Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 22


__ADS_3

Kedua remaja itu membeku dengan ekspresi mereka yang super terkejut. Mereka tidak memperdulikan Morgan yang sekarat, melainkan nama Aoi dan Devil Mask yang baru saja dilontarkan oleh Morgan.


Alih-alih tenggelam dalam pikiran mereka yang semrawut, Morgan justru menyeringai dan mengeluarkan kekuatan apinya penuh sampai membuat kedua remaja itu terpental ke belakang karena serangan apinya.


"Kyaaaaa!!!" Chloe berteriak cukup kencang usai dikejutkan oleh serangan api Morgan. Gadis itu terlempar kencang ke belakang dan menabrak papan menu yang diletakkan di depan sebuah cafe yang sudah lama tutup.


Berbeda dengan Black Aura. Karena bukan manusia, remaja itu terhempas kencang dan menghantam tiang lampu jalan sampai patah dibuatnya.


Dari kejauhan, gelak tawa Morgan meledak tiba-tiba. "Hahahaha! Seharusnya kalian berterima kasih karena sudah kuberitahu dimana Aoi berada. Akan tetapi... Kalian juga harus berhati-hati karena..."


Pria itu lagi-lagi menggantungkan ucapannya sambil menunggu kedua remaja itu dapat berdiri dengan baik menghadapnya.


"Aku dan Dark Flower sudah janji akan menemukannya dan membunuh mereka. Bye!" Morgan berseru diiringi dengan tangan kanannya yang secara otomatis mengeluarkan portal yang sepertinya ditujukan ke tempat dimana Aoi berada.


Chloe terbelalak bukan main begitu tahu bahwa sahabatnya akan dibunuh. Untuk kedua kalinya, gadis itu refleks berlari kencang menghampiri Morgan dengan menggenggam sebilah pisau yang sudah lama ia bawa sebelumnya.


"Jangan pikir kau bisa sakiti Aoi!" Chloe berteriak penuh amarah dan hendak menancapkan ujung pisau tersebut ke pundak Morgan.


"Chloe...!"


Sebelum ada kejadian aneh menimpa Chloe, Black Aura memaksa dirinya untuk bangun dan berteleportasi ke belakang Morgan. Jangan sampai pria itu menyandung kaki Chloe untuk yang kedua kalianya.


"Tidur!!!" geram Black Aura emosi sembari melayangkan pedangnya ke samping Morgan dengam kecepatan tinggi.


Morgan terperanjat dengan suara dingin Black Aura yang terdengat jelas di sampingnya. Refleks, ia langsung menahan pedang tersebut dengan lengan ogre.


Ups! Tidak hanya sampai disitu, masih ada serangan susulan lainnya yang mana Chloe dengan pisau yang sudah diberi segel Black Aura sebelumnya tanpa pikir panjang menebas Morgan hingga membuat pria itu mengerang kesakitan.


"Rasakan itu! Aku tahu kau cuma ingin mempermainkan pikiran kami!" bentak Chloe diiringi dengan senyuman puasnya.


Morgan pun tergeletak di tanah cukup keras. Kemudian, muncullah cahaya oranye yang mewarnai tubuhnya. Perlahan-lahan, cahaya tersebut bermunculan dan keluar dari tubuh Morgan.


Chloe yang menyaksikan fenomena itu berdecak kagum dibuatnya. Sebuah pertanyaan muncul seketika dalam benaknya. Karena penasaran akan jawabannya, ia pun melirik Black Aura.


"Itu adalah roh dari Aura yang hinggap di dalam tubuh Morgan. Kalau warnanya terang, itu berarti tubuh pria ini dihinggapi salah satu Legend Aura. Yang kau lihat ini adalah Dark Sport." Jelas Black Aura.


Begitu namanya disebutkan, muncullah roh Dark Sport yang tengah tertidur lelap usai melewati beberapa menit yang lalu dengan pertarungan.


Chloe sempat terkejut mengetahui bahwa Dark Sport adalah perempuan.


"Di-dia... Perempuan??" celetuk Chloe dengan jari telunjuk yang menancap tepat pada gadis yang sebentar lagi akan menghilang wujudnya.


"Kemarin, laki-laki yang menguasai tubuh wanita dan sekarang... Kau bisa lihat sendirilah."


"Dia akan dibawa kemana?"


"Kembali ke Carnater. Disana ada Silentwave yang akan menyegel aura ini."


"Lalu? Bagaimana dengan luka yang Morgan alami?"


"Jangan khawatir. Pria ini sepenuhnya tak terluka. Asal kau tahu, jika ada aura yang hinggap di dalam dirimu dan menggantikan posisimu, tentunya dialah yang akan merasakan rasa sakit apabila diserang oleh aura seperti kami. Beda cerita kalau di serang oleh manusia, maka luka yang akan muncul adalah darah pemiliknya sendiri."

__ADS_1


Black Aura terlihat nyaman dalam menjelaskan sesuatu pada Chloe. Terus terang, Chloe senang dengan perkembangan emosi Black Aura. Seperti tadi ketika sedang menarik perhatian Morgan.


