
“Kau nggak papa?” tanya Midnight sambil berusaha membangunkan Silentwave yang tidak sadarkan diri tiga menit yang lalu.
Aura itu tersentak dan bangkit. Melirik ke sekelilingnya dengan perasaannya yang tak stabil. Untunglah, ketidakstabilan perasaannya bisa teratasi dengan cepat oleh genggaman erat yang midnight berikan padanya. Aura itu melongo seperti sedang mengumpulkan kesadarannya. Dirinya masih setengah sadar usai tiba-tiba dipindahkan oleh Aura yang hinggap di dalam tubuh Ethan.
Rasanya seperti di alam mimpi. Akan tetapi, genggaman yang ia rasakan itu nyata.
Silentwave menoleh ke arah ibunya yang tersenyum padanya.
“Aku nggak tahu kita dimana. Yang jelas, semua ini pasti bagian dari rencana Yuuki. Ugh! Kenapa hidupku selalu sial begini?!” gerutu Midnight kesal.
Mengetahui kondisi Midnight yang nyaris menyerupai orang frustasi itu, Silentwave segera mendekatkan dirinya dengan ibunya dan mengelus punggungnya. Hal kecil itu berulang kali ia lakukan dan sangat ampuh mengurangi kadar stress di kepala Midnight.
“Makasih… Aku hanya… Nggak tahu lagi harus berbuat apa. Apa hidupku harus sial seperti ini terus? Kenapa bahagia itu sulit sekali kudapatkan?” omel Midnight. Wanita itu duduk dengan memeluk lututnya. Kepalanya ia tenggelamkan ke dalam lututnya, tak ingin terlihat lemah di depan Silentwave.
Lagi-lagi, air matanya mengalir. Pipinya semakin terasa lengket ketika Midnight berusaha menyeka air matanya untuk kesekian kalinya. “Kau benar. Kalau aku lemah, masalah ini nggak akan selesai. Anak-anak itu bisa saja terlibat dan nyawa mereka bakalan terancam.”
Silentwave masih diam mendengarkan Midnight. Aura itu memasang wajah sedih. Ia tidak tega melihat keadaan Midnight yang sekarang. Sangat menderita dibandingkan dengan Sembilan tahun yang lalu. Setelah ditinggal pergi sang adik, Midnight jadi kesepian. Dia tidak memiliki teman untuk diajak curhat ataupun bermain.
Selama ini, yang selalu membuat senyuman Midnight bertahan lama adalah senyuman yang terukir di wajah Carmine. Hanya hiburam sederhana itulah yang menjadi satu-satunya pengawet kebahagiaan Midnight. Kini, gadis kecil itu telah pergi. Meninggalkan kenangan yang hanya bisa menghantui pikiran Midnight setiap kali wanita itu terjebak dalam lamunan kosongnya.
Silentwave tahu kalau keluarga yang Midnight anggap hanyalah Carmine, mendiang suaminya, dan anggota Megavile yang berjumlah delapan.
Kini, keluarganya tersisa satu kelompok yang itupun anggotanya telah tewas tiga Aura karena perang.
Sulit membayangkan seberapa hancurnya Midnight saat itu.
Yang menjadi harapan Silentwave sekarang adalah, membunuh seluruh anggota Legend Aura dan mengakhiri permasalahannya dengan Yuuki.
"Hiks... Lagi-lagi aku sendirian... Mahasiswa itu mungkin tak lama akan meninggalkanku. Silentwave, kumohon... Jangan tinggalkan aku! Aku takut sendirian. Sendirian itu nyaman tapi memalukan!" isak tangis Midnight semakin menjadi. Bersamaan dengan hatinya yang hancur. Ralat. Dirinya yang semakin hancur.
Silentwave yang tidak tahan melihat Midnight menderita itu langsung menarik wanita itu dalam pelukannya. Dia mengeratkan lingkaran tangannya berharap ibunya itu merasa nyaman bersamanya.
Dalam tautan mentalnya, Silentwave berkata, "Aku disini, ma. Aku nggak akan pernah meninggalkan mama. Kalau mama mati maka aku akan mati."
"Yang lain juga. Mereka akan terus bersama mama. Mama masih ingat dengan janji Carmine pada mama? Dia bilang, sampai kapanpun, Carmine akan terus melindungi mama. Carmine akan selalu mengawasi mama."
"Mama jangan khawatir. Aura dan yang lainnya pasti menemukan mama. Mereka sayang mama meskipun sadis di mata mama. Mama tahu bukan? Kalau sayangnya mereka itu sama dengan sayangnya Carmine sama mama?"
__ADS_1
Silentwave berusaha menghibur Midnight yang masih terisak hebat dalam pelukannya.
Ya, memang begitulah caranya menghibur Midnight. Dengan adanya bukti dan bukan janji, cara itu ampuh membuat semyuman Mindight mekar meski membutuhkan sedikit waktu untuk menyembuhkan sakitnya.
