudian melayang ke udara dan bersatu dengan langit di atasnya. Jadi, langit yang semula kelabu menjadi warna-warni es pelangi karena Kristal kematian Aoi dan Jean.


Ya, namanya Kristal kematian. Aura yang mati dan berubah menjadi butiran Kristal itu layaknya salah satu perasaan manusia yang menghilang atau manusia yang telah terbebas dari perasaan yang selama ini mengganggu kehidupan mereka.


Misalnya Aurora yang Black Aura ibaratkan sebagai perasaan ingin bersenang-senang yang berlebihan. Bersenang-senang yang terlalu dipaksakan karena ingin menyembunyikan keinginan yang ingin sekali dicapai namun sulit tercapai karena beberapa hal. Black Aura sendiri masih agak kebingungan dalam menafsir keberadaan mereka dengan perasaan manusia. Tapi, setelah dipikir lebih dalam lagi, keberadaan mereka memang ada hubungannya dengan perasaan manusia.


“Kau tunggu disini aja, Chloe. Aku takut, dia menyerang kita tiba-tiba,” ucap Black Aura tanpa melepas pengawasannya dari Chariot.


Selang beberapa menit kemudian, api itu akhirnya berhasil dipadamkan. Ralat, dihisap.


Chariot menghela nafas merasa tenaganya telah terkuras banyak. Selain tenaga, air matanya juga. Chariot tidak pernah menyangka dirinya akan mengambil jalan tengah yang menyakitkan. Bahkan lebih kejam dari perbuatan Black Aura selama ini pada semua Aura yang telah menghalangi jalan Aura itu.


Bagaimanapun juga, demi kestabilan dunia dan suasana Carnater yang penuh warna, pasti akan selalu ada pengorbanan yang tidak mereka duga di depan. Di sela kehidupan yang monoton, salah satunya seperti hidup Chariot yang hanya mengikuti yang menurutnya benar dan menolak jika menurutnya salah. Hidup monoton tidak selamanya berjalan datar. Si tokoh utama dalam hidup itu pasti akan melakukan tindakan diluar dugaannya.


Chariot menyeka air matanya. Keempat tangannya bergetar karena tak sanggup menahan tangisan dan rasa kehilangan yang turut mewarnai perasaannya. Aura berelemen api itu terkenal sebagai Aura paling polos. Dia tidak mengerti hal-hal dewasa yang terkadang sebagian orang menyukai dan mengetahuinya. Dia tidak pernah tertawa pada lelucon dewasa yang justru jika mereka tahu artinya, maka bisa saja mengundang gelak tawa panjang. Bahkan sampai terpingkal-pingkal.

__ADS_1


Menyadari suara tapak sepatu seseorang di belakangnya, Chariot reflex berbalik dengan ujung panah yang mengarah tepat di kening Black Aura. lima centi lagi apabila dilepas, maka tamat sudah Black Aura.


“Oh, Aura? Ada apa?”


Pertanyaan singkat dan datar itu langsung dibalas cepat oleh Black Aura tapi dengan pertanyaan dari Aura bermanik violet itu juga.


“Apa maksudnya seranganmu ini?” tanya Black Aura terlepas dari semua pertarungan sengit hari ini.


Mereka berdua saling berpandangan satu sama lain di balik pohon besar yang hangus terbakar oleh api. Hanya untuk membahas maksud dari perbuatan Chariot sebelumnya. Karena, Black Aura menaruh perasaan curiga pada tindakan kejam Chariot barusan. Dia berasumsi, bisa saja Chariot melakukan hal itu sebagai bentuk fitnah yang akan ia sebarkan lagi ke seluruh penjuru Carnater. Mengatakan bahwa Aoi dan Jean mati dibunuh oleh Black Aura. Menyebalkan bukan kalau sudah mengetahui warna asli dibalik tindakan seseorang itu sementara kita yang sudah tahu malah terlanjur percaya pada kebohongan manis yang diutarakan sang pemfitnah.


Chariot menggeleng pelan. “Nggak ada maksud apa-apa. Aku melakukan ini atas perintah Megawave sendiri,”seperti biasa, Chariot selalu menjawab pertanyaan yang orang lain utarakan berdasarkan fakta. Aura itu memilih mengambil jalan tengah meskipun itu harus menyakiti hatinya.