Sayangya, rasa puas tersebut tidak bertahan lama ketika dirinya kembali dibutakan oleh pikiran negatif tentang Aoi.


"Aoi... Aoi! Black Aura!"


"Ada apa?"


"Dia bilang kalau temannya akan membunuh Aoi! Kita nggak bisa membiarkan kejadian itu terjadi!" Tegas Chloe bergegas pergi padahal ia tidak tahu jelas dimana Aoi berada.


"Chloe! Tunggu dulu! Bukannya yang dia ucapkan itu bohongan?"


"Lupakan yang tadi! Aku cuma bercanda saja!" ucap gadis itu di sela-sela berlari. Tidak peduli seberapa lelah dirinya yang bahkan belum menyentuh sedikitpun ayam yang ia belum siang tadi. Baginya, keselematan Aoi adalah hal yang harus ia utamakan dalam hidupnya. Karena, hanya pria jepang itulah yang sering menjadi tempat dirinya beraandar.


Aoi! Aoi! Kumohon jangan apa-apakan Aoi!


Tanpa ia sadari, kakinya terkilir dan dirinya terjatuh menghantam permukaan tanah. Barang-barang yang ia bawa di dalam ranselnya berceceran dimana-mana. Termasuk laptopnya. Tampaknya lecet sedikit.


"Aduh..." Chloe mendesis menahan luka memar di bagian siku tangan kanannya dan pipinya.


Black Aura yang melihatnya sesegera mungkin menghampiri Chloe dan menggendong tubuh gadis itu. Tak lupa juga dengan barang-barangnya yang berceceran tak tentu arah.


"Istirahatlah dulu. Jangan memaksakan dirimu, Chloe." Ucap Black Aura lembut.


"Ng-nggak! Pokoknya, aku harus menyelamatkan Aoi!" Chloe membantah perkataan Black Aura sambil meronta-ronta tidak ingin digendong oleh remaja aura tersebut.


"Astaga... Chloe! Aku yakin, sahabatmu itu bisa jaga diri! Kau sendiri jangan secemas itu. Aoi itu laki-laki dan tentunya dia tahu cara menjaga dirinya dari serangan musuh."


"Ta-tapi... Bagaimana kalau yang menyerangnya itu pemimpin Legend Aura? Mereka itu kuat! Aku nggak mau Aoi kenapa-kenapa!" Chloe terus mendorong Black Aura agar pegangannya terlepas dan membuatnya jatuh.


"Huft! Kau punya kekuatan teleportasi kan? Cepat aktifkan mata pelacakmu dan cari Aoi!"


Yep, gadis itu masih belum menyerah. Ia tidak memikirkan bagaimana kondisi Black Aura yang sudah terkuras cukup banyak tenaganya.


Black Aura memutar kedua bola matanya malas. Ia tak habis pikir dengan tingkah Chloe yang lama-kelamaan membuatnya jengkel. Astaga... Inilah yang paling ia benci jika dirinya dipertemukan dengan manusia. Manusia ras dengan sejuta ekspersi dan warna di dalam mereka. Jika membandingkan dirinnya dengan Chloe, tentu akan menemukan perbedaan yang cukup besar.


"Black Aura!!" Teriak gadis itu yang langsung diserbu oleh tatapan dingin Black Aura yang sangat menusuk menandakan bahwa kesabarannya sudah habis.


Seketika gadis itu terdiam seribu bahasa usai menyadari kesalahannya.


"Kuperingatkan sekali lagi ya, aku ini salah satu anggota Megavile. Kau sudah tahu bukan? Seberapa kejamnya diriku menghabisi lawanku? Kau sudah lihat bukan? Senjataku setajam apa? Asal kau tahu, nona. Diriku yang kau lihat itu masih dalam batas normal. Kutanya! Apa kau berani melihat diriku dengan tingkat kewarasan sebesar NOL PERSEN?" Black Aura berdeham menahan emosinya.


Kesabarannya telah habis dilahap tingkah Chloe yang terlalu memaksakan dirinya. Ia tahu bahwa keduanya tidak menginginkan hal ini terjadi. Akan tetapi, apa boleh buat?


Remaja Aura itu masih tak bisa melepaskan tatapan dinginnya dari Chloe yang saat ini memasang raut ketakutan. Untunglah, tingkah gadis itu berhenti dengan caranya menatap tajam gadis itu. Haha kapok dia kan!


"Untuk Aoi, akan kita lanjutkan besok. Lagi pula ini sudah larut malam. Kau juga belum memakan apapun dari tadi siang." Kali ini, suhu suara mendadak naik menjadi hangat. Mungkin karena dirinya belum terbiasa dengan ekspresi marah barusan.


Chloe tidak merespon perkataan Black Aura. Ia hanya menuruti apa yang dikatakannya dan tenggelam dalam mimpinya.


Mimpi ya? Apa mimpi sebelumnya akan berlanjut? Akhir-akhir ini, aku terus bermimpi aneh. Yah, semoga saja berakhir disini.