Black Aura, Devil Mask, Yumi, dan Captain adalah Aura yang terlahir dari perasaan dendam Carmine. Mereka berempat (sebenarnya ada tiga, sayangnya sudah lenyap saat berperang melawan Legend Aura) ada untuk membalaskan dendam Carmine terhadap Yuuki. Meskipun terbilang negatif dan sangat sadis kala bertarung, keempat Aura itu memiliki sisi penyayang yang besar. Mirip seperti Carmine yang sangat menyayangi Midnight layaknya kakak kandungnya sendiri.
Sebelum kesadarannya menipis karena luka yang Carmine derita sangat parah, Carmine menitipkan pesan pada Black Aura untuk selalu menjaga Midnight. Pesan lisan yang terdengar sangat menyedihkan bagi Silentwave.
"Aura, kumohon... Jaga dan lindungilah Midnight. Saat aku pergi nanti, dia sudah pasti kesepian. Meg yang selalu menemaninya sudah lebih dulu pergi. Karena itulah, kalian yang merupakan bagian dari perasaanku, jangan pernah tinggalkan dia apapun keadaannya. Kalau salah satu dari kalian pergi, aku minta satu atau dua dari kalian untuk melindunginya. Lupakan soal dendam. Sekarang, yang lebih penting adalah selesaikan masalahnya. Karena aku... Midnight jadi terlibat dan..."
Pesan itu berakhir begitu saja. Menjelaskan bahwa nyawa Carmine sudah tak lagi terselamatkan.
"Silentwave, sekarang aku harus bagaimana?" parau Midnight.
"Kita cari kristal itu. Aku yakin, Aurora mengincar Black Aura. Kalau ada musuh, aku sudah pasti akan melindungimu. Aku juga punya banyak rencana. Jadi, mama jangan khawatir."
"Begitu ya? Silentwave, terima kasih. Kau sudah menemaniku lebih dari sembilan tahun ini. Aku benar-benar berterima kasih untuk apapun, Silentwave" ucap Midnight setelah itu melepaskan dirinya dari pelukan Aura itu.
Dia rasa, sudah cukup sampai disitu acara menangisnya. Sekarang, saatnnya Midnight bergerak mencari kristal sebagai bahan dari ritual yang akan mereka lakukan beberapa hari ke depan.
Midnight sadar. Serapuh apapun dirinya, kesepian itu tidak akan sepenuhnya hinggap dalam kesehariannya. Seperti jadwal pelajaran yang sekolah berikan, kesepian memiliki jamnya sendiri. Begitu pula kebersamaan. Sisanya tinggal bagaimana cara Midnight menjalankannya saja.
Baiklah, Chloe. Sekarang giliranmu untuk bergerak!
~
Silau. Bahkan langit kelabu di atas justru mendominasi cahaya yang dipantulkan oleh pisau Aurora. Chloe menutup sebagian penglihatannya. Hanya demi bersama Black Aura, mencari tahu sejarah dan asal-usul mereka, juga membantu Black Aura menyelesaikan konflik ini. Ternyata, tidak semudah membalikkan telapak tangannya.
Meskipun sudah diberi sedikit keringanan yaitu kekuatan Black Aura yang mengalir dalam dirinya, Chloe masih tetap kesulitan melawan Aurora. Tidak seperti saat dirinya yang terselimuti oleh amarah dan seluruh anggota tubuhnya spontan bergerak kemudian menghajar Aurora hingga pecah.
“Susah banget,” keluh Chloe lewat batinnya. Rasanya agak aneh jika ia mengungkapkan kalimat itu secara lisan. Apalagi di depan kedua sahabatnya yang saat ini terpukau dengan senjata milik Devil Mask dan Yumi yang tak sengaja ada di tangan mereka. Chloe menganggap hal itu sebagai sihir. Di Carnater, sihir itu nyata, bisa dilihat dengan mata kepala langsung, dan effect-nya bisa dirasakan langsung. Sedangkan di dunia mereka, keberadaan sihir itu benar-benar terbatas. Atau mungkin bisa dikatakan punah seiring berkembangnya teknologi dan manusia disana mulai kritis akan hal itu.
“Aku nggak tahu apa yang harus kita lakukan? Bukankah Black Aura melarang kita untuk ikut campur selagi dia bisa?” ujar Aoi setelah berhasil memahami taktik bertarung Yumi yang sebenarnya sering ia lihat namun kepintaran otaknya tak bisa menyaingi gaya bertarung Aura itu. Padahal, sudah berulang kali Aoi melakukan pengamatan secara langsung tapi tidak mendapatkan hasil apa-apa.
“Kita tunggu aba-aba darinya. Black Aura bisa membagi waktu dimana kita bergerak nanti. Jangan khawatir,” balas Chloe yang sudah begitu paham dengan Aura itu.