Sejauh ini, jawabannya adalah ya. Black Aura ingat dengan dendamnya di masa lalu. Dendam dia, kelompoknya, dan Carmine. Bukan, lebih tepatnya, dia adalah perasaan dendam Carmine yang sesungguhnya dan dia baru menyadari hal itu sekarang. Dirinya adalah bagian dari perasaan Carmine yang tak tersampaikan oleh orang lain. Perasaan yang terpendam jauh di dalam hati kecil Carmine. Dibalik topeng yang mengukir senyuman itu, Black Aura beradaptasi. Berkeliling Carnater, bertemu dengan para Aura. Baginya, kegiatannya itu sama saja dengan Carmine yang tengah berbaur di tengah keramaian sambil menyusun rencana untuk menjalankan balas dendamnya.


Black Aura menunduk tanpa suara. Semua pertarungan sengit yang selalu menghampirinya. Melawan kelompok Aoi, lalu Lady Asoka, lalu kelompok elemental, dan yang terakhir Legend Aura. Semua pertarungan itu benar-benar menguras tenaganya. Sampai akhirnya di dunia nyata, bertemu dengan manusia seperti Chloe dan sempat bertarung melawan gadis itu tapi berujung pada kekalahan.


Bahkan saat Carmine sudah tiada sekalipun, perasaan seperti mereka ini masih bisa hidup meskipun terluka hingga berpuluh-puluh kali.

__ADS_1


Lagi-lagi, rasa bingung itu muncul. Bingung yang mana dirinya mempertanyakan apa dan dari mana dia berasal, kemudian untuk apa dia ada, dan yang terakhir adalah… Apakah dirinya bisa mengalami kematian yang persis dialami Chloe saat itu?


~


Puas melahap kentang hingga habis, Chloe menyimpan bungkusnya di saku celana karena tidak menemukan tong sampah di sana. Chloe berjalan pelan, berbaur dalam kesunyian mencari Black Aura yang tiba-tiba menghilang. Terakhir kali, Aura itu bilang ingin mencari Chariot dan memarahinya. Chloe mendengus. Padahal, tidak ada yang membuat lelucon di sekitarnya. Bahkan bisa dibilang, dia sendirian saat itu. Parahnya, dia tidak sadar kalau kesedihan telah membuat lupa akan keberadaan Aoi dan Jacqueline. Pikiran gadis itu sepenuhnya terpaku pada misi yang sudah disusun secara matang oleh Midnight. Chloe yakin, kalau misi itu akan berhasil dan dia bisa menikmati masa depannya bersama seseorang yang sangat ia cintai.


Orang itu akhirnya muncul di dalam hidupnya setelah sekian lama mengembara menjadi seorang anak perempuan yatim piatu. Chloe tersenyum kecil tanpa alasan. Tidak ada alasan yang jelas mengenai senyuman itu kecuali keberadaan Black Aura yang berdiri tak jauh dari posisi dia berdiri saat ini. Di dalam hutan, hening bersama pepohonan yang seolah sedang berhibernasi itu, Black Aura berdiri membelakangi Chloe. Di depan Aura itu ada Chariot yang sepertinya sedang membicarakan sesuatu. Suara mereka tidak terlalu kedengaran oleh telinga Chloe hingga mengharuskan gadis itu untuk berjalan mengendap-endap agar tidak mengacaukan pembicaraan serius tersebut.


“Mereka lagi ngomongin apa sih?” gumam Chloe penasaran.


Saking hati-hatinya dia berjalan, semak belukar yang biasanya menimbulkan sedikit suara seperti gesekan sisi sepatu dengan hela rumput itu menjadi tidak terdengar sama sekali.


Tap…


Chloe mematung di tempat. Keringat dinginnya baru saja bersentuhan dengan pucuk daun liar yang tumbuh di sekitaran rerumputan kecil yang kepanasan tersebut. “Tunggu, Aoi… Jacqueline…” perlahan-lahan, kepalanya berbalik ke tempat dimana kedua sahabatnya terbaring tak sadarkan diri. Hingga saat ini, Chloe belum mendapatkan pesan apapun dari pasangan itu. Malah isi chat mereka yang tertera adalah percakapan kemarin.


“Aku harus kesana!”

__ADS_1


~


__ADS_2