__ADS_1


~


Di antara suara keramaian yang menguras energi itu, seorang gadis berambut ungu panjang berjalan di tengah keramaian tersebut. Terlihat jelas wajah yang menginginkan tidur panjang itu.


Setelah seharian, ia habiskan hanya untuk berkeliling mencari keberadaan cermin Carnater dan juga bertarung dengan salah satu anggota Legend Aura yang menyamar.


Pastinya, ia tidak menjalankan semuanya seorang diri. Ia memiliki tiga teman. Diantaranya satu teman manusia dan duanya adalah Aura. Ketiga temannya saat ini sedang berbincang di sudut restoran korea dengan sejumlah topik pembicaraan yang beragam.


"Astaga! Apa-apaan kalian ini?! Bagaimana kalau kalian berdua kepergok polisi Aura itu? Kau lagi! Bukannya melarang malah justru ikutan!" omel gadis itu tanpa basa-basi.


"Aaiishh! Kau berisik sekali! Apa kau nggak malu marah-marah di depan orang?" sahut gadis berkacamata yang sedang mengunyah makanan kesukaannya. ****eobokki.


"Jacqueline, sebaiknya kau duduk saja. Jangan khawatir. Aku dan Devil Mask sudah memeriksa kalau daerah ini aman."


"Huft... Terserah apa katamu, Aoi." Gerutu Jacqueline. Gadis itu tanpa pikir panjang segera melahap tteobokki milik gadis berkacamata itu.


"Hei! Itu milikku!"


Jacqueline terbahak singkat sebelum pada akhirnya kembali melahap tteobokki tersebut. Ia sengaja membiarkan gadis berkacamata itu cemberut.


"Gimana rasanya berekspresi? Entah kenapa kau lucu saat cemberut, Yumizuka." Ujar Jacqueline terkekeh pelan. "Ambillah. Aura sepertimu juga perlu memakan makanan pedas."


"Terima kasih!" gadis bernama Yumizuka itu dengan senang hati menerima sepiring tteobokki tersebut.


"Jadi... Kapan kita akan bertemu dengan Chloe? Jujur saja, aku khawatir dengan keadaan anak itu. Aku takut dia depresi."


"Tenang... Aku sudah memberinya kode agar dia bisa dipertemukan dengan Black Aura." Balas Aoi usai meneguk segelas soda. "Besok kita menjemputnya."


"Bagaimana kalau gadis itu sudah mati?" tanya Devil Mask asal.


"Heh, mulutmu!" Jacqueline langsung melemparkan tatapan mengancamnya pada pria bertopeng kucing yang tersenyum itu.


"Aku khawatir dengan keduanya. Dibandingkan dengan Korea, di Chicago lebih banyak Legend Aura yang berkeliaran. Apa jangan-jangan, cermin tersebut ada disana?" Aoi mengarahkan pandangannya pada Devil Mask dan Yumizuka.


"Bisa jadi. KAN, SUDAH KUBILANG! Sebaiknya, kita menetap saja di Amerika!" seru Devil Mask kesal. Langsung teringat di benaknya akan lima hari yang lalu dimana, dirinya dan Aoi sempat beradu debat mengenai keberadaan cermin tersebut.


Saat itu, ia berulang kali memaksa Aoi untuk menetap di Amerika karena, ia merasakan keberadaan Legend Aura yang semakin lama terasa Auranya. Namun, pria jepang itu bersikeras untuk pergi ke Korea besok pagi.


Perbedaan pendapat itu membuat mereka semakin larut dalam konflik dan tanpa sadar, lima belas panah muncul dari berbagai sudut dan melukai Devil Mask. Saat itulah, darah Devil Mask menyebar ke segala penjuru ruangan.


"Dasar keras kepala!" olok Devil Mask.


"Ta-tapi, dengan perginya kita ke Korea ini kau bis langsung dipertemukan dengan salah satu anggotamu!" Aoi berusaha membela dirinya. Ia tidak mau terus-menerus disalahkan oleh Devil Mask.


"Sudahlah! Kalian berdua ini nggak ada habisnya! Habiskan makanan kalian! Sekali kulihat air mata di pipi tteobokki itu, besok kunikahkan kalian!" ancam Jacqueline yang sedari tadi ia tahan emosinya. Ia bahkan tidak peduli perhatian para pengunjung di dalam cafe yang menatapnya dengan tatapan heran.


"Jijik!" sahut Devil Mask tak terimaan.


"Ya, sudah! Habiskan makanan kalian! Aku nggak sabar mau bertemu sahabatku besok. Aku ingin memberinya kejutan setelah sekian lama aku dan dirinya berpisah." Ucap Jacqueline sekaligus mengakhiri perkelahian kecil antara Aoi dan Devil Mask.


"Aku juga penasaran gimana Black Aura? Kira-kira dia sudah bisa ketawa apa belum ya?" Yumizuka menimpali.

__ADS_1


"Kita lihat saja besok! Aku janji, kita akan bersatu besok!" ucap Aoi mantap


~


__ADS_2