
"Dimana... Dimana dia?".
Chloe berlari menyusuri area pertokoan. Sekilas ia melihat beberapa perhatian orang tertuju padanya. Melihat kondisinya yang kacau, nafas yang terengah-engah karena berlari, juga suara kresek dari kantong belanjanya yang berisikan ayam berukuran sedang.
Ia menyadari kesalahannya karena terlalu lama meninggalkan Black Aura seorang diri di mobil. Seharusnya ia tidak tersedot oleh topik yang ia bawakan untuk Morgan tadi.
"Sial... Sial! Gimana kalau dia dan musuhnya tertangkap polisi? Gimana kalau mereka melukai orang-orang di sekitar kota?" pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalanya itu berhamburan tak tentu arah.
Black Aura. Meskipun aku percaya dia orang yang baik, tapi bukan berarti jika di depan musuh ia akan bersikap baik. Aura yang terlahir dengan menyimpan rasa sakit di dalam dirinya itu bisa saja melukai semua orang tanpa sadar.
Bayangan akan tulisan dari buku sejarah yang ia baca itu terpampang jelas di kepalanya. Ia seketika hafal apapun yang di tulis si penulis di dalam buku tersebut.
Terlalu cepat langkahnya berlari, Chloe tanpa sadar tersandung oleh keranjang yang berisikan buah pir. Untunglah kotaknya hanya bergeser sedikit. Namun, luka yang ia alami di lutu dan telapak tangannya lumayan parah. Gak parah amat sih, aslinya.
Ditambah dengan rasa malunya yang tak tertahankan usao berhasil menarik sebagian perhatian orang-orang agar tertuju padanya.
"Kau gak papa?" seseorang mengulurkan tangannya.
Tanpa pikir panjang, Chloe langsung menjabat tangan orang tersebut.
"Terima kasih banyak. aku baik-baik sa.... YOU AGAIN?!!" Seru Chloe tak percayaan begitu menemukan pemilik dari tangan yang ia jabat itu ialah milik Morgan.
"Wah... Kita ketemu lagi!" Morgan menyengir lebar disusul dengan tepukan tangan kerasnya.
"Jadi, kau sengaja keluar lebih cepat cuma nyari kesempatan buat nge-stalk aku dari belakang?".
Morgan mendengus geli. "Sudah kubilang kan? Takdirlah yang mempertemukan kita." Ujar Morgan diiringi dengan kedipan matanya.
"Iiih.. Kok lama-lama makin naik darah aja liat nih cowo. Hah... btw Makasih udah nolongin. Aku duluan!".
Tak ingin waktunya terbuang banyak karena keberadaan Morgan, dengan terburu-buru Chloe pun berusaha menjauh dari Morgan. Akan tetapi, tangan pria itu dengan cepat menarik tangannya beserta raganya hingga dirinya kembali berdiri di depannya.
"Kau mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?".
"Ini... Ini Bukan urusanmu! Aku harus cepat!!" Chloe mendorong kasar genggaman Morgan dan kembali berlari cepat meninggalkan pria itu.
Pria itu... Aku gak boleh tenggelam lagi karenanya! Jelas sekali tujuanku bukan bersenang-senang dengannya!
Ups! Lagi-lagi pria itu merampas tangannya dan tidak ingin membiarkan gadis pergi seorang diri.
"Chloe! Aku ikut denganmu! Aku tau pasti kalau kau berniat mencari teman Aura-mu bukan?" tanya Morgan serius sekaligus menawarkan diri untuk ikut campur.
Chloe terbelalak kaget mendengarnya. Selain kaget, dalam hati ia panik. Banyak hal yang ia takutkan. Terlebih lagi jika Morgan ini sosok yang bakal menusuknya dari belakang.
"Gak! Ini berbahaya! Aku gak mau kau terluka karena kejadian ini!" Halang Chloe.
Morgan tak peduli selain menahan langkah gadis itu serta menunjukkan senyuman hangatnya. Ia berusaha untuk membuat Chloe percaya meski melalui senyuman.
__ADS_1
"Justru kau yang perempuan ini yang seharusnya gak boleh ikut campur. Pertarungan mereka itu berbeda dengan kita. Bisa jadi lebih sadis dari yang kau pikirkan. Ingat! Mereka bertarung mengikuti naluri mereka." Jelas Morgan halus.
Chloe membungkam usai mendengar penjelasan Morgan. Ia heran, dari mana pria ini mendapat informasi tentang Aura? Kalau dipikir-pikir, buku sejarah Aura ini hanya ada satu dan hanya dirinya lah yang menggenggam buku tersebut.
"Daripada banyak korban jiwa yang berjatuhan, lebih baik kita hentikan mereka. Kau yang lebih tau tentang Black Aura, tolong hentikan dia ya..." Ucapnya lagi.
Perkataan pria ini sukses memulihkan Chloe yang panik. Ia pun melepaskan genggamannya dengan lembut sembari memandang raut gadis itu yang melemah karena bingung.
"Gak papa... Jangan takut. Aku juga sama sepertimu. Ada seseorang yang sedang kucari hingga saat ini. Hmmm... Sebaiknya kita harus cepat kesana!" ajak Morgan. Sekali lagi, ia menunjukkan senyumannya agar gadis yang berdiri di depannya bisa mempercayainya.
Chloe mau Gak mau mengangguk apapun yang dikatakan Morgan. Harap-harap, pria ini bisa dipercaya dan tidak ada yang namanya sabotase ataupun pengkhianatan.
"Ayo...".