Itulah alasan kenapa Chloe ingin sekali terlibat dalam pertarungan sengit Black Aura melawan Legend Aura. Gadis itu ingin merasakan langsung bagaimana sensasi menenggangkan dan ketakutan akan adanya hidup dan mati. Chloe ingin menikmati sensasi-sensasi tersebut. Membosankan rasanya jika tantangan ia hadapi harus melulu teori. Kalaupun prakterk, itupun sesuatu yang sederhana bagi Chloe.
__ADS_1
“Kalau kalian sudah satu pikiran dengan senjata Aura kalian, apapun yang ingin kalian lakukan jadi mudah. Intinya, anggap aja kalian sedang bermain game VR. Anggap aja begitu. Dan bayangkan saja, ada Devil Mask atau Yumi yang menjadi patner kalian juga empat hati yang menjadi batas nyawa kalian,” Chloe membeberkan taktik bertarungnya yang sedikit dicampur adukan dengan pemikiran fantasinya. Seru saja menjelaskan suatu teknik yang asal muasalnya dari diri sendiri. Chloe suka itu.
Jacqueline manggut-manggut, mengerti. “Aku mengerti. Tapi, bertarung di tempat terbuka seperti ini…”
“Aku tahu! Kita akan menggunakan kesempatan yang ada!” potong Aoi tiba-tiba.
“Betul. Biasanya kalau bertarung dengan Black Aura begitu. Kita harus pandai-pandai mengambil kesempatan apalagi saat musuhnya terfokuskan ke lawan yang benar-benar memancingnya bertarung,” Chloe menoleh ke belakang, memastikan posisi mereka saat ini aman dari serangan Aurora maupun Black Aura.
Di dalam hutan yang luas dan penuh akan pepohononan ini, pasti ada beberapa tumbuh-tumbuhannya yang beracun atau spontan tanpa mereka ketahui bisa melukai kulit mereka. Seperti halnya batang pohon. Kayu yang tipis saja bisa menembus kulit.
“Kita berpencar. Ketiga bertiga nggak boleh ada satupun yang sama-sama. Kita harus sendiri-sendiri.”
Chloe bangkit dari duduknya seraya mengeluarkan sabit Black Aura. Sebelum meninggalkan tempat tersebut, Chloe berpesan pada Aoi dan Jacqueline. “Kalau aku dan Aura bisa mengatasi Aurora, aku minta kalian cari Midnight. Satu-satunya orang yang tahu cara menyelesakan semua ini Cuma dia seorang. Jadi, aku mohon bantuannya!”
Aoi dan Jacqueline tersenyum menanggapinya. Pasangan itu berdiri, menatap Chloe dengan wajah penuh keyakinan. Mereka bertiga yakin kalau konflik ini akan berakhir. Memang sebagian sisi hati mereka tidak bisa menjamin akan keselamatan mereka. Namun, yang bisa mereka lakukan saat ini adalah percaya pada diri sendiri dan menganggap posisi mereka lebih unggul dari Aura-aura itu. Hanya itu.
“Kau makin terbuka ya, Chloe! Nggak kek dulu. Kalau udah cemburu, sifat tertutupnya langsung hiperbola banget nguasain dirimu,” Jacqueline terkekeh ketika mengingat masa lalunya bersama Chloe yang dulu tentunya.
“Ah, jangan mengingatkanku dong! Malu tahu!” seru Chloe. Lepas itu memalingkan wajahnya kea rah lain, menyembunyikan rona merah di pipinya.
“Okelah. Kalau itu rencana kami sekarang, akan kami tuntaskan dengan sempurna. Chloe, berhati-hatilah dan jangan jauh-jauh dari Aura, ya!” pesan Aoi, menepuk pundak kanan gadis itu dengan tangan kanannya yang menganggur saat ini.
“Boleh dekat-dekat. Tapi jangan pula mesra-mesraan pas bertarung!” sambar Jacqueline menambahkan.
“Iya, iya! Aku tahu kok!”
“Kalau begitu, kami duluan ya! Nanti kalau udah siap, cari kami ya! Kalau bisa pakai teleportasi Black Aura biar irit tenaga!”
“Baik!”
Pasangan itu segera menghambur langkah mereka ke depan. Perlahan-lahan, suara langkah kaki mereka terdengar samar sampai akhirnya benar-benar lenyap dari pendengaran Chloe. Lagi-lagi perpisahan. Yah, semoga saja… Perpisahan ini tak akan berujung lama. Aoi dan Jacqueline itu termasuk bagian dari keluarga Chloe yang berharga. Tidak ada mereka sama dengan tidak ada tempat pulang untuk Chloe.
“Benar… Selain keluarga, aku masih punya kalian bertiga. Kurasa, sudah cukup sampai disini kekhawatiranmu, kak.”
Chloe memandang langit abu-abu seolah sedang membayangkan bagaimana ekspresi Lucas yang ia rasa selalu memperhatikannya dari atas.
“Yep, nggak ada yang perlu dikhawatirkan.”
__ADS_1
~