~
Black Aura melayangkan sabitnya dengan cepat dan nyaris mengenai pundak kanan Yui. Tampangnya semakin berantakan terkena cipratan darah Yui yang berwarna biru. Ditambah dengan tingkat kewarasannya yang perlahan menurun dikarenakan pertarungannya yang membuang beberapa liter darah mereka.
Mereka berdua sudah melewati 20 menit bertarung di area pertokoan. Sebelum ada korban yang melayang, Black Aura sempat mengusir orang-orang di sekitarnya.
Sebenarnya ia bingung dengan apa yang ia lakukan sebelumnya.
Aneh rasanya.
Dirinya yang bukan penduduk asli area itu terpaksa bertebal muka demi mengusir warga-warga yang tengah beraktivitas kala itu. bagaimana lagi? klo dipikir baik-baik ada benarnya juga.
Meskipun tampak jelas di pandangannya terdapat beberapa warga, terutama anak remaja yang merekam pertarungan mereka.
TRANGGG!!
Pedang Yui di bantah mentah-mentah oleh sabit Black Aura ketika hendak menusuknya dari belakang.
Terus terang, Black Aura merasa cukup lelah dengan pertarungan sengitnya dengan Yui.
Pasalnya, Yui bukan aura yang biasa ia temui. Melainkan ia adalah salah satu anggota Legend Aura. Ia menempat di posisi sebagai komandan.
Dia gak berubah...
"Wah... Wah... Meskipun kau gak masuk ke dalam tubuh manusia, kekuatanmu masih stabil ya! Aku heran sekaligus iri... Sebenarnya apa yang membuat kalian bisa sekuat ini bahkan tanpa menggunakan tubuh manusia sekalipun?" Yui memulai percakapan mereka di sela-sela menangkis serangan Black Aura.
Ingat! Posisi mereka saat ini bukan di atas daratan melainkan di udara. Karena jangkauan ruang di udara yang luas dan tidak ada beberapa benda yang mengganggu mereka.
Di saat bersamaan, mereka mundur ke tempat mereka masing-masing. Dimana Black Aura kini berdiri di rooftop hotel tingkat 17. Sementara itu, Yui berada di rooftop gedung kantor bertingkat 15.
Yap! Seperti biasa, tidak ada respons dari Black Aura. Remaja ini bukan type yang suka membuang-buang suaranya. Kecuali jika ada hal penting yang ingin diutarakannya.
"Dasar! Selalu aja diam. Ternyata kau masih belum terbiasa dengan dunia ini. Aku penasaran dengan gadis yang bersamamu...".
__ADS_1
"Cukup. Sekarang aku punya pertanyaan." Akhirnya Black Aura membuka suaranya.
"Apa itu? Dasar Gak sopan! Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku.".
"Kau udah tau jawabannya." Jawab Black Aura singkat.
"Oke... Apa yang mau kau tanyakan? Gak biasa aja ada Mega Vile yang nanya.".
"Dimana Aoi?".
"Ha?".
Mendadak suasana mereka menjadi hening akan pertanyaan Black Aura.
"Jawab..".
"Heh! Jangan ngawur klo buat pertanyaan. Emang kamu pikiran tubuh siapa yang kami gunain, ha? Kau pikir kami perhatikan kartu identitas mereka? Misi kami cuma mengambil jiwa mereka untuk dijadikan sebagai pasukan kami. Identitas mereka ya bodor amat!" omel Yui.
"Gitu ya? Jadi itu rencanamu?".
"Eh?" Yui mengerutkan keningnya.
"Kayaknya yang seharusnya dikatakan jahat itu kalian." Black Aura menyeringai kecil.
"Apa??!!" Yui terpancing. "Ingat ya! Ingat selama kalian masih di Carneter! Udah berapa banyak dari kami yang kau bunuh ha?!" bentak Yui tak terima dikatakan jahat.
"Bukannya kalian yang mulai duluan?" Black Aura dengan santai mengaktifkan kemampuan matanya. Ia melirik ke arah pundak Yui.
CRAAATTT!!
Betapa terkejutnya Yui menyadari pundaknya bersimbah darah.
"Aku bisa memanipulasi rasa sakitmu kapanpun yang kuinginkan. Kau yang gak tau pasti kemampuanku sebaiknya berhati-hatilah. Gak akan ada satupun musuh yang bisa lepas dariku..." Ucap Black Aura dengan nada datarnya. Raut wajah datar nan dingin itu ia perlihatkan tanpa keraguan sedikitpun.
Black Aura melirik ke arah remaja-remaja yang tengah merekamnya. Sebuah seringai muncul di wajahnya.
Entah dari mana asalnya, ponsel-ponsel remaja itu hancur dengan sendirinya. Membuat mereka otomatis membuang ponsel mereka yang rusak dan berlari.
"Majulah!" Seru Black Aura tanpa keraguan sedikitpun.
Yui menyeringai tertantang. Ia melangkah dengan cepat menghampiri Black Aura seraya menembak-nembak beberapa bola airnya. Sebagian berhasil dihindar oleh Black Aura dan sebagian mengenai beberapa warga yang berdiri di daerah tersebut.
Perihal luka atau nggaknya warga sana, sudah bukan hal penting lagi Black Aura. Toh, meskipun sudah diingatkan sekali mereka masih tetap diam di tempat. Dengan ponsel yang berada digenggaman mereka.
"Kalau aku yang menang, beritahu aku dimana letak Dark Fire berada!".
Yui menyengir lebar. "Tapi kalau aku yang menang, bersiap-siaplah!".
__ADS_1
~